Puput POV. Aku tatap dulu tiga pengawalku yang sekarang berdiri di hadapanku dengan wajah kesal. Eh dua doang sih yang wajahnya kesal menatapku, si kakak pertama dan si bungsu. Bang Irash dan Naka maksudnya, kalo bang Ben mah malah tertawa menanggapi dramaku sampai mewek mewek saat menelpon mereka bertiga secara bergantian. Eh malah datang barengan. Kompak banget yakan???. “Ya udah sih, milih temenin Puput sakit apa temenin Puput belajar buat sidang skripsi?” jeda bang Ben lalu santai mengambil tempat duduk di sofa lain setelah memindahkan buku buku pelajaranku yang berantakan. Dua yang lain kompak berdecak menanggapi. “Makanya jangan pada sok sibuk sampai lupa bantuin gue yang mau sidang skripsi” omelku lagi setelah menaruh mangkuk berisi es cream di meja samping laptopku yang terbu

