"Gue minta ijin minta anterin Tisya ke rumah Neneknya Arbis." Karin langsung menyampaikan maksudnya saat sampai di kelasnya yang sekelas dengan Angga. Tisya berdiri di sampingnya, menunduk, tidak berani menatap Angga.
"Gabisa!" Angga menjawab cepat.
Mata Karin melotot, hubungan Karin dan Angga sebenarnya cukup baik di kelas, tapi melihat Angga seperti ini rasanya Karin ingin membunuh Angga saat ini juga.
"Arbis udah gak masuk tiga hari!" Karin nyaris berteriak, matanya menatap Angga jengkel.
"Itu bukan urusan gue dan Tisya."
Terkutuklah Angga saat itu juga, sumpah serapah seakan Karin lontarkan dalam hati. Tatapan Karin seolah ingin menerkam Angga. Ternyata benar apa yang di ceritakan Arbis. Angga-sangat-menyebalkan.
"Itu emang urusan gue, dan kalian berdua terlibat! Gue tau masalah lo, elo, dan Arbis!" Karin dengan geram menatap Angga dan Tisya secara bergantian. "I'm fine, gue bisa terima. Tapi seenggaknya, yang perlu lo berdua tau, posisi gue disini masih ceweknya Arbis. Kesel? Jelas! Tapi gue mana bisa marah, gue aja gak pernah ketemu dia lagi sejak tragedi kalian di UKS itu. Untung gue gak liat, mungkin gue bakal bunuh Arbis di tempat kalo disitu ada gue." Dengan emosi menggebu Karin berbicara, dengan lantang mengatakan bahwa 'gue ceweknya Arbis'. Sangat jarang, jarang sekali Karin mengakui, entah ini akting atau spontanitas, oke, jujur. Karin benci mengakuinya, saat ini Karin memang sangat khawatir dengan Arbis. Dibalik sikap menyebalkan, Arbis dengan kepribadian yang lain sangat bertolak belakang dengan biasanya. "Oke, elo atau Tisya yang bakal nganterin gue!" Ini pertanyaan final, dari nadanya Karin terdengar lelah berurusan dengan Angga.
"Gue yang bakal nganter lo." Ucap Angga akhirnya. Lalu pandangannya beralih pada Tisya. "Balik ke kelas."
Tisya menuruti dengan segera berjalan menjauh darisana. Dengan tergesa Karin pun memimpin jalan menuju parkiran. Dari belakang Angga menatap punggung Karin, ternyata Tisya bukan pion satu-satunya untuk menghancurkan Arbis. Angga kira, Karin tak pernah benar-benar mencintai Arbis, jika dilihat dari sikap dinginnya selama ini. Ternyata Angga salah. s**t! Lagi-lagi, Arbis terlalu beruntung.
***
Suasana di dalam mobil Angga hening. Karin memang tak banyak bicara, selain tadi ia memaksa agar memakai mobilnya. Tapi Angga juga bersikeras untuk memakai mobilnya. Dan ternyata yang menang Angga, karena jika tidak begitu, Angga tak mau mengantar Karin.
Mobil Angga sudah memasuki jalan tol menuju luar kota. Karin terlihat sibuk dengan ponselnya untuk membalas-balasi pesan dari para Klover yang menanyai Karin sudah sampai mana. Tapi Karin dengan sabar meladeni mereka, Karin tau, mereka juga pasti khawatir.
"Elo tau dari mana Arbis disana?" Angga mulai berbicara, sedikit canggung dengan keheningan ini.
"Tadi dia sms." Jawab Karin singkat, tanpa mengalihkan perhatian dari ponselnya. "Dan gak lama hapenya nonaktif lagi." Lanjut Karin, mengetahui apa yang di pikirkan Angga. Pasti dia akan bertanya kenapa tidak tanya saja alamatnya pada Arbis.
"Elo udah tau semuanya, tapi lo masih peduli sama Arbis. Mau taruhan sama gue? Seandainya gue ngelepas Tisya, dan dia bakal lari ke Arbis. Mungkin lo bakal di campakin." Angga melirik Karin, berusaha mengetahui ekspresi Karin seperti apa saat ia berbicara seperti itu.
"Peduli amat, bagus malah kali gue bisa lepas dari dia." Batin Karin, tak mungkin juga Karin terang-terangan berkata seperti itu.
"Liat aja nanti." Jawabnya tenang.
Akhirnya mobil Angga berhenti di depan sebuah rumah di kawasan perumahan yang masih asri. Perumahan ala pinggiran ibu kota. Setelah gerbang di buka, mobil Angga memasuki halaman rumah tersebut. Karin segera turun darisana setelah mobil terparkir dengan sempurna.
Satpam penjaga pintu tadi tampak menunduk menghormati Angga, cucu majikannya. Biar bagaimanapun, Angga tidak dapat memungkiri fakta bahwa dia dan Arbis saudara sepupu. Berbagi rumah masa kecil yang sama, serta nenek yang sama.
Angga memencet bel rumah neneknya, dan tak lama seorang wanita tua membukakan pintu. Agak terkejut saat melihat cucunya yang satu lagi ikut datang kesana. Di waktu yang sepagi ini, dengan memakai pakaian sekolah pula.
Angga menyalami neneknya, diikuti Karin. Lalu Oma Rani menyuruh mereka berdua masuk kedalam rumahnya.
"Arbis disini, Oma?" Tanya Angga, meski sebenarnya malas menyebutkan nama itu.
"Iya, udah tiga hari dia disini. Katanya sekolahnya libur, tapi kalian sekolah. Kamu satu sekolah sama Arbis kan?" Oma Rani mengernyitkan keningnya pertanda bingung, menatap cucunya ini.
"Iya emang libur, cuma aku ada urusan di sekolah aja. Eskul gitu." Angga sengaja berbohong, tidak mau membuat khawatir Omanya. Bisa ribet urusannya kalo Angga mengatakan Arbis bolos karena berkelahi dengannya. Yang ada Omanya bisa mendadak terkena serangan jantung di usianya yang renta seperti ini.
"Sekarang Arbisnya dimana, Oma?" Tanya Karin tidak sabar.
Oma Rani tampak berpikir sejenak, di usia seperti ini memang dia sering lupa. Lalu saat teringat ia tersenyum pada Karin. "Kayaknya ke lapangan depan deh, tadi dia bawa bola soalnya. Biasanya pagi-pagi Arbis emang kesana." Jelasnya, mengetahui rutinitas sang cucu yang sejak kemarin menginap disini.
Karin menoleh pada Angga, berniat minta antar. Karin mana tau lapangan daerah sini ada dimana. Kesini aja baru pertama kali.
"Elo pas keluar dari gerbang ambil kanan, terus lurus aja. Nanti ketemu kok lapangan di dalem taman gitu." Angga menjelaskan tanpa diminta, pertanda ia tak mau mengantar Karin.
Karin tak memprotes, mungkin memang baiknya Angga tak bertemu Arbis. Bisa runyam lagi urusannya kalo mereka malah ribut lagi.
Karin pamit pada Oma Rani untuk menyusul Arbis. Menyusuri jalanan komplek yang baru pertama kali di kunjunginya ini. Karin memperhatikan sekelilingnya, berusaha menemukan lapangan yang di maksud. Sampai akhirnya ia menemukan tempat area hijau yang banyak di tumbuhi rumput dan sebuah pohon rindang, dan disana memang ada lapangan.
Karin memasuki tempat itu. Sepi. Tak ada orang sama sekali sepanjang ia berjalan. Memang ini jam belajar bagi yang bersekolah dan jam kerja bagi yang bekerja. Mana ada yang keluyuran tidak jelas di tempat ini. Kecuali satu orang, akhirnya mata Karin menangkap sosok Arbis yang sedang menendang-nendang bolanya. Dengan kekuatan yang begitu kencang, menjebretkan bola tersebut pada gawang. Lalu di ambilnya lagi, dan dilakukannya lagi gerakan tadi. Berkali-kali, sampai akhirnya Arbis lelah, dan menjatuhkan dirinya pada rerumputan lapangan.
Mata Arbis terpejam, untuk mengurangi efek silau yang di timbulkan sinar matahari yang menerpa wajahnya. Wajah yang terlihat kelelahan itu. Entah lelah bermain bola, atau lelah bergelut menjalani kehidupan.
Karin berdiri disamping Arbis, menghalangi sinar matahari yang menerpa wajahnya. Kiran yang tersadar akan kehadiran seseorang membuka matanya, saat matanya menangkap sosok Karin sedang berdiri sambil menatapnya, Arbis seketika bangun. Terkejut, tidak percaya Karin ada disana.
"Masih marah sama gue?" Karin ikut duduk di samping Arbis, membuka pertanyaan yang menyinggung soal masalah mereka terakhir kali.
Arbis berpikir sebentar. Soal itu. Arbis hampir saja lupa karena masalah yang lain bermunculan tanpa di duga.
"Masih." Jawab Arbis singkat. Berusaha bersikap cuek. Membuat Karin canggung, karena Arbis yang biasanya itu sangat jail dan tidak bisa diam. Alias tengil.
"Tapi lo kabur bukan gara-gara itukan?" Karin menselonjorkan kakinya, lalu tangannya menempel pada rumput, guna untuk menopang tubuhnya. "Gue tau dari Kiran tentang elo yang ribut sama Angga, terus lo pelukan sama Tisya di UKS. Pelukan sama mantan. Gue boleh marah dong?" Nada bicara Karin terdengar tenang, namun sontak membuat Arbis terkejut. Tidak percaya dengan ucapan Karin.
Arbis menoleh, menatap Karin yang hanya sedang memandang ke depan. Ini bukan Kiran kan? Oke, mereka kembar tidak identik, Arbis tak mungkin tertukar, dan cara bicara Kiran juga tidak pernah setenang itu. Tapu cara bicara Karin setiap berurusan dengan Arbis senantiasa jutek. Tapi sekarang?
"Rin, lo gak sakit kan?"
Karin tertawa mendengar pertanyaan Arbis. Sebentar, Karin tertawa. Benar. KARIN TERTAWA! Arbis semakin tidak percaya dengan yang barusan di dengarnya, tawa singkat memang, hanya sekedar terkekeh. Tapi jika itu yang melakukan adalah seorang Karin, apalagi saat bersama Arbis. Sungguh! Itu adalah hal yang sanga tidak biasa.
"Hari ini gue aneh yaa? Sampe lo bengong gitu?" Karin menyadarkan Arbis dari lamunannya. "Sebenernya sih cuma modus supaya lo mau ikutan olimpiade itu. Gue serius loh, Bis. Gue bakal di keluarin kalo lo gak ikut."
Ternyata karena itu. Arbis kira Karin benar-benar perhatian dengannya. Ah, lagipula kenapa juga Arbis harus berpikir seperti itu.
"Gue udah bilang, gue gak bisa."
"Dengan cara lo kemaren, mereka -Kiran, Sayna, Ilham- pasti juga bakal bertanya-tanya lo kenapa?"
Itu dia! Batin Arbis. Alasan mengapa ia tidak masuk ke sekolah. Karena Arbis tidak siap di tanya-tanya soal itu. Arbis tidak mau menjelaskan apapun. Arbis tidak ingin mereka tau apapun soal Arbis di masalalu. Cukup Arbis yang sekarang, yang seperti ini, yang mereka tau.
"Mereka semua khawatir sama lo. Lo tau, setiap hari si Tisya jadi tawanan mereka. Di interogasi dari pagi sampe pulang sekolah. Untungnya dia sama sekali gak jawab." Karin menjelaskan. Dan lagi-lagi, sangat jarang bagi Karin untuk menjelaskan sesuatu hal.
"Elo sendiri, khawatir gak sama gue?" Arbis menoleh, pertanyaannya sukses membuat Karin ikut menoleh.
"Biasa aja." Suara ini. Suara khas Karin yang dingin baru terdengar.
"Kalo biasa aja, ngapain lo nyamperin gue sampe kesini?" Arbis tersenyum jail. Senyum itu. Batin Karin. Akhirnya Arbis tidak sefrustasi tadi. Tapi tetap saja, Karin benci dengan Arbis yang mulai jail lagi.
"Kok lo nyebelin lagi sih?"
Arbis terkekeh mendengar nada tinggi dalam suara Karin. Tangan Arbis kini melingkar di pundak Karin, merangkul Karin yang berada di sebelahnya. Senyuman jail masih tak lepas dari bibirnya.
"Tadi katanya mau marah sama gue, sori yaa, sayang. Kemaren gue khilaf meluk-meluk pacar orang. Abis pacar gue susah banget mau di peluknya." Arbis mempererat rangkulannya pada Karin, ketika menyadari Karin mulai berontak untuk melepaskan diri dari Arbis.
Karin menyesal telah bertindak seperti tadi, dan Karin benci dengan Arbis yang seperti ini lagi. Meski lega juga. Tapi tetap saja, Karin gak sudi di panggil sayang sama Arbis. Pake di rangkul sok akrab gini lagi. Dan suasananya, ditengah lapangan rerumputan, dimana cuma ada mereka berdua disana. s**l! Idup gue mulai kayak ftv. Dan gue beneran kejebak ftv sama si Arbis k*****t ini.
"Lepasin ahh! Tangan lo abis nempel di tanah nempel ke baju gue. Kotor nih!" Bentak Karin, yang akhirnya berhasil melepaskan diri dari Arbis.
Arbis tertawa puas melihat Karin yang kembali jutek. Dan tak henti-hentinya terus menggoda Karin sepanjang hari itu.
***