Fahrial baru saja pulang bekerja, saat berjalan menuju pintu masuk, Fahrial berhenti melangkah ketika melihat tepat di bawah balkon kamar terdapat tangga alumunium yang menempel pada dinding.
“ Loh, kenapa tangganya ada disitu? “ Fahrial melangkahkan kakinya ke arah tangga tersebut, ia kebingungan karena seingatnya terakhir kali tangga itu berada di sudut halaman depan.
“ Apa ada maling tadi malam? “ Fahrial jadi bertanya – tanya pada dirinya sendiri dan mulai berfikiran negatif. “ Nanti aku cek deh, apakah ada barang yang hilang atau tidak. “ Fahrial segera memindahkan tangga itu ke tempat semula, setelah beres dia pun bergegas masuk ke dalam rumahnya.
Di ruang tamu, Kiara lagi nonton acara televisi sambil makan Junk Food yang selalu dia pesan sebanyak mungkin untuk menemani harinya.
“ Assalamualaikum. “ Fahrial mengucap salam seraya duduk di sebelah Kiara.
“ Kok, kamu sudah pulang kerja? “ tanya Kiara melirik Fahrial.
“ Loh, ini kan, memang sudah jamnya aku pulang. “ Jawab Fahrial dan Kiara hanya mengangguk saja setelah menyadari bahwa sekarang sudah sore.
Fahrial perhatikan di meja ada banyak sekali makanan. “ Kamu yang pesan semua ini? “
“ Iya, kalau mau ambil aja. “ Ucap Kiara dengan mata fokus ke layar televisi.
“ Banyak banget, Kia. Apa gak mubazir? “ Fahrial bertanya dengan hati – hati takut membuat Kiara marah.
Kiara menoleh ke arah Fahrial. “ Kenapa? kamu gak suka lihat aku beli makanan sebanyak ini, hah? Kamu gak ikhlas ya isiin aku saldo untuk pesen apa yang aku mau? “ Kiara malah menuduh – nuduh Fahrial.
“ Enggak gitu, Kia. “ Fahrial mencoba untuk mereda Kiara supaya tidak marah karena Fahrial tak ingin bersitegang dengan istrinya itu. “ Sudah lupakan saja. Aku minta maaf ya kalau pertanyaanku tadi menyinggung kamu. “ Daripada memperpanjang masalah, lebih baik Fahrial meminta maaf saja.
“ Hm. “ Kiara hanya berdehem, ia mengambil minuman pepsi lalu dia teguk.
“ Aku mau kentang goreng itu, boleh? “ tanya Fahrial menunjuk ke arah makanan tersebut.
“ Ambil aja. “ Jawab Kiara seraya meletakkan minumannya di atas meja.
“ Tapi, aku maunya kamu suapin. “ Pinta Fahrial sambil cengar – cengir.
“ Ogah! Ambil aja sendiri. “ Tolak Kiara mentah – mentah.
“ Ayolah, Kia. Nanti aku isiin lagi saldo untuk pesan makanan online. “ Tawar Fahrial membuat Kiara tertarik dengan tawaran tersebut karena kebetulan sekali saldo untuk pesan makanan online sudah semakin menipis karena dia selalu saja membeli banyak makanan.
“ Argh! Suami macam apa kamu ini memaksa istrinya untuk menyuapkan makanan. “ Keluh Kiara tetapi tangannya bergerak untuk mengambilkan kentang goreng, lalu dia arahkan ke mulut Fahrial. “ Buka mulut kamu! “ ucapnya seperti orang ngomel – ngomel sedangkan yang di marahi justru malah senyam – senyum.
“ Daripada kamu, masa sebagai seorang istri harus di sogok dulu baru mau nurutin permintaan suaminya. “ Balas Fahrial tepat sasaran sehingga Kiara tidak bisa berkata – kata lagi karena memang yang lelaki itu katakan benar adanya.
“ Yaudah buruan makan. “ Celetuk Kiara yang sudah tak sabar menyuapkan Fahrial,
Fahrial pun segera membuka mulutnya dan Kiara mulai menyuapkan beberapa kentang yang tadi dia ambil. Saat kentang itu sudah masuk sebagian ke dalam mulut Fahrial, sesuatu terlintas di fikiran lelaki itu, rasanya bukan Fahrial jika tidak iseng karena ketika seluruh kentang sudah masuk ke dalam mulutnya, dengan sengaja Fahrial gigit ujung jari Kiara.
“ Aw! Fahri! “ Kiara sontak menjauhkan jarinya dari bibir Fahrial, ia memandangi jari telunjuknya yang baru saja di gigit. “ Kamu rese banget, sih! nanti kalau aku kena rabies gimana? “ omel Kiara.
Fahrial tertawa sebentar. “ Enak aja rabies, emang kamu fikir aku hewan. “ Balasnya.
“ Bodo amat! Kamu manusia super ngeselin! “ keluhnya karena Fahrial selalu saja berbuat ulah. Pertama, tadi pagi dia mencium bibir Kiara dan sekarang mengigit jarinya.
Fahrial tertawa saja, tapi sedetik kemudian dia jadi teringat sesuatu. “ Kiara? Apa barang di rumah kita ada yang hilang? “ tanya Fahrial untuk memastikan karena dia menaruh curiga mengenai keberadaan tangga yang tadi dia temukan di bawah balkon kamar.
“ Tidak, kenapa? “ jawab Kiara tenang.
“ Sepertinya tadi malam ada orang yang mencoba untuk masuk ke dalam rumah ini. “ Terang Fahrial.
“ Hah? kamu seriusan? Maksud kamu peraampok? “ Kiara jadi terlihat panik karena dia merasa takut jika memang benar ada penjahaat yang ingin menyusup ke dalam rumah.
“ Mungkin saja, tapi aku juga tak yakin. “ Fahrial mengangkat bahunya, ia juga tidak bisa langsung menuduh yang tidak – tidak.
“ Emangnya ada hal – hal mencurigakan sampai kamu tanya ada barang yang hilang atau tidak di rumah ini? “ Kiara bertanya lagi.
“ Tadi aku lihat ada tangga di bawah balkon kamar kita, aku fikir ada yang berusah untuk masuk ke dalam rumah ini melalui kamar kita. “ Jelas Fahrial seketika membuat Kiara semakin tegang, gadis itu benar - benar tidak menyadari kalau kecurigaan yang Fahrial bahas sejak tadi adalah soal tangga yang semalam dia gunakan untuk naik ke atas balkon.
“ A—apa? “ Kiara mendadak salah tingkah, ia meneguk ludahnya susah payah. “ Ta—tapi gak ada barang yang hilang, kok. Mungkin kamu pernah pakai tangga itu dan lupa merapihkannya lagi. “
“ Tidak, Kia. Terakhir kali aku letakkan tangga itu di sudut halaman. “ Ungkap Fahrial dengan keyakinan penuh. “ Apa menurutmu kita perlu lapor satpam di komplek ini supaya keamanan rumah kita di jaga ketat? “ tanya Fahrial meminta saran.
“ Ish! Gak usah! “ Kiara menggeleng cepat. “ Sudah lupakan saja jangan di bahas lagi, yang penting di rumah kita tidak ada barang yang hilang satupun. “ Kiara mengambil kembali minumannya di atas meja tetapi hal tersebut membuat Fahrial bingung karena tangan Kiara yang memegang gelas pepsi terlihat gemetaran.
“ Tangan kamu kenapa gitu? “ Fahrial terheran – heran karena tangan Kiara gemetar cepat seperti orang tremor.
“ Gak apa – apa. “ Kiara minum dengan tangannya yang masih terus gemetar.
‘ Aneh. ‘ Batin Fahrial.
Tak lama terdengar bunyi bel rumah pertanda ada orang yang datang.
“ Aku aja yang buka. “ Kiara bangun dari duduknya, ia buru – buru berjalan keluar rumah untuk menghindar dari Fahrial karena saat ini dia sedang merasa gugup.
“ Oke. “ Fahrial mengangguk saja.
Sambil berjalan, Kiara menghela nafas kasar. “ Huft! Sial! Kenapa aku sampai lupa menaruh tangga itu kembali pada tempatnya. “ Tutur Kiara menyesali kebodohannya. Untung saja Fahrial mau menurut kepadanya untuk tidak melapor ke satpam komplek.
Begitu Kiara buka pintu ternyata itu kurir pengantar jasa paket belanjaannya.
“ Atas nama mbak Kiara? “ tanya kurir itu.
“ Iya betul. “
“ Ini paketnya mbak. “ Pria itu menyerahkan sekitar sepuluh bungkus paket belanjaan milik Kiara.
“ Makasih ya, mas. “ Kiara terlihat gembira sekali seperti orang pada umumnya saat melihat pesanan barangnya datang, ia tak sabar ingin membukanya.
“ Sama – sama, mbak. “ Kurir itu segera pergi.
Sekarang, Kiara jadi kelimpungan sendiri melihat kardus paketan itu terlalu banyak karena tidak mungkin mampu baginya untuk membawa semua itu sendirian.
“ Fahrial? “ panggil Kiara sedikit berteriak.
“ Iya, Kia? “ Fahrial bergegas menghampiri istrinya. “ Ya ampun, Kia? Ini paket apa banyak sekali? “ Fahrial mengabsen setiap bungkusan barang tersebut.
Kiara terkekeh. “ Di dalam paket ini isinya ada baju, tas, sepatu dan beberapa aksesoris. “ Jawabnya santai tetapi membuat Fahrial geleng – geleng kepala. Fahrial ingin sekali protes tetapi takut membuat Kiara marah. Akhirnya, Fahrial memendam saja niat untuk menceramahi gadis itu. Fahrial pun mencoba memaklumi saja dan menganggap uang yang Kiara gunakan untuk berfoya – foya saat ini sebagai bentuk hadiah pernikahan tambahan.
“ Fahri, tolong bawakan semua belanjaan ini ke kamar ya. “ Perintah Kiara. “ Aku bantu doa aja, biar kamu yang urus bawa barang – barang itu. “ Selesai bicara, dengan santainya Kiara melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Fahrial bersama paket yang tertumpuk di ambang pintu.
“ Ya allah, tabahkanlah hati hamba. “ Fahrial mengusap dadanya sendiri. “ Sabar, Fahri. “ Meskipun dia sedang merasa lelah karena baru saja pulang kerja, tapi Fahrial tetap menuruti perintah Kiara untuk membawa semua paket belanjaan itu.