2. Gavino Pranaja

1401 Words
Saat memilih menjadi seorang mahasiswa Sistem Informasi di Universitas Garuda, artinya Gavin harus selalu siap mengerjakan laporan praktikum yang seabrek sampai harus rela begadang karena deadline yang kadang suka ngajak bercanda. Ditambah lagi laporan tersebut harus ditulis tangan. Oke, biar Gavin ulangi, harus ditulis tangan. Terkadang Gavin heran, untuk apa kuliah jurusan Sistem Informasi, yang mana setiap harinya mempelajari tentang teknologi yang semakin berkembang pesat, tapi untuk urusan laporan praktikum masih harus ditulis tangan. Benar-benar membuat geleng-geleng kepala. Mahasiswa IT kok tidak memanfaatkan kemudahan yang sudah disediakan oleh perkembangan IT? Gavin memijit kepalanya pelan, merasa sedikit pusing dan penat dengan aktivitas yang telah dilakukannya selama kurang lebih satu jam. Laki-laki itu melirik jam digital yang terletak tak jauh dari meja belajarnya, pukul tujuh lebih tiga puluh lima menit. Pantas saja seperti ada yang menggelar konser di dalam perutnya, ternyata sudah waktunya makan malam. Memilih meninggalkan lembaran kertas folio yang berserakan di atas meja belajarnya, Gavin menuruni anak tangga menuju dapur yang sekaligus menjadi ruang makannya. Kalau orang-orang berpikir bahwa rumah berlantai dua adalah rumah orang kaya, maka itu tidak berlaku untuk Gavin. Dia bukan berasal dari keluarga kaya, Gavin hanya tinggal berdua bersama kakak laki-lakinya. Awalnya mereka tinggal di sebuah kontrakan sederhana, lalu setelah kakaknya lulus Sekolah Menengah Kejuaran atau yang biasa disebut SMK, mereka memutuskan untuk membeli lahan dan membangun rumah. Namun karena lahan yang mampu dibeli tidaklah luas, akhirnya mereka sepakat untuk membangun rumah berlantai dua. Jadi alih-alih membangun rumah yang luas, mereka justru membangun rumah yang tinggi di atas lahan yang tidak seberapa itu. Namun mereka masih tetap bersyukur karena setidaknya masih memiliki tempat tinggal yang nyaman. Terlebih lagi rumah tersebut adalah hasil dari jerih payah mereka sendiri. "Lagi bikin apa, bang?" tanya Gavin kala mendapati laki-laki berperawakan mirip seperti dirinya itu tengah berkutat dengan sesuatu di dapur. Revan, laki-laki yang tak lain adalah kakak Gavin itu menoleh, "Bikin nasi goreng, lo mau sekalian?" "Iya, gue laper banget, sumpah." Gavin berujar seraya menampilkan raut wajah yang sengaja dibuat memelas yang sebenarnya bukan Gavin banget, tapi biarkan saja lah, laki-laki itu sedang malas memasak. Sudah Gavin bilang kan, bahwa ia hanya tinggal berdua bersama kakaknya. Tidak ada pembantu ataupun asisten rumah tangga, mereka sudah terbiasa hidup mandiri sejak kecil. Jadi untuk urusan masak memasak dan melakukan pekerjaan rumah bukanlah hal yang sulit untuk mereka lakukan sendiri. Hanya saja terkadang rasa malas memang beberapa kali menghampiri mereka, kalau sudah begitu mereka akan mengambil jalan tengah, yaitu memesan makanan secara online dan memanggil tukang bersih-bersih untuk datang ke rumah mereka. "Nih, tapi nggak ada yang gratis," ucap Revan setelah ia meletakkan dua piring nasi goreng di meja makan dan duduk di kursi yang berseberangan dengan tempat Gavin duduk. Gavin hanya memutar bola matanya, palingan bayaran yang harus ia berikan untuk sepiring nasi goreng ini adalah mencuci piring. "Gue bagian cuci piring kan?" tanya Gavin yang sebenarnya tanpa bertanya pun ia sudah tahu jawabannya. Laki-laki itu sudah menikmati nasi goreng buatan kakaknya dengan lahap. Tak lupa dengan sekantong kerupuk yang sudah ia amankan dalam genggamannya itu. Revan hanya terkekeh saja, tidak menanggapi pertanyaan adik satu-satunya itu. Sama seperti Gavin, Revan kini sudah terfokus pada nasi goreng miliknya, melahapnya tanpa ada sisa satu butir nasi sekalipun. "Bengkel aman, bang?" tanya Gavin memecah keheningan setelah ia menyesap segelas air putih hingga tersisa setengahnya. "Sejauh ini aman, cuma ada beberapa anak magang di bengkel pusat, jadi gue harus sering ke sana untuk mantau," ujar Revan menjelaskan. Omong-omong soal anak magang, Revan jadi teringat dirinya beberapa tahun silam. Di mana ia menjadi salah satu anak magang di sebuah bengkel besar. Dari pengalaman magang itulah Revan bertekad untuk mendirikan bengkel. Awalnya hanya usaha kecil-kecil saja, tempatnya pun waktu itu hanya di pinggiran jalan raya yang panas. Namun karena kegigihannya, usaha bengkelnya berkembang dengan pesat hingga dapat menyewa sebuah bangunan untuk usahanya itu, ia pun kini telah membuka beberapa cabang bengkel di kota Jakarta. Meski begitu, Revan tak pernah merasakan yang namanya duduk di bangku kuliah. Dulu ia memilih masuk ke Sekolah Kejuruan Teknik Sepeda Motor, karena dari awal ia memang sudah pesimis tentang masuk ke perguruan tinggi sebab masalah biaya. Jadi dia memilih opsi lain, yaitu bersekolah yang setelah lulus nanti ia bisa langsung bekerja menggunakan skill yang ia miliki. Dan hasilnya, ia dapat merintis usaha yang telah mengubah hidupnya dan Gavin. Ia juga mampu untuk membantu biaya kuliah Gavin saat ini. "Oh iya, harusnya hari ini cewek lo udah balik kan?" Kini giliran Revan yang bertanya. Gavin sedikit terkejut dengan pertanyaan tersebut, ia tak menyangka kakaknya itu masih mengingat curhatannya enam bulan lalu saat Fany, pacarnya, baru berangkat ke London. Saat itu Gavin bercerita pada kakaknya bahwa ia akan menjalani Long Distance Relationship atau kalau kata Raisa, istilah kerennya adalah LDR, selama enam bulan, dan ia pun memberi tahu kakaknya mengenai perkiraan tanggal kepulangan Fany saat itu. Gavin mengembuskan napasnya secara kasar dan mencoba tersenyum tipis, "Harusnya sih gitu, bang," jawab Gavin seadanya. Kalau dipikir-pikir, miris juga ya, Gavin tidak tahu bagaimana keadaan Fany saat ini. Ia sama sekali tak mendapatkan kabar apapun dari Fany, bahkan Gavin pun tak tahu, apa hari ini pacarnya itu sudah benaran pulang ke Jakarta atau belum. "Kalau dia sudah di Jakarta, jangan lupa ajak main ke sini," kata Revan. Gavin sempat menyernyit heran, namun setelahnya ia menyadari sesuatu. "Oke, nanti gue kenalkan Fany dengan lo, ya, Bang." sahutnya. Gavin baru ingat kalau kakaknya itu baru satu kali saja melihat Fany, itu pun hanya sebentar dan belum sempat saling kenalan. Jadi memang sudah seharusnya ia mengenalkan Fany kepada sang kakak agar mereka saling kenal dan akrab seperti saudara sendiri. Pun sebaliknya, Gavin harus mengenalkan Revan pada keluarga Fany, yang selalu memberikan kehangatan pada Gavin seperti keluarganya sendiri. Revan harus merasakan hal itu juga, karena Gavin paham betul, sejak kecil mereka tidak memiliki kesempatan untuk merasakan kehangatan itu. * Gavin meletakkan piring terakhir yang telah dicucinya ke rak yang tak jauh dari wastafel tempat laki-laki itu mencuci piring selama beberapa menit tadi, tak lupa ia mengelap piring itu terlebih dahulu. Setelahnya ia kembali naik ke kamar untuk melanjutkan aktivitas menulis laporan praktikumnya yang tadi sengaja ia jeda untuk makan malam. Setelah menutup pintu kamarnya, laki-laki itu mendaratkan tubuhnya pada kursi belajarnya yang empuk. Namun sebelum jemarinya meraih pulpen untuk kembali menulis, ia justru menyambar ponsel yang sedari tadi sedang dicharge. Beberapa saat ia terfokus pada ponselnya, sampai akhirnya ia mendekatkan benda kotak itu ke telinga kirinya. "Halo, bang Victor," sahut Gavin membalas sapaan seorang laki-laki di seberang sana yang tak lain adalah Victor, kakak Fany. "Bang, Fany gimana?" tanya Gavin to the point. Ia memang lebih suka langsung pada intinya, tanpa basa-basi yang menurutnya hanya buang-buang waktu dan tenaga. Bukannya menjawab pertanyaan Gavin, Victor justru balik bertanya, "Emang dia belum ngabarin lo?" Gavin menggeleng pelan, yang padahal reaksinya itu tidak dapat dilihat oleh sang lawan bicara di seberang sana. Terdengar dengusan yang terlalu kentara dari Victor. Sedangkan Gavin, ia sama frustrasinya. Sudah tiga bulan sejak kejadian itu, Fany tak pernah memberinya kabar, hingga ia sering kali mengganggu Victor untuk sekedar bertanya bagaimana kabar Fany. Gavin hanya perlu satu kalimat, 'Fany baik-baik saja', itu sudah cukup untuk membuat hatinya lega ketimbang harus terus menerka-nerka. "Kalian ini saling memutuskan kontak atau gimana sih? Kenapa gue berasa jadi tukang pos gini?" sungut Victor. Sepertinya laki-laki itu sedang pusing dengan skripsinya, jadi bawaannya sensi, persis seperti cewek ketika sedang pms. "Sorry, bang," ujar Gavin merasa bersalah karena ia selalu merepotkan Victor untuk masalah seperti ini. "Bentar, nanti gue telfon lagi," kata Victor sebelum akhirnya panggilan itu terputus. Setelahnya, Gavin kembali mengerjakan laporannya, susah payah laki-laki itu mengembalikan fokusnya pada kertas di hadapannya. Laporan praktikumnya harus selesai malam ini, sebagai antisipasi saja barangkali besok ada tugas tambahan dari dosen bawelnya itu. Lagipula sahabat karibnya yang bernama Segara itu sudah mengirim pesan spam pada Gavin. Minggu lalu laki-laki itu tidak masuk kelas karena sakit, jadi dia ingin melihat laporan praktikum milik Gavin. Katanya sih sebagai referensi saja, padahal Gavin yakin kalau laporan tersebut akan disalin habis-habisan oleh laki-laki s****n satu itu. Tapi tak apa, Gavin ikhlas kok. Toh Gavin sendiripun pernah melakukan hal yang sama pada Segara. Lima belas menit setelahnya, Victor kembali menelepon Gavin. Dengan semangat, laki-laki itu kembali menyambar ponselnya, menggeser tombol berwarna hijau pada layar ponselnya, lalu mendekatkan benda tersebut ke telinganya. Namun, kalimat pertama yang Victor ucapkan sontak membuat senyum Gavin sirna. Laki-laki itu membeku di tempatnya. "Kalian putus?" *
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD