- 28 -

2225 Words
Arbis yang mendengar nama itu di sebutkan kini malah diam. Masa ia harus meminta air pada Tisya yang kini sedang di jagain Angga? "Rin, pintain dong." Arbis pun menyenggol bahu Karin, sambil menyodorkan pop mie miliknya. "Minta sendiri." Karin tak peduli Arbis berhadapan dengan siapa, kini ia sedang kesal pada Arbis. "Rin.." Arbis bersuara pelan namun lirih, berusaha menjelaskan pada Karin. "Apasih susahnya minta air panas?" Meski menggerutu Karin mengambil pop mie Arbis, lalu ia menengok ke bangku di sebrangnya, ada Angga yang sedang berbicara dengan suara pelan dengan Tisya. "Ngga, bagi dong air panasnya." Karin memintanya pada Angga, karena yang Karin kenal kan memang Angga. "Cowok lo gak gentle ih, minta air panas aja gak berani." Jedarr.. Mata Arbis seketika melotot di katai seperti itu, Arbis tau itu bukan sindiran yang biasa di lakukan oleh Sayna, Kiran, ataupun Ilham. Nada bicaranya benar benar mengejek. Tangan Arbis kini terkepal, emosinya seakan terpancing. Menyadari itu, Karin segera mencengkram tangan Arbis, berusaha agar emosi Arbis mereda. "Cowok gue kan bukan tipe orang celamitan, dia malu minta minta, kecuali sama gue atau ke temen temennya." Karin membalas, baru kali ini Karin berbicara dengan kata 'cowo gue' yang artinya Karin ternyata ngakuin juga. Arbis menyunggingkan senyum tipisnya mendengarkan jawaban Karin. Di balik sikap juteknya, Karin memang benar benar malaikat penolongnya. Tiba tiba saja bis yang mereka tumpangi ini berhenti di tengah jalan, sontak semuanya bertanya tanya, padahal ini jalan tol, gak mungkin kan lampu merah. Sekarang juga gak macet, kegaduhan pun terjadi di dalam bis, mereka bertanya tanya, apa bis ini mogok? "Bis XI IPA 2 mogok, jadi kita harus berbagi tempat duduk sama mereka." Sang ketua kelas yang duduk paling depan menjelaskan. XI IPA 2? Karin langsung melek saat mendengar nama kelas itu. Itukan kelas Regan? Apa ini kebetulan? Atau memamg jodoh? Melihat air muka Karin yang menjadi cerah, Arbis menghentikan memakan pop mie nya. Ia tersenyum sekilas, seolah mengerti apa yang di pikirkan Karin. "Guys, gue gak rela berbagi tempat duduk. Bisa gerah kalo kebanyakan orang." Ilham berteriak seakan mempelopori. "Oke, sebelum terlambat, mari kita cegat pintu depan dan belakang. Jangan ada yang boleh masuk. Kecuali Regan, dia kan anak IPA 2." Kiran berdiri dengan semangat, di ikuti ketiga temannya. "Tenang, Rin, gue akan wujudin apa yang lo pikirin." Sebelum berdiri, Arbis berbisik pelan di telinga Karin, membuat Karin menatapnya penuh curiga. Apa yang akan Arbis lakukan? Klover pun menyusun siasat, tak ada yang boleh anak kelas XI IPA 2 yang ikut kedalam bisnya, kecuali Regan. Ketua kelas tak bisa membantah keinginan Klover, karena keinginan Klover saat ini di dukung oleh sebagian murid di kelas XI IPS 4 yang tidak mau bersempit sempit ria dan kegerahan karena kebanyakan orang. "Bis ini penuh, cari aja bis yang lain, kita udah berbagi bis sama anak IPA 1." Kata Sayna saat menjaga pintu bis belakang dengan Ilham, saat beberapa anak XI IPA 2 mulai berhamburan ingin naik. Sedang di pintu depan ada Arbis dan Kiran, kini mata mereka sedang sibuk mencari cari sosok Regan. "Bis, gimana kalo Regan udah naik ke bis kelas IPS 2? Disana kan kelas Sesil?" Tanya Kiran karena tak kunjung melihat Regan. "Kemungkinan itu, Regan bakal naik bis terdekat dari tempat bis nya mogok. Yaa tentu aja bis kita, atau seenggaknya dia lewat sini kalo mau naik bis yang lain." "Kok omongan lo kayak orang punya otak gitu sih, Bis." "Makanya, lo harus akuin, gue tuh emang lebih pinter dari lo." Mereka tidak melanjutkan aksi berdebatnya, saat melihat sosok Regan melintas. Kiran pun segera berteriak dengan suaranya yang sangat melengking. "Morgaaaannnn.." Arbis sampai menutup kedua telinganya mendengar teriakan Kiran. Kiran tak hanya berteriak, ia langsung meloncat dan menarik Regan. "Lo disini aja." Katanya, meski wajah Regan masih terlihat shock mendengar teriakan Kiran. "Kata anak anak bis ini penuh, soalnya udah berbagi ama anak IPA 1." "Yaelah, si Karin doang. Sepik itumah, Gan. Biar gak sumpek. Makanya elo doang nih yang gue ajak naik bis kita." Kiran langsung menarik Regan ke dalam bis, lalu Arbis memberi aba aba agar Ilham dan Sayna menutup pintu belakang karena target sudah di temukan, Arbis pun menutup pintu depan. "Eh bentar, lo duduk sama siapa dong. Bangku gue penuh banget nih sama barang bawaan." Kiran menatap bingung kearah bangkunya yang di penuhi dengan tas dan kantong plastik. "Yah, di tempat gue barang si Rizky kayak orang mau pindahan." Sayna pun memasang tampang menyesal, karena memang bawaan Rizky hampir menyaingi Kiran. "Yaudah, duduk sama gue aja. Gue sama Karin gak bawa bawaan banyak kok. Elonya sinian, Rin." Akhirnya Arbis angkat bicara, Arbis yang duduk di pojok dekat jendela menyuruh Karin duduk agak mepet ke dekatnya, biar Regan bisa duduk di ujung bangku. "Beneran gapapa, Bis?" Regan menatap Arbis ragu, pasalnya ia sempat di tuduh ingin mendekati Karin dan Arbis selalu mencak mencak tidak jelas. Kini ia malah di suruh duduk di sebelah Karin. "Gapapalah, elo kan juga temen gue, Gan. Gue gak tega kali ngebiarin lo duduk ngedeprok di bawah." Ucap Arbis santai, membuat Karin mengerti inilah maksud ucapan Arbis yang tadi. Regan pun duduk di sebelah Karin, perasaan Karin pun jadi tidak karuan karena mereka duduk berdempetan. Karin berharap Regan tidak mendengar detak jantungnya yang berpacu lebih kencang dari biasanya ini. Berulang kali Karin mencoba rileks, tapi jantungnya benar benar bekerja lebih cepat dari biasanya. Ah s**l, Karin jadi tidak mampu berkata apapun saat ini. Perlahan, rasa kantuk mulai melanda Karin karena perjalanan yang tak kunjung sampai. Karin sungguh tidak merencanakannya, kini, seolah ada magnet dalam pundak Regan, kepala Karin pun bersandar di bahu Regan tanpa Karin sadari. Regan terkejut, ia takut Arbis marah, ia segera menoleh pada Arbis. Ternyata Arbis pun sedang tidur sambil bersandar ke jendela yang tertutup. Padahal, sesungguhnya Arbis cuma pura pura tidur saat ia menerka Regan pasti akan menoleh kearahnya. "Seenggaknya, cuma ini yang bisa gue lakuin buat ngebales semua kebaikan lo, Rin." Ucap Arbis dalam hati, mengingat semua apa yang telah Karin lakukan untuknya. *** "Coba aja ada Ka Rafa, gue gak bakalan gigit jari ngeliatin orang yang pacaran kayak gitu." Kiran bergumam saat melihat beberapa siswa di sekolahnya yang terlibat cinta lokasi sedang beradegan sok mengumbar kemesraannya, membuat Kiran jadi ngiri. Saat ini Kiran sedang mendirikan tenda di temani genk seperjuangannya, siapa lagi kalo bukan Klover. Mereka emang gak satu tenda, tentu aja, masa iya cewek satu tenda sama cowok, mereka kan udah SMA, pikirannya udah bukan anak anak lagi, takut ada yang macem macem nanti. "Lagian hari gini masih jaman gigit jari, dari pada gigit jari, mending gigit permen mintz." Arbis yang berada di seberangnya, sedang menggetokan pasak ke dalam tanah meledek Kiran. "Emang lo sama Rafa pacaran?" Tanya Sayna, yang sedang membantu Arbis memegangi pasak untuk di getok. "Ah Arbis, jangan getok tangan gue." Sayna meringis saat Arbis salah getok, Arbis hanya cengengesan. "Belom sih, tapi kan akan." "Ah suka sok ngeles, nanti kalo di tembak di gantungin lagi, basi lo!" Ilham melemparkan batu kecil yang ia dapat dari sekelilingnya pada Kiran. "Ihh, kali ini gue serius tau suka sama Ka Rafa." Ketiganya tak lagi menanggapi ocehan Kiran, kalo di tanggepin, pasti gak abis abis, biar aja Kiran berhenti sendiri. Tak lama kemudian ponsel Kiran bergetar, menandakan ada sms masuk. Kiran pun merogoh saku celananya, mengeluarlan ponselnya dari sana, dan membaca pesan yang masuk ke ponselnya. Kenapa harus nyariin yang gak ada sih? Sama yang ada ajalah. Ekspresi Kiran berubah saat memaca sms yang masuk. Lagi lagi nomor itu. Lagi lagi Gusur selalu mengsms nya bila berhubungan dengan Rafa. Tapi yang kini membuat Kiran memucat adalah, Kiran sadar bahwa Gusur ada di sekitar sini, buktinya ia tau apa yang Kiran ucapkan, pasti sms itu membalas ucapan Kiran tadi. Kiran pun segera menengok ke segala arah, mencaro cari siapa di antara banyaknya orang yang berlalu lalang itu adalah Gusur. Namun tiba tiba hanya satu yang ada di pikirannya. "Rizky mana? Lo pada liat Rizky gak?" Kiran bertanya dengan suara yang lebih serius dari biasanya, ia menatap ketiga temannya satu persatu, lalu hanya gelengan kepala yang di dapatkannya. Kiran pun segera pergi dari sana, mencari ke segala penjuru tentang keberadaan Rizky. Entah kenapa pikiran Kiran seketika tertuju pada Rizky, mengingat tentang kejadian suatu malam itu saat Kiran melihat celana Rizky yang persis dengan celana dia. Rasanya Kiran ingin memeriksa ponsel Rizky dan mengintrogasinya. Kiran memeriksa ke seluruh tenda yang ada, namun ia tak menemukan Rizky. Kiran terus berlari, menanyakan orang satu persatu tentang keberadaan Rizky. Namun tak ada jawaban memuaskan, bukannya mereka gak tau, tapi gak kenal, Rizky kan bukan anak populer di sekolahnya. "s****n, si Rizky beneran gak keliatan." Kiran berdecak sebal, lalu ia mengeluarkan ponselnya, segera menghubungi Rizky. "Lo dimana, pea?" Semprot Kiran seketika telepon tersambung, matanya tetap menjelajah ke sekitarnya, berusaha menemukan Rizky. "Apasih, Ran? Lo nelepon gak ada sopan sopannya." Gerutu Rizky yang berada di sebrang sana, sama sekali tidak menjawab pertanyaan Kiran. "Elo dimana?!" Kiran tetap ngotot bertanya pada Rizky. "Gue lagi nyari kayu bakar tau." "Dimana? Biar gue kesono." "Eh, gue aja gak tau ini dimana?" Kiran mendengus nafasnya sebal, huh padahal ia sudah berapi api, nama Rizky memang muncul paling pertama di otaknya saat membuka sms dari Gusur itu. "Selesai nyari kayu bakar, lo cari gue, oke!" "Ada apasih?" Pipp.. Kiran tak menjawab, ia segera mematikan sambungan teleponnya. Lalu dengan langkah sebal kembali ke tendanya yang tadi sedang di dirikan. *** Selesai mendirikan tenda Kiran dan Sayna, kini Ilham menyusuri tenda anak anak IPS. Matanya mencari cari sosok gebetan barunya itu. Ah s**l memang, Deandra bukan masuk IPA, jadi tidak sekelas dengan Ilham. Tapi Ilham tidak langsung patah semangat, disaat seperti inilah Ilham akan memulai aksinya. Mata Ilham menemukan Deandra yang sedang menjadi tukang foto teman temannya, mentang mentang Deandra anak baru kali. Ilham pun menghampirinya. "Emm, hey.." Sapa Ilham, sambil tersenyum ramah pada Deandra. "Sibuk yaa?" Ilham mulai basa basi. Deandra menoleh, sambil membalas senyuman Ilham. "Lagi fotoin mereka aja." Jawab Deandra kalem. "Ilham! Awas ih, ganggu deh." Beberapa anak IPS yang mengenal Ilham, berteriak protes pada Ilham. Ilham ama populer, jelas. Siapa yang gak kenal playboy macem Ilham ini, secara korbannya udah dimana mana. Mungkin Deandra akan jadi next target. "Gue pinjem Deandra yaa." Ilham menatap beberapa anak cewek yang lagi eksis bergaya di acara camping ini. "Ah ribet lo, gak tobat tobat apa jadi playboy." Cetus Nisa, yang konon adalah salah satu korban Ilham. Ilham cuma nyengir, lalu tangannya meraih tangan Deandra untuk di gandenganya. Deandra pun memberikan kamera D-Slr milik temannya terlebih dahulu, lalu pergi bersama Ilham. "Ada apasih?" Deandra langsung bertanya, ketika mereka berjalan beriringan. "Gapapa, pengen ngobrol aja." "Emang gak ada kerjaan apa?" Deandra bertanya dengan ketus. "Ah itumah ada Arbis ini." "Arbis siapa?" Deandra bertanya dengan nada datar, mana kenal Deandra dengan Arbis. Deandra kan anak baru, jadi enggak bergaul sampe ke anak IPA. "Ada, sohib gue. Nanti deh kapan kapan gue kenalin lo sama temen segenk gue. Anaknya asik asik loh." "Ternyata cowok juga maen genk genkan yaa?" "Eits, jangan salah. Genk gue itu berbeda dari yang lain. Namanya aja Klover, keren kan?" Ilham dengan bangganya memperkenalkan nama genk kebesarannya itu. "Oh iya, nama lengkap lo itu siapa sih?" "Mau ngapain emang?" Deandra tak langsung menjawab, sebenarnya ia tidak terlalu suka dengan gaya Ilham yang sok akrab, tapi karena faktor Ilham itu tetangga barunya juga, jadi Deandra berusaha bersikap sewajarnya. "Yah kepengen taulah." "Deandra Florensia." Deandra pun mengucapkan nama lengkapnya. Dalam hati Deandra merutuki, awas kalo si Ilham bakal bilang 'namanya indah kayak orangnya' . Deandra bakalan teriak di telinga Ilham dengan kata 'BASI!' "Hah? Deandra Florensia?" Bukan, itu bukan suara Ilham. Suara itu terdengar dari dalam tenda dengan begitu terperanjat. Sang pemilik suara pun seketika keluar dan mencegat jalan Ilham dan Deandra. Ilham sontak terkejut, karena menyadari ternyata itu Kiran. "Lo Deandra Florensia? Dea? Inget gue?" Kiran begitu antusias menatap Deandra, ia yakin, Deandra yang ada di hadapannya ini adalah Dea, teman masa kecilnya dulu. Meski Kiran akui, Deandra sama sekali gak mirip kayak waktu kecil. Tentu aja, sekarang dan dua belas tahun yang lalu itu tentu berbeda. Sukur sukur Kiran masih inget nama. "Siapa yaa?" Deandra menatap Kiran bingung, di perhatikannya wajah Kiran dengan serius, namun ia benar benar tak ingat siapa itu Kiran. "Sok akrab lo, Ran." Ilham mengibaskan tangannya pada Kiran, Kiran pun langsung melotot kesal menatap Ilham. "Lo pergi dulu deh sono. Gue ada urusan sama dia." Kiran mendorong Ilham menjauh dari Deandra, tak di nyana, ternyata tubuh Ilham yang besar terpental ke dalam tenda karena di dorong Kiran. "Dasar cowok lembek, badan doang gede." Cibir Kiran. Lalu perhatiannya kini terfokus pada Deandra. "Gue Kiran, temen kecil lo, kembaran Karin. Inget gak?" Kiran berusaha mengingatkan Deandra tentang dirinya. "Kiran?" Deandra masih bingung menatap Kiran. Kiran menarik nafas, berusaha mengingat satu hal yang akan mengingatkan Deandra tentang dirinya. "Oke, lo inget Gusur? Dulu, dia pernah ngenalin lo sebagai pacarnya ke gue disaat gue.." Kiran kembali menarik nafasnya, tidak sanggup meneruskan kalimatnya. Deandra menutup mulutnya, menatap Kiran tak percaya. Lalu segera mengalihkan pandangannya, dan bersiap untuk pergi. "Enggak, gue gak tau, gue gak kenal." Deandra pun dengan panik langsung pergi menjauh dari Kiran. Kiran pun terkejut melihat reaksi Deandra, dan segera mengejarnya. "Tunggu! Lo kenapa? Ada yang salah sama ucapan gue? Ada yang mau gue tanyain sama lo!" "Gue gak tau apa apa, jangan nanya apapun ke gue." Deandra menjawab dengan panik. Kiran masih mengerutkan kening, tidak mengerti mengapa Deandra seperti itu. Apa sesuatu telah terjadi?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD