Suasana di dalam kamar terasa begitu tegang. Mama dan papa duduk di ujung tempat tidur, masing-masing merenung dalam keheningan. Perdebatan mereka seakan merasuk ke dalam dinding-dinding kamar, menciptakan ketegangan yang sulit diabaikan. "Kenapa Papa nggak pulang? Ini sudah dua hari," desis mama dengan suara gemetar. Wajahnya mencerminkan kekhawatiran yang mendalam. Papa, yang duduk di seberang, menatap kosong ke luar jendela. "Maafkan, Papa, Ma," pinta papa dengan tatapan memohon. "Apa demi anakmu atau Maya?" bentak Mama, suaranya terdengar tercekik. Sejenak, keduanya terdiam, hanya suara hembusan nafas yang terdengar. Kemudian, tiba-tiba, telepon genggam papa berdering. Layarnya menyala dengan tanda panggilan masuk dari Maya, istri keduanya. Papa mengambil napas dalam, lalu melempar

