- 32 -

1218 Words
"Kiraann itu uler!" Ilham berteriak heboh saat sebuah ular jatuh ke pundak Kiran. Seketika Kiran tak dapat bergerak, ia menoleh ke pundaknya, nafasnya tercekat melihat ular yang sedang hinggap di sana. Dan kini ular itu sedang merayap di lengannya, lidah ular itu terjulur berkali kali, membuat Kiran bergidik ngeri. "Ilham gue takut! Ini usirin gimana!" Kiran sontak menjerit sambil menangis, seumur umur tak pernah Kiran melihat ular merayap di tangannya. Kiran benar benar menangis kejar, takut takut ular itu mematoknya, dan memasukan bisa kedalam tubuhnya. Kiran makin bergidik membayangkan semua itu. Ilham mengambil tongkat yang ada di sekitar sana, Ilham berusaha mengusir ular itu dari lengan Kiran. Melihat datangnya ancaman, ular itupun mengeluarkan jurusnya yang paling ampuh. Lidah ular itu terjulur, mulai terasa di kulit Kiran, namun kali ini bukan terasa lagi, tapi seakan menusuk permukaan kulit Kiran. "Ahh.." Kiran mendesah kesakitan, saat ular itu berhasil memasukan racun berbahaya ke dalam tubuhnya. Tubuh Kiran mendadak lemas dan terhuyung, kepalanya seketika berkunang kunang, bisa ular itu bereaksi sangat cepat. "Kiraann!" Ilham panik saat melihat terjatuh, setelah menggigit Kiran ular itu pergi. Pandangan Kiran mulai buyar, semua terlihat berbayang di matanya. Namun Kiran masih setengah sadar. Kini terasa Ilham yang menopang tubuhnya, dan membawa Kiran untuk bersandar pada sebuah pohon. "Kiran tahan, Ran. Gue harus gimana ini?" Ilham benar benar panik, suaranya bergetar saat melihat kondisi Kiran. Ilham benar benar tak tau harus melakukan apa. Kiran tak menjawab, lidahnya terasa kelu untuk berbicara, perlahan kesadarannya benar benar hilang. Kiran pun pingsan, dan Ilham benar benar panik, bahkan wajah Ilham terlihat ikut memucat. "Gue, gue harus cari bantuan. Sabar yaa, Ran. Gue percaya lo kuat." Ilham pun segera berlari, meski tak tau jalan ia berharap akan menemukan seseorang. Siapapun. Yang penting bisa membantunya untuk menyelamatkan Kiran. Kini tinggalah Kiran sendirian dengan kondisi tidak sadarkan diri. Dengan wajah yang begitu pucat seperti orang keracunan. Tubuhnya tergeletak lemah tak berdaya, racun ular itu ampuh menguras seluruh energi Kiran. Tak lama kemudian terdengar derap langkah orang berjalan menghampiri Kiran. Tubuhnya bergetar hebat melihat kondisi Kiran yang seperti ini. Hatinya benar benar tersayat melihat orang yang paling di sayanginya kini tergeletak tidak sadarkan diri. Dia tau Kiran gigit ular, dia tau semuanya, apapun dia tau. Apapun yang berhubungan dengan Kiran. Karena tanpa Kiran sadari, dia selalu mengawasi Kiran, selalu berusaha menjaga Kiran dari jauh. Dan mungkin kali ini ia akan bertindak cukup nekat demi menyelamatkan nyawa Kiran. Kini dia sudah berada di hadapan Kiran, di raihnya lengan Kiran yang di gigit ular itu. Dia tau ini berbahaya, tapi tak ada tindakan lain, ia lebih tak rela jika dia hanya diam melihat Kiran seperti itu. Perlahan, dia mendekatkan lengan Kiran ke bibirnya, kini tanpa ragu dia berusaha menyedot bisa ular yang bersarang dalam diri Kiran itu. Meski keadaannya tidak sadar, Kiran berasa saat ada bibir yang bersentuhan dengan lengannya, di tambah lagi air liur dia terasa di permukaan kulit Kiran. Kiran mengerjapkan matanya, namun pandangannya masih buyar, tak ada yang dapat dengan jelas ia lihat. Semuanya, terasa berbayang dan berkabut. "Gusur." Nama itu keluar dari mulut Kiran, Kiran menatap cowok yang sedang berusaha menyelamatkan nyawanya itu. Dia tersentak saat menyaari Kiran tersadar. Dia menghentikan aktifitasnya lalu menatap Kiran. "Lo tau gue?" Tanyanya dengan suara yang begitu lemah, mungkin racun itu juga sudah menyebar kedalam tubuhnya. "Benerkan lo Gusur? Gue gak tau, gue gak bisa liat apapun dengan jelas. Tapi gue yakin itu elo." Dia tersenyum, ternyata Kiran tidak dapat melihatnya dengan jelas. "Apa yang lo lakuin. Jangan ngelakuin hal bodoh. Ini, bahaya.." meski tak dapat melihat dengan jelas namun Kiran dapat merasakan apa yang Gusur lakukan. Tangan Kiran melayang layang, berusaha menggapai wajah Gusur, bola Kiran terlihat tidak fokus menandakan ia tidak melihat apapun. "Gue gak mungkin ngebiarin lo kenapa napa. Mungkin gue gak becus ngelindungin lo, tapi gue bener bener pengen jagain lo, Ran. Gue janji." Dia memeluk tubuh Kiran, kepalanya menopang di bahu Kiran, bersamaan dengan itu juga dia tidak sadarkan diri karena tak tahan dengan racun itu. Kiran tersentuh mendengar ucapan itu, Kiran tak sadar dia pingsan di pundaknya. Namun perlahan Kiran pun lagi lagi tidak sadarkan diri, dalam pelukan dia.   Meski keadaannya tidak sadar, Kiran berasa saat ada bibir yang bersentuhan dengan lengannya, di tambah lagi air liur dia terasa di permukaan kulit Kiran. Kiran mengerjapkan matanya, namun pandangannya masih buyar, tak ada yang dapat dengan jelas ia lihat. Semuanya, terasa berbayang dan berkabut. "Gusur." Nama itu keluar dari mulut Kiran, Kiran menatap cowok yang sedang berusaha menyelamatkan nyawanya itu. Dia tersentak saat menyaari Kiran tersadar. Dia menghentikan aktifitasnya lalu menatap Kiran. "Lo tau gue?" Tanyanya dengan suara yang begitu lemah, mungkin racun itu juga sudah menyebar kedalam tubuhnya. "Benerkan lo Gusur? Gue gak tau, gue gak bisa liat apapun dengan jelas. Tapi gue yakin itu elo." Dia tersenyum, ternyata Kiran tidak dapat melihatnya dengan jelas. "Apa yang lo lakuin. Jangan ngelakuin hal bodoh. Ini, bahaya.." meski tak dapat melihat dengan jelas namun Kiran dapat merasakan apa yang Gusur lakukan. Tangan Kiran melayang layang, berusaha menggapai wajah Gusur, bola mata Kiran terlihat tidak fokus menandakan ia tidak melihat apapun. "Gue gak mungkin ngebiarin lo kenapa napa. Mungkin gue gak becus ngelindungin lo, tapi gue bener bener pengen jagain lo, Ran. Gue janji." Dia memeluk tubuh Kiran, kepalanya menopang di bahu Kiran, bersamaan dengan itu juga dia tidak sadarkan diri karena tak tahan dengan racun itu. Kiran tersentuh mendengar ucapan itu, Kiran tak sadar dia pingsan di pundaknya. Namun perlahan Kiran pun lagi lagi tidak sadarkan diri, dalam pelukan dia. *** "Kiran bangun, Ran. Gue udah bawa pmr yang bertugas nih buat nolongin lo. Ayo, Ran bangun." Ilham yang baru datang menepuk nepuk pipi Kiran dengan pelan, berusaha membangunkan Kiran yang masih pingsan. Sejujurnya Ilham sudah sangat khawatir, sampai sampai ia mengecek denyut nadi Kiran masih berjalan atau tidak. Betapa leganya hati Ilham saat denyut nadi Kiran masih jalan. Kiran bergerak dengan lemah, matanya mengerjap, ia memfokuskan pandangannya ke sekelilingnya yang masih gelap. Rupanya masih malam. Namun  kini Kiran mulai bisa memandang dengan jelas sekelilingnya, dapat di lihatnya kini ada Ilham di hadapannya yang barusan membangunkannya. Saat sepenuhnya sadar, Kiran menegakan duduknya yang semula bersandar pada pohon. Dengan tampang panik Kiran mengedarkan pandangannya. Tidak ada. Kemana dia? Kiran terus berusaha mencari Gusur yang seingatnya tadi, ada dalam pelukannya. Apa itu mimpi? Tidak! Itu terasa begitu nyata. Kiran yakin. "Gusur? Gusur mana, Ham?" Suara Kiran terdengar panik saat bertanya pada Ilham. Ilham mengernyitkan keningnya menatap Kiran. "Gusur? Enggak kok, gak ada yang di gusur. Kita masih di hutan." Ilham menjawab dengan wajah innocentnya, yang jelas jelas gak nyambung banget sama pertanyaan Kiran. "Gue serius!" Kiran mendelik, menatap Ilham kesal, terbesit di benak Kiran, Ilham itu bercanda. Tapi wajah Ilham begitu polos. "Gue juga serius! Udahlah, lo gak usah mikirin penggusuran. Mending pikirin kondisi lo sekarang." Lihatlah, Ilham masih tidak sadar dimana letak kesalahannya, membuat Kiran mendenguskan nafas sebal sekaligus furstasi. "Woy, mana tandunya! Angkat nih temen gue!" Ilham menoleh ke belakang, menyuruh beberapa anak pmr yang berhasil di bawanya kemari untuk menolong Kiran. Beberapa anak pmr itu pun menghampiri Kiran, lalu mengangkat tubuh Kiran untuk naik ke tandu. Kiran diam saja tak berontak, karena memang dia masih lemas. Saat semuanya sudah bergegas untuk meninggalkan tempat itu, Kiran berusaha melihat ke belakang, masih penasaran dan mencari sosok Gusur yang Kiran yakini tadi ada bersamanya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD