Ruang ujian praktis *Incheon Superhuman Academy* dipenuhi oleh aroma ozon dan sirkuit sihir yang terbakar. Di tengah arena berbentuk koloseum beton sekeras baja, seekor *Twin-Headed Ogre*—monster peringkat B yang memiliki tinggi lima meter dengan kulit bersisik abu-abu—menggeram buas. Air liurnya yang bersifat asam menetes, melelehkan lantai semen tempatnya berpijak.
Di tribun penonton yang melingkar tinggi, ribuan kadet dari faksi penyihir elit dan keturunan klan *Superhuman* terkemuka sedang berbisik-bisik. Suasana terasa tegang, namun bagi sebagian besar dari mereka, ujian ini hanyalah panggung untuk memamerkan keunggulan garis darah.
"Kadet selanjutnya. Tim 7: Han Chae-won dan Baek Seo-jin. Masuk ke arena!" suara interkom dari menara pengawas menggema datar.
Han Chae-won melangkah maju lebih dulu. Rambut merah menyalanya berkibar, senada dengan aura percaya diri yang memancar dari tubuhnya. Di pinggangnya, tergantung sebuah pedang dengan sarung berukir simbol kuno. Itu adalah *Flame Brand*, sebilah *artifact* peringkat A milik klan *Blazing Sword* yang legendaris.
Sementara itu, aku berjalan tiga langkah di belakangnya. Seragam Academy-ku tampak longgar karena tubuh Baek Seo-jin yang asli memang kurang gizi akibat faksi asrama yang terus-menerus menahan jatah sumber dayanya. Di tanganku, aku hanya menggenggam sebilah belati latihan standar berbahan besi murah—senjata tanpa peringkat yang biasanya langsung patah jika berbenturan dengan kulit monster.
"Hei, lihat si cacat itu. Dia benar-benar hanya membawa pisau dapur?" tawa sinis terdengar dari tribun penonton kelas atas.
"Klan Han pasti sangat sial karena putri mereka harus dipasangkan dengan sampah tanpa elemen seperti dia."
"Paling-paling dia akan langsung pingsan begitu Ogre itu mengaum."
Han Chae-won menghentikan langkahnya tepat di garis dalam arena. Tanpa menoleh ke arahku, dia berkata dengan nada dingin yang menusuk.
"Jangan menghalangi jalanku, Baek Seo-jin. Tetap di belakang jika kau tidak ingin terpanggang oleh apiku. Ujian ini... aku yang akan menyelesaikannya sendiri."
Aku tidak membalas ucapannya. Aku hanya menatap punggungnya dengan ekspresi tenang, sementara mataku diam-diam fokus pada sirkuit transparan yang mulai berkedip di sudut pandanganku.
> **[Sistem Sinkronisasi Jiwa: 100%]**
> **[Menganalisis Lingkungan...]**
> * Target Terdeteksi: Han Chae-won (Kadet Elit / Pengguna Sihir Api).
> * Senjata Terdeteksi: Flame Brand (A-Rank Artifact).
> * Status: Terkunci (Membutuhkan kontak fisik atau pelepasan energi penuh untuk penyalinan).
>
*‘Silakan saja maju lebih dulu,’* pikirku dalam hati. *‘Tunjukkan padaku kekuatan penuh dari pedang klanmu itu.’*
*GRRRRRRRR—!*
*Twin-Headed Ogre* itu menyadari kehadiran kami. Kedua kepalanya melolong bersamaan, menciptakan gelombang kejut akustik yang membuat debu-debu di lantai arena beterbangan. Tanpa membuang waktu, monster itu melesat maju, menghantamkan gada batu raksasanya ke arah Han Chae-won.
"Sihir Api Tingkat 3: *Aura Blaze*!" Chae-won berteriak.
*Sret!*
Dia menarik *Flame Brand* dari sarungnya. Dalam sekejap, bilah pedang itu diselimuti oleh api merah yang berkobar dahsyat, meningkatkan suhu di sekitar arena hingga membuat udara tampak bergelombang. Dengan gerakan anggun namun mematikan, Chae-won melompat menghindari gada monster dan mengayunkan pedangnya, melepaskan tebasan api vertikal yang langsung menghantam d**a sang Ogre.
*BOOM!*
Ledakan api membakar kulit bersisik monster tersebut. Ogre itu mundur dua langkah, melolong kesakitan. Namun, senyum di wajah Chae-won tidak bertahan lama. Kulit *Twin-Headed Ogre* peringkat B jauh lebih tebal dari yang dia perkirakan. Luka bakar itu justru memicu amarah dan kegilaan (*Berserk State*) pada monster tersebut.
Kepala sebelah kiri Ogre itu tiba-tiba memuntahkan cairan asam pekat, sementara tangan raksasanya mengayunkan gada dengan kecepatan dua kali lipat dari sebelumnya.
"Hah?!" Chae-won terkejut. Di udara, dia tidak memiliki pijakan untuk menghindar.
*DUAK!*
Meskipun dia berhasil menangkis menggunakan bilah *Flame Brand*, tekanan fisik murni dari monster tersebut melambungkannya ke udara. Tubuh Chae-won terhempas keras ke lantai beton, membuatnya terbatuk darah. Genggamannya terlepas, dan *Flame Brand* terlempar, berputar di udara sebelum akhirnya menancap kuat di lantai semen—tepat dua jengkal di depan sepatuku.
"Ugh..." Chae-won mengerang, mencoba bangkit, namun kaki kanannya gemetar akibat benturan. Di depannya, Ogre itu sudah melompat tinggi, siap menghancurkan tubuh gadis itu menjadi serpihan daging dengan gadanya.
Di tribun, para instruktur panik dan bersiap mengaktifkan pelindung darurat arena. Namun, mereka semua terlambat.
Aku melangkah maju dengan santai. Tangan kananku terjulur, mencengkeram gagang *Flame Brand* yang masih bergetar di tanah.
> **[Notifikasi Sistem: Kondisi Terpenuhi!]**
> * Kontak fisik dengan Senjata Peringkat A berhasil dilakukan.
> * Menginisiasi skill unik: **[Infinite Weapon Repository (Ex-Rank)]**.
> * Memulai pemindaian struktur *Mana* dan cetak biru *Artifact*...
> * Progress: 10%... 50%... 100%.
> * **[Penyalinan Berhasil!]**
> * Senjata *[Flame Brand (A-Rank)]* telah disimpan secara permanen ke dalam repositori jiwa Anda.
>
Saat jemariku mengunci gagang pedang tersebut, sebuah sensasi aneh mengalir ke seluruh saraf tubuhku. Itu adalah *muscle memory*—ingatan otot dari puluhan pendekar pedang klan Han terdahulu yang pernah menjinakkan senjata ini. Cara bernapas, sudut pijakan kaki, hingga distribusi *mana* terkecil sekalipun mengalir ke dalam otakku dalam hitungan milidetik.
Namun, ada yang berbeda.
*Mana Core* Baek Seo-jin yang awalnya dianggap cacat dan kosong, tiba-tiba berputar terbalik dengan kecepatan ekstrem. Efek dari bakat tersembunyi **[Superhuman Threshold]** mulai terpicu untuk menahan beban informasi dan energi spasial yang masif.
*WUSHAAAAA!*
Api yang keluar dari *Flame Brand* tiba-tiba meledak, namun warnanya berubah total. Api itu tidak lagi berwarna merah jingga seperti milik Chae-won. Api yang membakar bilah pedang di tanganku adalah **api biru pekat**—api yang suhunya berkali-kali lipat lebih tinggi, memancarkan energi murni yang begitu pekat hingga membuat sirkuit sihir di dinding arena retak.
"Apa... apa itu?!" Salah satu juri di menara pengawas berdiri dari kursinya hingga menumpahkan kopi. "Warna kobaran itu... itu adalah *Pure Mana Combustion*! Bagaimana bisa seorang kadet kelas F melakukannya?!"
Han Chae-won yang berada di lantai menatapku dengan mata terbelalak sempurna. "Kau... bagaimana bisa kau memegang pedang klanku...?"
Aku tidak menjawab. Mataku sepenuhnya terkunci pada *Twin-Headed Ogre* yang kini berada di puncak lompatannya tepat di atas kami.
*‘Terlalu lambat,’* pikirku. Dunia di sekitarku seolah melambat secara drastis akibat peningkatan persepsi indra *Superhuman*.
Dengan satu hentakan kaki, lantai semen di bawahku hancur membentuk kawah kecil. Tubuhku melesat maju seperti kilat biru. Kecepatanku melampaui batas kecepatan manusia biasa, meninggalkan bayangan buram di udara.
*Sret!*
Aku melewati bagian bawah Ogre yang sedang jatuh bebas. Menggunakan teknik pedang yang telah disempurnakan oleh sistem repositori, aku mengayunkan *Flame Brand* dalam satu garis horizontal yang sangat presisi.
*JASSSH!*
Pedang api biru itu memotong kedua kaki raksasa Ogre tersebut tanpa hambatan sedikit pun, seolah-olah bilah pedang itu memotong balok mentega hangat. Cairan darah monster yang menyembur langsung menguap menjadi gas hitam sebelum sempat menyentuh seragamku.
"GRAAAAAHH?!" Ogre itu melolong ngeri saat tubuh raksasanya kehilangan tumpuan dan jatuh berdebam ke tanah, hancur keseimbangannya.
Sebelum monster itu sempat membalikkan tubuhnya, aku sudah mendarat dengan anggun di atas salah satu kepalanya. Aku membalikkan cengkeraman pedang, mengarahkannya lurus ke bawah, tepat ke arah jantung *core* yang berdenyut di balik dadanya.
"Selesai," bisikku pelan.
*JLEB!*
Aku menghujamkan *Flame Brand* sedalam-dalamnya. Energi api biru meledak dari dalam tubuh Ogre tersebut. Suara ledakan teredam terdengar, diikuti oleh cahaya biru yang menembus sela-sela kulit bersisik monster itu. Dalam tiga detik, seluruh tubuh *Twin-Headed Ogre* peringkat B itu hangus dari dalam, berubah menjadi tumpukan abu hitam yang ditiup angin arena.
Hening.
Seluruh koloseum raksasa itu mendadak sunyi senyap. Tidak ada suara bisikan, tidak ada sorak-sorai. Ribuan kadet jenius dan para instruktur tingkat tinggi membeku di tempat duduk mereka, menatap pemuda yang berdiri di tengah abu monster dengan sebilah pedang api biru yang perlahan meredup.
Aku memutar pedang itu dengan gestur satu tangan yang sempurna—sebuah gestur khas penghormatan klan *Blazing Sword* yang bahkan belum dikuasai oleh Chae-won—lalu melemparkannya kembali ke arah gadis itu. Pedang itu berputar dan menancap tepat di samping tubuhnya yang masih mematung.
> **[Notifikasi Sistem]**
> * Anda telah mengalahkan *Twin-Headed Ogre* (B-Rank) dalam satu serangan tunggal.
> * Evaluasi Ujian: **S-Rank (Sempurna)**.
> * Hadiah: 5.000 Poin Atribut dimasukkan ke dalam 'Mana Affinity'.
> * Sinkronisasi tubuh dengan bakat [Superhuman Threshold] meningkat menjadi 5%.
>
"Pedang yang bagus," kataku sambil berjalan melewati Han Chae-won tanpa memandang wajahnya yang pucat pasi. "Tapi teknik distribusi *mana* milikmu pada sirkuit pedang tadi agak miring dua derajat. Sifat apimu menjadi tidak stabil. Latihlah lagi."