‘Maafkan aku Pak Martin, aku harus melakukan itu di hadapan Bapak, agar Bapak bisa segera melupakan aku dengan rasa sakit yang Bapak terima hari ini. Tidak apa-apa jika saja Bapak memandangku seperti wanita ja***g atau bahkan pela*** yang menjual diri pada konglomerat! Tidak apa-apa, asal Bapak selamat!’ jerit batin Shakira yang berkecamuk tak karuan. Sambil menyisakan tangisnya, ia memasuki sebuah kamar kosong yang ada di lantai dua. Ia sengaja memilih kamar dengan posisi terjauh di rumah itu, agar ia bisa menenangkan dirinya tanpa gangguan siapa pun, terutama Axel. Hatinya benar-benar remuk redam. Shakira yang dulu memang sempat jatuh cinta pada Martin yang tampan, dewasa dan sangat bertanggung jawab itu kini harus mengubur rasa cintanya dalam-dalam. Walaupun begitu ia sangat tahu diri

