- 37 -

1709 Words
Sementara itu Arbis malah keliatan belajar sendiri, sebenernya cuma iseng iseng liat liat buku. Dan daripada gak ada kerjaan Arbis pu mengisi soal soal yang ada di buku itu. Itung itung nguji kemampuannya yang udah lama gak pernah di pake, dan ternyata Arbis masih dengan mudah menyelesaikan soal soal yang ada di buku paketnya. Arbis tersenyum sendiri melihatnya. Sebenarnya Arbis ingin kembali membanggakan orang tuanya, tapi ia tidak mau kehilangan kebahagiaannya sekarang. Ia tidak mau kembali bersaing dengan Angga. Ia ingin hidup normal  bersama anak anak tidak normal seperti Klover. Setidaknya hidupnya yang waktu itu kembali flat semenjak di tinggal Tisya, kembali berwarna semenjak kemunculan Klover. Arbis menarik tangan Karin yang ingin berdiri. Karin kesal daritadi Arbis terus menerus menarik tangannya. "Mau kemana?" Tanya Arbis cepat. "Keluar sebentar." "Ngapain?" "Cari makanan lah, gue laper kali belom sempet makan." Karin buru buru berdiri, lalu di ikuti Arbis. "Lo ngapain ikut ikutan?" Karin menatap Arbis dingin yang malah ikutan berdiri. "Mau nemenin lo cari makan." Jawab Arbis dengan tampang yang di buat sok polos. "Karin gue juga mau makan." Kiran berteriak saat mendengar Karin dan Arbis ribut ribut soal makanan. "Sama ikan bakar yang di depan itu yaa." Kiran kembali berseru girang. "Gue juga, Rin." Sayna ikut menyahut. "Samain aja kayak Kiran." "Gue juga dong." Ilham yang tadinya sedang berkutat dengan lima belas soal yang Karin berikan ikut ikutan. "Elo, Gan. Gak sekalian?" Karin mengarahkan pandannya pada Regan yang di apit Sayna dan Kiran. Arbis tersenyum kecil melihat tingkah Karin yang respect banget sama Regan, tapi tetep berusaha keliatan dingin. Ternyata begini cewek model Karin menunjukan rasa perhatiannya pada cowok yang di taksirnya. "Samain aja sama mereka." Jawab Regan di iringi senyuman yang membuat Karin meleleh jika terus terusan melihatnya. "Mana duitnya?" Karin mengadahkan tangannya pada mereka semua yang sedang duduk. "Jadi kita gak di beliin?" Tanya Sayna polos. "Masih minta di beliin? Gue udah ngajarin lo tanpa pada tanpa di kasih bayaran, modalin tempat buat kalian belajar, dan sekarang makan masih berani minta di beliin?" Cerocos Karin dengan nada suaranya yang galak, kontan membuat Ilham, Kiran, Sayna, tak lupa juga Regan merogoh saku seragam mereka, mengeluarkan uang untuk membeli makanan. "Nih, gue sekalian bayarin Regan. Guekan tau diri daritadi diajarinnya sama Regan." Kiran memberiak uangnya pada Karin. Dan menahan tangan Regan yang hendak memberikan uangnya pada Karin. Karin pun segera berjalan menuju pintu, namun saat gagang pintu hendak di bukanya, Karin menoleh pada Ilham. "Kerjain sampe selesai, nanti pas gue balik bakalan guw periksa. Kalo ada yang salah lo gak boleh makan!" Tandas Karin pada Ilham. Membuat Ilham shock. "Kok gitusih? Arbis masa gak di kasih soal juga? Curang nih Karin." "Gausah protes!" Kiran cekikikan melihat tampang Ilham yang bete abis. Gak aneh sama sikap Karin yang keras banget kalo ngajar. Kiran kan udah pernah bilang, Karin itu kalo ngajar kayak utusan yang di kirim dari neraka. "Bye, Ilham." Arbis mencondongkan kepalanya kembali ke dalam apartemen saat ia sudah berada di luar, meledek Ilham yang harus berkutat dengan tugas sementara dirinya jalan jalan. "Curang lo!" Ilham melemparkan tipe-x pada kepala Arbis. Tepat sekali mengenai sasaran, membuat Arbis meringis. Namun tak di balasnya karena Arbis segera berlari untuk mensejajari jalannya dengan Karin yang sudah hendak mencapai lift. "Gak susah kan, Rin? Cuma ngajarin Ilham doang." Arbis mengajak ngobrol saat ia sedang di lift, terlebih di lift itu hanya ada mereka berdua. "Lumayan. Tapi Kiran serius kan belajar sama Regan?" Ada nada khawatir yang Arbis tangkap dari suara Karin. "Gue gak mau yaa, mati matian ngajarin orang, nanti adek gue sendiri malah gak ada perubahan." Arbis tersenyum, Karin memang perhatian dan sangat peduli dengan Kiran. Tentu saja itu semua di balik sikapnya yang dingin. Mereka pun berjalan keluar dari lift setelah sampai di lantai utama apartemen. Mereka berjalan beriringan melewati lobby, tujuan mereka adalah membeli makanan tenda yang ada di depan apartemen. Kiran dan Karin emang gak terlalu pilih pilih makanan, meski tinggal di apartemen, dan banyak banget restoran yang ada di dalam sana, mereka lebih suka dengan makanan beraneka ragam yang ada di luar, seperti pecel lele, ikan bakar, sate, bakso, soto, dan berbagai makanan yang lainnya. "Rin, masih inget sama perjanjian kita gak?" Karin menoleh dengan bingung pada Arbis, seingat Karin dia tidak pernah membuat perjanjian apapun, terlebih dengan Arbis, kecuali pura pura pacaran ini. "Ituloh, yang kata lo mau beliin gue jam tangan kalo gue bisa ngerjain tugas lo waktu itu." Arbis mengingatkan saat Karin menatapnya kebingungan. Ah iya Karin ingat, s****n, kenapa Arbis masih ingat sih? Dengus Karin. "Cowok kok matre, harusnya kan elo yang beliin gue." "Yee, kan perjanjiannya gitu. Malem minggu kita jalan yaa? Buat nyari jam tangannya." Mata Arbis menatap Karin dengan jail, namun ucapannya terdengar serius. "Kita kan pacaran cuma pura pura! Kenapa malem minggu harus jalan sih?" "Lo kan udah mau temenan sama gue. Emang salah kalo malem minggu jalan ama temen, gue sering kok sama Klover." "Yaudah, jalan aja sana sama Bandit." "Gue maunya sama elo." Karin tak meladeni lagi ucapan Arbis, karena mereka telah sampai di tenda ikan bakar. Karin segera memesan pesanannya dan duduk menunggu di bangku yang tersedia. Arbis mengikuti duduk di sebelahnya. Asap ikan bakar tercium begitu lezat saat Karin dan Arbis menunggu, mata Arbis melihat lihat keluar tenda dimana banyak orang berlalu lalang sore itu. Sedang Karin hanya diam saja menunggu ikan bakarnya matang. Arbis yang emang gak bisa diem diem aja selama ada di dekat Karin, menyenggol sikut Karin yang ada di sebelahnya. Karin melotot kearah Arbis kesal. "Apasih?" Ucap Karin keki. Arbis cengengesan melihat tampang Karin yang kesal dengan ulahnya. "Lo curang tadi." "Curang apaan?" Saut Karin datar, sambil berdiri untuk mengambil ikan bakarnya yang sudah matang. Karin mengeluarkan uang dari saku seragam putih abu yang belum sempat di gantinya lantaran harus mengajari Klover. Arbis ikut berdiri dan menyusul Karin keluar dari tenda ikan bakar ini. Arbis mensejajari jalannya dengan Karin yang lumayan cepat cepat. "Daritadi yang lo ajarin Ilham doang, gue enggak. Lo ada maen yaa sama Ilham? Apa lo kepincut sama pesona playboy nya?" Arbis berkata ngasal, namun sukses membuat Karin -yang entah sudah keberapa kalinya- melotot pada Arbis yang selalu membuatnya emosi. "Lo emang minta di jatohin dari lantai paling atas apartemen ini ya?" "Wah, serem amat. Jangan dong, Rin. Gue gak kebayang nanti lo bakal nangis kayak gimana? Apa sampe meraunng raung saking sedihnya." Dengan geram Karin mencubit pinggang Arbis begitu kencang. Arbis merintih kesakitan sambil memegangi pinggangnya. Persislah Arbis seperti orang encok yang sedang berjalan karena terbongkok ke samping. Tapi perlakuan Karin sukses membuat Arbis terdiam. "Gue bakal laporin lo ke komnas perlindungan anak karena udah tega menyiksa anak di bawah umur." Arbis misuh misuh di belakang Karin. Karin tak memperdulikannya. Ia tetap berjalan seolah tak ada Arbis. "Pantesan si Tisya berpaling sama Angga, dia gak mungkin tahan sama kelakuan lo yang kayak gini." Semprot Karin menyinggung soal masalalu Arbis. Arbis diam sejenak, lalu segera mengembalikan dirinya untuk tidak terlarut. "Hey, jangan asal tuduh yaa! Kalo lo ketemu gue beberapa tahun sebelumnya, gue yakin lo juga bakal cinta mati sama gue kayak si Tisya itu." Arbis berkata dengan santai, tidak, ia tidak akan bermain hati dulu dalam perbincangan dengan Karin ini. "Bukannya elo yang cinta mati sama dia." Arbis menghentikan jalannya, rahangnya kini benar benar mengeras mendengar ucapan Karin. Melihat Arbis berhenti Karin pun ikut berhenti dan menatap Arbis yang air mukanya mulai berubah. "Dia yang mati matian ngejer gue, ngehantuin hidup gue, hampir setiap hari ke rumah gue. Tapi setelah dia berhasil bikin gue percaya bahwa gue ini gak sendirian, bahwa ada dia yang bakalan sama gue, dia pergi gitu aja. Setelah dia melambungkan sesaat dunia gue, dia ngejatohin lagi tanpa ampun. Pergi gak ada kabar, dan gak tau kapan balik. Dan sekarang seenak jidat dia malah balik tanpa peduliin gue. Lo tuh gak tau apa apa!" Arbis berteriak dengan kesal pada Karin, mengeluarkan segala keluh kesahnya, namun ucapannya terdengar seperti luapan emosi yang telah di pendamnya sejak Tisya kembali lagi ke hidupnya. Karin tertegun melihat Arbis seperti itu, untungnya kepribadian orang orang yang tinggal di apartemen tidak peduli terhadap lingkungan sekitar, sehingga saat Arbis berteriak seperti itu tidak menarik perhatian siapapun kecuali Karin. "Gue.. gue emang gak tau apa apa. Semenjak lo ngasih unjuk ke gue sebagian kecil tentang diri lo, gue tetep gak ngerti diri lo yang sebenernya itu kayak gimana. Gue juga gak pernah tau, kejadian apa yang pernah ada di hidup lo sebelum lo ketemu sama Klover." Karin menyahut agak sedikit terbata, karena kaget melihat Arbis yang seperti itu. Karin benar benar tidak paham Arbis itu bagaimana, meski terkadang terlihat mengesalkan, tapi semakin kesini Karin semakin yakin, bahwa semua itu hanya topeng semata untuk menutupi masalalunya yang mungkin -jika Karin tak salah menebak- agak kelam. Arbis tersadar, ia memejamkan matanya sejenak dan menjambak rambutnya. s**l! Bisa bisanya Arbis lepas kendali seperti tadi. "Sori, Rin. Gue.." "Yaa, gue ngerti. Udah ayok, mereka udah kelaperan nungguin kita." Karin memotong ucapan Arbis dengan cepat, lalu berjalan kembali mendahului Arbis. Arbis yang semula masih mematung segera berlari untuk mengikuti Karin. Perjalanan mereka kali ini di warnai dengan keheningan. Arbis tak lagi banyak bicara sejak di singgung masalah tadi. Pikirannya benar benar berkecamuk karena telah melibatkan Karin ke dalam kehidupannya. Tapi hanya pada Karin Arbis mampu bercerita, selama ini, kepada Klover sekalipun, Arbis tak pernah ingin membuka kisah kelamnya. Entah mengapa, meski Karin dingin setengah mati, tapi selalu membuatnya nyaman saat menceritakan kisahnya. "Rin, tolong yaa.." setelah diam cukup lama, akhirnya Arbis kembali bersuara. "Apa?" "Tolong lo ajarin mereka bener bener. Kalo mereka sampe gak bisa ngertiin pelajaran juga, mungkin gue juga akan.." "Apa mereka itu segitu pentingnya?" Pertanyaan yang sedari kemarin mengganjal Karin kini mulai di lontarkan. Karin tak pernah mengerti mengapa Arbis sampai segitunya dengan Klover. "Penting banget. Mereka itu sahabat gue, dan gue gak mau nuker mereka dengan apapun. Asal lo tau aja, gue ini orang yang haus banget sama kebahagiaan. Tisya pernah ngasih kebahagiaan sesaat buat gue, sampe akhirnya dia pergi lagi dan gue, yah begitu lagi, dan sampai akhirnya gue ketemu mereka, yang punya kepribadian gak terlalu ribet, mereka yang bisa tertawa lepas meski saat gue ketemu mereka itu nilai ujian mereka itu ancur banget. Dan gak tau kenapa, saat ngeliat itu, gue ngerasa nyaman banget, dan rela nuker apapun asal gue bisa bareng mereka." Karin diam mendengar penjelasan Arbis. Sambil mengingat bagiamana pertemuan Klover pertama kali itu, saat pendaftaran ke SMA Paramitha tentunya, dan Karin benar benar ingat, waktu itu yang paling diam adalah Arbis. Arbis hanya sesekali tertawa melihat tingkah Kiran, Ilham, dan Sayna yang saling meledek nilai di ijazah mereka. Cerita Arbis, semakin membuat Karin tak mengerti tentang siapa sebenarnya Arbis ini. ***      
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD