Daren menelan ludah, tampak bingung menjawab. Ia masih menatap Arnie yang malam ini begitu cantik dengan gaun putih melekat di tubuhnya, dekorasi ruangan yang tampak romantis dengan kelopak bunga mawar di lantai, meja makan yang dihias lilin putih, Daren tahu Arnie menyiapkan semua itu dan menunggunya pulang. "Aku ingat, tapi tadi aku harus temenin kak Maya. Ada acara temennya. Cuma sebentar." jawab Daren datar seolah tanpa rasa salah pada Arnie. Arnie menatap jam di dinding. "Sebentar? Aku menunggu kamu dari jam sembilan sampai jam setengah dua belas, Mas." Maya buru-buru menambahkan, "Maaf, Arnie... aku yang bikin dia lama. Aku ditahan temen-temen." Arnie mengangguk pelan, seolah memahami, padahal ia jauh dari itu. Matanya menatap Daren, perlahan senyumnya pudar. "Aku nunggu kamu d

