Tidak henti-hentinya mereka tertawa karena gurauan Dave yang terdengar sangat bodoh, Maggie baru tahu jika Dave bisa semenyenangkan ini, Michelle menyikut lengan sahabat lamanya yang sedang menginstal raut wajah meledek.
"Menyesal, ya?" Ejek Michelle pada Maggie, Maggie menoleh kearah Michelle sambil memutar kedua balik, lagi-lagi sahabatnya yang satu ini menggodanya.
"tidak juga." Jawab Maggie asal.
Dia memang merasa sedikit menyesal karena telah mencampakan Dave dulu padahal hubungan asmara mereka terbilang masih dini waktu itu.
keseruan mereka terganggu oleh Jannet. Wanita itu tiba-tiba datang dengan sangat teburu-buru. Jannet menghampiri mereka, lebih menantang Maggie. ia ingin berbicara sesuatu yang sangat penting "Maaf menganggu kalian. Tapi Maggie di panggil oleh Mr.Logan, tampak ada masalah." Kata Jannet sambil melirik karyawan lain, merasa tidak enak pada yang lain.
Maggie mendadak khawatir dengan cepat bangkit dan berlari menuju ruangan bos barunya, tanpa membantah kata-kata pamit terlebih dahulu dan melupakan kegiatan dan keseruannya bersama teman kantor.
Begitu sampai di ruangan bos barunya itu. Mata Maggie langsung menggambarkan sosok pria yang sekarang sedang berada di tengah ruangan dengan kedua tangan yang dia letakan di saku celananya, raut tampak aman dengan pandangan datar kedepan. Pria itu memiliki garis rahang yang diekspresikan dengan bulu-bulu halus yang menghiasinya. Bibirnya merah alami dan terlihat seksi? Tentu saja
"Kamu Terlambat." Kata pria itu mengagumi Maggie yang baru saja datang dengan nafas terengah-engah.
"Maaf, terlambat untuk apa Pak?" Tanya Maggie yang masih belum mengerti di mana letak kesalahannya, bukankah sekarang masih jam makan siang?
"Kau terlambat untuk menghindar dariku, mulai sekarang kau tidak boleh pergi makan siang dengan orang lain, kau akan makan siang denganku." Kata pria itu. Pria itu memiliki mata yang tajam cokelat serta hidung mancung, kulitnya cerah dan rambutnya berwarna cokelat.
Oke, hentikan itu maggie! Kenapa kau mempertimbangkan kenapa terus?
"Maaf, Apa alasan khusus Tuan?" Tanya Maggie tidak adil, bagaimana bisa dia menghabiskannya untuk makan bersama teman-teman.
Pria itu memandang Maggie yang berada di hadapannya dengan pandangan lekat dan memastikan. ia melihat Maggie dari bawah hingga atas kemudian terhenti di wajah Maggie.
"Bisakah kita mengulang perkenalan kita? sepertinya tadi pagi aku tidak menyambutmu dengan baik." Kata pria itu, bukannya menjawab pertanyaan Maggie. dia berdiri, lengannya yang ada di saku celana diulurkan untuk menyambut tangan Maggie.
"Perkenalkan namaku Ansel Logan, kau bisa mengundangku dengan sebutan Ansel."
Maggie mengernyitkan dahinya dalam, tanpa sadar dia melangkah mundur beberapa langkah. tubuhnya seakan tahu jika di depannya adalah sebuah bahaya yang harus dihindari.
Ansel melirik kaki Maggie yang berjalan mundur, dia tersenyum sinis, menyadari ketakutan Maggie. Apa yang menyeramkan? Batin Ansel mendegus kesal. "tidak perlu takut seperti itu, dan tolong atur jadwalku setelah ini." Kata Ansel pada akhirnya lalu berjalan kearah mejanya dan mulai bekerja kembali.
Maggie menggelengkan kepala canggung, sedikit merasa bersalah karena telah mempermalukan bossnya. Dia sudah berpikir Negatif saja, "saya tidak bermaksud menyinggung perasaan anda, hanya saja saya bingung kenapa anda memerintahkan saya untuk memanggil nama depan."
Ansel mengacuhkan pertanyaan Maggie, bibirnya mengulum senyuman tipis. lalu kembali mengerjakan dokumen-dokumen yang telah menumpuk di mejanya. Merasa tidak mendapatkan jawaban Maggie kembali ke ruangannya, kebetulan jam istirahatnya telah berakhir.
Baru saja Maggie duduk di kursinya, ponselnya berdering, dengan cepat Maggie mengangkatnya.
"Selamat siang?" Kata Maggie begitu mengangkat panggilan dari nomor tidak dikenal, mungkin seseorang yang dikenal kenal dengan ponsel lain karena sedang genting. Siapa tau?
" Ini nomorku , aku Ingin Kau menyimpan nya , aku akan Sering menghubungimu ." Terdengar suara pria dari sebrang sana.
"Maaf, saya sedang bicara dengan siapa?" Tanya Maggie bingung, suaranya cukup familiar ditelinganya.
" Ini Ansel." jawab pria itu.
Maggie yang mendengar nama itu pun mendadak tergagu, "emm--baik tuan." Kata Maggie dengan sopan.
" Harus kubilang sebanyak Kali, panggil aku Ansel!" Titahnya dengan nada bicara yang terdengar sedikit marah.
"Baik, Ansel." Kata Maggie dengan canggung. kemudian mengakhiri panggilan tersebut.
Entah mengapa Maggie jadi memikirkan suara Ansel yang berada di telephone tadi, suaranya terdengar begitu seksi dengan suara yang berat dan serak basah.
Apalagi dengan wajah yang super tampannya, ahh ... Astaga. Apa yang kau fikirkan Maggie? Kembali bekerja !
***
Sekarang Maggie berada di sebuah bar, waktu telah menunjukkan pukul 8 malam, harusnya dia sudah berada dirumah jika tidak menemani bosnya untuk rapat.
Maggie sesekali mendesah lelah, tubuhnya sudah mulai pegal dan kelelahan, oh astaga! Dia lupa janji makan malamnya dengan Dave!
Maggie jadi merasa bersalah pada Dave, pasti pria itu sedang menunggunya. sialnya lagi handponenya kehabisan baterai. Maggie memasukan kembali ponselnya ke tas saat melihat beberapa orang dengan pakaian formal datang.
Maggie pastikan mereka adalah klien yang telah ditunggu Ansel. Ansel menyambutnya dengan mengulurkan tangan yang dibalas oleh mereka lalu memperkenalkan Maggie pada mereka sebagai sekretarisnya.
"Maaf membuatmu menunggu mr.Logan, jalanan cukup macet hari ini." Pria dengan wajah tampan, Meski Ansel jauh lebih tampan dari pria itu.
"Tidak masalah Mr.Spenser. kota New York memang selalu seperti itu." Jawab Ansel. Ansel mempersilahkan mereka untuk duduk dan mulai membahas tetang pekerjaan.
Saat mereka sedang berbicara tentang saham yang akan mereka beli, namun percakapan itu mendadak terhenti saat seorang wanita datang ke tempat mereka dengan pakaian yang sangat kekurangan bahan. tunggu, Apa itu masih bisa dibilang pakaian?
"Sayang .., kamu datang?" Kata wanita itu dengan nada yang dibuat-buat membuat Maggie yang mendengarnya merasa jijik, wanita itu dengan seenaknya mencium Ansel.
Ansel membalas ciuman wanita itu dan saat itu juga wanita itu semakin menjadi, dia naik keatas pangkuan Ansel membiarkan miliknya bergesekan dengan milik Ansel, tangannya pun tidak tinggal diam terus meremas rambut Ansel.
"Ahhh emmpp .. shh ..." Desah wanita itu. Maggie melirik kearah Elargo yang ternyata terlihat biasa saja saat melihat Ansel seperti itu
Elargo menatap Maggie dalam matanya menelusuri tubuh Maggie yang memakai pakaian yang cukup terbuka. "Kau juga mau meraskannya, cantik?" Tanya Elargo pada Maggie dengan nada menggoda dan nakal.
Pria tampan itu berjalan mendekati Maggie dan duduk disebelah Maggie, Maggie mulai merasa tidak Aman disini. "Percayalah kau akan meminta lebih saat sudah merasakannya." Kata Elargo lagi lalu mencium leher Maggie.
"Ti-dak tuan, aku baik-baik saja, tidak perlu--" kata Maggie sambil mencoba menyingkirkan tangan Elargo yang berusaha melepas kancing kemeja Maggie.
"Oh ayolah .. milikku sudah terbangun hanya dengan melihatmu tadi, kau punya tubuh yang indah sayang, aku akan memperlakukanmu dengan baik." Kata Elargo mulai meremas d**a Maggie yang masih tertutup dengan branya, kemeja nya sudah terbuka setengah.
"Ahhh ..." Desah Maggie saat lehernya dihisap dengan keras oleh bibir Elargo, menimbulkan bekas kemerahan di sana.
"Tuan .. kumohon hentikan !!" Teriak Maggie yang bagaikan angin lalu ditelinga Elargo yang sedang menciumi d**a Maggie. Maggie terus memberontak namun tubuh Alergo sama sekali tidak bergerak.
Hingga akhirnya sebuah pukulan menghamtam bibir Elargo membuat Alergo jatuh dari tempat duduknya. Disana sudah ada Ansel dengan emosi yang menggebu-gebu, dadanya naik seperti habis lari maraton.
Alergo tersenyum kecut, "kau menganggu kesenangku." Kata Elargo dengan nada tidak suka, ia menyentuh sudut bibirnya yang mengeluarkan darah. Dengan cepat Maggie mulai merapikan pakaian kembali, dia beruntung karena Ansel telah menolongnya dari pria b******k seperti Elargo.
"Dia milikku." Kata Ansel seakan disetujui kepemilikan. Maggie membulatkan matanya mendengar pernyataan yang dibuat Ansel.
"Milikmu? Jangan bercanda, kau tadi bersama dengan jalang itu." Kata Elargo tidak mau kalah.
"Dia milikku. Kita lihat saja apa akibatnya karena telah menyentuh milikku, Elargo." Kata Ansel dingin,seakan mengerti maksud dari perkataan Ansel, dengan cepat Elargo pergi bersama para bodyguardnya menyisakan Ansel dan Maggie serta beberapa bodyguard Ansel.
Ansel menatap Maggie lekat, melirik bekas yang diberikan Alergo ditubuh Maggie dengan tatapan dingin dan menusuk, dia sangat tidak suka. Tidak suka dengan bekas merah ditubuh Maggie yang diberikan pria lain.
"Terima ..." Kata Maggie yang terhenti begitu mendengarkan perkataan Ansel yang begitu menyakitkan.
"Menjijikan." timpal Ansel lalu meninggalkan bar itu, Maggie bergeming ditempatnya mendengarkan perkataan yang menusuk hati itu.