“Namaku Arlan. Kita akan bertemu suatu hari nanti.”
“Aku akan menemukanmu sebentar lagi, bukan suatu hari nanti.”
“Terserah, jika kau memang penasaran apa yang kulakukan di sini dan siapa aku, kau dan teman dewamu bisa berada di sini untuk menyelidikinya. Tapi kuperingatkan, setelah tengah malam ini, kalian akan kesulitan untuk pergi dari desa ini. Kalian akan terjebak disini, dan takkan bisa keluar, lalu melupakan dunia luar, dan menjadi bonekaku … kecuali… kau bisa menemukanku. Maka aku akan dengan senang hari menghapus kutukanku pada tempat ini.”
“Terjebak? Takkan keluar? Melupakan dunia luar? Menjadi boneka? Kutukan?” ulang Laura tidak paham sama sekali dengan apa yang sedang dikatakan oleh penyihir bernama Arlan tersebut. “Aku tidak mengerti.”
“Pertama-tama, Sayang, kenapa kau tidak cari dimana teman dewamu itu, bukankah ini terlalu lama baginya untuk pergi meninggalkanmu?”
.
.
.
“Sekali lagi, Tuan, sungguh aku meminta maaf. Aku akan mengganti semua bahan makanan yang kami ambil.” Laura menundukkan kepala di hadapan pria yang merupakan pemilik dari toko kelontong ini. Dai sempat melihat Johnny masih tergeletak di atas lantai karena tertidur. “Sungguh, maaf.”
“Tak apa sebenarnya,” kata pria itu malah memperhatikan Johnny yang sangat kotor, kumal. Menurutnya, gelandangan saja jauh lebih bersih ketimbang pria itu. “Ngomong-ngomong siapa kalian? Dan apa temanmu ini baik-baik saja? Apakah kita harus memindahkannya ke tempat lain?”
“Tidak perlu, Tuan, dia sedang tidur steelah banyak makan barusan.” Laura juga enggan jika harus menggotong tubuh pria yang berbau lebih busuk ketimbang tong sampah itu. “Sebenarnya, aku dan temanku menemukan orang ini terlantar di hutan, jadi kami membawanya kemari karena kasihan, karena tokonya tutup, kami terpaksa masuk secara illegal, kami tidak punya pilihan lain karena sepertinya semua toko sedang tutup sekarang, padahal kabut sudah hilang, tapi entah kenapa suasana sangat sepi.”
“Oh, kau dan temanmu pasti pendatang ya, jadi tidak mengetahui kalau ini hari istimewa. Tapi, ngomong-ngomong, dimana orang yang kau bilang teman ini? Apakah dia keluar?”
“Oh, temanku sedang mencari barang di luar, nanti akan kembali kesini, jadi bisakah Tuan tidak marah jika pembayarannya nanti saja, semua uang dibawa oleh temanku.”
“Sudah kubilang tidak masalah, jangan memikirkan membayar, kalian sudah baik mau menolong pemuda kelaparan ini.” Pria itu menatap Johnny kembali. “Entah kenapa sepertinya aku pernah melihat pria ini, tapi rasanya lupa dimana.”
Laura meneguk ludah. Dia bingung antara harus jujur kalau Johnny korban penculikan dua puluh tahun silam, atau tetap diam saja. Tapi, dia pun mendehem, lalu mengalihkan pembicaraan dengan memperkenalkan diri. “Oh, iya, Tuan, namaku adalah Jasper Spring, tolong makluk kalau aku memakai jubah sampai menutupi seluruh begini, akua gak sensitif dengan cahaya, kulitku iritasi mengenai gigiku ini, ya aku penggemar berat vampire, jadi aku meruncingkannya sesekali, aku dan temanku juga hendak mendatangi sebuah pesta horror, jadi tolong jangan salah paham.”
Pria itu tertawa paham. “Iya, anak muda jaman sekarang memang suka bertindak sangat aneh, tapi aku memahami hal tersebut, karena putraku sendiri juga senang dengan hal-hal yang aneh, makanya dia memilih hidup di kota besar.”
“Begitu, ya.”
“Oh benar juga, salam kenal, Tuan Spring, namaku adalah Manny Mines. Aku yang memiliki toko kelontong sederhana ini. Kau boleh mengambil apapun untuk mengenyangkan perut juga, aku bisa maklum dengan alasanmu.” Tuan Mines kemudian berjalan ke meja kasir, lalu membersihkan meja tersebut dari banyaknya tumpukan kertas yang berantakan. “Aku kemari tadinya ingin membereskan tempat ini karena memang tutup, waktu yang tepat untuk beres-beres.”
Laura menengok ke arah johnny yang masih tertidur di lantai, kemudian dia menghiraukannya dengan berjalan menuju ke pria paruh baya tersebut. “Aku sangat berterima kasih atas keramahan yang Tuan berikan.”
“Tentu saja, tak perlu sungkan. Desa ini hampir tidak didatangi orang dari luar sudah berbulan-bulan silam. Memang, mana ada orang yang akan mampir ke tempat sepi begini. Biasanya orang yang melakukan perjalanan dan melewati tempat ini akan langsung pergi, kalian masih tinggal?”
“Aku dan temanku datang dari kota dan menginap di penginapan Tuan Flowers, kemarin hujan, kami takkan bisa berkendara dengan cuaca buruk …”
“Oh, benar juga, kemarin cuacanya cukup buruk. Kalian beruntung menginap di sana, Tuan dan Nyonya Flowers sangat ramah. Karena tempat ini kecil, kami sangat akrab dengan para warga setempat.”
“Iya. Mereka sangat ramah, masakan Nyonya Flowers juga sangat nikmat.”
“Itu memang tak bisa dibantah.”
“Apa yang terjadi pada penginapan mereka jika tak ada pendatang sama sekali?”
“Sebenarnya Tuan Flowers menjual hasil kebun ke beberapa swalayan disini, itu yang menjadi sumber keuangan mereka. Iya, itulah yang mereka lakukan jika taka da yang menginap … berkebun buah.”
“Oh, aku baru tahu itu, mereka punya kebun.”
“Iya, tak jauh di belakang penginapan mereka.”
“Aku jadi ingin kesana.”
“Cobalah kesana sebelum pulang, kalian bisa mendapatkan oleh-oleh untuk dibawa ke kota.”
“Terima kasih untuk sarannya, Tuan.”
“Oh, dan kuperingatkan, meskipun Tuan dan Nyonya Flowers sangat ramah, kalian harus hati-hati dengan pria penjual permen itu, tak ada yang suka dengannya.”
“Kami juga diberitahu demikian oleh Tuan dan Nyonya Flowers. Semalam kami sempat berbicara dengannya untuk mencari tahu tentang peristiwa hilangnya beruang yang ada di hutan.”
“Kalian mau tahu tentang itu?”
“Sebenarnya aku dan temanku itu semacam wartawan, Tuan, iya, kami senang jika ada peristiwa misterius dan membaginya ke para pembaca. Tapi, kami memang tak menemukan apapun, kecuali pria yang nyaris mati kelaparan itu …” Laura menoleh ke arah Johnny yang masih terlelap. “Sungguh ini hal yang tak kami duga sebelumnya.”
“Aku bisa paham, aku tak marah, memang semua toko tutup khusus hari ini, jadi, memang takkan ada yang menyediakan makanan kalau tidak dengan cara membobol begini. Kau tidak perlu merasa bersalah, tujuanmu dan temanmu cukup baik, aku lebih suka orang jujur sepertimu, ketimbang pemuda jaman sekarang yang sangat egois.”
Laura senang dipuji, meskipun agak aneh karena dibandingkan dengan pemuda lain. Dia pun mendehem, lalu mulai bertanya serius. “mengenai hari ini, boleh aku bertanya, Tuan Mines?”
“Iya, tentu saja.” Tuan Mines sudah tak sibuk membereskan barang di atas meja. Dia kemudian duduk di kursi belakang meja kasir, dan mempersilakan agar Laura juga duduk di salahs atu kursi kayu yang ada di dekat situ. “Kau duduk saja dahulu, tidak baik berbicara panjang dengan kondisi berdiri terus.”
Laura menarik salah satu kursi kayu, lalu mendudukinya tepat di hadapan meja kasir. Setelah jeda napas beberapa detik, dia mengajukan pertanyaan, “kenapa semua toko tutup hari ini? Apakah ada perayaan hari tertentu atau memang karena cuaca tadi yang buruk sehingga semua orang membuka toko mereka?”
“Bukan karena cuaca buruk, iya karena memang hari ini sebaiknya tidak membuka toko atau berkeliaran. Ini adlaah hari untuk berkabung atas kepergian semua anak-anak yang hilang sejak puluhan tahun silam. Semua anak-anak itu menghilang tak berjejak sehingga membuat kami sangat bersedih. Ini desa kecil, jadi semua anak-anak itu bagaikan anak sendiri.”
“Aku sempat informasinya di sobekan koran hari ini.”
“Iya, memang ini bukan hari berkabung resmi, tapi sudah terjadi selama bertahun-tahun, jadi sudah seperti kebiasaan. Dahulu aku kenal salah satu anak yang hilang, saat itu aku baru menikah dan memilih anak. Penculikan anak yang sedang heboh itu membuatku dan istriku menjadi protektif pada anak kami.”
“Jadi … mereka semua tidak ditemukan?” Laura smepat melirik ke arah Johnny. Dia penaaran apakah penyihir bernama Arlan itu Sudha membunuh anak yang lain, atau sudah dijadikan eksperimen sihir? Tapi, jika memang sudah dijadikan eksperimen, lantas dimana mereka semua? Anehnya juga, mengapa hanya Johnny yang seolah dibebaskan?
Tuan Mines mulai mengingat masa lalu. “Seingatku penculikan-penculikan ini terjadi setelah ada wabah penyakit, seperti virus flu yang parah, bahkan mematikan, banyak warga yang meninggal dunia, beruntung petugas medis sudah mampu mengatasinya.”
“Wabah penyakit?”
“Iya, dan setelah itu, anak-anak menghilang setiap tahun di hari yang hari, hari ini, tapi kejadian itu berhenti dua puluh tahun silam, dan korban terakhir adalah anak dari tetanggaku yang sekarang sudah meninggal dunia, dia bernama Johnny Johnson, anak yang baik, kalau saja masih hidup, dia mungkin sudah menikah dan berkeluarga sekarang.”
“Begitu ternyata kejadiannya, jadi hari ini semua orang sedang berkabung untuk kejadian puluhan tahun silam. Aku sempat takut karena tidak ada orang di jalanan.”
“Tidak perlu takut, semua orang biasanya di rumah. Jalan-jalan tidak dilarang, kok, memang kalian harus maklum, kebanyakan disini adalah kaum tua, jadi lebih memilih beristirahat di rumah ketika sedang libur bekerja seperti sekarang.”
“Begitu, ya.”
“Kau ada pertanyaan lain?”
“Sebenarnya aku sedang gelisah, Tuan Mines, temanku dari tadi tidak kembali juga, mungkin saja dia tersesat, tapi agaknya itu mustahil, desa ini kecil, tidak menyesatkan sama sekali.”
“Mungkin temanmu sudah kembali ke penginapan.”
“Itu tidak mungkin, dia takkan meninggalkan aku dan pria yang kami temukan ini disini tanpa memberitahu sesuatu. Lagipula, dia yang membawa uang, mana bisa dia melarikan diri tanpa membayar makanan yang diambil pria kelaparan itu.”
“Mungkin juga dia mencari informasi tentang sesuatu, kalian bilang kalian ini semacam wartawan.”
Laura agak lega karena itu bisa jadi sebuah kemungkinan. Erlend sangat ingin mengungkap apa yang terjadi di tempat ini. Tapi, dai juga ingin memberitahunya tentang apa yang dia dengar dari penyihir bernama Arlan yang merasuki tubuh dari Johnny tadi.
Ancaman dari penyihir tadi masih menghantuinya.
“Tuan Spring, kau tidak apa-apa?” tanya Tuan Mines cemas melihat Laura yang berpikir keras. “Tidak perlu khawatir, kalau memang tersesat, aku akan menyuruh sherrif untuk mencarinya.”
“Tidak perlu, mungkin Tuan Mines benar, dia sedang mencari informasi tentang semua hal yang terjadi di desa kecil ini. Aku agak penasaran tentang sesuatu yang lain, Tuan Mines.”
“Tanya saja.”
“Mengenai tentang keanehan di desa.”
“Keanehan? Keanehan apa?”
“Kenapa orang-orang tidak mengikuti hal-hal modern disini? Tidak da ponsel, telepon rumah, smeua perabotan pun kelihatan kuno. Bahkan …” Laura memperhatikan makanan yang ada di rak-rak makanan yang ada di dalam toko kelontong ini. Jika diperhatikan jauh lebih dalam, smeua kemasan produk disini memang keluaran lama yang kemungkinan tak diproduksi lagi. Lantas bagaimana caranya orang ini mendapatkan pasokan barang ini?”
“Bahkan apa?”
“Bahkan disini produknya juga kemasan lama, aku nyaris tak pernah melihat selai nanas dengan merek dagang itu,” kata Laura menuding ke aneka selai di area rak roti. Dia heran sekali dengan semua keanehan semacam ini. “Rasanya seperti berada di toko antik.”
“Oh, menurutmu begitu?” Tuan Mines mengerutkan dahi. Dia malah keheranan dengan ucapan Laura. Padahal setahunya semua produk yang dia jual merupakan keluaran terbaru. “Tapi, kau jangan khawatir, semua makanan disini sangat layak dimakan …”
“Bukan itu maksudku, Tuan,” potong Laura buru-buru karena takut menyinggung, “maksudku barang daganganmu ini sangat langka, aku tak melihatnya di toko manapun, maksudku itu seperti … semua yang ada di desa ini sangat unik dan punya ciri khas tersendiri, seolah-olah semua orang memang menyukai era delapan puluh hingga Sembilan puluhan.”
***