Lukisan yang tertempel di dinding terus ditatap Meisha, terlihat indah dan memukau, kumpulan cat yang tersusun sempurna menjadi sekuntum bunga mekar di tengah gurun, benar-benar sangat memesona. Mata rubinya kini beralih ke sudut lukisan dan kembali menangkap nama dari sang Seniman. Helaan napas terdengar, itu semua dikarenakan Meisha semakin penasaran saja dengan seorang pria bernama Suu.Yang pasti, Suu adalah semacam nama pena dari si pelukis. Kamar bernuansa modern dengan perabotan minimalis bewarna cenderung cerah, menjadi saksi bisu dari gadis yang tentu saja tersenyum karena menatap tulisan di sudut lukisan.
“Seperti apa dia?” tanya Meisha, fantasinya bermain dan membayangkan seorang lelaki khas seniman yang sering ia lihat di televisi atau media cetak, memakai topi dan memegang kuas di jarinya. Benarkah begitu? Atau jangan-jangan, Mr. Suu adalah sosok kakek tua yang tidak memiliki rambut dan bertubuh gembul.
Gelengan kepala menandakan sang Gadis memaksa membuang khayalan tak bergunanya, walau bagaimana bentuk seorang pria bernama Suu itu, yang jelas Meisha sekarang telah jatuh hati terhadap karyanya. Pokoknya, ia berjanji untuk selalu menanti karya terbaru Mr. Suu dan akan membeli lukisan tersebut dari sang penjual. Ya, teman barunya yang bernama Tara.
Dua hari setelahnya, Meisha kembali ke tempat Tara untuk berjualan lukisan. Gadis itu berlari-lari kecil ketika hampir sampai di sana. Ia menarik napas dan mengucapkan ‘hai’ kepada sang Penjual yang tersenyum tipis kerena mengetahui kehadiran Meisha.
Tara yang sadar teman barunya akan sedikti lama menemani harinya di sini, memberikan sebuah kursi plastik pendek yang memang hanya bisa diduduki satu orang dan gadis itu tanpa sungkan lantas duduk, kemudian bercerita banyak hal.
Beberapa kali bertemu membuat mereka sepertinya sudah akrab atau hanya untuk Meisha saja yang memang selalu ekspresif, ramah dan ceria.
“Kamu pasti gak tahu, Tara?”
Meisha bercerita dengan riang, pernuh suka cita sekaligus penasaran, Tara sendiri hanya menggeleng sambil tersenyum karena mendengar suara antusias dari teman barunya.
“Bicaralah, biar aku tahu.”
“Ah, aku selalu memikirkan Mr. Suu, Tara. Gimana rupanya? Bagaimana suaranya? Bagaimana ia? Aku mulai gila sepertinya. Huaaa!”
Kekehan kecil keluar dari bibir Tara, meski ia tidak bisa melihat bagaimana raut Meisha saat bercerita, tetapi ia yakin gadis itu pasti terlihat sangat menggemaskan. Dari suaranya saja, Tara bisa menebak kalau Meisha memiliki kepribadian yang riang dan gampang terbawa suasana.
“Ya, bisa kurasakan kalau kamu memang gila, Meisha.”
Cubitan di lengan kanan Tara langsung ia berikan, lelaki itu sekarang berpura-pura mengaduh dan menghindari lengannya. Sementara Meisha kini cemberut karena diakui gila oleh lelaki penjual lukisan ini.
“Jahat banget, Tara. Aku minta potongan harga kalau gitu.” Meisha bersuara ngambek dan lantas berdiri, ia berjalan-jalan dan melihat-lihat lukisan yang berjejer apik di hadapannya.
Rubinya masih menyisir benda berseni yang dengan gagah terpajang, memperhatikan yang satu dan yang lainnya. Tak henti, menyeleksi mana yang akan ia bawa dan dipajang di rumah mewah yang ditinggalinya seorang diri. Belum menemukan karya yang mengunci hati, Meisha pun kembali duduk, dan matanya masih belum menemukan lukisan yang ia anggap sesuai dengan keinginannya.
“Kenapa? Gak tertarik?”
Meisha mengangguk, kemudian ketika ia mengingat Tara yang tidak bisa melihat, lalu ia menjawab pertanyaan lelaki itu.
“Ya, belum ada yang menarik perhatianku. Tapi, lukisannya semakin sedikit dari beberapa hari yang lalu. Sudah banyak yang terjual, ya?”
Anggukan dan senyuman sepertinya menjadi jawaban bagi Meisha, diam-diam gadis itu bersyukur karena lukisan teman barunya ini banyak yang laku. Dengan begini, selain menambah rezeki untuk Tara, nama Mr. Suu juga semakin terkenal.
Mata Meisha sekarang mengikuti lelaki di depannya ini yang kelihatan berdiri, ia awalnya ingin membantu Tara, tapi ia urungkan keinginan tersebut ketika melihat lelaki bermata emerald itu berjalan tanpa kesulitan karena kondisi fisiknya.
Masih mengikuti gerik Tara, manik rubi Meisha menangkap sang lelaki berambut hitam yang kini berjongkok dan mengeluarkan lukisan yang sebelumnya diletakkan di bawah dan terbungkus oleh kain cokelat gelap. Tara mengeluarkan persegi itu dan pelan-pelan ia bawa ke hadapan Meisha.
“Biar kubantu.” Langsung saja Tara mengangguk dan memindahkan benda berharga bagi mereka dan memang cukup sulit untuk dibawa dengan tangan satu.
Meisha membawa benda itu dengan bagian belakang yang mengarah kepadanya sehingga ia belum melihat seperti apa gambar yang tersemat di dalam sana.
“Gejolak Ombak,” ucap sang lelaki ketika lukisan sudah berdiri kokoh seperti yang lainnya dan menampakkan sesuatu seperti apa yang dijelaskan Tara.
“Eh?” gumaman itu bermakna tanya.
Bibir kecil Meisha pun terbuka sedikit karena melihat hal memukau di depan matanya. Coretan cat berbagai warna yang membentuk gelombak ombak, dan percikan-percikan airnya yang kelihatan sangat indah dan besinar bagai terkena cahaya matahari. Lukisan yang menyejukkan jiwa, Meisha bahkan merasakan seolah dapat mendengar suara gejolak ombak itu. Ia menutup matanya dan seperti meresapi suara air yang bergemuruh dan berlomba-lomba untuk menjilati bibir pantai.
“Keren banget, Mr. Suu. Sangat luar biasa.” Pori-pori jari Meisha pun merasakan timbul-timbul dari lukisan itu. benar-benar sangat berbeda dan unik.
Manik emerald Tara terbuka lebar karena mendengar pujian tulus dari gadis di sebelahnya ini. Beberapa saat setelahnya, bibir lelaki itu pun membentuk bengkokan kecil.
“Aaaaa! Mr. Suu. Aku ingin banget berjumpa. Tara, tolong pertemukan aku dengan Mr. Suu. please!” kedua telapak tangan Meisha menyatu sebagai gerak tersirat bahwa ia menginginkan Tara untuk mengabulkan permohonannya kali ini.
Alis tegas lelaki yang sekarang berada di hadapan Meisha kini langsung naik satu, ia bingung dengan rengekan si gadis. Suara memelas Meisha bahkan terus saja terdengar, bertanda temannya ini masih memohon padanya.
Tara pun menggerakkan tangan kanannya dan memijat pelan belakang lehernya yang tak pegal, ia cukup kebingungan dengan permintaan Meisha yang sekarang semakin gencar merengek kepadanya. Helaan napas ia lakukan, dan sekarang dirinya mencoba berbicara kepada sang gadis.
“Aku gak bisa.” Ada jeda dari ucapan Tara.
“Kenapa?” tanya sang gadis, sepertinya Meisha sangat ingin tahu sampai-sampai ia tidak membiarkan lelaki berambuk gelap itu melanjutkan rangkaian kata.
“Ya, karena aku sudah janji dengan Mr. Suu.”
Mata sang gadis pun semakin membulat, ia kelihatannya masih tidak mau terima dengan ucapan penjual lukisan ini. Mereka masih berdiri dengan saling berhadapan dan Meisha masih terus merongrong Tara agar segera membeberkan janjinya itu kepada diri Meisha.
“Apa? Janji apa? Tara, ayolah. Apa susahnya memberitahu jatidiri dari Mr. Suu? Atau bagaimana jika kamu berikan aku alamatnya, gimana?”
Diam adalah jawaban Tara, lelaki itu masih berpikir apakah hal ini harus ia jelaskan, dan ia kabulkan keinginan gadis berhelai pirang dengan mata seindah rubi?
“Aku sudah berjanji, agar tidak memberitahu siapa pun tentang jati dirinya. Begitulah, maafkan aku, Meisha. Dengan berat hati aku tidak bisa mengabulkannya.”
Mengerucutlah bibir, Meisha sendiri sampai gemas dengan sikap Tara yang benar-benar memengang teguh janjinya dengan Mr. Suu. Namun, mau bagaimana lagi, ini juga bukan salah Tara. Ya, kalau sudah berjanji, maka harus dijaga dan jangan sampai diingkari. Ia menghela napas lelah, merasa sedikit kecewa karena tidak memiliki kesempatan untuk bertemu sang pelukis favoritnya.
Akhirnya, Meisha hanya bisa mendecak bibirnya. Ia langsung saja duduk di kursi plastik dengan gerakan cepat sehingga menimbulkan bunyi gesekan antara ia dan kursinya. Tara yang mendengar suara tidak biasa itu pun menyeringai. Ia sadar sekarang si teman barunya ini sedang dalam keadaan ngambek. Tidak mau kalah, Tara pun mengikuti apa yang dilakukan Meisha. Namun, tentu saja ia duduk di kursi kecil dengan pelan dan tidak menimbulkan suara ribut seperti yang dilakukan Meisha tadi.
“Aku gak akan nyerah gitu aja, Tar!” setelah beberap saat terdiam, akhirnya Tara mendengar nada sang gadis yang tegas dan tidak mudah menyerah.
Kini, yang bisa dilakukan lelaki itu hanya tersenyum sambil menggumamkan sesuatu yang ambigu. Ia akan membiarkan Meisha mencari tahu sosok dari Mr. Suu, sampai di mana gadis itu akan berusaha.
*
Lukisan berjudul Gejolak Ombak, kini Meisha pajang di ruang tamunya. Sesaat, gadis dengan mata seindah rubi itu menatap betapa terlihat memesonanya benda persegi tersebut, dan ia sekarang semakin ingin bertemu dengan Mr. Suu.
“Awas saja Tara. Dasar nyebelin.” Kepalan tangan yang sekarang berada di depan d**a semakin ia eratakan buku-buku jarinya. Sepertinya Meisha tengah merasakan kegemasan akibat ulah sang penjual yang main rahasian dengan dirinya. Bahkan, saat di jalan Nipah tadi bersama Tara, Meisha sempat melihat seringai yang tecetak jelas di bibir lelaki itu.
“Jangan-jangan Tara sengaja. Argg, nyebelin banget sih!”
Beberapa hari setelahnya, Meisha tidak datang ke tempat Tara. Bukan karena ia tengah dalam keadaan merajuk atau sebangsanya, hanya saja sekarang ia tengah ada di kota Lombok tempat kelahirannya dan merupakan rumah orang tuanya. Seperti yang selalu terjadi setiap setahun sekali, akan ada pesta mewah khusus orang terpandang yang digelar di rumah orang tua Meisha yang bak istana itu.
Meisha melangkah dan keluar dari kamar dengan gaun tanpa lengan hijau dan sewarna dengan emerald. Bagian punggungnya terbuka dan ditutupi dengan selendang transparan yang berhiaskan manik-manik yang berkelip dan menimbulkan warna acak ketika tertimpa cahaya lampu, kalung mutiara yang melingkari lehernya dan sepatu bertumit runcing berkilau yang membungkus kaki mungil sang gadis.
Gaun itu panjang, tapi memiliki belahan di salah satu kaki hingga mencapai pertengahan paha, belum lagi kerah leher yang membentuk huruf ‘v’ sehingga menampilkan sedikit belahan dadanya. Dilihat dari mana pun, Meisha sangat memesona dan seksi. Rambut gadis itu dibuat ikal dan sibak menyamping dengan sebelah sisi kepala ia sematkan jepit rambut seukuran telapak tangan anak-anak yang berbentuk ukiran dedaunan perak dan dihiasi tabutan permata putih.
Seluruh mata memandangnya saat sang gadis menuruni tangga. Siapa yang tidak terperangah oleh keindahan yang tengah berada pada diri Meisha saat ini?
.
.
.
Bersambung