Seharian Richard memikirkan apa yang di ucapkan Glory tadi pagi. Dia terlihat gelisah karena suatu hal yang dia bahkan tidak pahami.
"Gadis itu sepertinya sangat ingin bercerai dariku, menurutmu kenapa?" tanya Richard pada sekretarisnya yang sangat seksi, si melon jumbo!
Perempuan bernama Anita itu segera menatap bosnya tapi dengan dahi berkerut. Bertanya-tanya dalam hati kenapa kata bercerai yang terlontar dari istri bosnya itu sepertinya sangat meresahkan bagi Richard?
"Aneh, bukankah dia juga menginginkan perceraian? Kenapa kayak tidak rela begitu?" gumamnya dalam hati. Dia teringat beberapa bulan lalu tepatnya sebelum pernikahan di gelar Richard sudah sibuk membuat draft surat perjanjian. Bahkan pria itu meminta pendapatnya dan Ben.
Nita -panggilan akrabnya- segera mengalihkan pandangan dari bosnya dan berdehem sebentar sebelum menjawab.
"Mungkin karena pacarnya," jawabnya seraya dia merapikan beberapa dokumen di atas mejanya sambil bertanya-tanya kenapa Glory tidak jatuh cinta pada Richard padahal pria itu punya segalanya yang di cari oleh perempuan. Bibit bebet bobot jelas, tampang, uang apalagi.
Jangan lupa, keahlian di ranjang juga numero one.
"Sayang sekali, ckckck!" batin Nita.
Nita memang tahu mengenai hubungan Richard dan Glory bahkan mengenai kontrak juga makanya dia berani bermain-main dengan bosnya itu walau sudah punya status yang sah.
Nita juga menjadi teman curhat Richard kala pikirannya sedang kalut karena masalah keluarga terutama karena ulah Glory.
Namun, walaupun sudah tahu banyak soal Richard dan istrinya, Nita tidak pernah berani mengucapkan satu patah kata pun di luar sana mengenai kedua orang itu karena tahu akibat yang akan dia terima setelahnya.
"Apa iya? Apa menurutmu pacarnya itu yang mempengaruhi pikirannya untuk bercerai? Kami masih ada sekitar dua tahunan lagi sesuai kontrak. Kalau dia mau cerai, apa dia sanggup bayar denda? Pacarnya orang kaya?"
Nita menggeleng. Dalam hati dia menduga kalau bosnya itu sudah mulai menaruh sedikit perhatian pada Glory dan mulai memperhatikan Glory dalam diam. Kalau niatnya masih sama, untuk apa dia mempedulikan soal dari mana Glory dapat uang untuk bayar denda?
Sejak kepergok oleh Glory sedang bermesraan di rumahnya waktu itu, Richard tidak pernah mengajak Nita lagi ke hotel atau apartemen. Dan setahu Nita, Richard selalu pulang tepat waktu jika tidak ada pekerjaan yang mendesak atau meeting yang tiba-tiba di undur. Pria itu mulai menerapkan bagaimana seharusnya seorang suami bersikap.
"Pacarnya perawat juga dan aku nggak yakin dia punya uang sebanyak itu bahkan sepersepuluh dari biaya denda kalian pun dia pasti nggak punya. Ekonomi keluarganya tidak jauh beda dengan Glory. Orang tuanya PNS."
"Sepersepuluh! Kamu sadarkan berapa biaya denda kami. Sepuluh juta pun aku nggak yakin mereka punya. By the way, kamu hebat juga bisa tahu mengenai pacarnya," jawab Richard jumawa.
Dalam hati dia mencibir, "Tidak ada apa-apanya di bandingkan aku."
Wajahnya memang terlihat tenang tapi hatinya bergemuruh karena sesuatu yang tidak dia ketahui sebabnya. Cemburu lebih tepatnya.
"Jaga-jaga jika suatu waktu kamu nanya, dan ternyata sangat berguna at this time," jawab Nita sambil mengendikkan bahu.
"Jadi perawat juga ya, nggak serulah kalau gitu," gumam Richard pelan. "Minimal dokterlah kalau mau minta cerai dariku hanya karena pacar. Masa perawar," lanjutnya mengejek.
Dia menutup pembicaraan sejenak namun saat pikirannya sedang berkelana dan sedang mengulang-ulang semua kegiatan Glory yang sempat tertangkap matanya saat mereka ada di rumah, suara Nita menghentikan semua pemandangan itu, "Seandainya dia mampu membayar denda, kamu sudah siap untuk turun tahta jika bercerai dengannya? Kamu belum lupa perjanjian lisan kamu dengan oma dan orang tuamu, kan?"
Paaak
Seolah-olah ada beberapa telapak tangan yang sekaligus menampar wajahnya. Menyadarkannya soal betapa pentingnya Glory tetap berada di sampingnya.
Ya, pernikahannya ini sangat bernilai tinggi.
Semasa belum menikah, Richard sudah menjadi pimpinan di perusahaan karena papanya yang tiba-tiba terserang stroke di usia mendekati setengah abad.
Ilmu bisnis yang sudah dia kenyam selama ini membuatnya menjadi salah satu kandidat terkuat untuk menjadi pemimpin walaupun usianya saat itu masih dua puluh enam tahun. Dan Richard membuktikan semuanya dengan kemajuan bisnis mereka. Membuat gebrakan baru untuk semakin menaikkan ekonomi keluarganya.
Tapi, segala usaha yang sudah dia lakukan selama hampir delapan tahun runtuh seketika ketika neneknya membawa seorang gadis muda dan memperkenalkan gadis itu sebagai calon istrinya yang sudah di tetapkan sedari kecil.
"Nggak mau, Richie masih bisa cari calon istri yang cocok dan setara, bukan anak ingusan kayak gini," tolak Richard waktu itu di depan calonnya dan semua keluarga yang hadir. Calon istri yang dia sebut anak ingusan itu bahkan sampai mengerutkan kening dan mendengus.
"You are not in the position to refuse this engagedment. Yang bisa kamu lakukan adalah say 'yes' titik."
"Oma!"
Saat Richard mengeraskan suaranya karena kesal tidak diberi pilihan, ayahnya yang kini tidak bisa bicara dengan jelas juga melambai-lambaikan tangannya untuk memarahi Richard yang sudah berteriak.
Hanya bisa bersuara uu uuu uuu pada Richard di tengah kekalutan pria itu.
"Maaf semuanya!"
Tiba-tiba suara halus seorang perempuan muda memecahkan keheningan. Itu adalah anak ingusan bernama Glory.
"Saya juga tidak setuju dengan pernikahan ini. Saya masih anak ingusan dan masih punya banyak waktu untuk memilih calon suami. Nggak mau di lemparkan ke laki-laki tua bangka kayak dia," lanjut Glory membalas Richard. Telunjuknya tepat menghujam ke arah Richard.
"Heh? Siapa yang tua bangka?"
"Ya situlah! Kan situ yang mau di jodohin sama saya," jawab Glory lantang. Tidak gentar pada suara Richard yang sudah menggema.
"Aku? Tua bangka? Heh, pake mata kalau melihat, ganteng dan muda begini di bilang tua bangka. Aku masih tiga puluh tiga lebih, enak aja bilang tua bangka."
"Tiga tiga? Nah kan, berarti benar tua bangka. Udah tiga puluhan. Di atas tiga puluh udah termasuk tua tahu. Pantasan Tuhan angkat tangan nggak kasih jodoh lagi sesuai yang situ mau. Pasti karena kebanyakan kriteria, kan?" jawab Glory lagi membuat Richard semakin panas. Bahkan pria itu hendak berdiri dan merongrong Glory yang duduk di seberangnya.
Tangan mamanya dan juga sepupunya yang berada di sampingnya menghentikan niatnya itu.
"Mangkanya, waktu muda cari pacar dong biar nggak di carikan. Kan jadi repot gini, malah saya jadi kebawa-bawa." lanjut Glory yang di detik berikutnya langsung diam begitu di pelototi oleh bapaknya.
Sementara neneknya Richard yang mengundang Glory dan keluarganya kini tersenyum karena sudah menemukan harta karun yang benar-benar luar biasa. Warisan sahabatnya memang mantul, tul, tul.
"Hahah, sialan," umpat Richard dengan suara mendesis.
Kedua orang itu saling menatap dengan mata tajam seolah-olah dari pandangan itu mereka bisa membelah tubuh lawannya.
Gigi Richard gemelatuk dan jemarinya menonjolkan ruas tulang yang panjang-panjang karena dia mengepalkan tangannya di atas pahanya. Sedangkan Glory, dia mengerutkan dahinya ketika menatap Richard yang terlihat jelas-jelas sedang menahan emosi. Dia mengendikkan bahunya juga mengejek Richard dengan mimik wajahnya.
"Ya sudahlah, ayo makan dulu! Perkenalannya di lanjutkan nanti." Nenek Richard yang bernama Corry berusaha bangkit berdiri dengan bantuan tongkat tiga kakinya. Dia pura-pura tidak melihat perang tatapan dua anak muda yang sebentar lagi akan dia satukan.
"Setelah makan baru kita bahas rencana pernikahan biar pikiran lebih tenang dan bisa fokus. Perut kosong sering kali membuat emosi cepat naik, betul kan?" lanjutnya membuat semua mata tertuju pada wanita tua itu terutama Richard dan Glory yang matanya hampir melompat dari tempatnya.
****
"Kalian berdua ikut nenek!" ujar Corry seraya menunjuk Richard dan Glory dengan dagu dan pandangan matanya.
Baru saja satu kalimat keramat di ucapkannya usai mereka makan malam membuat suasanya di sekitar ruang makan hening seperti tidak berpenghuni.
"Richard dan Glory menikah dua bulan lagi di tanggal yang sama dengan tanggal hari ini. Titik no debat!"
Titah dari Corry adalah keputusan yang tidak bisa di ganggu gugat.
"Kalau kamu menolak, silahkan keluar dari kartu keluarga dan tinggalkan perusahaan," lanjutnya ketika melihat mulut Richard mulai mangap hendak mengeluarkan protesannya.
"Hal yang sama juga untukmu Glory, out dari kartu keluarga orang tuamu," ucapnya membuat Glory menganga dan menatap kedua orang tuanya bergantian sambil menunjuk dirinya sendiri dengan raut tidak percaya. Sementara wajah bapaknya perlahan mulai berseri karena hidupnya dan keluarganya akan terselamatkan dari kemiskinan yang nyaris mereka injak.
Richard dan Glory berdiri bersamaan ketika tidak ada satu orang pun di ruangan itu yang berucap untuk menolak permintaan nenek tua penuh uban itu.
Keduanya menyeret kaki mereka di belakang Corry yang berjalan menuju kamarnya yang disana juga ada space untuk ruang kerja.
Sejenak, ketiganya terdiam dengan pikiran masing-masing.
"Richie, dimana kalung yang pernah nenek berikan untuk kamu simpan?"
Mata Richard langsung berbinar begitu mendengar itu karena dulu sewaktu neneknya mempercayakan itu padanya, neneknya berkata 'pegang ini dan simpan baik-baik, kamu adalah yang terpilih untuk mendapatkan harta karun yang di rahasiakan oleh Opamu dan omamu ini.'
Dengan segera dia mengeluarkan kalung dengan liontin kunci di lehernya.
"Yang ini?" tanyanya pura-pura cuek padahal dalam hati sudah berbinar karena sudah jelas dia akan semakin kaya. Sahamnya akan bertambah atau mungkin sesuatu yang di sembunyikan di brankas.
Melihat liontin berbentuk kunci itu, mata Glory langsung melotot dan jantungnya berdebar tidak karuan.
"Berikan pada Glory, gemboknya ada padanya."