Puput POV. “Udah ayo ah bang. Gak usah drama deh” jedaku pada bang Ben dengan melepaskan pegangan tangannya pada tanganku. Bukan aku tidak memaafkan bang Ben, atau mengabaikan ungkapan perasaannya padaku. Atau aku malu kalo ikutan jujur soal perasaan rinduku pada Ben juga. Aku pikir lagi, kami masih punya hal yang harus kami bicarakan dulu, supaya masalah di antara kami selesai. Soal sayang sayang mah, sejak awal juga sama sama sayang, makanya kami berniat menikah. “Mau kemana?” tanyanya karena aku bergerak menutup pintu kamarku. “Turunlah ke bawah. Katanya abang cuma di kasih waktu 10 menit sama mama, ya ayo turun. Mau mama susul kita kali?. Gak tau malu banget, belum juga jadi mantu mama” omelku. Bang Ben tertawa menanggapi. “Akhirnya…berhasil juga abang tarik sang putri keluar ka

