13

1020 Words

Rizal memandangi perempuan aneh di depannya dengan gelisah sembari beberapa kali menatap layar ponselnya untuk terus menghubungi seseorang. "Heh, udahan minumnya," cetusnya pada perempuan itu. "Shut up, Rizal!" Rizal mengernyit. Berhadapan dengan perempuan manapun selalu membuat fisik dan batinnya muak dan lelah. "Dih, dikasih taunya begitu. Itu minuman buat dijual ke pelanggan bukan buat lo habisin sendiri, dasar gila." "Shut up! Didn't you hear what i said hah?" Zefanny menaruh gelasnya di atas meja dengan sedikit kasar dan menatap Rizal— pria yang belum lama dia kenal. Teman Kevin sekaligus orang yang Kevin percayakan untuk mengelola Blather cafe. Kafe ini di bangun dan didirikan oleh Kevin, namun karena suatu alasan, Kevin membiarkan Rizal yang memiliki nama atas kafe ini. "Arschl

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD