- 30 -

1762 Words
Saat hari mulai malam, acara mencari jejak pun akan di mulai. Para siswa di bagi beregu regu, sayangnya tak dapat menentukan regu sendiri. Setiap regu berjumlah empat orang. Pas banget sama jumlah Klover. Tapi apa mereka bakal satu regu? Kayaknya enggak deh. Masalahnya, setiap regu itu terdiri dari beberapa kelas. Klover kan ada di kelas XI IPS 4 semua, jadi gak bisa. Tapi kalo emang dasar udah jodoh, ada aja anggota Klover yang ketemu satu regu. Seperti Kiran, Sayna, dan Ilham. Cuma Arbis yang kepisah sendirian. Alhasil Arbis gak mau tau tentang regunya, ia malah sedang berbaur dengan para Klover. Kini Arbis sedang ngotot ngototan sama panitia supaya dia bisa satu kelompok dengan Klover. "Gue gak mau tau pokoknya gue di regu mereka. Berlima gapapa dong." Arbis mulai sewot saat ucapannya tak di dengar oleh anggota osis yang menjadi panitia. "Balik ke regu kamu, Arbis Karisma! Anak IPS 4 tuh emang pada susah di atur yaa!" Ternyata yang menangani Arbis bukan lagi anggota osis, tapi ketua osis. Arbis masih tetap keukeuh dan bersikeras tak mau ke regunya. "Gue seregu sama kalian yaa?" Perdebatan Arbis dengan ketua osis sempat terhenti saat kehadiran seoseorang. Sayna dan Kiran dengan semangat menoleh karena mengenali suara itu. Ternyata itu satu orang yang sekelompok dengannya. "Iya!" Kiran dan Sayna menjawab dengan semangat, dan langsung menarik Regan untuk segera bergabung. Kayaknya Kiran dan Sayna sekongkol deh sama anggota osis buat bikin Regan seregu sama mereka. "Cepat kamu bergabung dengan regu kamu. Kamu satu regu dengan Rizky dan Tisya dari XI IPS 4, dan Karin dari XI IPA 1. Tadi saya liat mereka sudah berkumpul disana. Tinggal kamu yang belum bergabung." Ketua osis itu menjelaskan. Memberi arahan pada Arbis, ketua osis ini berbicara dengan menjaga wibawanya. "Kenapa lo gak bilang daritadi kalo gue seregu sama Karin? Tau gitu kan gue langsung kesono. Yaudah, guys gue cabut. Ternyata osis pengertian." Arbis pun segera berlari sambil melambaikan tangannya pada teman temannya. Tak apalah tak seregu dengan Klover, kan ada Karin. Tapi Arbis juga harus seregu dengan Tisya. Ah s**l, mengapa harus serba kebetulan? Tapi, berarti inilah saatnya. Saat Arbis dan Karin harus benar benar berakting meyakinkan Tisya kalo mereka benar benar pacaran. Tapi, apa Arbis sanggup seperti itu pada Tisya? "Kariinnn, lo tau gak betapa jodohnya kita, sampe di acara kayak gini aja kita seregu?" Arbis langsung berteriak heboh ketika menghampiri regunya. Tak di pedulikannya ada Tisya disana. Ia tidak ingin bertindak mencurigakan. Semoga saja bisa. "Heh, yang jodoh tuh gue sama Karin. Lo kenapa jadi ikut regu gue sih?" Rizky yang ada disana sewot saat melihat kedatangan Arbis. Padahal tadinya Rizky sudah senang sapat seregu dengan Karin. Kenapa harus dengan Arbis juga sih? "Minggir lo! Jangan deket deket cewek gue!" Arbis menggeserkan tubuh Rizky yang saat itu berada di samping Karin. Rizky seketika melotot pada Arbis. Arbis emang biang rusuh buat Rizky. "Enggak bisa. Lo udah keseringan deket deket Karin gue. Sekarang waktunya gue tau!" Rizky mendorong tubuh Arbis, lalu kembali berdiri di sebelah Karin. "Karin elo? Rizky Muhamad Prasetya, perlu gue kasih tau sekali lagi. Karin itu pacar gue, Arbis Karisma!" Arbis menegaskan dengan intonasi yang begitu jelas, sambil menarik tangan Karin, dan membawa Karin untuk berada di dekatnya. Namun ucapan yang Arbis tujukan untuk Rizky, ternyata begitu terasa di hati Tisya. Tisya mendengarnya dengan begitu jelas, bagaimana Arbis menegaskannya pada Rizky. Lalu jika Arbis memang mencintai Karin, mengapa harus tercipta malam itu? Malam dimana mereka saling mengungkapkan tentang perasaan mereka yang terpendam dan harus di sembunyikan? Siapa yang sebenarnya ada di hati Arbis saat ini? Masihkah Tisya, atau sudah terganti oleh Karin? "Lo berdua apasih? Udah ayuk cepetan jalan, yang lain udah daritadi tuh. Elo juga! Kenapa gak gabung sama spesies lo sih?" Karin melepaskan tangannya yang berada di genggaman Arbis, lalu ia menatap Arbis dengan jengkel. Sungguh, ini seperti mendapat musibah besar, dimana Karin harus seregu dengan Rizky dan Arbis. "Hey, gue juga maunya gitu. Gue udah protes sama ketua osis, dia malah nyuruh gue balik keregu ini. Lagian, kenapa seregu harus berempat sih? Kenapa gak berdua aja. Biar lo sama gue aja gitu?" Arbis menatap Karin dengan pandamgan menggoda, membuat Karin semakin enek dengan tingkah laku Arbis. Karin tak memperdulikannya, ia segera berjalan lebih dulu dari regunya. Rasanya Karin lebih rela di benturkan kepalanya darpada harus seregu dengan Arbis. Sungguh merepotkan. "Lo masih mau ngoceh disitu atau gue tinggal?" Seru Karin dengan nada yang senantiasa jutek. Dan disini, Tisya benar benar tak habis pikir melihat tingkah laku Karin yang tak pernah manis pada siapapun. Termasuk dengan pacarnya sendiri. Tapi Tisya tak mau banyak tanya. Nanti kalo jadinya berbalik malah ia yang di tanya tanya, mengapa pakai acara menanyakan tentang Arbis? Ada hubungan apa? Hah, urusan jadi brabe, dan bagaimana reaksi Angga nantinya? Regu Arbis pun mulai jalan ke tempat mencari jejak ini, masuk ke dalam hutan yang lebih lebat, dan berusaha mencari jalan di tengah malam seperti ini. Mereka hanya di modali setiap regu dua senter, satu kompas, dan satu gps untuk mencari keberadaan mereka kalau kalau sesuatu yang tidak di inginkan terjadi. Keadaan yang begitu sunyi, senyap, mendominasi area hutan ini. Mungkin jika Arbis berjalan bersama Klover keadaan akan berubah menjadi ramai. Arbis terus berada di sebelah Karin, membuat Rizky gondok setengah mati. Padahal, sesungguhnya Arbis ingin, disaat seperti ini ia dapat berjalan berdampingan dengan Tisya. Disaat tidak ada Angga, disaat mereka di pertemukan atas dasar kebetulan. Arbis ingin menggenggam tangan Tisya agar Tisya tak terjatuh saat terselengkat ranting ranting pohon yang berjatuhan di area hutan. Tapi itu tidak bisa ia lakukan. Itu semua hanya harapan semata. Perjalanan mereka semakin jauh, kini mereka sudah berada di tengah tengah hutan. Salah satu baterai senter yang mereka gunakan habis, dan tinggal tersisa satu. Suasana malam semakin dingin, apalagi di alam terbuka seperti ini. Berbagai suara para binatang mulai terdengar saat kesunyian mulai tercipta di antara mereka. Tisya terlihat sedang menggosok goskan kedua tangannya, terlihat ia kedinginan, karena ia hanya memakai cardigan tipis. Bibirnya meniup niup kedua telapak tangannya, lalu ia memeluk tubuhnya sendiri. Tisya berusaha untuk tetap berjalan di samping Rizky. Sedang Arbis dan Karin berada di depan untuk memimpin jalan. Namun sesekali Arbis melirik ke belakang untuk melihat Tisya. Ia tau kini Tisya sedang kedinginan. Disaat seperti ini, lagi lagi Arbis ingin sekali memeluk Tisya. Memberikan jaketnya kepada Tisya agar gadisnya itu tidak kedinginan. Tapi itu tidak mungkin, apa kata Rizky nanti jika melihat semua itu, Karin sih sudah pasti paham. Kini mereka berempat berada dalam posisi sejajar. Tisya berada di sebelah Arbis. Arbis pun tak menyia nyiakan kesempatan ini. Ia segera melepaskan jaketnya, ia tak akan menunggu sampai Tisya menggigil. Karin sempat melirik saat Arbis mulai membuka jaket tebalnya. "Pake nih jaket gue." Arbis menyodorkan jaket berwarna merahnya pada Tisya. Tisya tak langsung menyambutnya, ia memperhatikan jaket itu sejenak, lalu memandang Arbis tak percaya. "Lain kali kalo acara kayak gini, pake jaket yang lebih tebel, bukan cardigan." Lanjut Arbis. Tisya pun menerima jaket Arbis, dan memakainya. Ia menatap Arbis tak percaya. Rupanya Arbis peduli. Padahal di sebelahnya ada pacarnya, tapi Arbis masih peduli. Kini Tisya benar benar tak habis pikir, sebenarnya apa jalan pikiran Arbis? *** "Gan, kok lo bisa sih berbagi cewek sama Eza?" Di tengah perjalanan Sayna terus menerus ngekepoin Regan tentang Eza, dan kali ini Sayna mulai nyinggung tentang mantan pacar Regan yang sekarang pacaran sama Eza. Yang jujur aja, Sayna benci banget itu. Kenal darimana coba mereka, bisa tau tau jadian. Sayna aja yang kenal dari dulu, jangankan buat jadian, seenggaknya deket lah gitu, gapernah kesampean. "Eza gak tau kok gue pernah pacaran sama Sesil." Jawab Regan santai, sambil tangannya mengarahkan senter pada jalanan. Kiran dan Sayna sontak terkejut, Ilham sih biasa saja. Kenapa juga harus kaget? Ilham juga sering kayak gitu. Ilham itukan playboy yang pengalamannya udah banyak, model pacaran kayak apa aja udah pernah dia jalanin. "Kok bisa gitu? Tapi Sesil tau kan Eza temen lo?" Kiran mulai angkat suara. "Begitulah." Regan enggan menjelaskan semuanya, ia hanya menjawab singkat tanpa menjelaskan apapun. Sayna ataupun Kiran pun tak lagi membahas soal Sesil, saat melihat air muka Regan berubah. Mereka diam sesaat, sampai akhirnya Sayna kembali angkat bicara untuk bertanya soal Eza. "Eh, Gan. Lo kalo weekend masih sering main sama Eza yaa?" "Kok lo nanyain Eza mulu sih? Lo suka yaa sama Eza?" Regan menatap Sayna dengan pandangan menyelidik. Sayna sontak terkejut dengan pertanyaan Regan. Sayna benar benar tertangkap basah kali ini. Sayna diam sejenak, tidak menjawab. "Ups, ketauan deh tuh." Ceplos Kiran dengan pandangan meledek kearah Sayna. Sontak Sayna menoleh dan mencubit kecil lengan Kiran. "Aw, sakit b**o!" Kiran meringis, menarik tangannya lalu meniup niupnya seolah bisa mengurangi rasa sakit. "Apasih, Gan? Gausah bikin gosip deh." Elak Sayna namun mengalihkan pandangannya, enggan menatap Regan. "Yaelah, Na udah ketauan gitu masih aja ngelak." Ilham ikut bersuara memojokan Sayna. Ilham seakan kerjasama dengan Kiran untuk membongkar rahasia Sayna di depan Regan. Regan tidak menjawab lagi, ia hanya tersenyum penuh arti menatap Sayna. Sedang Sayna bersunggut sunggut karena Kiran dan Ilham yang begitu kompak menjatuhkannya. "Oo..oow, Sayna ketahuan, suka sama Eza, teman SMPnya. Malu deh malu." Kiran dan Ilham makin memperkeruh keadaan dengan bernyanyi namun liriknya di ganti. Sambil bertepuk tangan mereka berdua heboh menggoda Sayna. "Berisik ah lo pada. Seneng liat gue kepergok gini." Sayna berjalan mendahului mereka semua, mempercepat langkahnya. Ilham dan kiran sama sekali tidak merasa bersalah , mereka malah cekikikan di belakang sambil sesekali terus menggoda Sayna. Regan mempercepat langkahnya untuk mengejar Sayna, karena bahaya jika Sayna berjalan sendirian, inikan hutan, malam pula. Meski sebenarnya Regan pun ingin menggoda Sayna juga karena baru tau tentang itu. Lagian Sayna sukanya keciri banget. Tiap ketemu Regan pasti bahas bahas masa SMP. Dan gak luput dari nanya nanya soal Eza yang noteband nya sahabat Regan waktu SMP. Tanpa disadari Regan dan Sayna berjalan begitu cepat, sedang Ilham dan Kiran tertinggal di belakang. Kini Ilham dan Kiran sedang kebingungan mencari Sayna dan Regan. Mereka menatap lurus ke depan, menerobos kegelapan malam di hutan ini. Namun sama sekali tak melihat bayangan Regan ataupun Sayna. Tamatlah riwayan Ilham dan Kiran, mereka tidak tau jalan, serta kompas dan gps ada di tangan Sayna dan Regan. "Ran, kita kemana ini?" Ilham menghentikan langkahnya saat sampai di pertigaan jalan di depannya. Kiran pun ikut menghentikan langkahnya, celingukan melihat suasana hutan yang kini terasa mengerikan. "Gue gak tau, lagia Regan sama Sayna cepet banget ngilangnya." "Terus kita gimana? Mau balik aja?" Tanya Ilham sambil menoleh ke belakang, melihat jalan kembali ke tempat semula. Namun mereka sudah terlalu jauh berjalan. "Emang lo inget jalan balik?" "Enggak." Ilham menggeleng pasrah. Kiran menghela nafas. "Matilah kita disini." Kiran pun ikut pasrah. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD