Matahari perlahan menurun tak lama setelah menyinari hamparan bumi, cahaya senja berwarna kuning keemasan menyelinap masuk melalui celah jendela tepat di loteng tempat Bambang mengistirahatkan dirinya.
Samar terdengar suara motor yang di gunakan oleh Pak Satria dan berhenti di depan rumah kediamannya dan anak laki-lakinya, yaitu Bambang.
Bambang yang masih dengan mata terpejam pun menyadari bahwa jika ayahnya itu sudah pulang ke rumah artinya hari sudah menjelang sore.
Bergegas Bambang beranjak duduk dari tempat tidurnya dan sembari berkata dalam hati sambil tersenyum semangat, "Wah, ayah sudah pulang...." Bambang pun berniat turun dari loteng dan segera menemui ayahnya.
Namun sebelum Bambang turun, tiba-tiba samar terdengar suara Nek Mirah yaitu neneknya Bambang dari depan pintu rumah kediamannya, sehingga Bambang pun mengurungkan niatnya untuk turun dan bermaksud ingin menguping pembicaraan antara ayah dan neneknya itu.
"Satria... Satria..." panggil Nek Mirah sambil dengan perlahan memasuki rumah.
"Ya Bu, ada apa?" tanya Pak Satria seketika memalingkan tubuhnya ke arah pintu depan rumah saat ia hendak berjalan menuju dapur kemudian berjalan menghampiri Nek Mirah, ibunya Pak Satria.
"Ke sini sebentar, ada yang mau ibu ngomongin sama kamu," ucap Nek Mirah pelan seraya duduk di atas sofa di ruang tamu.
"Ya Bu..?" ucap Pak Satria pelan setelah duduk di atas sofa berhadapan dengan Nek Mirah.
"Ibu mau ngomongin soal Bambang..." ucap Nek Mirah pelan.
"Bambang kenapa?!" Sontak Pak Satria langsung berdiri dan berkacak pinggang.
"Ini... Ibu ada rencana mau ajak Bambang buat ngelamar Lala," sahut Nek Mirah pelan, "Udaaahhh, kamu jangan langsung marah begitu...."
"Ngelamar siapa?!" sentak Pak Satria lagi.
"Lala..." jawab Nek Mirah.
"Lala siapa, Bu?" tanya Pak Satria kemudian perlahan duduk kembali di atas sofa sambil mengerutkan kedua keningnya.
"Lala itu anaknya Didin, sepupu kamu," jawab Nek Mirah.
"Didin...?" ucap Pak Satria lirih sambil menyeret bola matanya ke arah kiri untuk berpikir mengingat nama yang tidak asing di telinganya, "Oooh, Didin yang guru ngaji itu, Bu?" lanjut Pak Satria setelah mengingat.
"Iya betul..."
"Ibu sudah ngasih tau Didin belum kalau mau ke sana?"
"Belum... Ibu belum ngasih tau Didin kalau mau ke sana.." jawab Nek Mirah, "Tapi, ibu tau kalau jam segini dia masih ada di rumah," lanjut Nek Mirah.
"Gini Bu..." Pak Satria mulai menunjukkn wajah serius menatap Nek Mirah yaitu ibunya sekaligus neneknya Bambang, "Gaji Bambang emangnya berapa Bu, buat dia sendiri aja masih belum cukup, apalagi buat kasih makan anak orang," lanjut Pak Satria.
"Siapa tahu kalau dia udah punya istri bisa cukup, istrinya kan bisa bantu ngatur keuangan," sahut Nek Mirah.
"Iya kalau cukup, kalau enggak!?"
"Ah kamu ini, mikirnya nggak cukup terus... Kalau kamu mikir nggak cukup terus, kapan Bambang bisa punya istri....?!" sahut Nek Mirah, "Umurnya juga udah tua, kasian nggak ada yang ngurusin.." lanjut Nek Mirah.
"Terus anaknya Didin mau nggak sama Bambang?" tanya Pak Satria.
"Ya enggak salahnya kalau ke sana dulu, kan bisa sekalian silaturahmi..." sahut Nek Mirah.
Pak Satria pun terdiam sejenak sambil menghela nafas, "Aku panggil Bambangnya dulu, Bu...." Pak Satria pun beranjak dari sofa kemudian berjalan ke arah tangga di mana tangga itu tepat menuju ke loteng di mana Bambang berada, "Mbang... Bambang..." panggil Pak Satria sambil berdiri di depan tangga.
Bambang yang sejak tadi menguping pembicaraan antara ayah dan neneknya itu pun bergegas turun setelah di panggil ayahnya.
"Ya, Yah..." ucap Bambang sambil melangkah menuruni satu per satu anak tangga.
Pak Satria pun kembali duduk di sofa berhadapan dengan Nek Mirah.
"Kesini Mbang..." panggil Nek Mirah pelan sambil menepuk sofa di samping tempat duduknya.
Bambang pun dengan hati-hati duduk di samping neneknya.
"Kamu punya tabungan berapa?" tanya Nek Mirah pelan seketika menoleh ke arah Bambang.
Bambang pun menggeleng menjawab pertanyaan dari neneknya itu.
"Ya iyalah, kembalian yang kemarin aja pas nambal ban dia belum kembaliin, apalagi tabungan..." sergah Pak Satria.
Nek Mirah pun terdiam sejenak sambil menghela nafas, kemudian menoleh ke depan tepat menatap Pak Satria.
"Uang saya juga kayaknya belum cukup buat modal Bambang nikah, Bu," ucap Pak Satria seketika karena faham Nek Mirah akan menanyakan masalah uang kepadanya, "Kalau kamu memang serius mau nikah, mending kamu kumpulin dulu uangnya buat nikah," sambung Pak Satria sambil menatap Bambang yang duduk di samping Nek Mirah.
"Nah, benar apa kata ayahmu, Mbang," sahut Nek Mirah sambil menoleh ke arah Bambang, "Sebaiknya kamu kumpulin uang dulu, di tabung... Kalau nanti tabungan kamu itu sudah cukup, Nenek sama ayahmu pasti nemenin kamu buat ngelamar Lala..." lanjut Nek Mirah dengan jelas.
Bambang pun tertunduk lesu, "Yaah, enggak jadi ke rumah Lala dong..." gumamnya dalam hati.
"Kamu hari ini sift malam, kan?" tanya Pak Satria.
Bambang mengangguk tanpa mengucapkan satu patah katapun.
"Ya sudah, kamu mandi dulu deh, sayang kan kalau telat," tambah Nek Mirah kemudian perlahan beranjak dari sofa, "Nenek mau pulang dulu, kasian tuh di rumah ada tamu nggak nenek samperin," sambung Nek Mirah sambil melangkah keluar dan langsung berjalan menyeberang jalan menuju ke rumah kediaman beliau.
"Kalau kamu memang benar mau nikah, sebelum itu kamu harus mikir matang matang, sanggup nggak ngasih makan anak orang," ucap Pak Satria pelan setelah melihat Nek Mirah pulang ke kediaman beliau.
"Hhmm." jawab Bambang singkat sambil mengangguk.
"Ini kamu mau mandi nggak?" tanya Pak Satria sambil berandak berdiri.
"Iya, mandi," jawab Bambang singkat kemudian beranjak berdiri lalu dengan lesu berjalan menuju kamar mandi di rumah kediamannya.
Pak Satria pun kembali duduk di atas sofa sambil memegangi dahinya, "Haduh haduh, ada-ada aja..." ucapnya lirih sambil menggeleng.
Sementara itu tepat di dalam kamar mandi, Bambang masih terlihat lesu sambil memandangi wajahnya di depan cermin di dalam kamar mandi.
"Ngomongnya nggak punya uang, padahal ada..!" gerutu Bambang kesal, "Kalau gini aku jadi males mandi..." gerutunya lagi.
"Mbang, kalau mandi cepetan dikit... Ayah juga mau mandi nih!!" teriak Pak Satria terdengar dari balik pintu kamar mandi di mana Bambang berada di dalamnya.
"Iya..." sahut Bambang kemudian mengambil air menggunakan gayung lalu mengguyurkan ke wajahnya, "Cuci muka aja deh," gumam Bambang dalam hati.
Tak lama kemudian, Bambang pun keluar dari kamar mandi.
"Kamu enggak jadi mandi, Mbang?" tanya Pak Satria yang sejak tadi menunggu Bambang di depan kamar mandi.
"Mandi kok.." sahut Bambang seketika lewat di depan ayahnya dan langsung menuju ke loteng.
Pak Satria pun bingung sambil menatap anaknya yang lewat di depannya itu, "Katanya mandi, tapi kok rambutnya nggak basah?" gumam Pak Satria dalam hati sambil melangkah masuk ke dalam kamar mandi, "Bambang... Bambang..." ucapnya lirih sambil menggeleng lalu menutup pintu kamar mandi.
Sementara itu sesampainya Bambang di atas lotengnya, ia langsung kembali merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur sambil menatap layar smartphone yang di pegangnya.
"Sabar ya, Lala sayang... Aku ngumpulin uang dulu..." ucap Bambang lirih sambil tersenyum sendiri.
Kemudian Bambang seketika beranjak duduk dan tetap memandangi layar smartphonenya dan dengan tatapan serius.
"Tenang aja, aku pasti berusaha biar enggak telat masuk kerja lagi supaya gajihku enggak di potong, biar aja nggak mandi nggak apa-apa, yang penting aku bisa cepat ngumpulin uang buat ngelamar kamu...."