1. Sendiri

1163 Words
Panas terik membuat wajah wanita berkulit kuning langsat itu sedikit memerah. Handuk kecil yang dibawanya bahkan tak dapat menahan keringat yang mengucur deras di sekujur tubuhnya. Baju kebaya yang sedikit longgar, mulai basah di sekitar ketiak. Maya mulai merasa ringan menggendong bakul jamu di punggungnya, karena hampir habis. Terdengar suara klakson mobil berbunyi. Maya menepi, tapi bunyi klakson itu tak juga berhenti. Ia terpaksa menoleh. Sebuah mobil sedan mewah berwarna biru tua, berhenti tepat di sampingnya. Kaca pintu mobil itu terbuka secara otomatis. "Ah, bener 'kan tebakanku, Maya!" teriak wanita cantik berjilbab segitiga yang bermotif ramai itu menatapnya. Maya membulatkan mata. Ia tak bisa percaya dengan apa yang dilihatnya. Kembali ia bertemu dengan anak majikan sang ibu, padahal ia sudah berusaha kos di tempat yang agak jauh dari rumah tempat sang ibu bekerja, tapi nasib mempertemukan mereka kembali. "Ayo masuk!" Wanita cantik itu membuka pintu mobilnya lebar-lebar dan bergeser ke dalam. Ia mengajak Maya masuk. "Eh, tapi jualanku ...." "Udah, masuk aja." Wanita berkebaya itu terpaksa melepas bakul gendongannya dan membawa masuk ke dalam mobil. Ia menutup pintu. "Maya, kamu jualan apa sih? Jamu?" "Eh, iya, Kak." Wanita itu tergelak. "Kenapa jadi jualan jamu? Bukannya kamu sudah nikah? Apa suamimu semiskin itu?" Alika selalu saja begitu. Bertanya yang selalu merendahkan orang lain. "Eh, enggak, Kak. Jualan bakso." "Hah, jualan bakso bukannya lumayan ya? Kenapa istrinya jualan jamu juga?" Sedikit malu, Maya menjawab. "Sudah cerai, Kak." Supir Alika melirik dengan ekor matanya. 'Oh, sudah cerai. Manis juga.' Ia melirik Maya dari cermin kecil di atasnya. "Apes banget ya?" Wanita kaya itu tertawa. Namun kemudian, ia menoleh pada supirnya. "Eh, bengong! Pulang, Pak!" "Eh, iya, Bu. Maaf." Pria itu menaikkan kaca jendela di samping Maya secara otomatis dan mulai menjalankan mobil. Sebuah wajah kecil muncul di depan Maya. Wajah seorang anak laki-laki yang sedang memperhatikan wajahnya. "Itu anakku Ardha," sahut Alika yang ramahnya hanya sebentar. "Ardha! Duduk yang benar! Nanti Mama dimarahi Papa lagi kalau kamu jatuh!" Anak itu berpelukan pada sandaran kepala. Ia tetap ingin mengintip ke belakang. Rambutnya yang lurus berponi itu terlihat lucu di wajah kecilnya. Tiba-tiba wanita itu menutup hidungnya. "Ya ampun, Maya ... bau badanmu!" protes Alika. Ia mengibas-ngibaskan tangan di depan hidung. "Kamu ngak pake deodoran ya?" Supir itu melirik Alika kembali dengan ekor mata. Ia menghela napas, sedang anak kecil itu mengikuti ibunya. Bocah itu mengibas-ngibaskan tangan di depan hidung. "Bau." Melihat wajah anak kecil itu, Maya yang tadinya malu jadi tersenyum simpul. Alika bahkan karena tak tahan hingga membuka kaca jendela di sampingnya. Melihat itu, anak pembantu itu kembali serius. Ia menunduk malu. "Maaf." Maya tentu saja sudah memakai deodoran tapi panas terik tetap saja membuat keringatnya keluar banyak dan menutupi deodoran yang sudah dipakainya. Alika menatap Maya kembali. "Kenapa kamu cerai? Suamimu selingkuh?" Wanita berkebaya itu hanya melirik sekilas pada wanita cantik di sampingnya. Alika tertawa keras. "Makanya, cantik seperti aku. Suami gak bakal mau tinggalin istri seperti ini." Wanita itu tersenyum lebar setelah puas tertawa. Lalu ia berbisik. "Karena apa?" Maya tersenyum kecil membuat wanita kaya itu cemberut. Alika tak suka dibuat penasaran seperti ini. Ia mengerutkan kening. "Apa?" ulangnya. Karena anak pembantunya tak kunjung memberi jawaban, ia coba menebak-nebak. "Kamu mandul?" Tebakan yang tepat sasaran. Bahkan sopir yang menguping itu melirik wanita itu kembali lewat cermin kecil di atasnya, demi mengetahui kebenaran. "Masa?" Kedua netra Alika membola. Kembali ia tertawa mengejek. Maya bahkan harus menahan pedih karena ditertawakan. Wanita kaya itu memang selalu senang menertawakan kemalangan orang lain. Sejak dulu. Mereka sebenarnya sebaya. Maya lahir di rumah besar milik orang tua Alika. Ia belum pernah melihat ayahnya karena telah meninggal sebelum ia dilahirkan. Karena itu ibunya menjadi pembantu di rumah itu untuk menafkahi mereka berdua. Namun orang tua Alika sangat baik. Mereka menyekolahkan Maya di sekolah yang sama dengan Alika. Ibu dan orang tua Alika tidak pernah tahu, bahwa Alika sering mem-bully Maya. Bahkan di sekolah. Semua orang tahu Maya adalah anak pembantu Alika. Anehnya, Alika tidak mengizinkan orang lain mem-bully Maya selain dirinya. Pernah ada yang mem-bully anak pembantunya itu di sekolah dan berakhir dengan anak itu dilaporkan ke guru tentang tindakannya itu, dan mendapat skors dari sekolah. Tanpa disadari, mobil sampai di depan sebuah rumah mewah. Maya menatap pintu gerbang yang tinggi itu. Ia sering melewati rumah besar ini setiap berkeliling jualan jamu dan ia tak menyangka kalau rumah ini adalah rumah anak majikannya itu. Ketika satpam yang menjaga pintu gerbang melihat mobil itu, pintu gerbang kemudian dibuka lebar. Mobil berhenti di depan pintu utama. "Ayo, main ke rumahku," sahut wanita kaya itu membuka pintu mobil, sedang sopir membukakan pintu untuk si kecil. Bocah itu melompat keluar dan menaiki tangga. "Hei, Ardha, jangan lari!" teriak Alika. Namun bocah itu tak mendengarkan. Saat Maya keluar sambil membawa bakul jamunya, bocah itu terpeleset di tangga. Ardha menangis. "Syukur!" Alih-alih menolong, wanita kaya itu tertawa. Alika tak peduli. Ia melangkah menaiki anak tangga yang rendah itu dengan senyum mengejek pada anaknya yang menangis di lantai. Ia melewatinya dengan dingin. Maya yang melihat keegoisan Alika, segera meletakkan bakul jamunya di lantai dan menolong Ardha. Ketika dibantu berdiri, bocah itu masih tetap menangis. Wanita itu terpaksa menggendongnya. "Jangan dimanja, anak cengeng itu!" ledek Alika dengan pedas. Ia masuk ke dalam rumah dengan Maya mengekor di belakangnya. Ardha karena ditolong, ia menyandarkan kepalanya di bahu Maya, dengan tangis yang sudah berhenti. Ia merasa tenang setelah dibela sang wanita penjual jamu itu. Keduanya terus melangkah sampai ke dapur. Alika menurunkan bocah itu dari gendongan Maya. "Kamu bikin minum sendiri ya? Pembantuku pulang, soalnya." "Oh, tidak apa-apa. Aku air putih saja." Wanita berkebaya itu tak mau merepotkan. Alika malah cemberut. "Aku mau teh manis. Buatkan sekalian!" "Oh, iya, iya ...." Serba salah, Maya bergegas mencari cangkir, sedang nyonya rumah itu membawa anaknya mendekati lemari es. Alika mengeluarkan su.su kotak untuk Ardha. Setelah memasangkan sedotan, bocah kecil itu meminum s**u dinginnya sambil memperhatikan Maya membuat teh hangat. Wanita penjual jamu itu melirik Ardha sekilas. "Kak, masa masih kecil dikasih s**u dingin? Kakak ngak bikin su.su hangat untuk dia?" "Ck, malas! Yang penting dikasih su.su, iya 'kan? Pembantu gak ada di rumah. Memang kamu mau gantiin?" "Oh!" Wanita kaya itu menjentikkan jarinya dengan wajah sumringah. "Bagaimana kalau kamu saja yang menggantikan pembantuku yang pergi itu?" Wanita berkebaya yang sedang menuangkan air panas pada cangkir itu, terkejut. "Ah, te-terima kasih, Kak. Tapi aku ingin jualan jamu saja, Kak. Cukup." "Apa kamu bodoh? Bukannya gaji pembantu lebih tinggi dari hasil jualan jamu? Sudah, jadi pembantuku saja! Kerjamu ringan kok. Cuma masak sama ngurus anak-anak." 'Kembali bersama dia? Ini gila namanya!' "Ah, enggak," ucap wanita berkebaya itu sedikit bergumam. Maya meletakkan cangkir teh hangat di atas sebuah meja dekat Alika duduk. "Ck, ah! Jangan sungkan-sungkan! Kamu 'kan sudah terbiasa denganku. Jadi sudah tahu mauku. Sudah, kamu kerja saja denganku mulai hari ini," ujar wanita kaya itu tanpa mau mendengarkan alasan Maya. Ketika sopirnya datang ke dapur membawa bakul jamu Maya yang ketinggalan, nyonya rumah itu langsung menyuruh sopir itu membantu Maya. "Eh, Pak Bardan ...."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD