4. Nerd

979 Words
Mendengar perkataan tajam dari sang boss membuat harga diri Maggie seakan hilang entah kemana, dia sangat malu, marah dan kecewa, semuanya campur aduk, Maggie tidak mengerti dengan dirinya. Dia ingin memaki balik boss nya itu namun seakan lidah Maggie kelu untuk berbicara, bukannya marah kini Maggie malah sangat ingin menangis. Maggie menundukan kepalanya dalam, tidak memperdulikan Ansel sang boss yang sudah keluar dari tempat itu. Sepertinya dia masih ingin berada disini. Hingga Maggie putuskan untuk duduk di salah satu kursi dihadapan bartender sambil memesan sebotol minuman beralkohol tinggi dengan sebuah cangkir kecil yang menemaninya. *** Maggie mengerjapkan mata saat cahaya matahari yang berasal dari luar jendela begitu menusuk matanya, dia menyipitkan matanya berusaha beradaptasi dengan cahaya itu, tangan kanannya mengelus pelan kepalanya saat rasa pusing kian menyerang. Maggie sedikit mengerang menahan rasa sakit yang tiba-tiba menyerang kepalanya, Dan tangan kirinya mengusap-usap matanya. Dia berjalan turun dari ranjang dengan santai Dan masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri dan menyadarkan dirinya yang masih setengah sadar itu. Tak lama dia keluar dari kamar mandi dan menuju ruang ganti pakaian namun kegiatan itu terhenti begitu tidak menemukan satu bajupun yang dikenalnya, semua baju yang berada di lemari terlihat sangat asing baginya. Diliriknya jam tangan yang telah menunjukan pukul 8 pagi, "sial aku bisa terlambat!" Umpatnya. Dengan cepat dia berteriak, "mom!! Kenapa lemariku penuh pakaian pria, kemana baju-baju ku?" Namun tak ada sedikitpun jawaban membuat Maggie geram, pasalnya dia sudah sangat telat untuk pergi bekerja ditambah masalah pakaian yang tidak ia ketahui pemiliknya, tidak mungkin bukan ibunya mengajak pacarnya tinggal dirumah mereka dan menaruh baju-bajunya di ruangan lemari pakaian kamarnya. Dengan perasaan kesal Maggie keluar dari ruangan lemari nya dan betapa terkejutnya Maggie begitu melihat sosok yang berada di depannya. dengan menatapnya begitu lekat, Dan sosok itu bukanlah ibunya. "Se.. sedang apa anda disini?" Tanya Maggie, tangannya secara otomatis langsung mengeratkan handuk ditubuhnya. Namun dia tersadar akan sesuatu, dia melirik seisi ruangan, ini bukanlah kamarnya. Maggie bisa menebak semuanya, dia berada di kamar Ansel karena tadi malam dia sangat mabuk, ahh bahkan Maggie tidak ingat kejadiannya, apa tadi malam dia melakukan Hal bodoh pada bossnya? Karena Ansel menatapnya begitu menusuk. Seringai mengerikan terbit di bibir Ansel, "beginikah ucapan terimakasih?" Tanya Ansel Maggie berubah menjadi gugup, "terimakasih tuan, apa tuan yang membawa saya kemari karena mabuk semalam? Maaf sudah merepotkan tuan." walau dia lupa akan kejadian tadi malam, entah mengapa dia merasa harus berterimakasih. "Tuan? Bukankah aku sudah bilang padamu untuk memanggilku dengan sebutan Ansel?" Kata Ansel sedikit tidak suka mendengar perkataan Maggie. Maggie menunduk dalam, "hanya saja saya kurang merasa nyaman, bagaimana pun juga anda adalah boss saya." Maggie mendengar suara Ansel berdecih tidak suka, Ansel memasukan kedua tangannya di dalam saku celana sambil menatap Maggie dengan angkuhnya. "Itukah yang kau inginkan? Kalau begitu Baiklah, perlakukan aku sebagai atasanmu."kata Ansel dengan sangat arogant sambil berbalik Dan keluar dari kamarnya. Tak lama beberapa maid datang membawa beberapa setel baju, dan semua bajunya sesuai dengan selera Maggie. Entah suatu kebetulan atau tidak, bagaimana Ansel tahu? *** Maggie keluar dari kamar Ansel langsung disuguhi oleh pemandangan interior yang sangat luarbiasa, tak habis-habisnya maggie memuji arsitek yang menyusun mansion ini dan juga pemiliknya tentunya karena bisa memiliki mansion semegah dan sebesar ini, pasti tidak murah. Saat Maggie berjalan keluar mansion di temani seorang maid agar tidak tersesat, Maggie melihat Ansel yang sedang duduk di meja makan terlihat sedang menunggu sesuatu. Maggie bersikap tidak memperdulikan hal itu dan tetap berjalan keluar namun sebuah suara memaksanya menghentikan langkah kaki jenjangnya itu. "Apa aku sudah mengizinkanmu untuk pergi? Apalagi tanpa berpamitan." Kata Ansel sarkas membuat Maggie sedikit menunduk malu kepada para maid yang mendengar perkataan Ansel. Dia terlihat menyedihkan sekarang. "Duduk dan makanlah bersamaku!" Dengan berat hati Maggie melangkahkan kakinya ke meja makan. Maggie duduk di salah satu bangku di hadapan Ansel, dengan terpaksa dia harus ikut makan makanan yang disajikan para maid untuknya, makanannya memang semewah makanan yang berada di restaurant bintang 5 namun entah mengapa jika berada di dekat Ansel, makanan seenak apapun itu terasa hambar dimulutnya. Baru saja Maggie menyuap makanan kedalam mulutnya namun mendengar perkataan Ansel malah membuatnya tersedak. "Sebagai boss, aku ingin kau menjadi kekasihku." Kata Ansel tanpa beban. "Apa?!" Maggie merasa bahwa telinga nya memiliki gangguang pendengaran karena mendengar bahwa Ansel ingin menjadikannya kekasih. "Mulai sekarang kita adalah sepasang kekasih." Kata Ansel sekali lagi seperti membuat penegasan. Kini Maggie yakin jika dirinya tidak memiliki gangguan pendengaran, namun apa maksudnya perkataan Ansel barusan? Bagaimana bisa dia memutuskan sepihak begitu saja? "Aku.. ti.."belum sempat Maggie menyelesaikan perkataannya namun Ansel sudah menyela. "Aku tidak meminta persetujuan darimu." Katanya tak menerima bantahan. Maggie diam berfikir, "apa tadi malam yang anda katakan bukanlah gurauan?"Tanya Maggie, Ansel menaikan sebelah alisnya meminta penjelasan lebih detail dari Maggie. "Anda mengatakan bahwa saya milik anda, apa maksudnya itu?" Ansel tertawa menunjukan seringainya, "tentu saja, kau kini mengerti jika kau milikku Dan aku paling tidak suka berbagi, kuharap kau mengerti maksudku."kata Ansel menatap tajam Maggie. Maggie menggelengkan kepalanya, kini dia tidak bisa diam saja, dia harus melawan bossnya ini, ini sudah keterlaluan. "Tidak tuan, saya tidak bisa, Dan saya juga tidak bisa menjadi kekasih anda." Kata Maggie tegas langsung berdiri Dan pergi dari sana. Namun saat Maggie berada di ambang pintu, Ansel kembali mengeluarkan suara. "Jangan salahkan aku jika sesuatu yang buruk terjadi. Dan aku telah memperingatkanmu." Kata Ansel yang entah mengapa membuat Maggie merinding. Namun Maggie memantapkan hatinya dan yakin jika Ansel tidak bisa melakukan Hal yang berada dipikiran Maggie. Semoga saja. Baru beberapa langkah Maggie keluar dari pintu mansion megah itu ponselnya kini berdering, ponselnya baru saja kembali menyala karena sempat Maggie is dayanya saat berada di kamar mansion Ansel. Di layarnya menunjukan nama Ansel, Maggie mendengus tidak suka, "ada apa tuan?" Tanya Maggie dengan malas. "Bisakah kau mengambil berkas yang kutinggal di mansionku?" Kata Ansel dari sebrang sana. "Bukankah anda saat ini berada di dalam?" Tanya Maggie heran. "Lalu?" "Kau bisa memanggilnya sendiri." "Kau bilang jika aku adalah boss, jadi turuti saja permintaan ku." Mendengar ucapan Ansel membuat darahnya naik, namun dia harus bersabar demi kontrak 6 bulan. "Baiklah Ansel aku akan kesana." Mendengar suara Maggie yang memamanggil namanya membuat hati Ansel berbunga-bunga, tidak biasanya dia seperti ini. Apa dia begitu senang karena hal sepele. Maggie mematikan sambungan telephone nya secara sepihak dan mulai masuk kembali kedalam sangkar emas milik Ansel.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD