1

1313 Words
Satu bulan telah berlalu dari peristiwa mengerikan yang Aimee alami. Hidup Aimee yang sempat berantakan kini terlihat kembali berjalan seperti biasanya, atau lebih tepatnya mencoba seperti biasanya. Tak akan ada yang mengira bahwa Aimee telah mengalami hal yang tidak bisa ia lupakan selama hidupnya karena sikap Aimee tidak berubah sama sekali. Ia tetap pendiam dan penyendiri.   Satu minggu Aimee tidak masuk bekerja. Ia takut jika ia bertemu lagi dengan Shane. Namun, Aimee tidak bisa bersembunyi lebih lama. Ia tidak ingin dipecat dari pekerjaannya. Ia masih membutuhkan uang untuk biaya hidup dan juga untuk membayar hutang-hutangnya pada rentenir.   Selama satu bulan hidup Aimee seperti neraka. Ia selalu bermimpi buruk dan ketakutan. Bayangan wanita yang tewas di tangannya terus menghantuinya. Membuatnya merasa bersalah dan terus menderita. Ia hidup dengan mengorbankan nyawa wanita itu, bagaimana bisa ia melakukan hal sejahat itu pada wanita yang sama sekali tidak ia kenali.   Aimee bukan orang suci. Dalam otaknya selalu terpikirkan bahwa ia ingin membunuh seseorang. Hingga saat ini ia masih memikirkan tentang orang itu. Namun, ia tidak pernah berpikir untuk membunuh orang yang tidak bersalah.   Ia juga hidup dalam penderitaan dan dendam, tetapi hal itu tidak menyiksanya karena ia akan melakukan pembalasan. Namun, rasa bersalah kini menyiksanya berkat Shane. Ia menderita dan tersiksa begitu parah. Harusnya ia mati saja bersama ibunya, maka dengan begitu ia tidak akan tersiksa seperti saat ini. Siksaan yang bahkan lebih buruk dari kematian.   Bus berhenti. Aimee tersadar dari lamunan kosongnya. Ia segera turun dari bus. Karena kejadian satu bulan lalu, Aimee tidak lagi melewati lorong gelap nan sepi yang biasa ia lewati. Ia takut. Ia takut jika ia akan bertemu dengan Shane lagi.   Setelah melewati jalanan yang cukup ramai selama 15 menit, Aimee sampai ke bangunan flat miliknya. Ya, hanya flat itu harta berharga yang ia miliki.   Aimee membuka pintu flat-nya. Tidak ada barang mahal di flat milik Aimee. Hanya ada televisi yang sudah mulai bermasalah. Lemari pendingin tua, sofa usang yang sebentar lagi tidak layak pakai. Serta beberapa perabotan lain yang mungkin bagi sebagian orang sudah pantas untuk dimasukan ke dalam gudang barang bekas.   Suasana flat Aimee menggambarkan diri Aimee. Ruangan itu tidak memiliki banyak warna. Dinding rumah itu berwarna abu-abu. Terkesan sunyi dan tertinggal. Jendela-jendela kaca tertutupi oleh tirai, seolah Aimee membatasi dirinya dari makhluk di sekitarnya.   Ia tidak suka bergaul. Bukan tanpa alasan ia jadi pribadi yang seperti ini. Setelah cintanya dikhianati, ia yang semula terbuka jadi tertutup. Ia yang sering menampilkan senyuman manis jadi lebih murung.   Aimee menutup diri karena ia tidak ingin membiarkan orang lain masuk ke dalam hidupnya lalu mematahkan hatinya begitu saja. Aimee benci untuk merasakan patah hati lagi. Ia terlalu lelah berurusan dengan luka tak berdarah.   "Lama tidak bertemu, Aimee."   Jantung Aimee nyaris lepas karena mendengar suara itu. Ia yang baru saja menutup pintu segera membuka kembali pintu. Namun, tangan besar milik Shane lebih cepat dari tangan Aimee. Shane mengunci pintu flat itu dan menyimpannya di dalam saku celana.   "Mau pergi ke mana, Aimee?" Shane memerangkap Aimee dengan kedua tangannya.   Darah Aimee seperti berhenti mengalir. Wajahnya memucat. Ia mulai gemetaran. Keringat dingin membasahi kulitnya.   "Apa maumu? Lepaskan aku." Aimee menundukan kepalanya. Tidak berani menatap mata Shane yang mengarah padanya. "Aku hanya ingin bertemu dengan temanku."   "Aku bukan temanmu. Dan aku tidak pernah ingin menjadi temanmu."   Shane menyipitkan matanya. "Aku tidak meminta persetujuanmu, Aimee. Kau temanku. Dan akan terus jadi temanku seumur hidupmu."   "Aku mohon pergilah dari hidupku."   Shane mendekatkan wajahnya ke telinga Aimee. "Aku berencana untuk pergi dari hidupmu, tetapi aku berubah pikiran. Aku ingin kau ada dihidupku. Aku tidak pernah menemukan teman yang sangat aku sukai sepertimu." Ia mengecup daun telinga Aimee.   Tubuh Aimee meremang. Berhadapan dengan Shane sama saja berhadapan dengan malaikat maut. Meski Aimee ingin mati, tetapi dia tidak mau mati di tangan Shane. Terlalu mengerikan.   "Berhentilah mempermainkanku. Aku sudah menderita karenamu. Aku mohon," lirih Aimee.   Shane mengangkat wajah Aimee dengan jemarinya. Matanya menatap dalam manik abu-abu milik Aimee. "Aku tidak melakukan apa pun padamu, Aimee. Kenapa kau terus menyalahkanku?"   Aimee bersumpah, ia sangat membenci Shane. Iblis di depannya sungguh menjijikan. Jika saja ia memiliki kekuatan, ia akan membunuh Shane.   Shane melepaskan Aimee. Ia melangkah menuju ke sofa. Seolah tempat itu adalah miliknya.   "Sejujurnya aku ingin menemui dua minggu lalu, sayangnya aku memiliki banyak pekerjaan." Shane memiringkan kepalanya, meletakan dagunya di atas sandaran sofa dengan mata memandang Aimee. "Harus aku katakan bahwa aku merindukanmu."   Kaki Aimee terasa begitu lemas. Apalagi kali ini? Apalagi yang mau Shane lakukan padanya.   "Kenapa berdiri saja di sana, Aimee. Kemarilah!" Shane menggeser tubuhnya.   Aimee tidak bisa melangkah. Bagaimana bisa ia duduk di sebelah Shane.   "Aimee. Aku tidak ingin mengulang kata-kataku. Kemarilah sebelum aku melakukan sesuatu yang membuatmu menyesal," ujar Shane lagi.   Mau tidak mau kaki Aimee bergerak ke arah sofa. Ia duduk di sebelah Shane dengan tubuh yang kaku.   "Aku tidak akan membunuhmu, Aimee. Santai saja."   Aimee berlutut. "Aku mohon lepaskan aku. Aku tidak akan mengatakan apa pun. Aku mohon."   Shane menatap Aimee lurus. Ia diam untuk beberapa saat. Kemudian ia mengalihkan matanya ke remote di meja: Mengambilnya lalu menyalakan televisi.   "Tolong. Tolong jangan menggangguku lagi. Aku mohon." Aimee memohon entah untuk yang ke berapa kalinya.   Shane menarik napas dalam. "Kenapa kau ingin sekali aku menjauh darimu, Aimee?"   Aimee ingin sekali menghantam kepala Shane dengan godam. Pria sakit jiwa itu masih bertanya kenapa. Bukankah sudah jelas bahwa tidak ada yang mau bersama pria sakit jiwa seperti Shane.   "Lihat, berita tentang pembunuhanmu masih ada bahkan sampai satu bulan." Shane memiringkan kepalanya melihat reaksi wajah Aimee yang kini seperti tidak bisa bernapas. Sangat pucat seperti tidak ada darah di dalam tubuh Aimee.   Satu bulan ini berita tentang pembunuhan yang melibatkan Aimee terus saja tersiar. Para polisi masih terus mencari pelaku pembunuhan keji itu. Namun, polisi masih belum menemukan petunjuk apa pun. Mereka bahkan kesulitan apa motif operandi dari pembunuhan itu. Dari yang mereka simpulkan bahwa pelaku dari pembunuhan itu sama dengan pelaku pembunuhan beberapa orang lainnya. Disebutkan bahwa pelaku adalah seorang psikopat.   Aimee sudah mengikuti berita itu selama beberapa hari. Ia terus ketakutan jika bukti tentang dirinya ditemukan. Ia takut jika dirinya akan menjadi tersangka dari satu pembunuhan dan merembet ke pembunuhan lain yang mungkin dilakukan oleh Shane.   "Apa sebenarnya yang kau inginkan dariku? Aku tidak mengenalmu sama sekali."   Shane menggeser tubuhnya mendekat pada Aimee. Membuat jantung Aimee berhenti berdetak karena ketakutan.   "Yang aku inginkan darimu adalah dirimu, Aimee."   Air mata Aimee menetes deras. Ia ingin berteriak kencang dan meluapkan semua emosinya saat ini, tetapi yang terjadi ia malah menangis. Ia menangis dengan tubuh yang lemas.   Bagaimana ia bisa lepas dari Shane? Ia bisa gila jika Shane terus berada di sekitarnya.   "Kenapa? Kenapa aku?"   "Karena itu kau." Nada bicara Shane terdengar begitu dingin. Tatapan mata Shane yang semula seolah menikmati permainan kini terlihat tanpa emosi.   Getaran ponsel milik Shane mengalihkan atensi Shane dari Aimee. Ia menatap layar ponselnya, melihat siapa yang menghubunginya.   "Ada apa, Sayang?" "Di mana kau, hm? Kenapa belum pulang juga?" "Tunggulah, aku sedang di jalan." "Baiklah. Aku mencintaimu, Shane." "Aku juga mencintaimu, Vale."   Shane memasukan kembali ponsel ke dalam sakunya. Ia kembali pada Aimee yang terduduk lemas di depannya. Tangan Shane mengangkat wajah Aimee. Menatap iris abu-abu Aimee yang berkaca-kaca.   "Aku harus pergi sekarang." Shane mengelus pipi pucat Aimee.   Aimee segera menghindar ketika Shane hendak mengecup bibirnya. Meski ketakutan, ia tetap tidak bisa mengizinkan dirinya disentuh begitu saja oleh Shane.   Wajah Shane mengeras, ia terbiasa mendapatkan apapun yang ia mau. Tangannya memaksa wajah Aimee menghadap ke arahnya. Kemudian melumat bibir Aimee.   "Kau milikku, Aimee. Kau tidak bisa menolakku," tekan Shane. Ia kembali melimat bibir Aimee yang terasa manis baginya. Puas, ia melepaskan Aimee dan pergi meninggalkan Aimee dalam kehancuran jiwa.   Aimee menangis terisak. Ia memeluk dirinya sendiri. Sekarang ia benar-benar terjebak bersama Shane.   Tidak! Aimee menggelengkan kepalanya. Ia tidak mau terjebak bersama pria pembunuh seperti Shane. Ia harus pergi. Ia harus melarikan diri dari Shane.   Aimee bangkit. Dengan cepat ia mengambil barang-barang yang ia perlukan. Memasukannya ke dalam tas dengan tergesa-gesa.   Satu-satunya cara agar ia terbebas dari Shane adalah dengan meninggalkan kediamannya dan berhenti bekerja. Shane pasti tidak akan menemukannya jika ia pergi jauh dari tempat tinggalnya. Aimee keluar dari kediamannya setelah memastikan Shane sudah tidak ada di bangunan flat miliknya. Ia masuk ke lift dengan jemari yang terus saling bersentuhan. Shane telah menciptakan ketakukan paling dahsyat di hidupnya.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD