Paris

2119 Words
Naomi menatap keluar jendela pesawat, tidak banyak yang bisa dilihat karena semuanya gelap, maklum saja hari sudah malam. Naomi benar-benar tidak sabar rasanya ingin cepat-cepat sampai di Paris. Sudah banyak hal yang ia rancang untuk ia lakukan disana terutama belanja. Bahkan sehari sebelum pergi, tepatnya saat kakaknya, Ben memberi tahu pada Naomi bahwa ia bisa ikut menyusul ayah dan ibunya ke Paris, Naomi sudah membuat daftar apa saja yang akan ia lakukan dan salah satu maupun paling utamanya adalah berbelanja. Untuk masalah fashion, Paris tidak perlu diragukan lagi. Naomi tentu tidak akan melewati kesempatan ini untuk berbelanja. Naomi melirik pada kakaknya yang duduk tepat di sampingnya. Pria tampan itu terlihat sibuk berkutat dengan laptopnya. Bahkan sejak masuk ke dalam pesawat hingga sudah hampir tiga jam perjalanan mereka, ia terlihat masih setia dengan aktivitasnya itu. Apalagi kalau bukan berkerja. Naomi tidak mengerti mengapa ia sangat suka bekerja, tampaknya jika sehari saja ia tidak kerja, mungkin hidupnya tidak akan tenang. "Apakah laptopmu lebih menarik dari pada aku Kak? Sedari tadi kau bahkan tidak melirikku," protes Naomi, seketika Ben langsung menoleh padanya dan tersenyum. Ia bahkan tidak sadar sudah sebegitu fokusnya pada pekerjaan-pekerjaannya dan berakhir dengan mengabaikan adiknya. "Kenapa tidak tidur, hmmm?" Tanya Ben lembut. Tangannya terulur mengelus surai Naomi yang berwarna coklat tua itu. Naomi menikmatinya, ia bisa merasakan kasih sayang disetiap sentuhan Ben. "Aku tidak mengantuk," jawabnya. "Kalau Naomi bosan, nonton saja." Naomi menggeleng. Ia juga sedang tidak ingin menonton saat ini. "Jadi ingin apa?" "Ingin mengobrol dengan Kakak," jawabnya dengan nada manjanya membuat Ben tidak bisa menahan senyumnya gemas. "Disaat orang-orang sedang tidur, kau malah ingin mengobrol?" "Disaat orang-orang sedang tidur, Kakak malah bekerja," Naomi malah membalik ucapan Ben itu. Tangan Ben yang tadi mengelus surai Naomi beralih menyentil hidung bangir adiknya, dia pandai sekali menjawab. "Sebentar lagi pekerjaan kakak akan selesai, setelah itu kakak akan tidur," ucap Ben. Menurut Ben selama ia ada waktu luang, tidak ada salahnya digunakan untuk mengansur pekerjaannya yang memang menumpuk. "Aneh sekali, Kakak padahal adalah bosnya, tapi kenapa pekerjaan Kakak sangat banyak? Bukankah Kakak harusnya cukup bersantai dan meminta bawahan Kakak untuk mengerjakannya?" "Konsep bekerja apa yang kau anut itu Sayang?" Ben terkekeh kecil mendengar ucapan asal-asalan adiknya itu. "Aku memang bosnya, tapi bukan berarti aku lepas tangan begitu saja. Semakin tinggi jabatan itu artinya semakin tinggi tanggung jawab. Mungkin bos-bos besar memang terlihat hanya cukup bersantai dan seluruh bawahannya yang mengerjakan semuanya. Tapikan itu kelihatannya saja, di balik itu banyak hal yang harus mereka kerjakan, termasuk aku," kata Ben menjelaskan. Naomi mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. "Nanti saat kita di Paris, kita akan kemana saja Kak?" Tanya Naomi mencari topik lain. Tampaknya ia benar-benar ingin mengobrol dengan Ben hingga tidak memberi Ben waktu untuk kembali berkutat dengan pekerjaannya. "Naomi bisa menanyakannya pada ayah dan ibu nanti tentang kemana kalian akan pergi." "Kalian? Jadi Kakak tidak ikut?" "Besok kakak harus kembali ke New York, ada pekerjaan yang harus kakak lakukan. Kakak hanya pergi mengantar Naomi saja." "Kenapa begitu? Tidak seru sekali." Bibir Naomi langsung mengerucut kesal. Ia pikir ini akan menjadi liburan keluarga mereka mengingat mereka sudah cukup lama tidak berlibur lengkap seperti ini. "Kakak bisa mengerjakannya nanti, ikutalah bersama kami," pinta Naomi dengan tatapan memohon. Tatapan ini biasanya selalu berhasil membuat Ben luluh. Kali ini tangan Ben terulur untuk mengelus pipi mulus adiknya. Wajah cantik Naomi benar-benar percampuran yang sempurna antara ayah dan ibunya. "Lain kali kakak akan ikut. Tapi kali ini benar-benar tidak bisa, Naomi bersama ayah dan ibu saja ya," tolak Ben. Ibunya terlalu mendadak meminta Ben untuk mengantarkan Naomi ke Paris. Sebenarnya Ben bisa saja membatalkan seluruh pekerjaannya untuk ikut berlibur, namun ia tidak melakukannya. Lagi pula sesekali Naomi harus diberi waktu agar bisa menikmati waktu hanya bersama ayah dan ibunya saja. "Baiklah, tapi Kakak harus janji akhir tahun ini berlibur bersama kami." "Janji," jawab Ben mantap. "Kak Ben." Baru Ben akan kembali fokus pada laptopnya, tiba-tiba Naomi kembali memanggil. Ia pikir gadis itu sudah cukup mengajaknya mengobrol, tapi tampaknya terus berlanjut. "Ya?" "Bolehkan Naomi bertanya sesuatu? Tapi kalau Kakak tidak ingin menjawabnya, tidak apa, dan jangan marah juga atas pertanyaan ini ya." Dahi Ben agak mengernyit mendengar ucapan adiknya. "Memangnya Naomi ingin bertanya apa? Tanyakanlah." "Naomi tau Kakak bekerja keras seperti ini karena Kakak tidak ingin ayah kembali mengambil alih seluruh pekerjaannya hingga akhirnya ayah menjadi sibuk dan tidak memiliki waktu bersama ibu. Jadi secara tidak langsung, Kakak melakukan semua ini karena ibu," Naomi memberi sedikit jeda pada ucapannya sementara Ben menunggu lanjutannya. "Mungkin ini pertanyaan yang konyol, tapi kenapa Kakak begitu menyayangi ibu? Padahalkan bukan ibu yang melahirkan Kakak. Itu bagus, hanya saja aku penasaran," tanya Naomi. Ben tersenyum kecil, tidak menyangka kalau hal itu menjadi suatu tanda tanya yang harus dijawab oleh adiknya. Tapi pertanyaan Naomi itu sukses membuat Ben mengingat-ingat ke belakang. Ingatan itu tidak sebegitu jernih, namun masih membekas. Lili adalah orang yang sangat berperan penting atas hubungan luar biasa harmonis yang kini terjalin antara Ben dan Dean. Ben tidak bisa membayangkan bagaimana jika saat itu Lili tidak hadir dalam kehidupan mereka. Entah akan tumbuh seperti apa sosok Ben kecil yang dulu. "Aku tidak pernah merasa tidak dilahirkan oleh ibu. Sejak bertemu dengan ibu, saat itulah aku menganggap kapan aku lahir sebenarnya. Naomi taukan, kakak sangat sangat menyayangi ayah, ibu dan Naomi? Kakak meyayangi kalian lebih dari apapun di dunia ini. Bahkan jika kakak harus bekerja keras agar melihat kalian bahagia, itu sama sekali tidak masalah." "Ya, aku tau. Aku juga sangat menyayangi kakak. Bahkan dibanding ibu dan ayah aku lebih menyayangi kakak," kata Naomi mengundang gelak tawa Ben. "Aku serius Kak. Jika ditanya pada ibu, ibu pasti akan lebih memilih yang paling dia sayang adalah ayah. Kalau bertanya ayah, ayah pasti akan menjawab ibu. Aku tidak ingin jadi yang kedua. Jadi kalau aku bertanya pada kakak pasti jawabannya yang paling kakak sayang adalah akukan?" Tatapan Naomi terlihat begitu menuntut. "Ya, Naomilah yang paling kakak sayangi di dunia ini." Jawaban Ben itu sukses membuat senyum Naomi mengembang sempurna, memang jawaban itu yang ia inginkan. "Kalau Naomi memang paling sayang pada kakak, oleh karena itu Naomi harus mendengarkan ucapan kakak. Sekarang tidurlah karena perjalanan masih panjang. Setelah kakak menyelesaikan pekerjaan ini, kakak juga akan tidur," titah Ben. Terdengar tegas namun tidak galak. Ia hanya ingin adiknya itu mendengarkannya. "Baiklah Tuan Benka Davies," ucap Naomi dengan nada mengejek kemudian mencari posisi ternyaman untuknya tidur. Jangan ditanya bagaimana kenyaman yang diberikan pada kelas business class ini, tentu saja Noami bisa tidur dengan nyenyak. Setelah memastikan adiknya sudah menutup matanya dan selimut sudah menutupi setengah tubuhnya, Ben kembali berkutat pada pekerjaannya yang tadi sempat tertunda. Tampaknya ia harus segera menyelesaikkannya agar ia juga bisa tidur sebeb sesungguhnya ia sudah mengantuk saat ini. *** "Ayah dengar Ben berencana untuk memperluas kebun anggur?" "Ya ayah, ada lahan yang tadinya kebun apel tapi sekarang sudah kosong disana. Kebunnya tutup karena serangan hama dan pemiliknya ingin pindah ke Jerman. Jadi Ben pikir ada baiknya kita membeli lahan itu untuk memperluas kebun. Lagi pula belakangan ini permintaan akan wine produksi kita benar-benar banyak ayah. Ben takut jika terlalu sering menolak, malah akan berimbas pada kepercayaan orang-orang akan kredibilitas perusahaan kita. Menang Ben berniat untuk membuat wine yang kita keluarkan terbatas, namun terbatas yang Ben maksud bukannya tidak bisa memenuhi pasar." Dean mengangguk-anggukkan kepalanya paham mendengar penjelasan putranya. Ada perasaan bangga saat melihat kepekaan bisnis Ben luar biasa bagusnya. Bahkan cara berpikirnya persis seperti Dean. "Itu sangat bagus, ayah setuju. Tapi yang harus Ben ingat, kualitas tetap nomor satu dibanding kuantitas," kata Dean mengingatkan. "Tentu ayah, Ben akan selalu mengingat pesan ayah itu." Dean menyesap kopi panasnya yang sangat cocok diminum dicuaca dingin seperti ini. Dari balkon lantai dua mansion yang saat ini disewa oleh keluarga Dean ketika sedang berada di Paris itu, mereka bisa melihat keindahan kota Paris bahkan menara Eiffel. Sejujurnya Dena mengunjungi banyak tempat adalah untuk mencari kira-kira dimana tempat yang paling pas untuk mereka tinggali untuk menghabisi masa tua mereka nantinya. New York rasanya terlalu bising, lagi pula mereka sudah terlalu lama tinggal disitu, ingin suasana baru katanya. "Kemarin ayah bertemu dengan salah satu rekan bisnis ayah dulu. Dia menawarkan ayah sebuah bangunan di pusat keramaian di Paris, letaknya sangat startegis, katanya cocok untuk dibangun club. Ayah pikir, mungkin ada bagusnya ayah membangun club disini." "Membangun club kemudian kembali menyita waktu Ayah dengan berbisnis? Tidak-tidak, Ben tidak akan membiarkan itu terjadi," jawab Ben cepat. Dean menoleh pada putranya kemudian tersenyum. Respon Ben itu sudah bisa ia tebak sebelumnya. "Mengurusi klub bola yang Ayah kerjakan bersama kakek saja sudah cukup menyita waktu ayah, jadi jangan mencari kesibukan lagi diusia seperti ini Ayah. Jika Ayah ingin bisnis club kita juga ada Paris, Ayah tinggal mengatakannya pada Ben, Ben akan mengurus semuanya." "Kemudian membiarkan Ben tambah sibuk lagi? Tentu saja ayah tidak akan membiarkannya," kata Dean membalikkan ucapan Ben tadi. Untuk sifatnya yang satu ini, Dean sangat persis dengan Naomi. "Sebaiknya ayah menolak tawaran itu, bisnis kita sudah terlalu besar. Apakah kita akan semakin pusing nanti akan kemanakan uang kita yang banyak itu sementara kita hanya berempat menghabisinya." Kedua anak dan ayah itu sama-sama tertawa. "Seru sekali sepertinya, ayo kita pergi." Naomi tiba-tiba muncul bersama Lili di sela-sela obrolan hangat antara Ben dan Dean itu. "Ayah, sepertinya dikeluarga kita hanya ada dua manusia," kata Ben menatap ibu dan adiknya bergantian. "Kenapa begitu?" Tanya Dean. "Lihatlah, yang dua lagi ternyata bidadari, cantik sekali." "Iuhhhh, gombalanmu sangat menggelikan, Kak," kata Naomi membuat semuanya tertawa. "Sudah-sudah, kita harus berangkat sekarang," ucap Lili membuat Dean dan Ben langsung kompak bangkit dari duduknya. Jika sudah nyonya besar yang berbicara, mereka harus mengikutinya. Malam ini sebelum kembali ke New York, Ben ikut makan malam bersama ayah, ibu dan adiknya. Dean sudah memesan tempat di salah satu restoran mewah dengan makanan khas Italia di Paris. Aneh memang makan makanan khas Italia di Paris, namun keluarga itu sangat suka makanan Italia dan kebetulan ada restoran Italia terkenal di Paris yang menyajikan makanan yang sangat lezat. Malam itu dilewati keluarga itu dengan sangat hangat. Sembari makan mereka bercanda gurau. Ben sangat bersyukur bisa di keliling oleh orang-orang yang begitu mencintainya dan sangat ia cintai itu. Ben merasa Tuhan sangat baik padanya hingga memberikan anugrah begitu luar biasa untuk merasakan kehangatan ini. *** Naomi menghempaskan tubuhnya di sofa disusul Lili setelahnya. Lili sempat tersenyum membalas orang yang tadi membantu membawa belanjaan mereka ketika berpamitan pergi. Kini tumpukan belanjaan-belanjaan itu memenuhi karpet di bawah mereka. Tampaknya Naomi dan Lili benar-benar memuaskan diri mereka dengan berbelanja hari ini. "Apakah semua yang Naomi cari suduh dapat?" Tanya Lili. "Sudah Ibu, semuanya sudah ada, ah Naomi senang sekali. Ayah pasti akan terkejut melihat tagihan belanjaan kita hari ini," kata Naomi diiringi kekehannya. "Ya, ayah akan terkejut dan mengatakan bahwa kita masih kurang banyak menghabiskan uangnya." Kedua ibu dan anak itu kompak tertawa, mereka sudah sangat hafal dengan sifat Dean. Dean tidak akan pernah mempermasalahkan berapa banyak uang yang dihabiskan oleh anak dan istrinya itu untuk apapun itu. "Ibu lihat, baguskan." Naomi mengambil sebuah tas belanjaan dan memperlihatkan isinya yang merupakan sebuah gelang itu. Gelang yang terlihat begitu indah dan berkilau. Lili tidak melihat Naomi membeli itu tadi, mungkin ia membelinya saat mereka tadi sempat berpencar untuk mencari barang-barang mereka inginkan. "Iya, bagus sekali. Sangat cocok untuk Naomi." "Bukan, ini bukan untuk Naomi." "Lalu untuk siapa?" "Untuk kak Nessie," jawabnya menyimpan kembali gelang itu ke dalam kotaknya. "Nessie? Apakah dia kakak tingkat yang Naomi kenalkan waktu itu?" Naomi mengangguk. "Menurut Ibu, kak Nessie bagaimana? Cocokkan dengan kak Ben?" "Apa Naomi sedang berusaha mendekatkan Nessie dengan Ben?" Lagi-lagi Naomi mengangguk. "Kak Ben dan kak Nessie terlihat sangat cocok Bu. Lagi pula kak Nessie adalah orang yang sangat baik, dia juga sangat cantik. Tapi Naomi tidak mengerti mengapa kak Ben terlihat tidak tertarik." "Begitukah?" "Ya, tiap kali Naomi bercerita tentang kak Nessie, respon kak Ben biasa saja. Kak Ben hanya belum mengenal kak Nessie lebih dekat saja, kalau sudah kenal pasti ia akan sangat menyukai kak Nessie," ucap Naomi menuangkan pemikirannya. Lili tersenyum melihat putrinya yang terlihat begitu memikirkan percintaan kakaknya, entah kenapa malah ia yang sangat bersemangat. "Sayang, apa yang menurut kita baik belum tentu baik untuk Ben. Lagi pula yang menjalani hubungan itukan Ben sendiri, Ben pasti bisa memilih mana yang terbaik untuknya. Naomi tidak bisa memaksa Ben," kata Lili memberi nasehat sembari mengelus surai anak perempuan satu-satunya itu. "Naomi tidak memaksa Ibu, hanya membantu agar kak Ben dan kak Nessie lebih dekat." "Iya ibu mengerti, tapi tetap saja keputusannya ada pada Ben sebab ia lah yang akan menjalaninya." "Ya Naomi mengerti, tapi Naomi akan tetap berusaha. Naomi punya feeling yang bagus atas hubungan mereka," katanya bersemangat. Lili hanya bisa menggeleng melihat putrinya yang bisa dikatakan memang keras kepala itu. Jika ia punya kemauan maka hal itulah yang harus terjadi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD