Lampu-lampu kota berkelip di kejauhan seperti lautan cahaya. Angin malam berhembus sepoi membelai setiap inci kulit Glory yang sedang berdiri membelakangi pintu, menumpukan tangan di atas pagar logam pembatas balkon, diam membisu menatap hamparan kota. Perlahan matanya terpejam untuk bisa lebih merasakan hawa dingin yang merasuk hingga ke tulang-tulangnya. Jubah satinnya ikut berkibar karena tertiup angin begitu pun rambutnya yang dia gerai bebas. Sekilas mirip-mirip adegan titanic lah, bedanya tidak ada Jack a.k.a Richard dan di bawahnya lautan bangunan bukan lautan beneran. "Gloriaaa!" Glory tetap memejamkan matanya pura-pura tidak mendengar teriakan Richard yang memanggilnya. Suara pria itu tidak cukup pelan untuk tidak di dengar. Ruangan yang tidak besar ini sebenarnya tidak butuh

