Klung! Klung!
Gawai Arya berbunyi beberapa kali, tanda menerima rentetan pesan masuk dari w******p. Lelaki itu beranjak mengambil gawainya, lalu melirik ke arah layar. Jemarinya cekatan membuka layar kunci hingga memperlihatkan notifikasi pesan yang mengambang di atas layar.
"Astaghfirullah, aku lupa!" Air muka Arya terlihat panik setelah membaca pesan di gawainya.
"Ada apa, Mas?" tanya Alia tak kalah panik.
"Malam ini ada resepsi pernikahan rekan kantor. Cepat kamu siap-siap, Al. Kita berangkat sekarang!" jelasnya panik.
Lelaki itu tampak panik. Ia mengobrak-abrik tumpukan baju di lemari. Namun, Alia berhasil menetralkan keadaan dan mengambil kemeja batik untuk suaminya.
"Jangan diberantakin! Pakai ini, Mas. Nanti tunggu aku di bawah, ya," kata Alia sembari menyodorkan kemeja batik kepada Arya.
"Baik," jawab lelaki itu sembari menerima bajunya, lalu bergegas turun.
***
"Ayo, Mas! Aku sudah siap." Alia menghampiri Arya yang duduk di ruang tamu.
Arya menoleh ke arah sumber suara. Sejenak, ia tertegun. Matanya tak berkedip sedikit pun. Ada yang berbeda dari penampilan wanita itu.
"Cantik sekali, Sayang," gumam Arya tanpa sadar.
Melihat tingkah suaminya, Alia langsung menepuk pundak Arya pelan. "Apaan, sih, Mas? Ayo!"
Wajah Alia memerah. Ia tidak dapat menahan malu karena dipuji sang suami. Hati Alia berbunga-bunga. Hal itu tampak dari lengkung bulan sabit yang tersungging di bibirnya.
Memang, hari ini Alia terlihat cantik. Kaftan biru tua berhias pernak-pernik mutiara dibalut hijab senada makin menunjang kecantikannya. Tak lupa, ia mengenakan gelang dan cincin mutiara Lombok di tangan kanannya. Alia juga memoles wajah dengan riasan flawless, membuatnya terlihat anggun.
Arya meraih tangan Alia, lalu menggandengnya bak ratu sejagat. Alia hanya diam mengikuti alurnya. Kemudian, Arya membuka pintu mobil dan mempersilakan istrinya masuk.
Mesin mobil mulai menyala, bersiap membelah jalanan Kota Surabaya. Lampu di ruas jalan bekerlapan menambah romantisnya suasana malam ini. Sudah lima belas menit mobil kami membelah jalanan malam. Tak berapa lama, kami sampai di sebuah taman yang bertulis “Selamat Datang”. Berbagai karangan bunga bertulis “Happy Wedding” berjajar di sekitar taman.
"Ayo, Sayang!" Arya menggandeng tangan istrinya, lalu dibalas senyum oleh Alia.
Alunan musik jazz yang dimainkan makin menambah kadar keromantisan di taman ini. Beberapa pasangan tampak berdansa menikmati iramanya.
"Eh, Ar. Gue kira lo gak datang tadi," ujar lelaki itu sembari menepuk pundak Arya pelan.
"Sorry, tadi hampir lupa. Hahaha ...." Arya menjawab dengan terkekeh. "Perkenalkan ... ini istriku, Alia."
"Rino," ujarnya dengan mengulurkan tangan. Namun, tidak dibalas oleh Alia. Ia hanya merapatkan kedua tangan seraya tersenyum. Menyadari hal itu, Rino menarik tangannya kembali. "Gue duluan, ya!"
***
Alia mengedarkan pandang ke segala arah. Entah, siapa yang ia cari. Namun, sorot matanya berhenti ketika menatap seorang wanita berambut cokelat yang mengenakan dress kuning di atas lutut.
"Anita!" panggil seorang lelaki. Wanita itu menoleh, kemudian melambaikan tangan diiringi senyum merekah. Sedetik kemudian, mereka cipika-cipiki di depan umum.
"Astaghfirullahal'adzim ... tidak punya malu! Pantas saja lelaki tergoda, lha wong penampilannya terbuka begitu." Tanpa sadar, Alia melontarkan kalimat itu dari mulutnya. Hal itu membuat Arya menoleh, lalu menelusuri arah pandang istrinya.
"Anita?" tanya Arya tiba-tiba.
Spontan, Alia tersadar, lalu menoleh ke arah suaminya. Menyadari jika Arya tahu bahwa dia sedang memperhatikan Anita, Alia berusaha menetralkan suasana.
"Jangan dipandangi terus. Dosa!" celetuknya sambil bersedekap.
"Iiihh ... kamu cemburu, ya?" goda Arya setelah melihat bibir istrinya mengerucut. "Makin cantik kalau marah." Arya mencubit gemas pipi Alia. Tak dapat dimungkiri, hal itu membuat hati Alia berbunga-bunga. Akhirnya, canda tawa tak terelakkan dari keduanya.
"Sayang ... akhirnya kamu datang juga. Aku senang banget!" Suara itu terdengar tidak asing. Alia menoleh ke arah sumber suara. Ia terperangah ketika mendapati wanita lain memeluk suaminya dari belakang.
"Heh, apa-apaan ini, hah?" Alia geram, lalu melepas tangan wanita yang melingkar di pinggang suaminya. "Dasar wanita genit! Dalam suasana ramai, kau berani menggoda suami orang. Di mana hati nuranimu, hah?"
Kali ini, sikap Alia tidak seperti biasanya. Air mukanya berubah, tidak ada senyum yang menghiasi wajahnya lagi. Wajahnya memerah, tanda amarahnya memuncak. Napasnya menderu tak beraturan. Ia tidak memedulikan orang-orang yang mulai berkerumun.
"Kenapa? Kamu gak terima? Makanya, jadi perempuan yang bener, Mbak! Jadi perempuan kok mandul. Gak salah kalau suamimu jatuh ke pelukanku."
"Dengar baik-baik! Sebagai wanita, kau harus bisa menjaga muruah, Anita. Jangan seperti ini! Merebut suami orang, sama saja merendahkan harga dirimu. Apa kau tidak malu, hah?"
"Persetan! Banyak omong kau, wanita mandul!"
Plak!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kiri Alia. Namun, Alia tidak tinggal diam. Ia melayangkan tangan kanan dan mendaratkannya di pipi kiri wanita itu.
"Satu sama!" ujar Alia, "aku tahu, kalian pernah liburan bareng di Yogyakarta. Masuk ke kamar yang sama. Kalian sudah berbuat zina. Itu dosa besar! Oke, aku anggap Mas Arya khilaf waktu itu. Kalau sekarang dia melakukan hal bodoh lagi, tidak ada kata maaf untuknya. Aku tidak meridai hubungan terlarang ini. Camkan!" Telunjuk Alia mengarah ke wajah Anita. Ia bergeming sambil mengusap bekas tamparan Anita.
Alia menerobos kerumunan itu. Ia tidak menghiraukan Arya yang sedari memanggil. Hatinya terasa ngilu ketika suaminya bergeming melihatnya mempertahankan posisinya sebagai istri sah. Berbagai pikiran buruk terlintas di benak Alia.
"Tunggu, Sayang!" panggil Arya ke sekian kali. Namun, Alia tidak mengindahkan panggilan tersebut. Hatinya telanjur sakit.
"Untuk apa aku harus menunggu laki-laki yang bergeming mendengar istrinya dicaci oleh perempuan lain? Apa kau tuli, Mas? Anita menghina istrimu mandul di depan banyak orang. Aku malu, Mas!" Alia menangis di hadapan suaminya. Ia tak mampu menyembunyikan kesedihan mendalam.
"M-maafkan aku, Alia ...." Lelaki itu merengkuh tubuh mungil yang ada di hadapan. Perlahan, ia menaruh kepala Alia di d**a bidangnya. Tangannya mengusap puncak kepala istrinya, lalu mengecupnya beberapa kali.
"Kamu jahat, Mas! Sebagai suami, kamu tidak membelaku sedikit pun. Kamu membiarkan perempuan lain menghina istrimu," ucap Alia sambil memukul d**a bidang suaminya. Namun, Alia tidak mengusap air matanya sedikit pun. Ia membiarkan bulir bening itu jatuh bebas menggenangi pipi.
Arya melepas pelukannya, lalu mendongakkan wajah istrinya. Jemarinya mengusap sisa cairan bening yang menetes. Ia tahu bahwa hati Alia sangat sakit. Namun, ia tidak bisa berbuat banyak, hanya kata maaf yang terlontar dari bibirnya.
"Apa kau mencintai Anita?" Pertanyaan mengejutkan terlontar dari bibir Alia. "Jawab, Mas!" bentak Alia.
Lelaki itu hanya bergeming. Tidak ada jawaban yang terlontar dari bibirnya. Namun, sorot matanya menyiratkan jawaban lain.
"Baiklah, aku anggap itu sebagai jawaban. Diammu adalah jawabanmu. Itu berarti, kau juga mencintai Anita. Sungguh, aku tidak rela!" Alia tidak mampu menahan tangis. Hatinya terasa perih. Bahkan, lelaki itu tidak bisa jujur terhadap perasaanya sendiri.
"Bukan begitu, Sayang. Aku bisa menjelaskan semuanya."
"Lupakan! Ayo kita pulang!" Alia berjalan cepat, tak ingin bersebelahan dengan suaminya. Ia melangkah ke parkiran dan masuk mobil.
Selama perjalanan, Alia tidak berbicara sedikit pun. Matanya menatap lurus ke jalanan. Sesekali, ia memainkan gawai untuk menghilangkan rasa suntuk. Alia terkekeh kecil melihat video-video lucu yang bertebaran di beranda i********:.
Mendengar istrinya terkekeh, Arya langsung menoleh. Ia berusaha mengajak Alia mengobrol. Namun, wanita itu tidak menghiraukannya. Mengetahui bahwa Alia cuek terhadapnya, Arya hanya diam. Kemudian, ia beralih fokus ke jalanan.
***
Malam makin pekat. Rintik hujan turun beriringan membasahi halaman rumah. Hawa dingin menyeruak, menusuk tulang.
Alia menatap kosong langit-langit kamar. Ia masih memikirkan teka-teki yang menimpa rumah tangganya. Sebuah perkara kecil, tetapi berpotensi menghancurkan bahtera pernikahan yang selama ini Alia bangun. Alia tak habis pikir, bagaimana bisa suaminya tidak melakukan pembelaan ketika dia dicaci oleh Anita.
"Kamu belum tidur, Sayang?" Suara bariton tiba-tiba mengejutkan Alia. Ia menoleh ke arah sumber suara, ternyata Arya memperhatikannya sedari tadi.
"Belum," jawabnya singkat.
"Kenapa, Sayang? Apa ada sesuatu yang mengganjal di pikiranmu?"
"Banyak! Sudahlah, jangan sok manis! Aku ngantuk, Mas." Alia menghadap ke arah kiri, kemudian menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
Kini, posisi Alia menghadap ke jendela. Ia melihat rintik-rintik hujan yang masih menetes. Sesungguhnya, Alia mulai mengantuk. Namun, matanya tak dapat terpejam. Ia terus menatap butir-butir air yang terlihat dari luar. Tanpa sadar, matanya meredup.
***
Suara azan Subuh diiringi kokok ayam jantan terdengar bersahutan. Alia mengerjap, lalu mengusap matanya beberapa kali. Tangan kirinya meraih gawai yang berada di atas nakas. Jam menunjukkan pukul 04.25 WIB. Ia menoleh ke arah laki-laki di samping yang masih tertidur pulas. Alia menggoyang tubuh Arya beberapa kali. Akhirnya, Arya terbangun.
"Salat dulu, yuk!" ajak Alia ketika melihat Arya mengerjap.
"Hoamms ... ayo!" Arya bangun, lalu mengecup kening istrinya.
Alia hanya bergeming. Ia menatap punggung Arya yang makin menjauh. Meski sedang tidak enak hati, ia berusaha menetralkan perasaannya demi menjalankan kewajiban salat berjamaah.
Setelah semua siap, Arya mulai memimpin salat Subuh. Dua rakaat telah selesai, mereka tampak khusyuk berdoa kepada-Nya. Sekilas, Alia menitikkan air mata. Mungkin, ia sedang curhat permasalahannya kepada Yang Mahakuasa. Kemudian, Alia mengecup punggung tangan Arya sebagai tanda bakti seorang istri terhadap sang suami. Sedetik kemudian, Arya mendaratkan kecup hangat di kening Alia.