Sesal Kemudian Tak Berguna

884 Words
Teriakan anak-anak yang bermain di depan rumah membuyarkan lamunan Farida. Pe-dih hatinya bila mengingat keputusan yang diambil dulu. Kini, kilasan kejadian itu datang kembali dan menghantam dengan7 keras, mengo-rek-ngo-rek hati Farida hingga nye-rinya berakar ke sekujur tubuh. Terbayang tangis sang bunda yang menahan kepergiannya. Bagaimana lembutnya wanita yang telah melahirkannya itu berujar agar Farida memikirkan lagi keputusannya. Bahkan, saat perempuan itu telah melangkah keluar dari rumah, bundanya masih mengejar dan meminta untuk kembali. Namun, se-tan telanjur menguasai d**a, hingga kesombongan membuat Farida ingin membuktikan bahwa lelaki pilihannya sangat sempurna. Tanpa terasa mata perempuan yang terlihat lebih tua dari usia yang sebenarnya memanas. Kelopak mata segera melinangkan cairan beningnya. Mati-matian Farida menahan agar linangan itu tak meruah ke pipi, tetapi dia gagal. Pe-dihnya kata-kata Nusa merobohkan pertahanan hatinya. Farida tak mengira, tega sekali lelaki itu mengkhianatinya. Salahnya, yang mudah saja termakan kata-kata manis. Dulu dia hanya tahu sekolah, mengaji ke surau, dan membantu bunda di rumah. Sejak pertemuan tak sengaja dengan Nusa di pasar Kota Solok, hati Farida langsung terpaut. Tutur kata manis dan sopan dari si lelaki, menyemaikan benih cinta di d**a gadis lugu itu. Hubungan kedua terajut diam-diam. Farida akan senang sekali bila diajak oleh sang bunda ke pasar tiap pekan. Itu artinya dia akan bersua dengan sang pujaan hati. Keduanya akan saling mencu-ri pandang bila Bunda Farida berbelanja di toko kelontong tempat Nusa bekerja. Sebulan, dua bulan, lalu hubungan itu semakin dalam dan intens. Keduanya selalu berjanji bertemu di tempat yang tidak ada yang mengenal mereka berdua. Seperti di kebun teh Alahan Panjang dan Puncak Gobah. Namun, kini Farida menyesali keputusan yang sangat gegabah. Dia seperti batang tebu yang meranggas. Manisnya masih ada, tetapi tak terlihat lagi. Sekarang apa yang dimakan rasa sekam, yang diminum serasa duri. Sungguh bimbang hati perempuan itu. Derit pintu yang terbuka mengalihkan pandangan Farida. Dia melihat sosok Nusa masuk sambil membawa sehelai kertas. Wajah lelaki itu tak menunjukkan penyesalan sedikit pun. "Kau tanda-tangani kertas ini!" Keras sekali ucapan Nusa, seraya menyodorkan kertas tersebut kepada Farida. Si perempuan melihat kertas itu dengan pandangan kosong. "Kertas apa itu, Uda?" "Banyak sekali tanya kau. Tanda-tangan saja, habis perkara!" Nusa mema-ksa Farida memegang pena, lalu meletakkan kertas tersebut di atas meja rias. Mata bengkak Farida membaca tulisan di kertas tersebut. Pe-rih karena ucapan Nusa belum hilang, kini ditambah lagi dengan isi yang tertulis di kertas tersebut. "Tega sekali Uda menyiram lukaku dengan garam. Belum hilang sakit karna pengkhianatan Uda, sekarang memintaku rela dimadu dengan perempuan yang tak punya malu itu?!" Suara Farida kembali terdengar bergetar. Badai amarah yang tadi sempat tenang, kini berputar lagi bak p****g beliung di dadanya. Nusa memu-kul pipi Farida membuat kepala perempuan itu membent-ur kaca meja. Dia juga mereng-gut rambut sang istri yang tak lagi bercahaya saat masih gadis dulu. "Mulut kau busuk. Setidaknya perempuan itu mengandung anakku. Dari pada kau, man-dul!" "Aku tidak man-dul!" seru Farida keras. Tatapan matanya menajam ke arah Nusa. Andai dia punya kekuatan ingin rasanya menerjang dan menca-kar wajah lelaki itu. Alih-alih iba, Nusa semakin keras menjambak rambut Farida. Hilang semua kata-kata manisnya dahulu. Kini, dia memperlakukan sang istri dengan sangat bia-dab. Dia mencengke-ram dagu Farida dengan tangannya. "Kau tanda-tangani saja surat itu. Tak usah banyak cincong!" "Aku tidak mau!" je-rit Farida lantang. Rasa takutnya hilang bersama rasa sa-kit yang terus mende-ra tubuhnya. Bukan itu saja, hatinya lebih perih karena tuduhan Nusa. Ke mana lelaki yang dulu menyanjungnya? Farida lupa jika dia tak terlalu mengenal sang suami. Rupanya Nusa adalah sosok yang berwujud malaikat, tetapi berhati ibl-is. Maka perempuan itu pun seketika berubah menjadi ib-lis pula. Entah kekuatan dari mana, Farida menggigit tangan Nusa yang mencengke-ram dagunya kuat-kuat hingga sang lelaki berteriak kesakitan. Gigi-tan Farida seperti lintah, enggan lepas sebelum puas. Nusa bahkan memu-kul kepala Farida agar perempuan itu melepaskan gigitannya. "Kau gil@!" tuding Nusa melihat mulut Farida penuh darzah yang berasal dari tangannya yang terlu-ka. "Iya, aku gil-a! Kau yang membuat aku g i l @. Kuserahkan hidupku padamu, kuputuskan tali dar-ah dengan kedua orang tuaku, kutentang Ayah Bundaku demi hidup bersamamu, kutinggalkan tanah kelahiranku agar bisa bersamamu, tapi apa yang kudapat?!" Farida meracau dengan buas. Sorot matanya liar meni-kam Nusa, seolah-olah hendak menc@bik-c@bik tubuh lelaki tersebut. "Kau yang bo-doh. Tak berpikir. Pantas saja sekarang aku memilih perempuan lain." Nusa masih menjawab meski hatinya kecut melihat perubahan Farida. Dia tak mengira perempuan tersebut bisa menjadi berin-gas. "Kalau begitu ceraikan aku!" Farida mendekat hendak menye-rang Nusa kembali. Namun, si lelaki sigap keluar dan mengunci pintu dari luar. Dia tak peduli gerungan sang istri dari balik pintu. Kerasnya puku-lan Farida di papan kayu tersebut tak membuat Nusa berniat membuka pintu. "Tak semudah itu kau lepas dariku. Begitu kau kucerai, kau akan kembali ke Ayahmu yang sombong itu dan saat itu aku kalah. Tak akan kubiarkan. Kau akan tetap menjadi istriku sampai mati. Biar jasadmu saja yang keluar dari rumah ini." Farida semakin meradang mendengar ocehan Nusa dari balik pintu. Dia melem-par gelas ke dinding kamar untuk melampiaskan ama-rahnya. Tak cukup itu saja, dia menjam-bak rambut dan berte-riak, membiarkan sesak mencari jalan keluar. Bayang-bayang kedua orang tuanya semakin menenggelamkan Farida dalam penyesalan. Andai dulu dia berpikir sebelum bertindak, tentu hidupnya tidak seperti di neraka. Namun, apalah daya. Nasi sudah menjadi bubur, Farida begitu berani menentang kedua orang tuanya. Dia lupa, ridho ayah-bunda sangatlah keramat. Bila hati keduanya tersakiti, jangankan kebahagiaan justru malapetaka yang menghampiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD