Bagian 40 || Perjalanan menuju kaum Siren||Tristan berjalan di depan, sementara Alice, Xander dan Logan berjalan di belakang. Jalanan datar dengan pohon-pohon besar yang membentang di jalan setapak membuat terik matahari tidak terlalu menyengat kulit mereka. Namun meski begitu, Xander tetap membiarkan Alice berlindung dengan jaket nya. Ia cukup tau bahwa gadis itu tidak terlalu suka dengan panas matahari.
"Berapa lama lagi kita akan berjalan?" ujar Logan yang kelihatan sudah mulai bosan dengan perjalanan panjang mereka. Mereka bahkan sudah berjalan sekitar setengah jam. Dan untuk Logan yang sangat jarang berjalan kaki, itu pasti sebuah penyiksaan yang menyakitkan untuknya.
"Tidak lama lagi, ayolah Logan. Alice saja tidak mengeluh seperti mu. Aku jadi penasaran siapa di antara kalian yang sebenarnya adalah lelaki tulen!" jawab Tristan yang membalikkan badannya. Menatap Logan dengan jengkel dan menelisik.
"Ck, apa kau pikir aku tidak tulen? Lagi Pula kan Alice sejak tadi dibantu oleh Xander. Holl, aku jadi iri!" seru Logan yang berjalan mendahului Alice dan Xander yang bahkan tidak peduli dengan ejekan dari Logan.
Alice terus berjalan dengan bantuan dari Xander, sebenarnya bisa saja ia berjalan sendiri. Namun kali ini ia merasakan hati nya sedikit sakit. Wajah nya sedikit pucat dan membuat Xander yang terus mengawasinya memutuskan untuk membantu Alice berjalan. Xander menatap pepohonan yang semakin lebat, lumut-lumut licin dan bunyi air sudah mulai terdengar dari jauh membuat nya membuat kesimpulan bahwa mereka memang sudah dekat dengan wilayah siren itu. Ia menatap Alice yang semakin mengeratkan tangannya "Apa kau baik-baik saja Alice? Jika kau tidak tahan, kita bisa beristirahat sejenak dulu!" usul Xander membuat Tristan dan Logan yang mendengar itu menatap Alice yang memang terlihat pucat.
"Apa kau baik-baik saja?" ujar Logan yang menghampiri Alice. Ia menatap wajah pucat Alice. Logan segera membuka tas kecil yang ia bawa, mengeluarkan sebotol air "Ini—minumlah. Aku rasa ini bisa membantu mu!"
Alice menatap botol itu dengan tatapan yang semakin lemah, ia mengambil nya dan meneguk nya dengan pelan. Hati nya masih terasa sakit dan itu benar-benar menguras tenaganya sejak tadi. Beruntung Xander sejak tadi membantunya berjalan.
"Kita beristirahat dulu, bagaimana Tristan? Apa itu menjadi masalah?" seru Xander yang membantu Alice untuk duduk di bawah pohon dan ia duduk membelakangi Alice agar punggungnya menjadi sandaran dari Alice.
"Tidak masalah, asalkan jangan terlalu lama!"
Mereka akhirnya ikut duduk di sebelah Alice. Xander menatap sekeliling mereka, suara air itu semakin terdengar jelas. "Apa lokasi mereka sudah tidak jauh lagi dari sini? Aku bisa mendengar suara air mengalir dan lihatlah lumut-lumut itu. Aku rasa itu adalah lumut yang hidup jika dekat dengan air!"
"Ya, sebenarnya hanya perjalanan beberapa menit lagi. Namun karena Alice tidak tahan, sebaiknya kita istirahat dulu. Aku tidak tega padanya!" ujar Tristan menatap Xander yang berada di samping nya.
****
"Apa kau benar-benar ingin melihat wajahku?"
Kyler dan Alan yang sejak tadi diam di atap terlonjak saat mendengar suara yang begitu tiba-tiba. Kyler yang merasa bahwa suara cukup familiar langsung membalikkan badannya. Ia membulatkan matanya, sosok 'gadis bermata satan' itu sedang berada di depan mereka—sekarang. Gadis itu memang hanya berdiri beberapa di depan mereka, tidak membawa apapun yang terlihat mencurigakan. Namun, Kyler tetap merasa aura Mizuki benar-benar bisa membunuhnya sekarang. Ia menelan salivanya kasar, menatap Olan.
"Ak-aku tidak ingin melihatnya, aku pergi dulu!" teriak Kyler dengan segera berlari dan menuju tangga. Meninggalkan Alan yang bingung di buat oleh tingkah Kyler yang tiba-tiba menjadi pengecut saat berhadapan dengan Mizuki. Gadis lemah yang pasti akan kalah jika berhadapan dengan-Nya.
"Ada apa? Tidak ingin berlari seperti teman mu itu?" kekeh Mizuki yang entah mengapa membuat bulu kuduk Alan berdiri seketika. Namun ia segera menepis perasaan horror yang tadi seperti menguasainya. Tidak mungkin gadis lemah –bermata setan- seperti Mizuki mampu menciptakan aura itu. Ya—Kecuali rumor yang beredar itu memang benar-benar ada.
"Tidak, untuk apa juga aku lari mu. Memang nya siapa yang takut berhadapan mu? Kau hanya seorang –Gadis bermata satan- yang tidak berguna!" kekeh Alan benar-benar membuat mood membunuh Mizuki meningkat sesaat.
Mizuki tersenyum bodoh, menampilkan susunan gigi-gigi putih nanti rapi miliknya. Namun, ia menghela nafas nya sesaat, menatap lelaki malang di depan nya. "Apa kau yakin tidak ingin bertemu dengan teman mu itu Alan?" ulang Mizuki membuat kesabaran Alan yang memang tipis semakin tipis.
"Apa maksudmu gadis sialan?" teriak Alan terpancing emosi
"Yahh, kau memang tidak akan bisa lagi melihat si bodoh itu. Karena dia sudah –mati!"
Deg,Alan memegang jantung nya yang tiba-tiba berdetak dengan cepat. Bulu kuduk di lehernya entah mengapa tiba-tiba terasa meremang sempurna. Aura itu menjalar dan naik sampai ke ubun-ubun nya. Namun Alan segera menggeleng, ia menatap punggung gadis yang tadi ada di depan nya sudah tidak lagi kelihatan. Hanya sekejap, dan gadis itu menghilang? Batin Alan. Namun ia langsung teringat dengan perkataan-Nya beberapa menit yang lalu. Ia segera berjalan menuruni tangga dan langkah nya berhenti di lantai tiga. Tepat saat kakinya memijak darah yang berceceran dari anak tangga yang menjadi batas dengan lantai empat.
Alan menutup mulutnya saat menatap Kyler berbaring telungkup di anak tangga lantai ke-3 dengan bersimbah darah. Darah itu mengalir mulai dari anak tangga yang sedang ia pijak sekarang. Ia menelan salivanya kasar, "K-Kyler?" ujar nya pelan masih tidak percaya dengan apa yang berada di hadapannya saat ini.
"Arkhhhhh-----!"
Alan yang hendak turun mengurungkan niatnya saat mendengar teriakan yang begitu tiba-tiba. Ia lalu menatap seorang siswi yang menatap mayat Kyler dan juga menatapnya bergantian "Tidak—ini tidak seperti yang kau pikirkan. Aku tidak membunuh nya!" ujar Alan melakukan pembelaan diri
Namun gadis itu tetap menggelengkan kepalanya, "Pembunuhhh!" teriaknya berlari meninggalkan lantai 3 dan menuruni lantai 2. Tidak lama setelah teriakan gadis itu, suara derap langkah kaki terdengar dari bawah membuat Alan menelan salivanya gugup. Tidak, aku tidak membunuhnya! Ujar Alan segera meninggalkan lantai itu dan turun dengan arah yang berbeda. Ia harus menemui gadis bermata satan itu, ia harus bertanya apa yang membuat Kyler bisa terjatuh.
Mr.Tanaka lagi-lagi menatap para petugas keamanan yang sedang berada di sekolahnya kali ini. Ia juga memulangkan semua murid dengan cepat dan mengancam penyebaran berita yang jika dilakukan oleh siswi mereka lagi. Karin dan Gordo masih berada di sekolah, bersama dengan sang kepala sekolah—mr.Tanaka.
"Apa kau yakin dia tidak pergi bersamamu setelah dari ruang Osis?" seru mr.Tanaka pelan, menatap Karin dan Gordo yang berada di depan nya saat ini. Kasus ini tidak lagi berhubungan dengan Alice, Xander dan satu lagi-Logan. Karena mereka bertiga memang sudah ijin sejak semalam dan kejadian ini baru saja. Ia memijat keningnya frustasi, baru saja nama sekolah naik daun beberapa saat lalu. Namun kabar ini lagi-lagi membuat perasaannya kesal.
"Aku langsung pergi ke ruangan ku Sir, dan kami berpisah di anak tangga lantai dua. Aku menatap nya bersama dengan Alan tadi saat berpisah, namun aku tidak tahu kemana mereka pergi!"
"Sir, ada yang ingin berbicara pada anda!" ujar Karin yang membuka pesan chat nya.
"Siapa lagi? Tolong jangan menambah beban hidup ku Karin!"
"Tidak Sir, aku bahkan merasa ini sebuah petunjuk! Ahhh, itu dia!" tunjuk Karin saat seorang siswi berambut sebahu yang digerai berlari ke arah mereka dengan wajah pucatnya. Karin segera menghampiri adik kelas nya itu dan mendudukkannya di kursi yang berada di sebelah nya. Wajah pucatnya membuat mr.Tanakan bertanya-tanya.
"Apa yang membawamu kemari—" Mr.Tanaka sedikit melirik name tag dari siswi di sebelah Karin "Yurippe? Jadi apa yang membawamu kemari dengan wajah pucat mu itu?"
"T-tadi, saat kejadian itu. Saat itu Bu Hana menghukum ku untuk membersihkan lantai tiga. Saat aku sudah berada di sana, aku sudah menatap kak Kyler yang sudah terjatuh di lantai tiga. Namun, kak Kyler tidak sendirian. Dia bersama dengan kak Alan yang berdiri di lantai empat. Namun saat aku menatap nya, dia berkata bahwa dia tidak membunuh kak Kyler!" ujar Yurippe dengan nafas yang mulai teratur.
"Alan?" ujar Mr.Tanaka
"Ya, aku rasa aku tidak salah lihat sir. Lelaki dengan rambut yang diwarnai itu, memakai tindik dan celana kuncup. Serta sepatu putih adidas! Bukankah itu kak Alan? Aku cukup mengenalnya karena kakak Kyler dan kak Alan memiliki pacar di kelas ku!"
"Ya-ya, itu memang dia!" ujar Tanaka, semua ciri-ciri itu memang khas nya Alan, karena ia cukup sering berhadapan dengan lelaki pembuat rusuh itu.
"Apa kau tau Alan dan Kyler memiliki selisih selama ini?" ujar Tanaka menatap Gordo. Karena selain mereka berdua, Gordo juga cukup dekat dengan mereka berdua.
Gordo menyerngitkan keningnya, sejauh yang ia tahu. Alan dan Kyler tidak pernah berselisih atau bahkan berantem. Kecuali, ketika Alan dan Kyler berebut sosok wanita malam yang ingin melayani mereka. Namun itu sudah sebulan yang lalu, dan mereka hanya bertengkar dengan bertaruh siapa yang akan mentraktir siapa. Dan itu juga Kyler yang membayari Alan. Ia memang tidak terlalu dekat dengan Kyler, namun ia cukup kenal dengan Alan dan sesekali bermain kerumah lelaki itu "Tidak, aku rasa Alan bukan pelakunya. Mereka tidak pernah bertengkar sebelumnya!" seru Gordo
"Tapi, kak Alan ada bersama dengan kak Kyler. Jika bukan dia pelakunya, siapa lagi? Aku rasa kak Alan lah yang mendorong kak Kyler!" ujar Yurippe dengan begitu yakin. Membuat mata Gordo seketika menuju kepada gadis itu. Ia menaikkan satu alisnya dengan kening yang berkerut "Kau tau? Pernyataan palsu saat di pengadilan bisa menjebloskan diri nya sendiri. Jika kau tidak tau kronologis nya dan hanya melihat potongan nya saja. Jangan pernah mengucapkan tidak sesuai dengan faktanya. Kau masih kelas 1 dan aku cukup tahu bahwa pikiranmu tidak cukup dewasa!" seru Gordo tajam membuat Yurippe diam seribu bahasa.
Yurippe menatap Gordo dengan kesal, meski ia menaruh perhatian pada Gordo. Namun melihat lelaki itu membela Alan, membuat nya ikut membenci nya. Ia memang tidak menyukai Alan, karena lelaki itu—Alan telah menodai sahabatnya sendiri. Membuat sang sahabat ingin bunuh diri, dan jika Yurippe ingin. Ia ingin sekali membunuh Alan. Lelaki itu sama-sekali tidak tanggung jawab karena menghamili sahabatnya sendiri.
"Gordo ada benarnya juga, bisa kau panggil Alan kemari sekarang? Aku ingin mengetahui kebenaran dari nya!" ujar Tanaka
"Alan sudah pulang lebih dulu Sir, dan sedikit terburu-buru. Meski aku juga tidak bisa percaya dengan ucapan Yurippe sepenuhnya, namun karena tingkah aneh Alan tadi membuat ku menyimpulkan bahwa Alan tau sesuatu!" ujar Karin
"Kalau begitu, tolong bantu aku untuk berbicara dengan Alan!" ujar Tanaka
****
Alan mengemudi mobil nya dengan keringat dingin yang bercucuran di kening nya, ia tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Ia mengaku tidak bersalah, namun ia adalah teman Kyler. Mana mungkin ia bisa merasa tenang jika sang sahabat nya sendiri mati setelah kata-kata gadis itu? Alan menggelengkan kepalanya, jika ia berkata sejujurnya pada polisi. Tidak mungkin mereka – dan orang tua Kyler mempercayai ucapan seorang brandal sepertinya?
Ia harus mencari jalan keluar dan jika bisa, ia harus menghindar dulu selama beberapa hari ini. Namun, buku-buku tangan Kyler mengepal saat menatap gadis yang mengucapkan kata-kata itu sedang duduk di halte bus. Tetap sendiri, bahkan orang-orang yang berdatangan menjaga jarak dengan gadis itu. Ia segera berhenti di depan gadis itu, dan keluar dari mobil nya membuat beberapa tatapan tertuju padanya. "Ikut dengan ku sekarang, aku butuh penjelasan darimu!" seru Alan menarik tangan Mizuki agar memasuki mobil nya.
Mizuki yang ditarik memasuki mobil lelaki itu hanya terkekeh meremehkan, ia bisa tau bahwa Alan pasti sedang dilanda sebuah rasa takut yang bahkan sangat ketara. Jiwa membunuh Mizuki entah mengapa tiba-tiba menguat lagi, setelah tadi ia berusaha untuk melepas Alan agar lelaki itu setidaknya bisa menikmati karma dari ucapan nya.
Alan melajukan mobilnya dengan cepat, ia menatap Mizuki yang duduk dengan santai di sebelahnya nya. "Apa yang kau lakukan pada Kyler hah?" bentak Alan sambil memukul stir mobil nya
"Kau ketakutan sekarang?" seru Mizuki santai sambil menatap jalanan yang terhalang dengan rambut nya
"Sebenarnya kau ini apa hah? Mengapa—mengapa harus Kyler? Apa yang harus aku perbuat? Aku tidak tahu mengapa ia bisa meninggal seperti ini. Kau tau Mizuki, kau tau--!" seru Alan dengan suara tercekat
"Aku akan memberitahu mu, itu adalah takdir Kyler. Aku tidak tau mengapa ia bisa meninggal di lantai itu. Namun aku bisa merasakan auranya menipis saat bersama mu di atap itu. Dia dihinggapi sosok satan wanita yang terus hinggap di lehernya. Satan it uterus menyesap energy kehidupan nya!"
Alan terkekeh bodoh, bagaimana mungkin ia bisa percaya dengan hal-hal semacam ini? Tidak mungkin "Tidak, kau pasti sedang membohongi ku!"
Mizuki terkekeh, " Jika kau tidak percaya, terserah kau saja Alan. Kau juga mungkin akan ditumpangi sosok satan yang sedang hamil, jika kau tidak segera menghentikan sosok wanita yang sedang ingin bunuh diri itu!" ujar Mizuki membuat Alan seketika membanting mobil nya ke tepi jalan.
"Apa maksudmu hah?" teriak Alan
"Apa kau tidak tahu bahwa pacar mu itu tengah hamil anakmu? Kau memperkosanya saat kau mengucapkan kata-kata manis mu itu. Dia sudah mencoba menghubungi mu,namun kau malah menghindar bukan? Hahahahahaha, Alan—jika kau masih menahan ku sekarang dan tidak mencegah nya. Maka kau bisa berakhir sama seperti Kyler. Satan itu adalah wanita yang kalian berdua jebak, kau hanya beruntung karena bukan kau yang merusaknya" seru Alice masih terkekeh di tengah keterdiaman Alan yang mengepalkan buku-buku tangannya.