Bambang memperlambat laju motornya memasuki halaman di depan rumah kediaman Lala, kemudian berhenti tepat di depan rumah dan memarkirkan motor matiknya di sana.
Lala turun dari motor Bambang, "Mbang, makasih ya," ucap Lala kemudian berniat untuk masuk ke dalam rumah kediamannya. Namun, Bambang masih saja duduk di atas 'Kuda Hijau-nya' yang terparkir di halaman rumah sambil menunggu sampai Lala masuk ke dalam rumah kediamannya.
Lala berniat membuka pintu kemudian menoleh ke belakang dan melihat Bambang yang ternyata masih berada di depan rumah kediamannya, sontak ia pun langsung memalingkan wajahnya kembali ke arah pintu depan rumah, "Loh, kok dia masih disitu sih!" gumam Lala dengan raut wajah masam. Kemudian Lala kembali menoleh ke belakang dan masih saja melihat Bambang, bahkan Bambang tampak tersenyum sambil melambaikan tangan ke arahnya. Lala pun memaksa bibirnya untuk tersenyum sambil mengangguk pelan, "Dia mau ngapain sih?!" gumam Lala lagi seketika mengerutkan kedua keningnya. 'Apa dia mau mampir ya?! Iiihh, enggak, enggak, enggak!' Lala memikirkan maksud Bambang yang masih saja berada di depan rumah, "Enggak enak juga kalau dia emang mau mampir, dia kan udah mau ngantar aku nyampe rumah. Ya udah, samperin aja deh!" ucap Lala lirih kemudian berjalan ke halaman untuk menghampiri Bambang dan mengurungkan niatnya untuk segera masuk ke dalam rumah kediamannya.
"Lala..." Dengan senyum lebar Bambang menatap Lala yang berdiri di depannya.
"Kamu mau langsung pulang aja atau mau mampir ke rumah dulu?" tanya Lala seketika dengan raut wajahnya yang menunjukkan senyum terpaksa sambil berkata dalam hati, "Duuh, mudah-mudahan aja dia nggak kepengen mampir!" gumam Lala penuh harap.
Namun, Bambang langsung mengangguk cepat ketika mendengar tawaran Lala yang mengajaknya untuk mampir dulu ke rumahnya, "Iya La, boleh." Bambang dengan segera turun dari motor matik berwarna hijaunya itu.
Lala pun seketika menghela napas panjang karena kecewa dengan jawaban Bambang yang tidak sama seperti yang dia harapkan, "Oh, ya udah masuk dulu..." ucap Lala mempersilahkan kemudian berjalan lebih dahulu untuk masuk ke dalam rumah dan Bambang mengikutinya dari belakang.
"Kamu duduk dulu ya di sana, Mbang. Aku ke dapur bikin minum dulu," ucap Lala mempersilahkan sembari menunjuk ke arah sebuah sofa panjang yang ada di ruang tamu kemudian berjalan masuk ke dalam meninggalkan Bambang sendirian di ruang tamu.
Bambang duduk di atas sofa dan menunggu Lala yang belum juga datang, "Kok lama banget ya?" gumam Bambang dalam hati.
Tidak lama kemudian saat Bambang duduk di ruang tamu sambil menunggu Lala, ia melihat Sindi yang masuk ke dalam rumah dengan menggendong seorang bayi perempuan.
Bambang menyunggingkan senyumnya mengikuti ke arah Sindi yang berlalu masuk ke dalam. Namun, Sindi hanya membalas senyuman dengan setengah di paksakan dan terlihat dari raut wajahnya yang seperti tidak suka dengan kehadiran Bambang.
Lala berjalan dari dalam menuju ke ruang tamu dengan membawakan segelas minuman yang di taruhnya di atas nampan dan berpapasan dengan Sindi yang masuk ke dalam.
"Dari mana, Sin?" tanya Lala seketika menghentikan langkahnya.
"Abis ngajak anak aku keliling!" jawab Sindi singkat dan melewati Lala.
Lala pun heran dan berpikir tentang tingkah Sindi tadi yang seolah-olah kesal akan sesuatu, "Sindi kenapa sih?! Ah, nggak usah dipikirin deh!" Lala berusaha untuk tidak memikirkannya dan kembali lanjut berjalan menuju ke ruang tamu untuk mengantarkan minuman kepada Bambang.
"Ini Mbang, silahkan di minum dulu," ucap Lala, "Maaf ya Mbang, udah nunggu lama, soalnya tadi aku mandi dulu," sambung Lala dengan santai kemudian duduk pada sofa yang letaknya berseberangan dengan tempat duduk Bambang.
Bambang tersenyum lebar ke arah Lala, "Iya La, nggak apa-apa," sahut Bambang cengengesan, "Oh iya, perempuan yang lewat tadi itu, adik kamu atau kakak kamu, La?" tambah Bambang bertanya kepada Lala tentang Sindi yang baru saja lewat sambil menggendong anaknya tadi masuk ke dalam.
"Adik aku, emangnya kenapa?" sahut Lala kemudian balik bertanya kepada Bambang.
"Nggak... Aku kirain dia tadi itu kakak kamu, La. Soalnya kan, dia udah punya anak, sedangkan kamu nikah aja belum," jawab Bambang dengan tingkah polosnya sambil tersenyum cengengesan.
Lala mengangkat bibir atas sebelah kanannya dan raut wajahnya pun langsung berubah merangut karena mendengar jawaban yang diucapkan Bambang. "Weeh... Itu kan, karena emang dia kepengen nikah duluan," sahut Lala kesal.
"Emangnya kenapa nggak kamu aja yang nikah duluan, La?" tanya Bambang lagi tetap dengan nadanya yang polos.
"Nanti aja lah, aku kan masih pengen kerja cari uang yang banyak, biar sukses!" jawab Lala ketus.
"Jadi, kamu nggak pengen nikah, La?" tanya Bambang lagi karena penuh dengan rasa penasaran yang menyelubungi hati dan pikirannya.
"Ya pengen lah! Masa nggak pengen nikah!" sahut Lala lagi masih dengan kesal seketika memalingkan wajahnya.
"Emangnya kamu maunya nikah sama siapa sih, La?" tanya Bambang lagi dengan raut wajah yang penuh selidik.
"Hmm...." Lala terdiam sejenak sambil memikirkan dan membayangkan wajah seorang laki-laki yang saat ini mulai mengganggu pikirannya. Hatinya pun seketika bergejolak dan wajahnya juga tampak memerah karena menahan malu, "Adalah, pastinya dia adalah orang yang aku sukai," jawab Lala tersenyum malu, "Udah ah! Kok kamu nanya mulu Mbang kayak detektif aja!" sambung Lala ketus.
Mendengar jawaban yang diucapkan Lala tadi, Bambang langsung tersenyum lebar sambil berbisik di dalam hatinya, "Wah, Lala ngasih sinyal nih ke aku, wajahnya aja jadi merah gitu waktu aku tanyain soal cowok yang dia suka."
"Woi, Mbang! Kok kamu jadi senyum-senyum sendiri begitu?" tanya Lala seketika karena merasa aneh dengan tingkah Bambang yang tersenyum sendirian.
"Eh! Enggak, La... He...." Bambang tersentak seketika tersenyum malu sambil menggaruk kepalanya.
"Ya udah, cepet abisin minumannya, terus kamu pulang. Kan, kamu masih sakit. Kasian entar ayah sama nenek kamu bisa khawatir," ucap Lala yang memang mengharapkan agar Bambang cepat-cepat pergi dari rumah kediamannya.
Namun, Bambang malah menganggap bahwa Lala memberi perhatian kepadanya. "Iya, La," sahut Bambang dengan pasti kemudian meraih gelas dan meneguk air di dalam gelas itu sampai habis.
Lala tampak senang karena rencananya agar bisa membuat Bambang cepat pulang akan berhasil.
"Ya udah, aku pulang dulu ya, La," ucap Bambang sembari kembali meletakkan gelas ke atas meja kemudian beranjak dari sofa.
Namun, tiba-tiba Pak Didin yang merupakan ayah Lala masuk dari luar rumah dan langsung menghampiri Bambang, "Eeh, Bambang?!" sapa Pak Didin sembari tersenyum dan Bambang membalas tersenyum sembari mengangguk pelan.
Seketika raut wajah Lala berubah drastis seratus delapan puluh derajat karena rencananya digagalkan oleh ayahnya sendiri, "Iiiiih! Bapak kok datang di waktu yang nggak tepat begini!" gumam Lala kesal.
"Silahkan duduk, Mbang," ucap Pak Didin malah kembali mempersilahkan Bambang untuk duduk.
"I-iya..." Bambang mengangguk pelan kemudian kembali duduk di sofa.
"Udah lama?" tanya Pak Didin kemudian duduk di samping Lala.
"Baru aja, Om," jawab Bambang sedikit malu dan masih diikuti dengan anggukan kepala yang pelan.
"Dari mana?" tanya Pak Didin lagi.
"Dari pasar, Om," jawab Bambang lagi dengan raut wajah yang masih sedikit malu dan tetap diikuti dengan anggukan kepala yang pelan.
"Loh, kok dari pasar? Kenapa enggak dari rumah?" tanya Pak Didin lagi.
"Eeee.... Tadi, saya sekalian nganterin Lala pulang, Om," jawab Bambang lagi tetap dengan raut wajah dan gerak tubuh yang sama.
"Loh, kok bisa?"
"Eee... Aaa...." Bambang tampak bingung menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Pak Didin ayahnya Lala, "I-iyaaa bisa, Om," sahut Bambang seketika dengan nada polosnya.
"Enggak... Maksud om, kamu kok bisa, emangnya ketemu Lala dimana?" ucap Pak Didin memperjelas pertanyaan yang di lontarkannya kepada Bambang.
"I-iyaaa di pasar, Om," sahut Bambang lagi tetap dengan nada polosnya.
Posisi bingung pun berbalik menghampiri Pak Didin yang tampak pelan menggaruk pelipis sebelah kanan dengan jari telunjuk sebelah kanan tangannya.
"Ya udah, Om mau mandi dulu, ya," ucap Pak Didin sembari beranjak dari sofa, "Kalian ngobrol aja dulu," tambah Pak Didin kemudian melangkah ke dalam dan meninggalkan Bambang bersama Lala di ruang tamu.
Lala menghela nafas lega setelah ayahnya masuk ke dalam untuk mandi. "Ya udah, kamu cepet-cepet pulang, Mbang. Entar Bapak aku malah balik lagi," ucap Lala seketika.
"I-iya..." Bambang pun kembali beranjak berdiri lalu hendak melangkahkan kakinya menuju ke pintu keluar. Namun, Pak Didin datang kembali dan langsung menghampiri Bambang.
"Loh, kok Bapak nggak jadi mandi?" tanya Lala seketika.
"Iya, nunggu Sindi selesai mandiin anaknya dulu," jawab Pak Didin kemudian kembali duduk di atas sofa tepat di samping Lala.
"Eerrrgggh!" Lala menggigit bibir menahan emosinya.
Pak Didin menatap Bambang yang sedang berdiri, "Duduk, Mbang..." ucap Pak Didin malah kembali mempersilahkan Bambang untuk duduk.
"I-iya..." Bambang pun mengangguk pelan dan kembali duduk.
"Gimana kabar nenek kamu?" tanya Pak Didin.
"Baik, Om," jawab Bambang dengan nada polos sembari mengangguk.
"Alhamdulillah... Terus, siapa itu namanya, om lupa." Pak Didin mengingat-ingat nama yang ingin diucapkannya.
"Siapa Pak?" tanya Lala seketika.
"Itu, sepupu kamu yang tinggal bareng sama nenek kamu itu siapa namanya, om lupa.."
"Owel, Om," jawab Bambang.
"Naaah, iya, Owel..." Pak Didin mengangguk, "Gimana tuh Owel? Katanya dia udah mau buka bengkel sendiri ya?"
"E-e-enggak tau saya, Om," sahut Bambang tersenyum cengengsan.
Tiba-tiba dari dalam terdengar suara Sindi yang memanggil Pak Didin.
"Pak! Aku udah kelar nih!" teriak Sindi dari dalam.
"Iya...!" sahut Pak Didin yang kemudian beranjak dari sofa, "Om mandi dulu ya, Mbang..." Pak Didin melangkah kembali masuk ke dalam.
"Huuuuuhh...." Lala menghela nafas panjang merasa lega karena ayahnya kembali ke dalam, "Ayo, Mbang... Cepetan..." Lala menarik tangan Bambang langsung menuju ke arah pintu keluar.
Sontak Bambang merasa sangat bahagia dan sekujur tubuhnya seketika menjadi panas dingin tidak karuan karena tangannya yang dipegang oleh Lala.
"Ayo... Cepetan..." ucap Lala memaksa Bambang untuk segera pulang.
"I-i-iya, La..." sahut Bambang terbata-bata karena badannya gemetar saat tadi tangannya dipegang Lala.
"Loh, kok badan kamu getar-getar gitu sih? Wajah kamu juga pucat gitu?" tanya Lala heran.
"A-aku e-e-eng-eng-enggak apa-apa kok, La," sahut Bambang terbata-bata dan badannya semakin bertambah gemetar.
"Ooohh, aku tau... Sakit kamu kambuh lagi kayaknya deh, Mbang!" seru Lala seketika, "Ya udah, pulang gih cepet-cepet... Entar kalau kesorean kamu malah masuk angin..." ucap Lala.
"I-iya, a-a-aku pu-pu-pu-pulang dulu ya, La," sahut Bambang masih terbata-bata berpamitan kepada Lala.
Dengan langkahnya yang gemetar Bambang berjalan menghampiri motor matiknya di halaman depan rumah kediaman Lala, lalu berpaling menatap ke arah pintu depan rumah, tapi ia tak melihat Lala lagi di depan pintu. "Oh, mungkin Lala malu ya sama aku, jadi dia cepet cepet masuk," pikir Bambang kemudian menaiki 'Kuda Hijau-nya'.
"Duuuh senangnya...." Raut wajah Bambang tampak semringah sembari mengingat-ingat lagi lontaran kata-kata Lala yang dia anggap memberi perhatian kepadanya dan juga mengingat-ingat lagi rasa dari pegangan tangan Lala yang dengan sangat jelas menyentuh tangannya.
Sementara itu, Lala mengintip dari balik gorden jendela di depan rumah dan melihat tepat ke arah Bambang yang masih saja berada di halaman depan rumah kediamannya, "Kok dia belum pergi aja sih!?" ketus Lala lirih kemudian terdengar suara khas dari bunyi mesin motor matik Bambang yang dihidupkan dan melihat Bambang yang sudah pergi menjauh dari rumah kediamannya.
"Oy! Ngapain?!" Tiba-tiba Sindi mengejutkan Lala.
Sontak Lala pun langsung berbalik ke belakang tepat berhadapan dengan Sindi adiknya, "Sindi!!!" teriak Lala kesal sambil mencubit pipi adiknya itu.
"Hayo loh... Ngapain tadi ngintip-ngintip?" tanya Sindi dengan nada mengejek.
"Iiiiuuhhh...!" Tubuh Lala seketika bergidik geli kemudian dengan cepat menjauh meninggalkan Sindi dan berjalan menuju ke kamarnya.
"Iih, kak Lala...." Sindi mengejar Lala hingga ke kamarnya.
***
Raut wajah Bambang tambah berseri-seri ketika mengingat-ingat lagi kejadian barusan yang tadi di alaminya, "Kulit tangan Lala kasar sih, tapi aku suka.. Hihi." Bambang tertawa kecil sembari menurunkan standar satu kaki pada motor matiknya yang berwarna hijau itu setelah dengan rapi memarkirkannya di depan rumah kediamannya.
"Widiiihh... Dari mana aja lu, Mbang?" sapa Owel yang sedang duduk nongkrong bersama beberapa temannya di depan rumah kediaman Bambang sambil memainkan gitar miliknya.
Namun, Bambang langsung berlalu masuk ke dalam rumah dan tidak menjawab pertanyaan dari Owel. "Kesal banget aku ngeliat wajahnya itu!" Bambang menggerutu saat masuk melewati pintu depan rumah kediamannya, "Pengen tau urusan orang aja! Ngurus diri sendiri aja masih belum becus!" Bambang menggerutu lagi seketika duduk di atas sofa ruang tamu.
"Dari mana aja kamu, Mbang?!" tanya Pak Satria dengan nada tinggi tiba-tiba mendatangi Bambang.
"Aku tadi dari ru...."
"Kamu sadar nggak kalau kamu itu lagi sakit!" pungkas Pak Satria membentak seketika memotong perkataan Bambang. "Terus, gimana kalau kamu nggak sembuh sembuh!" bentak Pak Satria lagi. "Kamu mau, libur kerja terus?!"
Dari seberang rumah, Nenek Mirah langsung mendatangi ketika mendengar Pak Satria yang memarahi Bambang.
"Udah, Sat... Udah... Mungkin enggak ada salahnya.. Kali aja Bambang bosan di rumah terus. Makanya dia keluar jalan-jalan, biar nggak stres," ucap Nenek Mirah seketika menyabari Pak Satria yang masih terlihat marah, "Ya sudah, Mbang. Cuci tangan sama kaki kamu gih... Terus istirahat," ucap Nenek Mirah lagi.
"I-iya, Nek..." Bambang seketika beranjak dari sofa dan langsung berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci tangan dan kakinya, kemudian langsung menuju ke tangga dan menaikinya sampai tiba di lotengnya untuk beristirahat, "Huh! Aku kan, udah besar... Masa dianggap kayak anak kecil mulu!" gerutu Bambang kesal seketika menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur. "Ah, biarin aja...!" Wajah Bambang langsung berubah kembali menjadi berseri-seri, "Mendingan aku ngebayangin Lala aja dari pada mikirin yang nggak penting..." gumam Bambang dalam hati kemudian memejamkan kedua matanya dan mengingat-ingat kembali perkataan-perkataan Lala yang dia anggap memberi perhatian kepadanya dan juga mengingat-ingat lagi rasa dari pegangan tangan Lala yang menyentuh tangannya. "Lala... Lala...." ucap Bambang lirih dengan senyum bahagianya hingga tak lama kemudian saat Bambang semakin larut dalam ingatan bahagianya tentang Lala, akhirnya ia pun tertidur dengan pulasnya.