- 24 -

1418 Words
"Lo bener Gusur kan?" Kiran bertanya dengan nada suara yang mulai melemah, kini hatinya bergetar karena berada di dekat orang itu. Tak ada jawaban dari dia, meski dia masih mematung di tempatnya. Namun dia lebih memilih membungkam mulutnya. Diam seribu bahasa, meski sesungguhnya banyak yang ingin dia sampaikan pada Kiran. Sesuatu yang belum sempat dia sampaikan, dan itulah alasan mengapa dia kembali lagi. "Kenapa diem? Jawab gue!" Kata Kiran yang suaranya kembali meninggi, perlahan Kiran melangkah mendekat pada dia. Dan saat Kiran hampir mendekat dan menarik topi yang menutupi kepalanya, dia tersentak dan segera berlari dengan kecepatan maksimal. Untungnya wajahnya pasih tertutup oleh tudung jaketnya, sehingga Kiran tidak mampu melihatnya. "Arghh!! s****n!" Kiran mengerang kesal saat dia terus berlari tanpa henti, Kiran menggentakan sebelah kakinya ke lantai. Lalu memandang topi dia yang berhasil Kiran dapatkan. *** Langkah Kiran kini terasa berat untuk kembali ke restoran, rasanya Kiran ingin terus mengejar dia. Namun Kiran yakin Kiran tak mampu menyamai lari dia yang noteband nya seorang laki laki. Meski dengan hati separuh tidak ikhlas, akhirnya Kiran kembali ke restoran, kasian Rafa menunggunya lama. Di tengah perjalanannya menuju restoran, Kiran teringat akan peaan singkat dari dia. Dia mengatakan bahwa Rafa itu b******k? Apa maksudnya? Tapi, ini berhubungan kah? Dia muncul sejak Kiran menyatakan diri bahwa Kiran benar benar mencintai Rafa. Dan, yang Kiran tak habis pikir bagaimana bisa dia selalu tau kegiatan Kiran dan tentang hidup Kiran. Apa dia mempunyai mata mata? Atau dia juga orang terdekat Kiran? Atau dia orang yang tidak terlalu dekat dengan Kiran, namun mampu mengintai Kiran darimanapun? Tangan kanan Kiran kini menggapai jidatnya, memijit mijitnya dengan pelan, tampangnya terlihat sangat frustasi. Sebenarnya siapa dia? Bagaimana bisa dia mengatakan Rafa b******k? Apa dia mengenal Rafa? Kini segala pertanyaan seakan bersarang di kepala Kiran. Dan dari sekian banyaknya pertanyaan itu, tak ada satupun jawaban yang tepat untuk pertanyaan s****n itu. Kiran benci keadaan seperti ini. Otaknya benar benar tak sanggup jika di penuhi banyak pikiran. Mata pelajaran di sekolah saja Kiran malas memikirkannya karena ia tau, kadar otaknya tidak kuat jika terlalu di paksakan untuk berpikir. Ahh, apa iya nasib anak kembar otaknya di bagi dua? Atau inisih bukan di bagi dua lagi, tapi otaknya kebawa sama Karin semua dan Kiran gak kebagian. Ah presetan! Mengapa harus memikirkam segela tektek bengek tentang otak? "Darimana? Hampir dingin loh makanannya." Sapa Rafa, saat Kiran baru saja menempelkan pantatnya pada bangku restoran kembali. Kiran memandang Rafa sejenak, bisa bisanya acara kencan malam ini rusak karena ulah dia. Atau inikah sebenarnya tujuan dia? Dari pesan singkat yang du kirimkannya tadi bukankah terlihat bahwa dia tidak menyukai Rafa? "Eng, tadi gak sengaja liat temen di luar. Jadi malah ngobrol banyak deh." Dusta Kiran. Kiran yang emang suka mengarang bebas jelas tidak bingung untuk membuat alasan seperti ini. Namun Rafa dapat menyadarinya, tersirat dari pandangan Kiran yang sejak kembali berubah menjadi beda, tidak seceria sebelumnya. "Hoii, Kiraann!" Kiran menoleh kearah pintu masuk restoran saat mendengar namanya di panggil. Tepat disana terdapat dua orang laki laki yang kini tersenyum padanya. Yang memanggilnya tadi, senyumnya tampak manis karena terpancar dari wajahnya yang imut, namun senyum lelaki di sebelahnya, jika ada sebutan yang lebih bagus di atas manis, Kiran akan menobatkannya untuk lelaki itu. Tampan sekali dia malam ini, tapi, kenapa lelaki setampannya di malam minggu sepertin ini harus jalan dengan sepupunya sendiri yang juga lelaki. Dua lelaki itu -Rizky dan Regan- berjalan menghampiri Kiran. Kiran menyambutnya dengan senyuman manis, terutama pada Regan. "Temennya Kiran yaa? Duduk disini aja." Rafa berusaha bersikap ramah pada kedua teman Kiran ini. Mengajak mereka bergabung. "Iya iya makasih." Seketik Rizky pun menarik kursi yanh masih kosong dan duduk disana. "Enggak makasih. Kita cari kursi lain aja. Gaenak ganggu." Morgam terlihat agak menarik tangan Rizky untuk berdiri. "Tauluh, Ky. Suka pengen aja ganggu acara gue. Liat noh Regan aja pengertian nolak, tapi kalo elo sih gapapa, Gan. Duduk aja sini." Kiran pun menarik tangan Regan untuk duduk semeja dengannya. Lalu kini tatapannya beralih pada Rizky. "Elo pindah, Ky!" Mata Rizky membola menatap Kiran dengan jengkel. "Eh lo kok gitu, Ran? Jahat yaa sama gue." Tampang Rizky mulai memelas. "Abis lo udah jarang nraktir gue sih." "Abis elo mihak Arbis sih." Rizky membalikan. "Yee siapa yang mihak Arbis, gue mah netral. Kalo gue maen ama Arbis, lah kan emang Arbis temen gue! Pesona lo aja kalah sama Arbis." Kiran itu blak blakan, gampang bergaul, dan selalu mengekspresikan apa yang di rasakannya. Itulah kesimpulan yang Rafa dapatkan saat melihat tingkah Kiran bersama Rizky dan Regan. Rafa yang tidak terlalu mengerti pembicaraan anak SMA, hanya tersenyum ketika Kiran menoleh kearahnya. "Gan, elo mah ganteng ganteng bloso. Masa malem minggu jalannya sama Rizky sih? Malu maluin tampang deh." Kiran berkomentar tentang Regan yang dateng bersama Rizky. Lihatlah, Kiran gak ada rasa gak enaknya gitu di depan Rafa ngomong kayak gitu? Kiran emang blak blakan. "Gapapalah, Ran. Abis Rizky maksa minta anter maen ice skating." "Dih sosweet amat main ice skating beduaan. Elo bukannya ama Sesil hubungannya masih gak jelas yaa? Kenapa gak jalan aja ama dia, yang rada mendingan gitu." Kiran mencibir sambil melirik Rizky, melemparkan tatapan sinisnya melihat Rizky. "Gak enak lah jalan ama pacar orang." Saut Regan dengan nada memelas. "Elo punya dendam apa sih, Ran sama gue? Kenapa sinis banget, hah?" Tidak, Rizky tidak punya salah apa apa sama Kiran, Kiran hanya senang menggoda Rizky. Wajah Rizky yang Kiran akui memang imut itu, terlihat lucu jika digoda seperti itu. Tampangnya berubah menjadi panik dan memelas, sorot matanya mengikuti ekspresinya, dan Kiran selalu suka melihat Rizky seperti ini. Ada kepuasan tersendiri yang menjalar dalam diri Kiran. Saat Kiran meminum jus orange miliknya, mata Kiran mengarah ke bawah, dan menangkap celana pendek yang melekat di kaki... Rizky? "Uhuk.." Seketika Kiran tersedak, menatap celana pendek itu dengan lebih lekat, benar! Celana itu yang tadi Kiran lihat melekat di kaki dia. Meski Kiran tidak mempunyai daya ingat fotgrafis, tapi Kiran benar benar yakin itu celana jeans pendek yang digunakan dia. Warnanya yang biru agak butek, terdapat kancing di bawahnya. Tidak salah lagi, itu benar celana dia. Tapi, ohh? Apa itu artinya, Rizky? Mungkinkah? "Kenapa, Ran?" Dengan sigap Rafa menatap Kiran yang tersedak minumannya, Rafa menangkap sorot mata kepanikam dari manik mata Kiran. "Eng, gapapa, Kak. Cuma keselek aja." Kiran meyakinkan Rafa dengan senyumannya, lalu pandangannya beralih pada celana Rizky. Kemudia ia pun menatap wajah Rizky. Dan segelintir ingatan muncul di kepala Kiran mengenai wajah Gusur semasa kecil. Sedikitpun tidak mirip. Tapi, celana itu? Oh Tuhan, mungkinkah dia itu Rizky? "Ky, itu celana yang lo pake, celana lo kan?" Tanya Kiran, wajahnya masih terlihat tegang. Rizky melirik sekilas celananya yang daritadi Kiran lihat. "Iyalah, lo kira gue minjem apa." Sahut Rizky mantap. Apa kalo gue tanya langsung sama Rizky dia bakal ngaku? Batin Kiran. Tapi, tidak, sebaiknya Kiran menyelidiki dulu semua ini. Apa itu hanya kebetulan atau bagaimana. Karena celana seperti itukan banyak di jual di toko, dan pastinya pabriknya tak mungkin hanya menciptakan satu celana model seperti itu. *** Arbis menghirup aroma malam di rumah Neneknya ini melalui pelataran kamarnya yang menghubungkannya langsung ke alam terbuka. Matanya menyapu jalanan komplek perumahan ini beserta sekelilingnya. Sudah banyak perubahan, tapi perasaannya masih saja tidak berubah. Masih sama seperti dulu. "Arbis.." Arbis seakan tersambar petir saat mendengar suara itu. Arbis mengenalnya, tidak mungkin. Mengapa khayalan Arbis terlalu tinggi, mengapa saat sedang melamun seperti ini bisa bisanya ia mendengar suara itu. Oh, Arbis yakin dirinya sudah gila. "Hey, Arbis!" Suara itu lagi, terdengar begitu ceria. Arbis pun memejamkan matanya, lalu menjambak rambutnya sendiri. Dia sungguh yakin, ada yang tidak beres dengan alam bawah sadarnya. "Arbis budeg ih!" Suara itu memanggil lagi, dan kali ini Arbis tersentak. Tidak, itu bukan ilusinya, suara itu nyata. Perlahan Arbis menoleh ke jendela yang berada di samping pelataran kamarnya itu, betapa terkejutnya Arbis saat melihat gadis yang di pikirkannya itu kini sedang tersenyum lebar saat ia menoleh. "Lo lagi main ke rumah Oma Rani yaa? Kebetulan banget yaa gue juga malam ini mau nginep di rumah Tante Senja." Tisya berbicara dengan suara yang agak kencang. Senyumnya masih belum luntur. Keceriaannya itu, sama seperti dulu, namun sesuatu yang tidak Arbis lihat saat Tisya di sekolah. Dia seakan menjadi orang lain. Arbis diam, ia hanya mampu memandangi wajah Tisya, menatap cara tersenyum gadis itu, caranya menatap, caranya berbicara. Arbis merindukannya, bahkan Arbis belum sempat memeluk gadis itu semenjak dia kembali, untuk melepas kerinduan yang sedari Tisya pergi mulai tercipta "Mm, jadi inget waktu dulu yaa." Kini pandangan Tisya beralih ke atas, menatap langit dengan taburan bintang yang menghiasnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD