= SERBA MANDIRI =

2645 Words
Fahrial sudah bangun lebih dulu di banding Kiara. Dia bergegas mandi dan secara mandiri mempersiapkan pakaian serta apa saja yang perlu dia bawa ke kantor karena hari ini Fahrial sudah mulai masuk kerja setelah beberapa hari kemarin dia cuti untuk pernikahannya.   Fahrial sudah rapih dengan kemeja dan celana formal yang melekat sempurna pada tubuhnya, tak lupa dia tambahkan dasi pada kerah kemejanya. Sesekali Fahrial melirik ke arah Kiara, gadis itu masih terlelap dalam tidurnya.   “ Kalau aku berangkat kerja, nanti Kiara sarapan pakai apa ya? “ Fahrial bertanya pada dirinya sendiri, bahkan dia masih mementingkan dan memikirkan Kiara disaat gadis itu tidak menunjukkan rasa perduli sedikitpun kepadanya.   Fahrial berjalan mendekati tempat tidur untuk membangunkan Kiara.   “ Kia? “ Fahrial duduk di pinggir kasur, ia memandangi wajah Kiara yang sangat damai ketika tertidur, tak seperti saat dia terbangun pasti begitu garang dan suka ngomel – ngomel.   “ Kiara? Aku mau berangkat kerja. “ Tangan Fahrial bergerak mengelus kepala Kiara dengan maksud membangunkan gadis itu, tapi ternyata tidak ada respon atau pergerakan sedikitpun dari Kiara.   “ Wah, pulas sekali dia tidur. “ Tutur Fahrial, ia beranjak bangun dari duduknya dan berhenti membangunkan Kiara karena kasihan.   Fahrial memilih turun ke bawah, barang kali ada sesuatu yang bisa dia jadikan ganjalan untuk perutnya yang saat ini keroncongan.   Sampai di dapur, ia lihat di meja ternyata ada roti tawar dan beberapa selai yang memang kemarin pada saat di supermaket Kiara beli.   “ Lumayan buat isi perut. “ Fahrial ambil beberapa lembar roti lalu dia oleskan selai cokelat sesuai dengan seleranya, kemudian dia duduk di dekat meja makan untuk menikmati sarapan pagi ini seadanya saja.   Setelah merasa perutnya kenyang, Fahrial ingin kembali ke atas, tapi dia jadi teringat Kiara. “ Aku buatin Kiara roti juga, deh. Supaya nanti kalau bangun tidur Kiara lapar, bisa langsung makan roti ini. “   Dengan senang hati serta senyuman yang selalu dia tampilkan untuk menyenangkan istrinya, Fahrial menyiapkan beberapa roti dengan rasa selai yang berbeda karena dia tidak tahu rasa apa kesukaan Kiara, bahkan dia juga membuatkan Kiara segelas suusu sebagai minumannnya.   “ Beres! “ seru Fahrial, ia senang – senang saja melakukannya meski sebenarnya dia ingin sekali kalau seandainya Kiara yang membuatkan sarapan pagi sederhana seperti ini untuknya.   Fahrial naik ke lantai atas, ia masuk ke dalam kamar dan melihat ternyata Kiara masih tertidur juga. “ Padahal semalam gak jadi berhubungan, tapi kenapa dia kelihatan kayak orang kecapean banget tidurnya pulas sekali. “ Fahrial jadi terkekeh sendiri, ia berjalan mendekati nakas di samping kasur, lalu dia letakkan sarapan yang sudah disiapkan tadi disana.   “ Sudah jam delapan, aku harus berangkat sekarang. “ Fahrial agak terkejut ketika melihat jam dinding karena jarak dari rumahnya ke kantor lumayan memakan waktu, tapi sudah jam segini dia belum berangkat juga.   Sebelum pergi, Fahrial ambil stiker label berwarna pink, lalu dia tulis sesuatu disana, kemudian Fahrial tempelkan label tersebut pada gelas suusu yang dia buatkan untuk Kiara.   “ Kiara, aku berangkat dulu ya. “ Fahrial ingin mencium kening Kiara tetapi takut gadis itu terbangun dan marah, namun dia tidak bisa menahan untuk tidak melakukannya.   CUP.   Fahrial kecup kening gadis itu supaya dia lebih bersemangat untuk menjalankan aktivitas hari ini. “ Sampai bertemu nanti, istriku. “   Fahrial pun segera pergi keluar kamar, menuruni anak tangga dan keluar rumah menuju mobil yang terparkir di halaman depan.   “ Aduh, kok, rasa nyerinya masih terasa ya? “ keluh Fahrial saat dia baru saja duduk di kursi mengemudi, ia merasakan pinggulnya masih sakit akibat semalam di dorong Kiara hingga jatuh ke lantai.   **   Setelah melewati perjalanan cukup jauh, akhirnya Fahrial sampai juga di kantornya. Dia berjalan menuju ruangannya sambil memegangi pinggulnya yang kembali terasa nyeri.   “ Cie…Cie… pengantin baru. “ Ledek beberapa temannya saat melihat kedatangan Fahrial yang sudah kembali masuk kerja.   Fahrial senyam – senyum saja.   “ Eh, pengantin baru udah masuk. “ Celetuk salah satu rekan kerjanya bernama Ojan, ia menghadang jalan Fahrial.   “ Iya, Ojan. Masa libur mulu, sih. “ Balas Fahrial menghentikan langkahnya.   Ojan menyipitkan matanya memperhatikan Fahrial yang sedang memegangi pinggulnya , kemudian Ojan tersenyum meledek. “ Kayaknya, semalam habis tempur nih, sampai sakit pinggang kayak gitu. “ Ledek Ojan mengundang gelak tawa para karyawan yang ada di sekeliling Fahrial termasuk Laras.   Fahrial terdiam, dalam hatinya dia berkata. ‘ Boro – boro bertempur, sampai hari ini aja gue belum ngapa – ngapai, Ojan! Gue masih perjaka woi! ‘ batin Fahrial, rekan kerjanya tidak tahu saja kalau dia sakit pinggang karena habis di dorong istrinya sendiri sampai terjungkal.   “ Kalau pengantin baru emang begitu, hampir tiap hari bertempur terus di ranjang. Maklum, lagi indah – indahnya. “ Celetuk karyawan yang lainnya kembali mengundang tawa.   “ Ya—ya gitu, deh. Namanya juga pengantin baru. “ Jawab Fahrial seolah – olah membenarkan dugaan semua orang. Ya, meskipun yang Fahrial lakukan sudah termasuk ke dalam pembohongan publik karena sampai saat ini Fahrial belum sama sekali menikmati bulan madu bersama istrinya. Namun, Fahrial tidak mau mengatakan hal itu di depan umum karena itu adalah privasinya.   “ Sudah – sudah. “ Laras maju ke depan menghampiri Fahrial. “ Ayo kita ke ruangan. “ Ajak Laras karena memang mereka berdua satu ruangan.   Sampai diruangan, Fahrial duduk di bangkunya sementara itu Laras duduk dihadapannya. “ Jadi? sekarang udah belah duren, nih? “ ledek Laras dengan senyuman menggoda.   Fahrial menghela nafas berat. “ Boro – boro, Laras. “   “ Loh? Itu kenapa sampai sakit pinggang? “ pertanyaan Laras kali ini sedikit menggelitik bagi Fahrial.   “ Memangnya, kalau orang sakit pinggang itu sebabnya hanya karena habis begituan aja ya? “ balas Fahrial membuat Laras jadi kebingungan.   “ E—enggak juga, sih. “ Laras cengar – cengir. “ Terus? Apa yang sebenarnya terjadi? “   Fahrial mengamati sekelilingnya yang saat ini terlihat sepi, hanya ada satu karyawan saja yang duduk agak berjauhan dengannya sedang sibuk memainkan ponselnya.   “ Aman, kok. “ Celetuk Laras untuk meyakinkan Fahrial bahwa tidak akan ada yang mendengar curahan hati lelaki itu.   Sebelum bercerita, Fahrial menghela nafas dulu. Fahrial sangat tertutup dan menjaga sekali privasinya kepada semua orang kecuali Laras sebab hanya dia yang dapat mengerti Fahrial dan dapat memberikannya saran terbaik serta Laras juga satu – satunya sahabat yang Fahrial miliki.   “ Semalam, saat aku ingin melakukannya, Kiara malah nangis. “ Terang Fahrial dengan wajah kecewa.   “ Loh, kenapa gitu? “ Laras mengernyitkan keningnya. “ Muka kamu nyeremin kali atau mungkin cara kamu kasar? “ Laras bertanya – tanya.   “ Mana mungkin aku kasar sama Kiara. “ Jawab Fahrial. “ Lagian, muka aku tampan gini mana mungkin terlihat seram. “ Imbuhnya.   “ Yeu, sok ganteng! “ Laras memukul tangan Fahrial yang berada di atas meja.   “ Fakta. “ Fahrial terkekeh pelan.   “ Jadi, sampai sekarang kamu belum berhubungan badan dengan Kiara karena dia takut? Begitu? “ tanya Laras lagi.   “ Mungkin. “ Fahrial mengangkat bahunya. “ Aku juga gak tau pasti apa yang membuat dia menolak bahkan ketakutan. “   Laras menganggukan kepalanya. “ Yaudah, kamu bersabar aja dulu. Kalian berdua kan, tidak berpacaran dan langsung nikah. Mungkin, Kiara belum siap karena ada beberapa faktor yang jadi penyebabnya. “   “ Faktor? “ Fahrial menaikkan satu alisnya. “ Faktor apa aja emang? “   “ Pertama, dia belum cinta kamu. Kedua, pola pikir dia masih ke kanak – kanakan dan ketiga, dia memang tidak kepingin berhubungan badan. “ Jelas Laras menuangkan isi fikiran dan dugaannya kepada Fahrial.   “ Semua yang kamu bicarakan sepertinya benar, ras. “ Fahrial menyandarkan tubuhnya lemas pada penyangga kursi. “ Pada dasarnya dia memang tidak mau aku sentuh karena dia belum mencintaiku. “   Laras jadi kasihan melihat Fahrial. Padahal, lelaki itu memiliki wajah yang tampan, punya karir yang bagus dan juga hatinya sangat tulus. Mendengar kabar dia menikah saja banyak sekali para karyawan perempuan yang patah hati dibuatnya karena memang dia di gilaai banyak wanita, tapi kenapa dia memilih Kiara untuk menjadi tambatan hatinya yang justru sering membuat hati Fahrial terluka dan bersedih.   Ya, memang itu urusan Fahrial, tapi Laras sangat menyayangkan hal tersebut.   “ Allah tidak akan memberikan ujian melebihi kemampuan hambanya, Fahri. “ Celetuk Laras mencoba untuk menguatkan sahabatnya itu.   Fahrial tertegun mendengar kalimat tersebut.   “ Ketika kamu diberikan cobaan seperti ini, itu artinya kamu dipercaya akan mampu melalui semua ini dan Allah punya sesuatu yang indah setelah kamu melewati masa – masa sulit ini. “ Laras tersenyum merekah, ia percaya Fahrial lelaki yang kuat untuk menghadapi semua ini.   Perlahan bibir Fahrial melengkung membentuk sebuah senyuman, kata – kata yang Laras ucapkan tadi setidaknya telah membuat Fahrial mendapatkan kekuatan karena yakin bahwa dia pasti mampu untuk melewati semua ini.   Laras mengangkat tangannya yang terkepal kuat sambil berkata. “ Semangat! “   “ Thanks, Laras. “ Fahrial merasa lega setelah mencurahkan isi hatinya kepada orang yang tepat dan sangat dia percaya.   “ Sama – sama, Fahri. “ Balas Laras. “ Terus, kenapa kamu sakit pinggang? “ Laras kembali mempertanyakan hal tersebut.   Fahrial menyengir menampilkan deretan giginya. “ A—aku di dorong sama Kiara sampai jatuh ke bawah kasur gara – gara ngajakin dia begituan. “ Terang Fahrial seketika tawa Laras meledak.   “ Ya ampun, Fahri! “ tawa Laras berderai. “ Kasihan banget sih, kamu. “   “ Hm, memang aku sangat menyedihkan. “ Fahrial menghela nafas untuk yang ke sekian kalinya.   “ Kiara galak juga ya. “   “ Dia itu singa betina. “ Balas Fahrial kembali membuat Laras tertawa.   “ Kiara…Kiara… “   Disisi lain, saat ini Kiara baru saja terbangun dari tidurnya. Gadis itu menguap selebar – lebarnya sambil menggeliatkan tubuhnya, perlahan matanya terbuka sempurna.   Kiara beranjak untuk duduk, ia lirik sebelahnya sudah tidak ada Fahrial.   “ Kemana dia? “ tanyanya sambil melirik jam dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi. “ Pasti Fahrial sudah berangkat kerja. “ Ungkapnya, ia kembali menguap seraya mengucek – ucek matanya.   KRUK…KRUK…   Kiara spontan memegang perutnya saat terdengar bunyi keroncongan.   “ Aduh, laper banget lagi. “ Gumamnya, ia melirik ke arah nakas yang berada tepat di sebelahnya itu terdapat piring berisi beberapa roti dengan selai serta segelas suusu putih.   “ Wah, kebetulan banget. “ Kiara memandang ke arah roti, tapi sedetik kemudian tatapannya beralih ke arah gelas yang terdapat stiker label berisi tulisan.   “ Apa, nih? “ Kiara ambil stiker label yang menempel, lalu dia baca tulisan tersebut yang berisi.   ‘ Sarapan pagi untuk istriku tercinta. Maaf kalau hanya ini yang bisa aku siapkan. Oh iya, aku sudah isiin kamu saldo untuk pesan makanan online, nanti kalau masih lapar pesan aja ya sendiri. I love you, Kia. ‘ >Fahri    “ Fahrial sangat manis. “ Puji Kiara setelah membaca tulisan tersebut, tapi kemudian dia meremas – remas stiker label tersebut dan Kiara letakkan di atas meja. “ Meskipun dia tipe suami so sweet, tapi aku tidak menyukainya. “ Timpal Kiara, ia yang sudah lapar langsung menikmati saja sarapan yang sudah Fahrial buatkan untuknya.   Kiara tidak perduli seberapa usaha yang lelaki itu lakukan karena dia hanya mementingkan dirinya sendiri. Bagi Kiara, yang terpenting saat dia bangun sudah ada makanan, lalu saldo untuk pesan makanan online terisi penuh dan uang di ATM nya juga ada isinya. Hanya itu yang Kiara butuhkan dan hal tersebutlah yang membuatnya senang.   Kiara tidak perduli kalau saat ini dia terkesan menumpang hidup pada Fahrial, sekali lagi Kiara tegaskan bahwa Kiara hanya mementingkan dirinya sendiri demi menyelamatkan dirinya dari kehidupan yang susah.   Setelah kenyang dan menghabiskan roti serta segelas suusu, Kiara kembali merebahkan tubuhnya. “ Ah, senangnya jadi istri orang berduit. “ Katanya berbangga hati. “ Mau ini dan itu tinggal beli. “ Tambahnya. “ Dan untungnya punya suami rada d***u. “ Ungkap Kiara karena dia merasa Fahrial terlalu baik dan mudah di bodohi olehnya, bahkan bisa Kiara sebut kalau Fahrial itu tipe suami takut istri.   “ Lebih baik gue mandi, terus habis itu pesen makan online sambil check out belanjaan online. “ Kiara sangat bersemangat, ia bergegas untuk mandi dan setelah itu dia akan berleha – leha sebagai nyonya besar dirumah ini.   **   Fahrial sedang makan di kantin kantor bersama Laras dan juga Ojan. Di sela – sela makan siang, mereka pun berbincang – bincang.   “ Fahri, lo pakai obat kuat ga waktu mantab - mantab? “ tanya Ojan yang agak nyeleneh membuat Fahrial sampai tersedak makanannya.   Uhuk…Uhuk…   “ Eh—minum dulu. “ Laras dengan sigap menyodorkan Fahrial botol air mineral.   Fahrial meneguk minuman tersebut untuk melegakan tenggorokannya.   “ Pakai gak? “ tanya Ojan lagi.   “ E—enggak. “ Jawab Fahrial menggelengkan kepalanya.   “ Harusnya lo pakai, Fahri. Biar istri lo puas. “ Saran Ojan karena dia memang sudah berumah tangga dan tentunya lebih berpengalaman dari Fahrial.   Laras menahan tawanya melihat Fahrial kini nampak risih di beri pertanyaan seperti itu oleh Ojan.   “ Lo pasti malu ya beli obat kuat? “ tanya Ojan lagi dan Fahrial hanya tersenyum memelas.   “ Bukan malu, tapi lebih ke arah gak butuh itu, sih. “ Jawab Fahrial.   “ Itu sangat dibutuhkan, Fahri. Sebagai laki – laki, kita harus memuaskan istri kita agar dia bahagia. “ Kata Ojan sangat antusias kalau sudah membahas hal – hal seperti ini.   “ Masa, sih? “ Fahrial nampak tidak begitu yakin dengan perkataan Ojan.   “ Iya, Fahri. Udah tenang aja, gue masih ada stok obat kuat di rumah. Besok gue bawain khusus buat lo, ya anggap aja itu hadiah tambahan dari gue untuk pengantin baru. “ Ungkap Ojan semakin membingungkan Fahrial harus menjawab apa.   “ Gak usah, Ojan. Gue gak butuh obat itu. “ Tolak Fahrial dengan cepat.   “ Halah, gak usah malu – malu. Lagian, kayak kuat aja lo berhubungan biar tahan lama. “ Ledek Ojan.   “ Kuat kok, gue. Buktinya tiga hari berturut – turun istri gue puas. “ Balas Fahrial berlagak seakan – akan dia sudah berpengalaman. Mendengar Fahrial berkata seperti itu, Laras semakin ingin tertawa karena dia tahu temannya itu sedang bersandiwara.   “ Gak percaya gue. “ Ojan menggelengkan kepalanya. “ Pokoknya, besok gue bawain obat kuat. Di jamin kalau lo pakai itu lebih mantab dan tahan lama! “ seru Ojan membuat Laras jadi tertawa terbahak – bahak.   “ Please deh, Ojan. Ganti topik pembicaraan, dong. Masa dari tadi bahas obat kuat mulu, kasihan Fahrial kelihatan gak nyaman, tuh. “ Ucap Laras menyudahi tawanya.   “ Sorry, deh. “ Ojan hanya cengar – cengir saja.   “ Tau lo, bikin nafsu makan gue ilang aja. “ Fahrial jadi tidak bersemangat untuk menghabiskan makanannya.   Ojan dan Laras hanya bisa tertawa saja melihat wajah Fahrial nampak muram.   “ Laras? “ panggil Fahrial.   “ Iya, Fahri? “   “ Pulang kerja kamu sibuk, gak? “   “ Kenapa emang? “   “ Rencananya aku mau lihat – lihat mobil di Showroom yang berada di dekat kantor. “   “ Wuih? Mau ganti mobil baru apa gimana, nih? “ celetuk Ojan.   “ Istri gue minta beli mobil. “ Jawab Fahrial.   “ Gilaaa! Istrinya minta langsung mau dibeliin, dong. “ Ojan berdecak kagum sambil bertepuk tangan. “ Contoh suami idaman yang sayang istri. “ Pujinya.   “ Emang lo gak kayak gitu? “ tanya Fahrial ingin tahu.   “ Kalau istri gue minta mobil, ya paling gue suruh dia bersabar dulu karena kalau sudah menikah itu banyak keperluan lain yang lebih penting dan harus menabung juga untuk masa depan buat anak – anak. “ Jelas Ojan secara bijak.   Fahrial terdiam.   “ Tapi, kalau emang lo mau beliin sih, ya terserah. Itu kan, hak lo. “ Tambah Ojan.   Sejujurnya, Fahrial tidak ingin membelikan Kiara mobil karena dia merasa masih banyak kebutuhan lain yang lebih penting tetapi dia juga tidak bisa menolak keinginan Kiara karena tak mau membuat istrinya bersedih.   Merasa sangat terdesak dengan kemauan Kiara sampai membuat Fahrial berniat membelikan Kiara mobil menggunakan uang tabungan miliknya yang memang dia siapkan untuk masa depan atau mungkin lebih tepatnya uang simpanan yang akan dia pakai jika dia sudah memiliki anak karena pasti nanti akan banyak uang yang diperlukan untuk kebutuhan serta biaya pendidikan.   “ Aku gak sibuk, kok. “ Jawab Laras. “ Nanti aku anterin ya. “   “ Oke. “ Fahrial mengangguk kaku, tapi dalam otaknya masih terus berfikir keras.   ‘ Beliin atau enggak ya? ‘ pertanyaan – pertanyaan itu saat ini memenuhi isi otak Fahrial.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD