BAB 7 G untuk Gelisah

1063 Words
3a May tidak menjawabnya, ia diam dengan wajah cemberutnya. Sudah berkali-kali rencana mereka gagal karena kecerobohan Allata yang tidak sengaja mengingkari janjinya. Berkali-kali pula May menerima alasan Allata. Tetapi, kemarin adalah kesalahan Allata yang membuat kedua orang tuanya menunggu lama. May kesal. “May aku sungguh minta maaf, lain kali aku akan menghubungimu. Atau aku tidak akan lagi membuat janji jika aku sendiri tidak yakin untuk menepatinya,” ucap Allata pada akhirnya. Ia merasa sangat bersalah, membuat seseorang menunggu untuknya yang bahkan lupa dengan janji sendiri. Tidak pernah May semarah itu padanya, tapi karena sudah berkali-kali siapa yang akan sabar terus menerus jika begitu. “Baiklah aku akan memaafkanmu,” seru May pada akhirnya, ia mengalah. Ia juga berpikir akan berat menjadi Allata yang memiliki pekerjaan berbahaya dan melelahkan. “Tapi sore ini kau jangan lupa, kalau tidak aku akan membuangmu tidak lagi menjadi saudaraku,” kesal May pada Allata. “Aku tidak lupa untuk sore ini, sebaiknya kita bersiap untuk itu,” seru Allata. May menganggukkan kepalanya, mereka masih di toko bunga dan haripun mulai petang. May pulang ke rumahnya untuk bersiap, lalu ia bertemu dengan ibunya, “Sudah berbaikan?” tanya wanita paruh baya tersebut. “Sudah, aku merasa kasihan padanya,” jawab May, mendudukkan dirinya di kursi samping ibunya yang menikmati waktu petang di halaman belakang. “Jaga dia, tidak ada yang menjaga dia lagi. Banyak yang dia hadapi, ibu malah tidak yakin jika kamu yang ada di posisi Al, kamu akan sekuat Al dan setangguh Al,” tutur Risa. “Iya aku juga mengaku salah padanya karena memarahi dan mendiamkannya,” seru May. “Aku sendiri tidak yakin Bu, apa aku akan sekuat Al jika tidak ada kalian,” ujar May lagi lalu memeluk ibunya. “Kalau begitu kau juga harus berbakti pada Ibu, buktikan jika kau sayang Ibu dan Ayah dengan…” sengaja May menggantungkan kalimatnya mebuat May gemas dengan Risa. “Dengan apa?” kata May tampak bertanya pada ibunya, lalu ia menyadari sesuatu dengan sekejap wajahnya berubah masam, “ah… Ibu aku tau, Ibu akan menyuruhku menikah bukan?” tanya May dengan nada kesal. “Sekalian dengan Al, Ib/” ucapan Risa terpotong karena dikagetkan dengan suara teriakan dari dalam rumah. “May!” suara teriakan terdengar dari arah dalam rumah, May tahu betul siapa pelakunya. “Astaga! Aku lupa bersiap untuk pergi berburu!” seru May dengan semangat. “May!?” suara teriakkan itu lebih dekat, karena pelaku sudah berada di pintu penghubung taman belakang dengan dapur. “Di sini rupanya, dan belum berubah sama sekali setelah pulang dari toko? Kau belum bersiap?” tukas Allata menatap pakaian dan rupa dari May yang masih sama seperti pulang dari toko tadi. “Hehe… aku mengobrol dulu dengan Ibu, nah karena kau datang maka kau yang mengobrol dengan Ibu,” seru May. Saat ia ingin beranjak dari duduknya, lalu ia berkata, “karena manusianya ada di sini, sebaiknya Ibu beritahu dia juga jangan hanya aku,” kesal May. Allata menatap bingun May yang berlalu pergi dari taman belakang dan lenyap ditelan oleh pintu dapur. “Ibu mau bicara apa?” tanya Allata setelah mendudukkan dirinya di samping Risa di bangku halaman belakang menghadap kebun bunga tanaman risa dan May yang juga merupakan tempat pembibitan. “Kalian kapan sih punya pasangan, Ibu dan Ayah sudah semakin tua, Ibu tidak ingin kalian jadi gunjingan tetangga gara-gara kalian juga kompak dalam hal melajang seumur hidup ya…” tutur Risa pada Allata. Mendengar itu Allata jelas terkejut karena ia tidak menyangka bahwa ia juga akan disuruh untuk mencari pasangan. “Bu… emmh sepertinya nanti-nanti saja ya… oh ya Al mau liat suruh May cepat dulu ya Bu, biar bisa nyari pasangannya di jalan,” alasan Allata lalu pergi begitu saja dari tempat itu meninggalkan Risa. Ia tidak ingin salah bicara dan memilih menghindar. Allata menemui May yang sudah siap dan mereka pun berangkat hanya untu sekedar jalan-jalan. Allata membawa May ke tempat yang ramai jika sore menjelang malam yaitu pusat kota, yang terdapat taman dan banyak café-café milenial ramai dengan muda-mudi yang menghabiskan waktu luang akhir pekan mereka dengan pasangan, sahabat, dan juga keluarga. “Kita terlalu menyedihkankan Al?” tanya May pada Allata saat melihat pasangan yang melewati mereka sambil bergandengan tangan. “Tidak, dan sebaikkan kita juga berjalan kaki. Dari pada di mobil,” seru Allata, memarkirkan mobil di tempat parkir khusus kendaraan roda empat tepat di garis putih yang memang mengkhususkan satu buah mobil yang terparkir. Mereka berjalan menyebrang jalan saat lampu untuk pejalan kaki susah berubah menjadi warna hijau. May mengatakan hal konyol yang membuat Allata sedikit tertawa. “Jadi tadi kau juga diminta Ibu untuk mencari pasangan? Kalau begitu kita cari saja di jalan ini, mana tau kita bertemu dengan seseorang yang kaya dan tampan tersesat di jalan lalu kita membantunya,” ucap May lagi. “Jika dia tersesat sekarang bisa menggunakan GPS jika kau lupa May,” bantah Allata. “Ah iya juga, kalau begitu mungkin mantan. Iyakan? Atau apalah yang pasti bisa jadi jodoh,” ujar May sangat random. Sesaat setelah mereka menyebrang jalan Allata melihat seseorang yang tidak asing baginya melintas menggunakan mobil, orang itu juga melihat keluar jendela sama melihat kearah Allata. Seseorang itu berpikir siapakah wanita yang ia lihat seakan tidak asing, dan pernah bertemu. Ia berpikir keras, namun menit berikutnya ia tidak ambil pusing untuk mengingat wanita yang ia lihat. Sedangkan Allata, juga tidak merasa asing pada wajah orang yang menatapnya dari dalam mobil dari kursi kemudi yang ia kendarai. Ia menyengit seakan mengingat seseorang, merasa asing tapi seakan pernah bertemu. Mengganjal tapi tidak dapat menuntaskan karena ia lupa. Allata memilih kembali fokus pada acara jalan-jalan mereka berdua. Walau sekali-sekali ia masih terpikir untuk mengingat orang yang membalas tatapannya dari mobil tadi. Lalu tersenyum dan mengatakan dengan pelan, sangat pelan, “aku tidak pernah melupakanmu, my first.” Di sisi lain, Han menggerutu ia terlambat pulang dan akan mendapat amukan dari Vera. Ia menyiapkan rayuan-rayuan untuk Vera agar tidak mengingatkannya tentang disiplin dari keterlambatan. “Ma… maaf aku terlambat pulang, aku lupa jika hari ini adalah akhir pekan,” pinta Han saat telah melihat Vera dan kedua putri angkatnya siap untuk berangkat, tapi karena menunggu Han yang tak kunjung datang membuat Vera ingin memiting anak satu-satunya itu. “Jadi? Masih mau membawa kami jalan-jalan atau tidak?” tanya Vera akhirnya. Ia memandang kedua cucunya dengan sendu. Wajah mereka mengatakan sangat ingin pergi, sehingga Vera merasa tidak tega jika jalan-jalan mereka dibatalkan begitu saja. Lalu Han pun mengatakan yang membuat mereka tersenyum bahagia, “tentu saja, ayo kita berangkat sekarang,” ajak Han pada mereka. “Tapia pa Papa tidak ingin mengganti pakaian dulu?” tanya Dean dengan lugunya karena melihat Han masih memakai kemeja kerjanya. “Tidak perlu, Papa tidak ingin membuat kalian menunggu lebih lama lagi. Lagi pula Papa tetap tampan bukan walau berkeringat begini, dan juga…” Han mencium bau badannya sendiri, “wangi tidak bau,” ucap Han dengan percaya dirinya. `a` a hanya berbeda satu tahun lebih muda Allata.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD