Naomi mengemasi buku-bukunya saat jam kuliahnya usai. Hari ini sangat melelahkan karena jam kuliah yang penuh dan juga banyak presentasi. Naomi merasa tidak sabar untuk segera libur meskipun masih cukup lama. Ia bingung mengapa dirinya tidak bisa seperti Ben yang sangat giat belajar. Kakaknya itu sangat suka belajar. Jika ada waktu senggang ia terkadang menggunakannnya untuk membaca buku. Sedangkan Naomi, baru membaca buku saja matanya sudah terasa sangat mengantuk.
"Naomi, mau ikut berbelanja? Hari ini brand tas kesukaan kita mengeluarkan edisi terbaru. Aku sudah punya nomor antrian. Kau bisa ikut bersamaku jika kau mau," kata Ella, salah satu sahabat Naomi menghampirinya.
"Benarkah? Baiklah aku akan ikut."
"Tapi kita harus menunggu Anna dan Jessica terlebih dahulu untuk menyelesaikkan kelas mereka. Mereka juga ingin ikut katanya."
"Oh begitu? Baiklah. Kalau begitu aku akan pergi sebentar dan akan menghubungi lagi nanti." Ella mengangguk. Naomi berlalu keluar kelas. Sembari menunggu Anna dan Jessica yang berada di kelas yang berbeda dengan mereka, Naomi memutuskan untuk mencari Nessie terlebih dahulu. Ia harus mengembalikan buku yang dipinjamkan Nessie padanya. Nessie benar-benar banyak membantu Naomi.
Naomi berjalan menuju perpustakaan. Sepertinya Nessie ada disana. Karena sedang dalam masa membuat thesis dan benar-benar sudah hampir menyelesaikan kuliahnya, Nessie kerap menghabiskan waktunya disana. Kampus ini sangat luas hingga Naomi kelelahan menyusurinya.
"Hari ini langitnya sangat cerah ya." Naomi terkesiap saat seseorang tiba-tiba merangkulnya. Naomi menoleh dan mendapati seorang pria yang sangat tidak asing tengah tersenyum lebar padanya.
"Iya, tapi itu sebelum kau datang," balas Naomi terdengar ketus kemudian melanjutkan langkahnya. Ia sama sekali tidak menampik tangan pria itu yang masih setia merangkulnya seolah tidak terganggu sama sekali.
"Tentu saja, langit akan berhenti terlihat cerah saat pelangi datang." Meskipun tidak melihatnya, namun Naomi yakin pria itu pasti tengah tersenyum sangat lebar. Lebih baik Naomi tidak melihatnya dari pada menjadi kesal sendiri.
"Berhentilah membual William atau aku akan memukul perutmu."
"Pukullah. Aku banyak berolahraga belakangan ini, kau harus merasakan betapa kerasnya." Naomi memutar bola matanya malas tidak berminat.
"Ngomong-ngomong kau mau kemana? Kenapa langkahmu sangat terburu-buru?"
"Aku mau menemui kak Nessie ke perpustakaan."
"Ah pasti dia baru saja membantumu mengerjakan tugasmu lagi."
"Tidak, dia hanya meminjamkanku buku."
"Jangan mengelak. Aku sudah mengenalmu sejak di bangku sekolah menengah atas."
"Itu belum terlalu lama," kata Naomi kemudian menyingkirkan tangan William dari bahunya. Bukan apa-apa, tangan pria itu seperti ia sengajakan bertumpu sepenuhnya pada Naomi hingga membuat Naomi cukup keberatan di bagian bahu kanannya. Pria itu adalah William Ramson, teman Naomi saat ia sekolah menengah atas dan kebetulan kini mereka di satu Universitas yang sama meksipun berbeda jurusan. William adalah teman pria yang paling dekat dengan Naomi. Ia adalah satu-satunya pria yang lulus sensor dari Ben untuk berteman dengan Naomi. Tidak heran sebenarnya karena pria ini sangat pandai mencari muka.
"Oh iya, aku sudah menitipkan salammu pada Thomas." Langkah Naomi tiba-tiba langsung terhenti. Wajahnya yang terlihat biasa saja sedari tadi tiba-tiba berubah cerah secerah hari ini. Hal itu sontak membuat William memutar bola matanya malas. Ia sudah sangat hafal tabiat Naomi.
"Benarkah? Lalu dia bilang apa? Apa pendapatnya tentangku? Semuanya yang baik-baik sajakan? Kau tidak mengatakan yang buruk-buruk padanyakan?"
"Heyy tenanglah. Kenapa kau menghujaniku pertanyaan seperti itu. Aku sedang tidak berminat untuk diwawancara. Aku harus pergi."
"Will..." Naomi langsung menahan lengan William agar tidak pergi.
"Jawab dulu pertanyaanku." Naomi memasang wajah memelasnya. Terdengar helaan nafas dari William, ia selalu saja seperti itu. Suasana hatinya benar-benar mudah berubah sesuai keinginannya. Terkadang ia ketus pada William, terkadang ia sangat galak, terkadang lagi sangat baik, dan tidak jarang juga menjadi sangat manja, gadis yang aneh.
"Dia tidak berbicara banyak sih, dia hanya mengatakan bagaimana bisa aku berteman dengan gadis secantik dirimu."
"Benarkah? Dia mengatakan seperti itu? Astaga, mendengarnya saja membuat pipiku memanas." Naomi menangkup pipinya sendiri sembari tersenyum malu-malu. Tangan William terangkat untuk menyentil dahi gadis itu agar ia cepat tersadar.
"Reaksimu sangat berlebihan," ledek William.
"Jangan ganggu kesenanganku! Jadi apa tidak ada perbincangan kalau dia ingin mengajakku keluar untuk berkenalan lebih jauh?" William menggeleng. Naomi menghela nafas kecewa.
"Apakah dia tidak tahu siapa aku? Aku Naomi Davies, seluruh orang di kampus ini tahu siapa aku dan menjadi penggemar beratku."
"Berhentilah terlalu percaya diri Naomi. Lagi pula dia tidak kuliah di kampus ini." Naomi mengerucutkan bibirnya. William sangat suka mencari ribut dengannya.
"Baiklah aku harus pergi, aku ada kelas setelah ini." William berlalu pergi.
"Jika kau bertemu dengannya lagi, jangan lupa mengajakku ya." Naomi sedikit berteriak agar William mendengarnya.
"Akan aku pikirkan nanti," balas William ikut berteriak.
"Ishh... menyebalkan sekali," gerutu Naomi.
Tiba-tiba Naomi kembali tersenyum. Ia teringat akan Thomas, salah satu teman William yang saat itu tidak sengaja bertemu saat Naomi ikut dengan William ke salah satu pub saat dirinya sangat bosan. William memang memiliki banyak teman, dan rata-rata temannya semuanya tampan. Mereka seperti perkumpulan pria-pria tampan. Namun Thomas jauh lebih tampan. Sepertinya Naomi harus berusaha lebih keras merayu William agar mau membantunya lebih dekat dengan Thomas. Thomas terlihat berbeda, ia tidak seperti pria-pria lain yang secara terang-terangan memuja Naomi bahkan dipertemuan pertama mereka. Hal itulah yang terasa lebih menantang.
Tiba-tiba ponsel Naomi berbunyi. Ia mendapat pesan dari Ella bahwa mereka sudah bisa pergi sekarang dan tengah menunggu Naomi. Naomi menepuk pelan dahinya. Karena bertemu William ia jadi lupa tujuan awalnya. Dengan cepat Naomi langsung bergegas menemui Nessie.
***
Malam ini sebelum pulang Ben menyempatkan diri untuk mampir ke clubnya yang berada di New York. Ia memang cukup sering datang untuk melihat-lihat sekaligus bersantai. Clubnya yang berada di New York ini adalah club pusat dan yang paling terbesar. Setiap tahun pasti selalu ada penambahan hingga kini clubnya bisa jadi sebesar ini.
Ben meneguk white wine miliknya sembari memperhatikan keramaian yang berada di clubnya malam itu. Suara dentuman musik terdengar begitu kencang seolah mengajak orang-orang untuk bersenang-senang melupakan penat sepanjang malam. Ben duduk di salah satu kursi tepat di depan meja bartender bergabung dengan pengunjung yang lain. Ia memang suka seperti ini dari pada harus mengasingkan diri sebagai bos besar.
Sebenarnya tidak jarang ada wanita yang menghampiri Ben untuk mengajak berkenalan atau turun untuk menikmati musik bersama. Namun Ben selalu menolaknya dengan baik. Ia tidak tertarik secantik apapun wanita itu. Baginya tempat ini bukanlah tempat yang tepat untuk dijadikan tempat berkenalan. Sejujurnya Ben bingung mengapa orang-orang bisa dengan mudah berkenalan dalam keadaan mabuk kemudian berakhir dengan hubungan satu malam. Apakah hubungan sesederhana itu bagi mereka? Entah pemikiran Ben yang kolot atau memang mereka yang terlalu bebas, entahlah Ben tidak tahu.
Saat sedang menikmati minumannya, tiba-tiba Ben dikagetkan saat seseorang menghampirinya dan langsung mengalungkan tangannya di leher Ben.
"Tolong aku, aku mohon. Berpura-puralah mengenaliku," katanya agak berbisik dengan nafas yang memburu. Ben mengernyitkan dahinya melihat seorang gadis yang tidak bisa ia lihat wajahnya dengan jelas karena ia agak menunduk. Wajahnya tertutupi rambut.
"Aku mohon..." kali ini wanita itu mendongakkan wajahnya saat Ben berusaha menjauhkan badannya. Dalam cahaya samar-samar Ben bisa melihat wajah gadis itu. Pupil Ben agak membesar serta dahinya mengernyit melihat wajah gadis itu yang kini tengah menatapnya dengan tatapan memohon.
"Ada seseorang yang sedang mengejarku. Tolong pura-puralah hingga orang itu pergi," pintanya lagi semakin mengeratkan tangannya di leher Ben seolah sedang bergelayut mesra.
"Baiklah." Tangan Ben melingkar di pinggang ramping gadis itu, memeluknya hingga mereka terlihat benar-benar dekat. Mata Ben mengedar mencari siapa yang tengah mengikuti gadis ini di tengah-tengah keramaian. Sekilas matanya menangkap sekitar tiga orang berbadan besar yang sepertinya juga sedang mencari orang.
"Apakah mereka berjumlah tiga orang?" Tanya Ben.
"Ya, salah satunya tidak berambut."
"Mereka masih disana."
"Astaga, kenapa mengikuti sampai kemari." Gadis itu menyembunyikan wajahnya di cekukan leher Ben membuat tubuh Ben agak membeku karena merasa asing. Tidak ada wanita yang pernah sedekat ini dengannya selama ini selain ibunya dan Naomi.
"Mereka sudah pergi," kata Ben ketika memastikan orang-orang itu keluar dari clubnya. Mendengar itu, gadis itu langsung menjauhkan tubuhnya dari Ben. Ia memperbaiki rambutnya dengan menyelipkannya ke belakang telinga. Ben bisa semakin jelas melihat wajahnya.
"Terima kasih banyak. Maaf sudah lancang," ucap gadis itu merasa tidak enak. Ia sadar betul apa yang baru saja ia lakukan sangat tidak sopan.
"Tidak apa-apa Alicia."