BAB 2: Berita

2389 Words
Cayra mengusap tangannya dengan tishu, gadis itu tidak berhenti memadangi wajahnya sendiri di depan cermin toilet hanya untuk memastikan apakah penampilannya sekarang baik-baik saja atau berantakan. Cayra memutuskan menggunakan pemerah bibir begitu dia tersadar kini bibirnya terlihat sedikit pucat. Setelah menghabiskan waktu beberapa menit di dalam toilet, Cayra segera keluar, dia harus segera menemui Javier yang tengah menunggu di depan pintu tempat karaoke untuk pulang. Javier memiliki kelas les bahasa asing yang harus dia ikuti akhir-akhir ini, Cayra sempat mendengar bahwa Javier akan masuk kampus terbaik jika telah lulus. Kemungkinan besar, setelah nanti lulus sekolah, Cayra dan Javier akan terpisah di perguruan tinggi, Javier pasti akan sekolah di tempat yang terbaik sesuai dengan apa yang diharapkan dirinya, sementara Cayra akan pergi ke sekolah menari. Kehidupan Javier dan Cayra berbeda cukup jauh, Ayah Javier adalah seorang nahkoda kapal pesiar, sementara ibunya adalah seorang produser musik di sebuah agensi, bisa dikatakan kehidupan Javier jauh lebih tercukupi dalam hal apapun. "Hay!" Langkah Cayra terhenti, dalam satu gerakan gadis itu berbalik dan langsung berhadapan dengan seorang pemuda berpakaian seragam sekolah, pemuda itu mengenakan sebuah topi dan tersenyum gugup begitu Cayra melihatnya. "Kau memanggilku?" tanya Cayra menunjuk dirinya sendiri. Pemuda itu mengangguk sambil mengusap tengkuknya dan mencoba untuk menatap kedua mata Cayra. "Apa kita bisa berkenalan?" Tanya pemuda itu dengan suara yang terdengar bergetar. Cayra mengerjap, gadis itu mengangguk pelan tanpa menyembunyikan ekspresi kaget di wajahnya. Tangan Cayra terulur lebih dulu, dan dengan cepat Hajun menerimanya. "Namaku Cayra." "Namaku Hajun, aku dari sekolah seni Andreas, sebenarnya aku juga sudah tahu namamu siapa," Cayra terbelalak kaget. "Benarkah?" "Aku pernah melihat penampilanmu di beberapa kompetisi, kebetulan aku penari free style sepatu roda, kita juga pernah bermain trampoline di taman Andreas," aku Hajun terlihat malu. "Sekarang aku ingat, sepertinya kita juga pernah makan bersama," jawab Cayra spontan begitu teringat beberapa bulan yang lalu, dia dan sekelompok anak muda yang baru di kenal bermain trampoline di depan sebuah taman hingga memancing banyak penonton. Secara sengaja Cayra mengambil keuntungan penonton dengan meminta bayaran, dan uang yang mereka dapat dipakai untuk makan bersama. Hajun tersenyum lebar terlihat senang begitu tahu Cayra mengingatnya. "Apa aku bisa memiliki nomermu? Mungkin kita bisa menghabiskan waktu bersama di akhir pekan saat senggang," tanya Hajun mulai terlihat percaya diri. "Oh, tentu saja," jawab Cayra tanpa ragu, Cayra tersenyum lebar menunjukan ketulusannya. Hajun mengeluarkan handponenya dan memberikannya kepada Cayra, ada rona merah di wajahnya begitu dia melihat Cayra memasukan sendiri nomer teleponnya. Pemuda itu sempat berpikir jika akan sulit mendapatkan nomer telepon seseorang seperti Cayra, namun ternyata Cayra jauh lebih ramah dari apa yang dia pikirkan. "Cayra," suara Javier yang memanggil membuat Cayra segera memberikan handpone Hajun kembali. "Aku akan menghubungimu nanti, sampai jumpa Cayra," pamit Hajun dengan senyuman terlihat mulai lepas. "Sampai jumpa." Tangan Cayra melambai tertuju pada Hajun, namun bibirnya mengukir sebuah senyuman hangat yang kini tertuju pada Javier yang baru datang menyusul. Javier sudah menunggu lebih dari sepuluh menit lamanya, karena itulah dia memilih pergi menyusul untuk memastikan keadaan Cayra. Javier khawatir terjadi sesuatu kepada Cayra. Terakhir kali Cayra pergi lama ke toilet adalah beberapa bulan lalu, Cayra mengurung diri di toilet karena tiba-tiba datang bulan, Javier sampai harus bulak balik pergi ke minimarket untuk membeli pembalut. Sementara satu tahun yang lalu, Cayra juga pernah cukup lama berada di toilet sekolah, dan ketika seseorang memeriksanya, Cayra ketiduran karena kelelahan. Javier takut hal-hal konyol seperti itu kembali terjadi, tapi rupanya kali ini berbeda. Mata Javier memicing, melihat kepergian Hajun yang sudah cuku jauh. "Dia siapa?" "Dia seseorang yang pernah aku temui beberapa bulan lalu." "Dia meminta nomer teleponmu?" tanya Javier lagi dengan tatapan menyelidik, Cayra menjawabnya dengan satu anggukan. Javier merangkul bahu Cayra dan membawanya pergi. "Dengar Cayra, kau jangan terlalu mudah akrab dan percaya dengan orang yang baru kau temui. Kenapa kau tidak pernah memiliki kewaspadaan?" nasihat Javier terdengar kesal. "Dia terlihat baik." Suara decihan Javier terdengar, pria itu terlihat tidak setuju dengan apa yang telah Cayra katakan. "Siapapun ingin terlihat baik di hadapan orang lain, terutama di depanmu." "Kenapa dia harus berpura-pura baik di depanku?" "Apa kau tidak ingat ada berapa pria b******k yang pernah berpura-pura baik dan berhasil menipumu?" tanya balik Javier terdengar kesal. "Mereka tidak menipuku, mereka hanya mengajakku berpesta di klub malam," jawab Cayra pelan. Rangkulan Javier mengerat. "Jadi, kau membela mereka dibandingkan aku?" tanya Javier dengan pelototan Seketika Cayra menggeleng cepat dengan sebuah tawa kecilnya. "Berhentilah marah, kita harus segera pergi." Javier hanya bisa mencebikan bibirnya, menahan ucapannya yang lain. Cayra merasa senang jika Javier terlihat marah setiap kali Cayra di dekati oleh beberapa pria, terkadang Javier sering turun tangan begitu tahu Cayra bepergian dengan pria lain meski itu hanya sebatas bermain. Javier tidak segan membuang hadiah yang Cayra terima dari mereka. Tindakan Javier berlebihan dan tidak sopan, namun tindakan itu selalu membuat Cayra berpikir bahwa Javier cemburu. *** Sekumpulan anak-anak sekolah keluar dari kelas mereka untuk berganti pakaian olahraga, Cayra yang masih duduk di bangkunya terlihat kebingungan begitu tersadar bahwa tas pakaian olahraga yang dia bawa tertukar dengan tas pakaian es skatingnya. Cayra menelan salivanya dengan kesulitan, gadis itu terlihat panik mengingat jika nilai olahraganya sangat redah dan jika dia tidak ikut serta lagi, mungkin akan mendapatkan nilai merah dan mendapatkan peringatan. "Cayra, kenapa diam saja?" panggil Honey di ambang pintu. "Kalian duluan saja," jawab Cayra terbata. "Baiklah, kami duluan," Honey dan temannya yang lain segera pergi menyisakan sekumpulan beberapa siswa lainnya yang kini masih sibuk berbicara di depan loker mereka. Javier yang baru mengeluarkan pakaian olahraganya dari loker melihat kepanikan Cayra yang masih duduk di bangkunya, tanpa menunggu waktu dia menghampiri Cayra. "Ada apa? Ada masalah?" Tanya Javier berdiri di sisi bangku Cayra. "Tidak ada apa-apa," jawab Cayra mencoba berbohong. "Kau tidak pandai berbohong Cay, katakan ada apa?" desak Javier. Wajah Cayra terangkat, gadis itu mencoba untuk tetap tersenyum menunjukan ketenangan meski kini tangannya gemetar. "Tas pakaian olahragaku tertukar dengan tas es skating, sepertinya aku akan kena hukuman lagi." Javier sempat terdiam beberapa saat, tanpa terduga dia memberikan tas pakaian olahraganya kepada Cayra. "Pakai punyaku saja," tawarnya. Cayra terbelalak kaget, gadis itu menggeleng cepat terlihat tidak enak hati. "Jangan, aku baik-baik saja, kau pergi duluan saja, aku akan bicara dengan guru." "Tidak perlu." "Tidak Javier, aku tidak ingin merepotkanmu lagi." "Pakai saja itu dan cepat ke gedung olahraga, nanti teraktir aku minuman jika ingin berterima kasih," putus Javier lebih tegas, dengan cepat Javier berbalik pergi meninggalkan Cayra agar tidak tidak terlibat perdebatan apapun lagi. Javier pergi dengan ekspresi yang terlihat begitu tenang, dia menunjukan banyak senyuman lebarnya ketika bicara dengan temannya yang akan pergi keluar kelas seolah bantuan yang dia berikan kepada Cayra tidak membebaninya sedikitpun. Cayra menarik napasnya dalam-dalam, wajah cantiknya terlihat bersemu malu melihat pakaian Javier di atas meja. Caira mengambil tas itu dan memeluknya dengan erat. "Aku terus menerus merepotkannya, benar-benar bodoh," bisik Cayra merutuki dirinya sendiri. *** Cayra berdiri di antara kerumunan teman-temannya tengah melakukan latihan basket, kini gadis itu mengenakan pakaian Javier dengan bagian tangan hingga kaki yang terlipat menggulung seperti sebuah donat. Fostur tubuh Cayra dan Javier terlalu jauh berbeda, bahkan hanya dengan dilihat sekilas saja, teman-teman Cayra bisa menebak bahwa kini Cayra tengah memakai pakaian Javier. Se isi kelas sudah tahu seberapa dekatnya Javier dengan Cayra, mereka sudah tidak lagi terkejut jika Cayra dan Javier saling berbagi sesuatu, justru akan menjadi sesuatu yang mengejutkan bila melihat Cayra dan Javier berjauhan. Cayra mengusap jaket olahraga yang dikenakannya, aroma pafume Javier yang tercium membuat Cayra berdebar-debar. Sekali lagi Javier menyelamatkannya, Cayra sampai tidak tahu apa yang akan terjadi pada dirinya jika tidak ada Javier di sisinya. Cayra meremas permukaan pakaiannya tampak sangat kesal dan kecewa kepada dirinya sendiri, dia selalu berusaha melakukan pekerjaannya dengan teliti, namun entah mengapa selalu saja ada kekurangan dan kecerobohan yang dia perbuat. "Senang sekali punya pangeran berkuda putih," goda Honey yang kini berdiri di belakang Cayra. "Diamlah," jawab Cayra tidak enak hati. "Mana mungkin aku bisa diam disaat kalian terus mengumbar keromantisan di depan semua orang," goda Honey dengan tawa kecilnya. Suara peluit terdengar dari sudut lapangan, dari kejauahan kini Cayra dapat melihat Javier tengah berbicara dengan guru olahraga, dan tidak berapa lama setelah itu Javier berlari keliling lapangan sebanyak sepuluh kali, sementara siswa yang lain berolahraga sebagaimana mestinya. Javier bergerak cepat, pria itu berlari menerima hukuman yang harus diterimanya tanpa mempedulikan jika kini dia tertinggal dan menjadi tontonan beberapa anak perempuan. Cayra yang tengah olahraga dengan teman-temannya yang lain, sesekali melihat Javier untuk memastikan keadaannya yang kini tengah duduk di pinggiran lapangan basket terlihat kelelahan usai berlari, dengan wajah berpeluh keringat Javier masih bisa menunjukan senyuman lebarnya untuk memberitahu Cayra bahwa dia baik-baik saja. *** Suara decitan sepatu dan lantai es yang beradu terdengar, tubuh Cayra bergerak begitu bebas menari di iringi musik, dengan sempurnanya Cayra bergerak melompat, berputar lebih satu kali di udara, tubuhnya seperti selembar kapas yang terbang di bawah langit cerah. Sorot mata Cayra yang berwarna biru itu terlihat berbinar, melukiskan seberapa bahagia dan bebasnya jiwanya disetiap kali menunjukan tarian dan gerakannya. Cayra, gadis itu terlihat menawan dan bersinar hanya dengan diam, namun siapapun mungkin akan setuju bahwa Cayra terlihat seperti sebuah bintang ketika mereka melihat gadis itu menari. Suara tepuk tangan terdengar keras ketika Cayra menyelesaikan latihannya selama dua jam lebih. Kaki Cayra meluncur cepat pergi ke sisi, menghampiri Javier yang sejak tadi menonton sambil mengangkat kameranya tengah merekam. Kedua berbicara singkat sebelum Cayra kembali pergi ke arah pintu untuk berganti pakaian. "Ibuku pergi ke luar kota malam ini, apa kau bisa datang ke rumah? Aku kesepian," ucap Javier begitu mereka kembali bertemu di depan ruangan ganti. "Hanya berdua?" Javier mengusap tengkuknya yang tidak gatal, pria itu melirik Cayra melalui sudut matanya. "Memangnya siapa lagi yang ingin kau undang?" Wajah Cayra langsung bersemu malu. "Aku juga tidak tahu. Nanti akan meminta izin dulu pada ibuku, bagaimana jika kita membeli sesuatu untuk dimasak?" "Kau mau menginap?" Tanya balik Javier. Cayra tercengang kaget mendengar pertanyaan tidak terduga Javier. Baru saja Cayra mengangkat bibirnya untuk menjawab, suara deringan telepon masuk yang terdengar di saku pakaian, langkah Cayra terhenti, dengan terburu-buru dia meluangkan waktunya untuk melihat siapa yang menghubunginya. "Kebetulan sekali, ibuku menelpon." Tanpa membuang waktu Cayra menerima panggilan ibunya dengan senyuman lebarnya. "Hallo Bu." "Cayra," suara Ariana yang terisak dan gemetar terdengar di telepon. Senyuman Cayra memudar. "Ada apa? Apa terjadi sesuatu?" "Cayra, ayahmu mengalami kecelakaan, dia harus di operasi dan butuh donor darah yang banyak secepatnya, tolong datang segera ke rumah sakit." Cayra terpaku beberapa saat, mendadak tenaganya hilang dan napasnya menjadi sesak, butuh waktu beberapa detik untuknya agar bisa kembali bersuara. "A-aku akan pergi sekarang." "Cayra, ada apa?" Tanya Javier seraya merengkuh tubuh Cayra begitu dia melihat keadaannya yang mendadak berbeda. Tangan Cayra menggenggam erat handponenya, wajah Cayra terangkat, dengan bibir gemetar dia menjawab, "Ayahku mengalami kecelakaan." *** Kekhawatiran terasa menyesakan d**a, sepanjang jalan Cayra tidak berhenti merapalkan do'a agar ayahnya baik-baik saja. Taksi yang ditumpangi Cayra bergerak cepat menembus jalanan, beberapa kali Cayra meminta sang sopir menyetir dengan cepat karena takut datang terlambat. Ayah Cayra membutuhkan pertolongan, dia tidak ingin datang terlambat. Sebuah genggaman tangan yang kuat membuat Cayra sedikit mengalihkan perhatiannya dan melihat Javier yang sejak tadi duduk di sampingnya. "Tenanglah, kita akan segera sampai," nasihat Javier. Begitu taksi yang ditumpanginya sampai di depan rumah sakit, Cayra langsung berlari keluar menuju tempat di mana kini ayahnya tengah di rawat. Kedatangan Cayra disambut oleh Ariana yang kini tengah menunggu. Ariana sempat menceritakan jika Hezberg ditabrak oleh sebuah mobil yang melawan arah, dan kini keadaan Hezberg tengah tidak baik-baik saja. Hezberg mengalami banyak pendarahan dan harus melakukan operasi darurat. Ariana yang memiliki golongan darah yang sama dengan Hezberg tidak bisa membantu karena mengidap Hipertensi, dan kini seseorang yang bisa membantu Hezberg adalah Cayra karena stok golongan darah Hezberg di rumah sakit tidak banyak. *** Dalam sebuah ruangan khusus usai melakukan registrasi, kini Cayra terduduk menunggu seorang kembalinya seorang dokter yang sudah mengambil sample darahnya. Sebenarnya Cayra takut dengan jarum suntik, namun begitu dia tahu ayahnya membutuhkan darahnya, rasa takut Cayra pada jarum terasa hilang begitu saja karena Cayra lebih takut Hezberg kesakitan lebih lama bila tidak mendapatkan pertolongannya. "Kau baik-baik saja?" tanya Javier hati-hati. Cayra menggeleng pelan, sulit untuknya berbohong dengan mengatakan bahwa kini keadaannya baik-baik saja. "Aku sangat mengkhawatirkan ayahku," bisik Cayra pelan, dengan berat gadis itu kembali berkata, "dia pasti mengalami kesakitan sendirian di meja operasi, aku takut terjadi sesuatu kepadanya," ungkap Cayra dengan berat. "Aku yakin ayahmu akan baik-baik saja Cay, dia orang yang kuat." "Terima kasih Javier, sejak kemarin aku terus menerus merepotkanmu," bisik Cayra pelan. Javier beranjak dari duduknya, tubuh Javier sedikit membungkuk untuk menjangkau wajah Cayra dan mengusap kepalanya. "Aku tidak pernah merasa kerepotan Cay, berhentilah merasa terbebani, kau juga selalu membantuku disetiap kali aku kesulitan," hibur Javier menenangkan agar Cayra berhenti merasa terbebani dengan kebaikannya. Sudut bibir Cayra terangkat mengukir senyuman, terlihat sedikit lebih tenang. Javier berhenti menyentuh kepala Cayra, pria itu melihat ke arah pintu menunggu kedatangan dokter yang masih belum menunjukan kedatangannya. "Sepertinya mereka pergi terlalu lama, aku akan pergi keluar sebentar." Cayra mengusap kepalanya, merasakan sisa-sisa kelembutan dan kehangat tangan Javier yang sudah mengusap kepalanya. Selalu saja, Javier memiliki banyak cara untuk menenangkan Cayra. *** Javier pergi melewati beberapa ruangan, mencari-cari keberadaan dokter yang sudah menangani Cayra. Tidak butuh waktu lama untuk mencari karena kini Javier melihat keberadaan dokter yang menangani Cayra keluar sebuah ruangan membawa selembar kertas, anehnya dokter itu tidak pergi ke ruangan Cayra, dia memilih pergi menuju Ariana yang tengah menunggu Hezberg tengah melakukan operasi. Dokter dan Arina terlibat percakapan yang serius dan akhirnya mereka pergi ke ruangan lain seakan ada suatu perbincangan serius yang harus dikatakan. Langkah Javier melebar, dia memutuskan pergi menyusul untuk memberitahu dokter itu bahwa dia sudah meninggalkan Cayra terlalu lama. Javier berdiri di depan pintu, menunggu dokter dan Ariana keluar dari ruangan menyelesaikan pembicaraan mereka. "Kenapa lama lagi?" bisik Javier bertanya-tanya, sudah lebih dari dua menit dia menunggu. Samar, terdengar suara tangisan di dalam ruangan itu yang membuat Javier mulai khawatir terjadi sesuatu. Javier memberanikan diri mendorong daun pintu meski kemungkinan besar nantinya dia akan kena teguran. Hanya dengan sedikit saja pintu terbuka, suara tangisan Ariana terdengar lebih jelas. "Bagaimana bisa? Saya yang melahirkan Cayra, bagaimana bisa Anda mengatakan golongan darah Cayra berbeda dengan saya dan suami saya?" "Saya benar-benar meminta maaf Nyonya, berita ini harus saya sampai sekarang karena itulah kebenarannya." "Berita apa maksud Anda? Cayra bukan anak kandung kami?" To Be Continued..
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD