02
Lilakanti sangat menikmati perubahan ekspresi wajah Baron. Pria itu kentara sekali tengah terkejut, seusai mendengar penuturan lelaki berjanggut di samping kiri Lilakanti.
"Ehm, Kagendra Grup, betul?" tanya Baron setelah bisa menguasai diri.
"Ya," jawab Farisyasa.
"Apanya Pak Nazeem?"
"Saya anak tertua beliau."
"Ehm, ya."
"Kamu kerja di mana?"
"DS Grup."
"Salam buat Om Ghandi."
"Ya, nanti saya sampaikan."
Farisyasa menoleh ke kanan. "Sayang, kita ditunggu Koko Dante di ruang VIP," ungkapnya yang dibalas anggukan Lilakanti.
Farisyasa kembali mengarahkan pandangan ke depan. "Sorry, saya ada pertemuan dengan keluarga Adhitama. Permisi," cakapnya seraya tersenyum.
Baron tidak menyahut dan hanya mengangguk. Dia mengamati pria yang menggandeng lengan kiri Lilakanti sembari bergerak menjauh.
"Mas, dia siapa?" tanya Calista, sambil memerhatikan pasangan yang tengah melenggang dengan santai.
"Tadi dia bilang anak tertua Pak Nazeem. Berarti dia CEO Kagendra Grup," jelas Baron.
"Kok, pembantu itu bisa kenal dengan CEO?"
Baron memindai sekitar, kemudian dia berkata, "Kayaknya orang itu tergabung di PG dan PC. Di sini tamunya kebanyakan dari sana."
"PG, PC, apaan, sih?"
"Nanti kujelaskan. Sekarang, kita pulang."
"Enggak ke pelaminan dulu?"
"Harun itu sepupunya Lilakanti. Dia pasti nggak suka sama aku. Andai bukan mewakili bos yang diundang Adhitama Grup, mungkin aku nggak akan datang ke sini. Belum lagi aku bakal dipandangi keluarga Lilakanti."
"Amplopnya?"
"Dititip di meja depan."
Sementara itu di dekat tempat VIP, Lilakanti mendudukkan diri di kursi kosong. Dia mengusap d**a yang berdebar kencang, akibat sempat beradu urat leher dengan Baron dan Calista.
Farisyasa ikut duduk di kursi sebelah kanan perempuan bersetelan kebaya abu-abu. Dia memerhatikan Lilakanti yang sedang bergumam tidak jelas.
"Makasih sudah bantu aku, Mas," tutur Lilakanti setelah cukup tenang.
"Sama-sama," jawab Farisyasa. "Tadi itu, beneran mantan suamimu?" tanyanya.
"Ya."
"Cerainya sudah lama?"
"Sekitar setahunan."
"Karena septic tank?"
Lilakanti spontan tersenyum. "Ya, karena Mas Baron selingkuh dengan perempuan itu."
"Dia memang cantik."
"Hu um."
"Kamu juga."
"Masa?"
"Ya." Farisyasa mengedarkan pandangan ke sekeliling. "Teman-temanku membicarakanmu tadi. Dan aku baru tahu, kalau kamu itu sepupunya Harun," ungkapnya sembari memandangi pelaminan.
"Ya, Ayah kami bersaudara."
"Kita belum kenalan." Farisyasa mengulurkan tangan kanan. "Aku, Farisyasa," ucapnya.
"Aku, Lilakanti."
"Lengkapnya?"
"Lilakanti Risniar Danakitri."
"Namamu bagus."
"Makasih."
"Apa aku boleh menanyakan hal pribadi?"
"Silakan."
"Sekarang, apa kamu punya pacar?"
Lilakanti menggeleng. "Enggak ada."
"Kenapa?"
"Enggak ada waktu. Aku sibuk kerja dan mengurus anak."
"Berapa anakmu?"
"Satu." Lilakanti menunjuk seorang perempuan kecil yang sedang bermain bersama rekan-rekannya.
"Namanya?"
"Azrina Althafia."
Farisyasa manggut-manggut. "Apa aku boleh mengajukan satu pertanyaan lagi?"
"Ya."
"Apa kamu mau jadi kekasihku?"
Lilakanti membulatkan matanya. "Mas, kita baru kenal."
"Maksudku, kekasih pura-pura." Farisyasa mengamati perempuan yang balas menatapnya saksama. "Begini, aku hendak dijodohkan oleh orang tua. Karena aku nggak mau, jadi aku butuh seseorang untuk diperkenalkan sebagai kekasih, pada keluargaku."
"Oh, gitu. Aku sampai kaget."
"So, mau nggak?"
"Berapa lama harus drama kayak gitu?"
"Sampai orang tuaku menyerah dan membatalkan rencana perjodohan."
"Apa aku akan mendapatkan keuntungan?"
Farisyasa terdiam sejenak. "Kamu mau dibayar berapa?"
"Terserah Mas aja. Aku nggak mematok harga."
"10 juta, mau?"
"Ehh, nggak kebanyakan?"
Farisyasa mengangkat alisnya. "Katanya terserah aku."
Lilakanti menyunggingkan senyuman tipis. "Aku nggak tahu Mas mau nyebut angka segitu."
"Apa aku turunan jadi sejuta?"
"Ihh. Jangan, atuhlah. Sudah oke 10 juta."
Farisyasa tersenyum lebar. "Tapi, dengan harga segitu, nggak mungkin cuma perkenalan dengan keluarga aja."
"Maksudnya?"
"Aku mau yang lainnya."
Lilakanti tertegun sesaat, lalu dia bertutur, "Sepanjang bukan hal mes*um, aku mau."
"Enggak. Ini cuma tambahan aja."
"Oke, sebutkan."
"Kamu harus mendampingiku ke acara seperti ini. Dan beberapa acara penting lainnya."
Lilakanti mengangguk membenarkan. "Aku setuju."
"Minta nomor rekeningmu. Kutransfer separuh dulu. Sisanya setelah tugasmu selesai."
***
Hari berganti. Lilakanti kembali disibukkan dengan pekerjaannya di kantor EO ME di kawasan Soekarno-Hatta Kota Bandung. Perempuan berbibir penuh itu tidak mau bekerja sembarangan, karena dia ingin tetap dipercaya oleh kedua bosnya.
Siang itu, Lilakanti baru selesai salat Zuhur. Dia terkejut saat mendengar bunyi ponselnya yang diletakkan di meja. Perempuan berkemeja marun meraih benda itu untuk mengecek nama pemanggil. Kemudian dia menekan tanda hijau pada layar, lalu menempelkan ponsel ke telinga kanan.
"Assalamualaikum," sapa Lilakanti.
"Waalaikumsalam," sahut penelepon. "Lagi sibuk?" tanyanya.
"Enggak. Ini baru beres salat."
"Aku di tempat parkir depan kantormu."
"Ha?"
"Turunlah, dan ikut aku."
"Ke mana?"
"Nanti kujelaskan."
Tidak berselang lama, Lilakanti telah berada di lobi utama kantor. Dia menerangkan pada resepsionis jika dirinya hendak menemui teman di luar.
Setelahnya, Lilakanti melenggang menuju tempat parkir. Dia celingukan sesaat, sebelum melihat seseorang melambaikan tangan dari seunit mobil MPV hitam.
Lilakanti bergegas menuju kendaraan itu. Dia tercenung melihat merek mobil dan membatin, bila harga kendaraan itu pasti mahal.
Pintu bagian tengah terbuka dan Lilakanti memasuki kendaraan. Dia menyalami pria berkemeja biru muda tersebut, kemudian merapikan posisi tubuhnya agar duduk lebih nyaman.
Lilakanti memerhatikan pria berseragam safari hitam yang menjadi sopir. Dia menebak jika pria itu adalah ajudan Farisyasa, dan merupakan rekan kerja Harun.
"Kita mau ke mana, Mas?" tanya Lilakanti, sesaat setelah mobil melaju keluar area parkir.
"Butik punya Teh Renata," jawab Farisyasa.
"Ngapain?"
"Cari gaun bagus buatmu."
"Oh, aku sudah harus bertugas?"
"Ya. Nanti malam ada jamuan makan oleh orang tuaku, untuk merayakan hari ulang tahun pernikahan mereka."
Lilakanti manggut-manggut. "Banyakkah yang akan datang?"
"Lumayan. Biasanya keluarga besar datang semua."
"Berarti aku harus mempersiapkan segala sesuatu yang terbaik."
"Kamu pilih gaun, tas dan sepatu. Aku yang bayar."
"Barangnya nanti buatku, atau harus dikembalikan?"
"Buatmu saja. Enggak mungkin aku yang pakai." Farisyasa memandangi bahu ajudannya. "Di, atau kamu mau pakai?" selorohnya.
"Enggak, Pak. Makasih," balas Andi sembari terus menyetir.
"Kirain kamu mau nyoba jadi bences."
"Bisa-bisa aku dikemplang Bang Yudha dan Bang Halim."
"Nanti ditambahin taboknya Wirya, atau Zulfi."
"Ampun! Aku ngeri sama dua komandan itu."
"Kenapa?"
"Pokoknya ngeri aja. Sama semua Power Rangers."
"Mereka baik, Di. Kamu bisa tanya ke senior."
"Ya, Pak, tapi tetap aja, berhadapan dengan mereka itu bikin aku deg-degan."
"Payah."
"Jangankan mereka. Berhadapan dengan Bang Yusuf, Bang Aditya dan Bang Jauhari aja, lututku gemetaran."
"Lebai!"
"Itu karena kamu masih baru. Nanti kalau sudah kenal dekat, kamu pasti nggak takut lagi," sela Lilakanti.
"Ibu kenal dengan para Abang lapis tiga?" tanya Andi.
"Kenal, dong. Mereka, kan, sahabatnya Harun," terang Lilakanti.
"Ah, ya, aku lupa kalau Ibu sepupunya Bang Harun."
"Bagian itu, tolong dirahasiakan dari keluargaku, Di," pinta Farisyasa.
"Siap, Pak. Rahasia Bapak aman bersamaku," balas Andi.
"Sembunyikan juga dari para bos PC. Terutama Wirya. Dia itu selalu bisa mengendus rahasia," pungkas Farisyasa yang dibalas anggukan sang sopir.