Belajar dari yang Tak Pernah Diajar

266 Words
Pagi itu aku sedang sarapan dengan sangat tenang tiba-tiba tersendak karena aku melihat jam sekarang pukul 7. Aku menggoes sepedaku. Sialnya gerbang sekolahku sudah ditutup dan dengan wajah kesal pak satpam berkata padaku di balik pintu gerbang. Lalu dibukakannya pintu gerbang ini, namun aku bersama murid lain dihukum berdiri di lapangan basket hingga jam pertama selesai. Aku melirik pos satpam, tempat dimana laki-laki itu di setiap pagi datang dan juga bekerja sampai suatu sore hari tiba. Namanya Pak Asep, namun anak-anak sering memanggilnya dengan “Mang Oray”, entah aku tak tau dari siapa orang pertama pencetus panggilan tersebut pada Pak Asep. Dia memang sangat popular di SMA Negeri 1 sebab dekat dan ramah dengan murid-murid, khususnya kepada murid laki-laki. Lama setelah itu semakin akrab dengan satpam yang tersebut, kawan-kawanku selalu akan memanggilnya Mang Oray. Pernah suatu saat dia menceritakan kepadaku dan juga kawan-kawanku tentang dia sewaktu dan seusia kami. “ Dulu, Mamang juga pernah sekolah seperti kalian. Tapi mamang tidak dapat melanjutkannya hingga selesai, karena orang tua mamang yang tidak bisa membiayainya” imbuh dia dengan senyum untuk menutupi. “Kalian, harus bisa memanfaatkan kesempatan kalian untuk bersama mengais ilmu disini, makanya mamang suka sangat marah pada kalian yang suka terlambat masuk” sambungnya. Dia kemudian masih melanjutkan ceritanya. Ternyata di dalam rumahnya dia menyediakan perpustakaan mini untuk mereka para tetangganya yang ingin sekolah namun mereka terkendala ekonomi keluarga. Aku pun menjadi sangat kagum dengan berbagai perjuangan Pak Asep. Ditengah biaya hidup yang kini semakin susah, kulit kian menjadi keriput serta rambut kian memutih, dia masih bisa selalu membantu orang-orang di sekitarnya. Terimakasih, Pak.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD