BAB 6: KEBAL DARI PESONA DARREN

1318 Words
Setelah menunggu sekitar lima belas menit, akhirnya Eloisa keluar dari mobilnya. Dia melirik ke kiri dan kanan, takut mahasiswanya itu masih berkeliaran di dekat rumahnya. Entah apa yang dia takutkan? Kalau takut dicium paksa lagi, sebenarnya lebih mudah saat pria itu berada di mobilnya. Hanya saja, dia merasa tidak aman. Begitu keluar dari mobilnya, Eloisa langsung berlari masuk ke rumahnya dan menuju ke kamarnya yang berada di lantai dua. Tidak jauh dari rumahnya, Darren masih memperhatikan rumah Eloisa. Dia melihat wanita itu masuk ke rumahnya dan tidak lama terlihat lampu menyala dari jendela yang memiliki balkon di lantai dua, berarti disanalah kamar wanita itu. Dia harus memastikan kalau wanita itu sudah masuk ke dalam rumahnya. Seburuk-buruknya sikapnya, ibunya selalu mengajarkannya untuk bertanggung jawab. Jika dia mengantarkan wanita pulang, jadi, dia akan memastikan kalau wanita itu sudah masuk ke dalam rumahnya. Setelahnya, dia baru akan pulang ke rumahnya atau ke tempat manapun dia mau. Seperti sekarang, dia baru memesan taksi online setelah memastikan Eloisa aman di rumahnya. Darren tiba di rumah saat makan malam. Rosaline terkejut melihat plester luka di wajah tampan putranya. “Kenapa wajahmu, Darren?” tanya Rosaline saat Darren duduk di kursi untuk ikut makan. “Tadi terbaret sedikit di kampus.” jawab Darren yang membuat kedua orang lain di meja makan itu meliriknya. “Dari mana kamu? Tadi Nick datang mengantarkan motormu. Bukankah tadi pagi kamu bilang hanya ke kampus untuk menyerahkan revisi akhir skripsimu?” tanya Rosaline lagi. “Ke rumah sakit,” jawab Darren singkat. Walaupun dia dekat dengan ibunya, tapi dia tidak berniat bercerita tentang petualangannya hari ini. “Siapa yang sakit?” tanya Rosaline sambil menyiapkan nasi untuk Darren. Dia tidak khawatir karena putranya terlihat sehat. “Hanya memeriksakan luka ini. Kata Dokter Sofi, lebih baik aku memeriksakannya ke rumah sakit,” jawab Darren jujur. Namun hal itu membuat ketiga orang lain di meja makan itu menatap padanya, tepatnya pada luka yang ada di pipinya. “Jika sampai disuruh periksa ke rumah sakit berarti itu bukan luka kecil. Apa kau bertengkar?” ayahnya yang bertanya sekarang. “Tidak, Pa. Hanya sedikit salah paham yang berakhir dengan sebuah tamparan!” jawab Darren jujur. Dan sekali lagi dia menjadi pusat perhatian di meja makan itu. “Kau ditampar wanita?” tanya Rosaline terkejut. “Iya,” jawab Darren sebelum mulai makan. Dan jawaban itu membuat ibunya tertawa, menertawakan dirinya. “Apakah akhirnya ada wanita yang kebal pada pesonamu?” tanya Rosaline masih sambil tertawa. Setahunya, pacar-pacar putranya ini tidak akan tega memukul putra tampannya. Yang biasanya terjadi adalah para wanita itu saling menjambak dan mencakar satu sama lain karena memperebutkan putranya. “Sepertinya begitu,” jawab Darren. Dia mengerutkan alisnya, betul juga kata Ibunya. Kenapa wanita itu tidak terpesona padanya? Biasanya, wanita manapun tidak akan tega memukulnya. Dia lalu menoleh pada kakaknya yang masih makan dengan tenang sambil menyimak pembicaraannya dengan ibunya. “Kak, apakah Kakak pernah terpesona pada wanita?” tanya Darren. Dia bertanya pada kakaknya karena menganggap Eloisa itu agak mirip dengan Darius. Mungkin reaksi mereka akan sesuatu juga bisa mirip. “Tidak,” jawab Darius pasti yang membuat kerutan di alis Darren semakin dalam. “Lah, Kakak pacaran dengan Kak Fiona selama enam tahun. Masa Kakak tidak pernah terpesona pada Kak Fiona?” tanya Darren lagi semakin bingung. Bagaimana sebenarnya cara Kakaknya ini berpacaran dulu? “Darren!” suara Ibunya yang mengandung peringatan yang membuat Darren langsung menyadari kesalahannya. Dilarang membahas mantan tunangan Kak Darius! “Maaf,” katanya pelan. Lalu mereka semua makan dalam diam. “Bagaimana kabar Donny?” tanya Adianto mengalihkan pembicaraan. “Dia masih bekerja di Bank itu. Dia tetap tidak mau bekerja pada Aksa!” keluh Rosaline. Dia mengkhawatirkan Donny, putra keduanya itu memang sejak awal mengatakan ingin mandiri. Sudah empat tahun putranya itu merantau ke Jakarta, namun sampai sekarang pekerjaannya masih belum stabil. “Biarkan saja, Ma. Pekerjaan Donny sekarang lumayan, koq. Dia sudah bisa menabung.” kata Darius. Kadang mereka saling bertukar kabar. “Kamu sendiri bagaimana? Kapan kau akan bekerja di Volle?” tanya Rosaline pada Darius. Darius melirik ibunya. Sebenarnya dia tidak masalah bekerja pada omnya, namun dia masih berencana meneruskan sekolahnya lagi. “Hm. Mungkin setelah aku S3,” jawab Darius yang membuat Rosaline melotot. “Sekolah lagi? Ya ampun. Kapan anak-anak ini bisa membantu di Volle!” gerutu Rosaline. Dia lalu menatap Darren. “Kamu mau apa setelah ini?” tanya Rosaline kesal pada Darren. “Eh?” Daren terkejut tiba-tiba ditanya seperti itu dengan wajah kesal Rosaline. “Tidak mungkin kamu menjadi model terus. Kamu kerja di Volle saja!” perintah Rosaline. “Ma. Aku sedang menabung untuk membuka agensi model sendiri!” tolak Darren. Dia bukannya tidak mau bekerja pada omnya, hanya saja dia tidak merasa cocok duduk di belakang meja dan hanya melihat laporan. “Ada Volle Entertainment. Kamu bisa belajar dari sana bagaimana cara mengelola dunia hiburan!” jawab Rosaline memaksa. Bagaimana mungkin dia memiliki tiga putra yang sudah lulus kuliah namun tidak ada mau membantu usaha keluarga mereka? Dia sudah mengulur waktu cukup lama, dia tidak enak jika terus menyusahkan Aksa. “Tapi, Ma,” Darren mencoba merengek pada ibunya. Dia ingin memulai usahanya sendiri dari awal, bukan bekerja di perusahaan omnya. “Kamu bisa memilih bidang yang kamu inginkan di Volle. Kamu bisa belajar mengolah dan mengetahui cara kerja bidang yang memang ingin kamu tekuni. Disana kamu juga bisa mencari koneksi untuk membesarkan perusahaanmu sendiri jika kamu masih berniat memiliki perusahaan sendiri nantinya.” kata Ayahnya menjelaskan. Darren melihat pada Ayah dan Ibunya bergantian sambil memikirkan perkataan Ayahnya yang memang masuk akal. “Kalian tidak akan memaksaku terus bekerja pada Om Aksa nantinya?” tanya Darren. “Tidak. Jika nantinya kamu sudah memiliki modal dan pengetahuan yang cukup untuk membuat perusahaanmu sendiri. Mama tidak akan melarangmu!” jawab Rosaline sambil tersenyum. Darren masih menatap curiga pada ibunya. Dia bisa merasakan ada yang disembunyikan di senyum yang diberikan wanita yang telah melahirkannya itu. Namun, selama ini ibunya tidak pernah berbohong padanya. “Baiklah. Nanti aku akan bekerja dulu di Volle Entertainment,” jawab Darren yang membuat senyum Rosaline melebar. Dia merasa apa yang dikatakan Ayahnya benar, sekarang dia harus belajar untuk mendapatkan pengalaman mengelola perusahaan. Dan dengan adanya koneksi, nantinya akan lebih mudah untuknya membangun perusahaan sendiri. **** Hari-hari selanjutnya dilewati Darren dengan mencoba mempelajari mengenai Volle Entertainment. Karena dirinya memang hanya menunggu sidang kuliahnya tiga bulan lagi, jadi dia tidak memiliki kegiatan lain. Sebelumnya, dia berusaha mempelajari manajemen perusahaan kecil untuk usaha yang awalnya ingin dia rintis. Namun setelah dia memutuskan untuk masuk ke Volle, dia tidak memerlukan hal itu. Yang harus dia lakukan sekarang adalah memilih di bagian Volle Entertainment mana yang dia inginkan. Terkadang, di malam hari dia terpikirkan Bu El dan ciumannnya. Apakah wanita itu sudah melupakannya? Jika wanita lain pasti akan sangat sulit melupakan dirinya. Namun wanita itu berbeda, Bu El mirip dengan kakaknya. Kemarin saja kakaknya mengatakan kalau dia tidak pernah terpesona pada wanita manapun termasuk mantan pacarnya. Jangan-jangan wanita itu juga begitu. Entah mengapa dia jadi kesal jika memikirkan kemungkinan itu. Akhirnya dia memutuskan untuk mengencani salah satu pacarnya. Masih dengan tujuan yang sama, mencari tahu rasa ciuman. Tahu saja, ternyata setelah mencium Bu El, ciuman semua wanita rasanya berbeda. Kan, dia jadi dapat jawaban! **** Eloisa hari ini mengajar kelas di jam lima sore. Hanya satu hari seminggu di hari rabu. Dia sudah mengusahakan untuk mendapatkan jam mengajar dari pagi sampai siang saja, namun terkadang memang sesuatu tidak berjalan sesuai dengan keinginan kita. Rekan sesama dosennya ada yang cuti melahirkan dan memintanya untuk menggantikannya selama wanita itu cuti. Kelas usai setelah hari sudah gelap. Suasana kampus yang sepi membuatnya segera menuju mobilnya yang di parkir di lapangan belakang kampus. Dia tidak menyukai suasana kampus di malam hari, selain sudah sepi, juga terasa agak angker. Dia baru saja menekan remote kunci mobilnya saat tangannya ditarik oleh seseorang. Belum sempat dia menoleh, dia sudah didorong hingga terjatuh. ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD