Malam ini Fahrial bersama Ratih dan Kiara makan malam bersama di rumah. Kiara memesankan nasi padang secara online karena tak ingin repot dan dia juga tidak bisa memasak untuk mertuanya itu.
Di sela – sela makan malam terjadi perbincangan antara mereka bertiga.
“ Jaman sekarang canggih ya, kalau mau makan tinggal pesan melalui aplikasi terus nanti di antar. “ Tutur Ratih seraya menikmati nasi pakai rendang di campur kuah sayur nangka dan sambal ijo semakin menggugah selera.
“ Iya, bu. “ Jawab Kiara mencoba untuk tersenyum. “ Bahkan, hampir setiap hari Kiara pesan makanan online karena lebih mudah, cepat dan gak perlu keluar tenaga juga. “ Tambahnya. “ Ya, walaupun harganya agak lumayan, tapi gak apa – apa, lah. Yang penting kita menikmati. “
“ Jadi, kamu tidak pernah masak? “ tanya Ratih.
“ Tidak. “ Kiara menggeleng.
“ Terus kalau Fahrial mau berangkat atau pulang kerja tidak pernah ada makanan yang tersedia sebelum kamu pesan online? “ tanya Ratih lagi.
“ Iya, bu. Kiara gak pernah siapin sarapan atau sediain makanan buat Fahrial kalau sudah pulang kerja. Kalau lapar pesan aja sendiri. “ Terang Kiara dengan polosnya di hadapan ibu mertuanya sendiri.
Fahrial mulai cemas karena takut ibunya mengatakan sesuatu yang membuat Kiara tersinggung.
“ Loh, harusnya kamu itu masak untuk suamimu. Kalau tiap hari pesan makanan online teruskan boros. “ Terang Ratih.
Kiara mengerutkan keningnya, terlihat dari raut wajah gadis itu merasa tak suka dengan jawaban Ratih, oleh karena itu Fahrial langsung angkat suara.
“ Kiara gak bisa masak, bu. Jadi, kita memang kadang pesan makan online atau makan di luar. “ Sahut Fahrial.
“ Ibu juga dulu waktu awal menikah tidak bisa memasak. “ Balas Ratih, ia menatap Kiara dan Fahrial secara bergantian. “ Tapi, ibu belajar untuk memasak supaya kalau suami ibu mau berangkat atau pulang kerja sudah ada makanan dan seperti itu juga bisa menghemat pengeluaran. “ Tambahnya.
Kiara diam tetapi dari tatapan matanya terlihat kesal.
“ Fahrial gak masalah kok, kalau Kiara gak bisa masak, bu. “ Ucap Fahrial berusaha menerangkan. “ Lagipula, alhamdulillah Fahrial masih bisa mencukupi kebutuhan meskipun agak boros pengeluaran. “ Bela Fahrial.
Ratih melirik Kiara. “ Mungkin, sedikit – sedikit kamu bisa belajar untuk memasak. Biar suami jadi makin cinta dan betah. “ Kali ini Ratih bicara dengan nada bercanda karena dia juga tidak ada maksud untuk menyindir atau memaksa menantunya harus bisa memasak, ia hanya menyarankan saja yang terbaik, selanjutnya jika memang kemauan mereka berdua seperti ini Ratih pun tidak bisa berbuat banyak.
“ Aku sudah kenyang. “ Kiara meneguk air minum dulu sedikit, lalu bangkit berdiri. “ Ibu, aku ke atas duluan ya. “ Ucapnya berusaha untuk lembut meskipun di dalam hatinya menggerutu kesal.
“ Loh, itu makanan kamu masih banyak, Kiara. Mubazir sekali, nak. “ Ucap Ratih.
“ Kiara emang kalau makan sedikit, bu. Terus nanti biasanya sisa makanan dia Fahrial yang habisin. “ Celetuk Fahrial terus saja menutup – nutupi kesalahan atau mungkin kekurangan Kiara.
“ Oh begitu. “ Ratih manggut – manggut.
“ Permisi, bu. “ Kiara melangkahkan kakinya menjauh dari ruang makan menuju lantai atas. Sepertinya menghindar dari ibunya Fahrial adalah cara terbaik untuk menenangkan dirinya yang mudah sekali emosi.
“ Dasar ibu – ibu rempong! Tinggal makan aja repot banget segala bahas gue harus bisa masaklah, inilah, itulah! “ keluh Kiara seraya menaiki anak tangga.
“ Anak sama ibu sama saja! dua – duanya ngeselin! “ Kiara masuk ke dalam kamar, ia menutup pintu dengan sangat kencang hingga menimbulkan bunyi dentuman.
BUK.
Fahrial dan Ratih kaget mendengar bunyi pintu di banting begitu kencang.
“ Itu Kiara tutup pintu kasar sekali. “ Kata Ratih yang masih merasa shock karena bunyinya sampai terdengar jelas ke bawah. “ Dia marah sama ibu ya? “
Fahrial juga merasa kaget dan agak kecewa dengan tindakan Kiara yang seperti itu. “ Kiara memang begitu bu, dia agak ceroboh dikit. Dia bukan marah sama ibu, tapi ya dia kalau tutup pintu suka kenceng gitu. “ Bohong Fahrial lagi dan lagi.
Ratih tertawa kecil. “ Ada – ada aja istrimu. “
“ Ya begitulah, bu. “
“ Fahri, ibu cuma mau berpesan kepada kamu. Jaga dan sayangi istrimu seperti kamu menyayangi ibu ya. “ Terang Ratih kepada anak semata wayangnya itu.
Fahrial mendengarkannya dengan serius.
“ Jadilah suami yang bertanggung jawab. Jangan sakiti apa lagi sampai membuat Kiara bersedih. “ Tambah Ratih.
“ Iya, ibu. Fahrial akan berusaha menjadi suami yang baik dan bertanggung jawab. “ Ungkap Fahrial, ia jadi mengingat kemarin sempat membuat Kiara menangis dan dia berjanji untuk lebih bijaksana lagi supaya kejadian serupa tak terulang.
“ Ibu percaya kalau kamu akan menjadi suami yang bertanggung jawab, nak. “ Sahut Ratih penuh bangga.
“ Terima kasih, bu. “
Selesai makan, Fahrial mengantarkan ibunya ke kamar tamu yang berada di lantai bawah, setelah itu Fahrial kembali ke kamarnya. Saat pintu di buka, Fahrial lihat Kiara sedang nonton TV sambil merebahkan tubuhnya di atas sofa.
“ Kia? “ Fahrial berjalan mendekati Kiara.
“ Kenapa? “ sahut Kiara ketus.
Fahrial ingin duduk tetapi tidak muat karena saat ini Kiara selonjoran, alhasil untuk mendapat tempat duduk, Fahrial terpaksa mengangkat kedua kaki Kiara lalu dia duduk dan kaki gadis itu Fahrial letakkan di atas pangkuannya.
“ Kamu marah ya sama ibuku? “ tanya Fahrial bernada rendah sambil memijat kedua kaki Kiara yang berada di atas pahanya.
“ Tidak. “ Kiara beranjak duduk, ia menarik kakinya karena tidak mau di pijat oleh Fahrial.
“ Jujur saja, Kia. “
Kiara menghela nafas kasar. “ Aku cuma gak suka aja harus melakukan sesuatu secara paksa. Ngapain ibu kamu suruh aku belajar masak. “ Protesnya.
“ Ibu aku gak memaksa kamu, Kia. Dia cuma menyarankan saja, tapi kalau kamu tidak mau, ya gak masalah. “ Ucap Fahrial meluruskan perkataan ibunya agar Kiara tidak salah faham.
Kiara diam.
“ Sudah kamu tenang saja. Lagi pula, selama ini aku tidak pernah menuntut kamu untuk bisa memasak, kan? “ tanya Fahrial.
“ Enggak. “ Kiara menggeleng tanpa menatap Fahrial.
“ Tadi juga ibuku saat memberitahu kamu bicaranya dengan santai tidak marah – marah apa lagi memaksa. “ Kata Fahrial sambil mengusap punggung Kiara. “ Jadi, tidak ada yang perlu kamu permasalahkan lagi ya, Kia. “
Kiara bergeser menjauh supaya Fahrial tidak bisa mengelusnya.
“ Tapi, ibu kamu seakan – akan menuduh aku boros dan menghambur – hamburkan uang! “ serunya mencari – cari kesalahan Ratih.
Fahrial yakin kalau dia lanjutkan perdebatan kali ini pasti akan menjadi panjang dan Kiara bisa marah besar bahkan menimbulkan kekacauan karena terakhir kali saja gadis itu tidak segan membanting gelas, Fahrial sangat menghindari hal tersebut karena saat ini ada ibunya.
Fahrial tidak mau ibunya tahu keadaan yang sebenarnya dalam rumah tangganya.
“ Yaudah, aku minta maaf atas nama ibuku ya? “ Fahrial menggeser duduknya. “ Kamu jangan marah lagi ya. Namanya juga orang tua, wajar kalau agak bawel sedikit. “
Kiara memutar kedua bola matanya malas. “ Hm, sudah lupakan. “ Kiara juga sedang malas berdebat, akhirnya dia mencoba untuk tidak berlarut – larut dalam masalah ini, apalagi tadi Fahrial sudah meminta maaf dan juga dalam hal ini Kiara sadari bahwa Fahrial tidak bersalah bahkan beberapa kali lelaki itu membelanya.
“ Kamu udah gak marah, kan? “ tanya Fahrial untuk memastikan semuanya telah baik – baik saja.
“ Gak. “ Singkat kiara dengan ketus.
Fahrial turun dari sofa dan memilih untuk bersimpuh di hadapan Kiara, ia memandang wajah gadis itu. “ Coba senyum dulu. “
“ Apa, sih? gak usah lebay, deh. “ Kiara yang merasa gugup di tatap oleh Fahrial mencoba untuk mengalihkan pandangannya ke arah lain.
“ Ayo, dong. Senyum sedikit saja untukku, Kia. “ Pinta Fahrial yang masih bersimpuh di hadapan Kiara.
“ Gak. “ Balas Kiara ketus.
“ Kalau kamu gak mau, nanti aku kelitikin lagi. “ Ancam Fahrial seketika membuat Kiara panik karena terakhir kali lelaki itu menggelitikinya lalu berniat mencium bibirnya.
“ Jangan! “ seru Kiara sebelum tangan Fahrial bergerak.
“ Yaudah senyum. “ Kata Fahrial.
Kiara terdiam sebentar sebelum akhinya secara perlahan – lahan menampilkan senyumannya yang sangat manis dan bagi Fahria itu adalah salah satu hal yang membuat dirinya bersemangat setiap kali melihat Kiara tersenyum.
“ Udah, kan? “ tanya Kiara masih dengan senyumannya.
“ Udah. “ Fahrial berdiri, lalu dia cium pucuk kepala Kiara. “ Makasih sudah membuat hariku lebih baik setelah melihat senyummu. “ Tuturnya.
Kiara terdiam, kadang dia ingin marah ketika di cium secara tiba – tiba oleh Fahrial, namun saat mendengar perkataan Fahrial yang selalu saja menyentuh hati membuatnya mengurungkan diri untuk mengomel meskipun sejujurnya dia tidak suka dengan ciuman lelaki itu.