Benjamin POV. Sebenarnya, walaupun terkesan mengabaikan ajakan Puput untuk buat baby seperti baby kembar bang Noah dan kak Bella, aku tuh sudah sharing dengan cing Iwan soal ajakan Puput dan niatanku untuk melamar Puput. Kalo bicara pada babeh, tentu aku belum berani. Tau sendiri babehku, yang tiap kali ada kesempatan selalu ingatkan supaya aku kerja dulu dan kumpulkan uang. “Ya udah kalo memang Puput sudah kasih kode untuk segera kamu lamar. Gaslah” kata cing Iwan. Aku masih tertawa menanggapi. “Punya uangkan?” tanya cing Iwan kemudian. “Ada sih tapi gak banyak. Paling seratusan juta cing” jawabku. Cing Iwan menghela nafas kali ini. “Kenapa?” tanyaku. “Udah pastiin belum Puput bisa nerima kamu dengan kemampuanmu yang segitu?” tanya cing Iwan lagi. “Dia bilang bisa, yang penting

