Terpaksa

1487 Words
Bryan menyentuh jemari Rere. Pria itu membantu istrinya untuk berdiri. Mereka pun undur diri dari tengah perkumpulan keluarga untuk beristirahat lebih dahulu. Rere hanya bisa pasrah saat jemarinya terus berada dalam genggaman Bryan. Gadis itu pun tersenyum setiap kali melihat tangan mereka yang terus berpegangan. Sungguh ini adalah sentuhan pertama kali dengan lawan jenis seumur hidupnya. Sentuhan yang lembut dan membahagiakan. Pasalnya sentuhan ini dilakukan setelah penantian panjang dalam ikatan suci kasih sayang Tuhan. Dan lagi-lagi Rere hanya bisa menunduk malu. Langkah kakinya melambat. Membuat Bryan menoleh ke arahnya. “Tanganmu dingin. Apa kau sakit?” Tanya Bryan membuat Rere tersenyum. “Aku baik-baik saja,” ucap Rere. Nyatanya dia memang baik-baik saja. Lelah sudah pasti karena seharian mereka dipajang menjadi sepasang pengantin di pelaminan. Bersalaman dengan para tamu undangan. Hal yang membuat tangannya dingin sungguh bukan karena kelelahan. Tapi karena mereka bergerak menuju kamar pengantin. Kamar di mana mereka bebas melakukan apa pun. Karena mereka berada dalam ikatan yang halal. Rere benar-benar tak bisa membayangkan dirinya harus bersikap seperti apa berhadapan dengan Bryan di dalam sana nanti. Rere tak pernah dekat dengan seorang pria mana pun. Dia adalah gadis yang benar-benar menjaga akidahnya. Bahkan menyentuh seorang pria pun hanya di saat memeriksa pasien. Mereka terus mengikis jarak dengan kamar pengantin. Semakin dekat jarak mereka dengan kamar pengantin, semakin Rere melemahkan langkahnya. Gadis itu semakin tak memiliki daya dan upaya untuk mendekat. Kakinya benar-benar gemetar. “Ya Allah,” gumam Rere dalam hatinya. Sungguh saat ini Rere hanya bisa menikmati debaran jantungnya yang menggila. Bryan yang khawatir dengan kondisi istrinya pun segera menghentikan langkahnya. Pria itu benar-benar khawatir Rere kelelahan dan akhirnya pingsan. Pria itu pun segera membopong tubuh istrinya dengan lembut. Membuat Rere tersentak karena terkejut. “Astaghfirullah hal adziim,” ucap Rere terkejut. Wajah gadis itu pun memerah saat menyadari wajahnya dan Bryan begitu dekat. Karena ini Bryan menggendong layaknya pangeran yang menggendong seorang putri. “Aku bisa jalan sendiri,” ucap Rere menunduk malu. “Biarkan aku menggendong mu. Aku khawatir kamu kelelahan,” ucap Bryan kini mulai masuk ke dalam lift. Dan Rere hanya bisa menyembunyikan wajahnya di ceruk leher pria yang telah sah menjadi suaminya. Menyembunyikan wajahnya yang terus merona. Sungguh Rere terlalu canggung saat ini. Dan tepat di saat lift berdenting. Jantung Rere semakin terpacu. Terlebih lagi saat Bryan melangkahkan kaki keluar dari lift dan bergerak menuju kamar pengantin mereka. Rere pun memejamkan matanya. “Duuh. Ya Allah. Bagaimana ini,” gumam Rere. Bryan pun mulai memasuki kamar pengantin mereka. Lalu membaringkan istrinya di ranjang pengantin yang dihias dengan sangat indah. “Istirahat ya,” ucap Bryan mengusap pipi Rere dengan lembut. Rere pun membuka kelopak matanya. Kemudian gadis itu mengangguk kepada Bryan. “Tadi Daddy meminta aku untuk segera menemuinya. Aku mau menemui Daddy dulu ya,” ucap Bryan membuat Rere mengangguk. Dan kini Bryan pun membalikkan tubuhnya dan hal itu membuat Rere segera bangkit untuk menyentuh jemari Bryan. Rere menahannya dengan lembut. Bryan pun kembali menoleh ke belakang. Pria itu menarik bibirnya untuk memberikan senyum terbaik untuk istrinya. “Kamu takut sendirian?” Tanya Bryan. “Em Bukan... Aku baik-baik saja.” Rere tampak bingung mengatakan kalau dirinya ingin memberikan support terbaik. Sebagai seorang istri tentunya Rere harus mampu menyemangati suaminya dalam masalah apapun. “Lalu?" Bryan merasa yakin kalau Rere ingin menyampaikan sesuatu. Mungkin itu karena Rere ingin dirinya tidak terlalu lama meninggalkan. Sedangkan Rere hanya diam. Wanita itu tampak menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Hingga akhirnya kembali bicara. “Aku cuma mau bilang. Semoga Allah mudahkan urusanmu. Aamiin,” ucap Rere membuat jantung Bryan berdesir. Sungguh ini adalah kalimat yang tak dia sangka akan keluar dari bibir Rere. Dia pikir Rere akan mengatakan “Jangan lama-lama.” Tapi ternyata doa yang tulus yang justru malah lahir dari bibir gadis yang telah sah menjadi istrinya. “Aamiin ya Allah. Terima kasih ya, Istriku.” Bryan pun mengulurkan tangannya untuk mengusap puncak kepala istrinya. Sikap manis ini sukses membuat Rere merasa jantungnya berdegup kencang. Seperti pacuan kuda yang sedang berlomba. Bryan pun segera pergi meninggalkan Rere sendirian di kamar pengantinnya. Gadis itu tersenyum menatap punggung Bryan yang bergerak menjauh dan menghilang di balik pintu. Rere tersenyum saat menyapukan pandangannya ke segala arah. Gadis manis itu hanya bisa merapalkan hamdalah. Rasanya hari ini jika dia mengucapkan hamdalah sepanjang waktu pun tak akan sanggup mengimbangi anugerah yang telah Allah berikan padanya. Kebahagiaan yang selama ini menjadi doa-doa di malam panjangnya. Di malam yang sepi, Rere selalu bermanja-manja dengan Allah dalam sajadahnya. Merengek untuk hal mustahil. Karena mencintai sosok Nasrani. Hingga akhirnya pria itu menjadi mualaf demi wanita lain. Namun Dirinyalah yang tetap Allah takdir kan menjadi pelabuhan cintanya. Rere benar-benar bersyukur. Allah memberikan kisah yang begitu indah dalam perjalanan cintanya. Rere yang begitu setia menggenggam cinta pada satu pria. Membiarkannya hanya bersemayam dalam hati. Tanpa pernah mengumbar Demi menjaga akidahnya. Dan kini Allah hadiahkan cinta itu sebagai bentuk kasih sayang karena kesabarannya menahan hati. Rere menatap ke sekelilingnya. Menatap indahnya rangkaian mawar putih di setiap sudut kamar. Sedangkan di ranjang tempatnya duduk, dipenuhi dengan taburan mahkota mawar merah yang kontras dengan seprei putih berbahan sutra yang halus dan lembut. “Alhamdulillah ya Allah,” ucap Rere dengan hati yang bergetar hebat. Gadis itu pun mulai mengulurkan tangannya untuk menyentuh mahkota mawar merah yang ditaburkan ke atas ranjang. Bibirnya terus tersenyum karena rasa bahagia yang membuncah dalam hatinya. Dan kini gadis itu mengalihkan pandangannya ke arah buket bunga mawar putih di atas nakas. Meraih buket bunga itu dan menghirup aromanya yang tenang. “Cantik banget,” ucap Rere. Setelah puas menatap keindahan kamar pengantinnya. Rere mulai melirik jam yang digantung di dinding. Gadis itu mulai gelisah karena Bryan tak kunjung datang. “Kok Bryan enggak datang-datang ya? Apa yang dia bicarakan bersama Tuan Wilson sangat panjang?” Rere tampak bermonolog. Namun, sesaat kemudian rasa gelisah mulai bergelayut dalam hati. Kala Rere mengingat pernikahannya dengan Bryan yang tak terduga. Bahkan keluarganya pun baru tahu di hari H. Kejutan yang diciptakan Bryan pasti membuat orang tuanya marah. “Ya Allah. Apa aku harus ikut menemani Bryan? Dia pasti tersudut karena masalah ini,” gumam Rere. Dan akhirnya gadis itu pun memutuskan untuk menemui Bryan. Setidaknya sebagai seorang istri dia harus selalu menemani suaminya dalam kondisi apa pun. Rere pun mulai turun dari ranjang lalu bergerak keluar kamar untuk menemani Bryan yang sedang menemui ayahnya. Rere berusaha untuk melangkah kakinya dengan cepat agar bisa menemani Bryan. Walau sebenarnya dia tidak tahu di mana Bryan menemui orang tuanya. Pasalnya hotel ini sangat luas. Akhirnya Rere pun bergerak ke arah taman. Mencari keberadaan Bryan dan orang tuanya. Tapi sayang dia justru malah tak bisa menemukan mereka di sana. Dia justru malah melihat Cantika dan Orlando. “Assalamualaikum, Tika. Maaf aku mengganggu,” ucap Rere membuat Cantika terkejut. Pasalnya yang dia tahu Rere lebih dulu kembali ke kamar karena kelelahan. “Wa’alaikum salam ada apa, dokter?” Tanya Cantika. “Aku sedang mencari Bryan. Dia bilang dia sedang menemui orang tuanya. Aku khawatir Bryan dimarahi karena masalah ini. Sebagai istri aku ingin menemaninya,” ucap Rere begitu polos. “Oh kamar Tuan Wilson dan Nyonya Wilson ada di kamar 101. Kau bisa ke sana pakai kartu akses ini. Ini kartu utama. Bisa digunakan untuk membuka pintu mana pun,” ucap Orlando memberikan kartu itu kepada Rere. “Terima kasih Mr. Orlando.” “Sama-sama.” “Kalau begitu saya permisi. Assalamualaikum.” “Wa’alaikum salam.” Rere pun segera pergi menuju kamar yang diberi tahu oleh Orlando. Gadis itu terus mencari keberadaan kamar Tersebut hingga akhirnya menemukannya. Kini Rere hanya bisa diam di depan kamar hotel yang dia tuju. Gadis itu terdiam. Rasanya ragu untuk menempelkan kartu akses masuk yang diberikan oleh Orlando. Dia merasa sangat tidak sopan jika masuk tanpa ijin. Dan gadis itu terdiam saat mendengar suara Bryan dengan samar-samar. “Aku terpaksa. Aku tidak mungkin membiarkan keluarga kita malu jika aku tidak menikah. Makanya aku menikahi dokter Rere.” “Aku terpaksa?” Gumam Rere mengulang kalimat yang benar-benar menghantam jantungnya. Rere tahu Bryan tidak mungkin menikahinya. Tapi sungguh kata terpaksa yang terdengar dari bibir Bryan membuat hati Rere terluka. Setetes air mata pun segera mengalir tanpa instruksi. Semua terjadi begitu saja. “Ya Allah. Pernikahan macam apa ini?” lagi-lagi Rere terlihat bermonolog. Gadis itu mulai tak sanggup menghentikan air matanya. Hatinya benar-benar hancur di hari pertama pernikahannya. Rere pikir Bryan sebenarnya juga tertarik padanya. Mungkin jika cinta belum ada, setidaknya ada rasa tertarik di hati pria itu terhadap dirinya. Ada kepedulian yang tulus. Karena nyatanya Rere bisa merasakan itu dari sikap Bryan yang lembut terhadapnya. Tapi ternyata, itu hanya terpaksa. Jika memang hanya terpaksa mengapa tadi Bryan bersikap begitu manis. Rasanya sulit dipercaya. Tapi nyatanya inilah yang dia dengar. Kalimat yang meluluh lantakkan hatinya. “Ya Allah. ” Rere hanya bisa bergumam. Dirinya sudah tak sanggup menahan tangis. Akhirnya tangis gadis itu pun pecah. Rere mulai berlari menjauh dari kamar mertuanya. BB
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD