Hey, Sayang

1628 Words
“Terima kasih, Bayu.” Unita belum turun dari mobil, “Makan siangnya enak sekali.” Menyampirkan tas yang dibawanya dan bersiap turun. Bayu tak menjawab ucapan itu, hanya menimpalinya dengan senyum, saat Unita sibuk dengan tali tas, Bayu maju untuk membantu Unita melepas sabuk pengaman yang membelit tubuh indah berbalut rok selutut coklat berbunga merah. Menggoda saat tangannya dengan sengaja memperlambat aksi, mendekatkan wajah tanpa mencium atau bahkan menempelkan bibir, Bayu hanya tersenyum, membiarkan napas saling menerpa tanpa ingin jamahan di antaranya. “Bayu ... .” Unita merasa tubuhnya malah panas dengan aksi ini. Bibir itu sangat dekat, Bayu pencium yang handal, Unita jarang bisa mengimbangi aksinya meski sudah melakukan hal terbaik yang dia bisa. Bayu menaik turunkan alis, senyumannya semakin lebar karena panggilan itu terdengar manja. Mendekatkan lagi hingga ujung hidung itu saling bersentuhan, menggoda antar pucuk, dan mengembus dengan napas memburu merasai gejolak, “Kamu tidak turun? Banyak pekerjamu di sini, aku tidak mau membuat mereka cemas.” Bayu belum menghentikan menggoda ujung hidung Unita dengan ujung hidungnya. Unita menggigit bibir bawahnya sendiri, gemas dengan apa yang terlalu dekat hingga desah napas yang keluar dari bibir itu mampu menerpa bibirnya, “Ya. Kamu benar. Akan jadi masalah kalau mereka tahu.” Bayu hanya bergumam dan itu menyiksa Unita, “Apa ... kita akan bertemu nanti sore?” “Kamu ingin aku menjemput dan mengantarmu pulang? Bagaimana dengan mobilmu, hm?” “Aku—aku—“ ‘Cup.’ Hanya kecupan dan tak ada yang lebih. Bayu tersenyum sambil membuka pintu mobil di sebelah Unita, angin dari luar menerobos masuk, mengganti udara dari AC yang mulia panas dengan udara baru yang lebih segar. “Aku harus menyelesaikan lukisanku. Dia mengambilnya besok, tapi aku akan datang untuk pameran patung besok di sini, setelahnya aku akan mengantarmu pulang dengan mobilku.” Bayu tak terlalu mengikis jarak. Wajah kecewa itu sungguh kentara, tapi dia benar-benar sibuk hari ini. “Bukankah kamu biasa cepat saat melukis?” Unita menginginkan hal lainnya, “Aku tidak akan mengganggumu seperti dulu-dulu. Aku hanya akan diam dan menunggumu menyelesaikan lukisan itu.” Mungkin terdengar memaksa, tapi Unita menang ingin. Bayu memagut bibir Unita tak terlalu lama, memastikan tak ada jejak basah di sana, dan duduk dengan benar di kursinya, “Banyak waktu untuk kita, Unita. Kamu bisa ke sana kalau kamu mau, dan aku tidak akan pernah bisa menyelesaikan lukisan itu.” Bayu mengangkat ke dua bahunya bersamaan, “Aku akan melupakan kanvas dan berganti dengan lukisan indah di kulit itu.” Bayu tertawa, tak mau suasana canggung ini semakin liar. “Kau menyebalkan, Bayu.” Unita ikut tertawa meski hanya ringan. “Datanglah besok. Patung itu sangat indah, ada satu yang harus kamu lihat, aku yakin dengan seleramu, kamu pasti menyukainya.” “Pasti, Sayang. Aku akan datang meski sedikit terlambat, aku harus memastikan lukisanku sampai di tangan pemiliknya dulu.” Unita tersenyum dan mengangguk, melambaikan tangan, masuk setelah mobil Bayu pergi dari pelataran parkir galeri seni miliknya. *** Hari yang melelahkan baru saja dimulai. Unita yang turun dari panggung kecil untuk menyambut pembukaan pameran ini, segera mengulurkan tangan ke pemilik karya seni, “Sangat luar biasa, di hari pertama dan mereka sangat antusias.” Si pemilik karya pun tertawa, membalas jabatan tangan itu, “Semua akan cacat kalau tidak di sini. Mereka datang karena tahu siapa Unita dan galeri seni miliknya, kita akan sama-sama menghabiskan patung ini dalam waktu enam hari yang kamu janjikan.” “Ya. Tentu saja. Bahkan lima hari dan semua akan habis terjual.” Unita yakin dengan ucapan yang dia selipkan doa di dalamnya. Setelah berbincang, Unita memutuskan untuk berkeliling, menyapa pengunjung yang terlalu dia kenal karena selalu datang saat pameran, hingga ke pengunjung lain yang baru, Unita puas di setiap ada pameran seni seperti ini. Acara yang berjalan hampir empat jam dan masih ramai pengunjung, membuat Unita senang pada awalnya. Hingga akhir sepi menyapa kembali, membuat pikirannya terbang dan mengharap pada sosok yang selalu menyenangkannya. Di mana Bayu? Dia belum datang juga. Padahal sudah banyak pengunjung yang pulang dengan membawa karya indah dari pameran seni hari ini. “Terima kasih, Pak.” Bayu di kantor tuan yang membeli lukisan hasil karyanya. Kanvas itu masih tertutup kain dan pemesannya pun bersiap untuk membuka agar melihat apa yang dipesan. ‘Srek.’ Terkekeh sambil menggeleng, “Lukisanmu tidak mengecewakan. Lihatlah! Matanya sangat indah di sini.” Bayu menarik napas dalam, sangat lega rasanya. Itu adalah lukisan dari mendiang putri si pemesan, rasa cinta membuat rindu, dan lukisan di kanvas berukuran tak terlalu lebar itu, mungkin menjadi penawar tersendiri bagi pemesan. “Saya senang Anda bisa bertemu lagi dengan putri Anda.” Bayu mengenal karena seringnya mendapat pesanan dari tuan yang ini. Si pemesan pun terkekeh lagi, “Aku—“ “Sayang, aku—ah! Bayu?” Reni yang datang untuk mengajak suaminya makan siang bersama, segera memeluk Bayu yang ternyata sudah mengirimkan lukisan yang dipesan suaminya. Bayu terkekeh, tak terlalu menanggapi meski Reni selalu begitu setiap bertemu dengannya dan di mana saja, untung suami Reni tidak pernah marah atau cemburu padanya. “Aku akan menunggu pesanan selanjutnya.” ledek Bayu sambil memainkan mata ke suami Reni. “Ya, aku memang akan memintamu untuk melukisku, iya kan, Sayang?” Reni memeluk suaminya yang saat ini berdiri di sebelah lukisan mendiang putrinya. Bayu mengerutkan kening, seolah tak percaya dengan candaan itu. “Hahahaha. Siapkan semuanya, pastikan saat aku libur, dan kita akan melakukannya. Aku ingin satu yang spesial untukku dan juga Reni.” Menoleh ke si istri dan mengecup bibirnya singkat. Bayu tertawa, mengangguk beberapa kali untuk menyetujui permintaan itu. “Saya akan mengaturnya untuk Anda, tapi sekarang saya harus kembali, banyak pekerjaan yang menunggu.” Bayu seolah dikejar waktu, dia ingin menghadiri pameran seni di galeri Unita. Setelah berpamitan, Bayu segera ke sana dengan cepat, memarkirnya sembarang asal aman, menaut tampilan di kaca spion yang menggantung, dan turun. Berjalan dengan cepat masuk galeri, terkekeh saat sosok yang ingin dia temui tengah duduk termenung di tengah ramainya pengunjung. ‘Hust!’ Unita mengerjapkan mata, Bayu baru saja meniup wajahnya tanpa dia sadari sosoknya sudah ada di sini. “Kapan datang?” tanyanya sambil memamerkan senyum. “Setelah kamu memikirkanku.” “Jangan merayuku.” rajuk Unita. “Memangnya apa lagi yang bisa kulakukan selain merayumu.” Bayu berdiri, memasukkan tangan ke saku celana, “Kamu tidak ingin mengajakku berkeliling?” mengedarkan pandangan, tidak sabar melihat dari dekat semua patung berbagai bentuk yang menggoda mata. Unita terkekeh, berdiri dan langsung mengajak Bayu ke patung lilin yang dipahat dengan spesial. Pahatan teliti, dan warna transparan yang sempurna, Unita langsung jatuh cinta kemarin saat melihatnya untuk pertama kali. “Sepertimu, dia juga sempurna memahat lilin ini hingga jadi kelopak mawar yang rumit.” pamernya ke Bayu. Unita memang bukan si pembuat, tapi dia bangga saat ada pekarya hebat menyewa galeri seni miliknya, seolah apa yang dia miliki sangat berguna untuk menjembatani pekarya ke puncak kesuksesan. “Ya. Ini luar biasa. Apa kamu mau menyimpannya? Aku akan membelikannya untukmu.” Bayu sangat cocok saat membicarakan sebuah karya dengan Unita, itu juga salah satu alasan dia suka dengan wanita yang satu ini, seleranya tinggi dan tahu keinginannya seperti apa. Unita memang sempurna di matanya. ‘Lap.’ Sinar biru menyala dari bawah, membuat penikmat patung lilin itu lebih jatuh cinta lagi, “Lihat, Bayu! Dia sangat cantik dan—“ “Hey, Sayang.” Unita membatu. Hangat di punggung dan juga suara yang dia kenal itu, menariknya kembali ke kenyataan yang coba dia tinggalkan. “Mas ... ?” Unita berbalik, memeluk suaminya yang datang dengan mengejutkan di galeri, bahkan saat dia bersama dengan Bayu di posisi yang sama juga. Nurdin yang mengecup bibirnya singkat, membuat Unita berkeringat dingin dan tak tahu harus mengatakan apa. Bayu mengepalkan tangan. Rasanya dia ingin memukul Nurdin Herlambang. Banyak waktu tak pernah menampakkan diri, kenapa sekarang datang dengan cara yang seperti ini? Bibir itu hanya miliknya, Bayu berjanji tak akan pernah membiarkan Unita dicium lagi oleh Nurdin, apa lagi di depan matanya. “Aku langsung ke sini tadi. Kata bibi kamu belum pulang.” ucap Nurdin, sambil mengurai pelukan itu, “Ini?” Nurdin menoleh ke pria yang sebaya dengan istrinya. Sempat mendengar memang, keduanya penyuka karya seni, Nurdin senang Unita punya teman di bidang yang sama karena dirinya tidak pernah paham saat Unita membicarakan tentang kegemaran istrinya itu. “Ini—“ “Bayu.” Bayu menyerobot Unita yang ingin memperkenalkan dirinya, “Aku suka seni, melukis senja hingga membuat siapa pun jatuh cinta hingga tak mampu berpaling, melupakan apa yang sakit karena kenyamanan dan tawa saja yang kumiliki.” Bersalaman dengan Nurdin dengan genggaman yang mantap. “Hahahaha. Aku tahu Unita akan cocok dengan pria sepertimu, itulah kenapa kalian sangat akrab tadi.” Nurdin tertawa sambil menepuk lengan pria bernama Bayu itu, “Aku—“ “Tuan Herlambang.” potong Bayu. Nurdin terkekeh, “Aku—“ “Suami dari wanita sempurna bernama Unita.” potong Bayu lagi. “Ya, kamu benar. Lihatlah!” Nurdin menunjuk istrinya sendiri, “Dia selalu sempurna.” pujinya ke istrinya yang tersenyum malu-malu. Unita merasakan dadanya mulai sesak sekarang, “Aku—“ “Aku permisi dulu.” Bayu tak mau melihat Unita terjepit seperti itu, “Banyak yang harus kulihat, Tuan Herlambang. Unita,” Bayu menepuk siku Unita perlahan, “aku akan berkeliling dulu.” Segera berbalik, menjauh agar emosinya yang ingin menghajar Nurdin tak memuncak untuk hari ini. “Aku sangat merindukanmu, Unita.” Suara yang masih terdengar itu, membuat Bayu lebih memilih keluar dan pulang. ‘Cuih!’ meludah tepat di depan pintu masuk galeri, kembali melangkah untuk masuk ke mobilnya. “Seperti katamu, Nurdin Herlambang. Hanya aku pria yang cocok dengan Unita, istrimu yang sempurna itu.” Bayu memegang kemudi erat, menghidupkan mesin mobilnya, dan pergi dari galeri Unita.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD