Di sinilah dia mengambil tanah itu. ia merasakan juga kantong di pinggangnya, seutas tali melilit perutnya. Untuk sesaat, angin bertiup, menyentuh kemeja putih dan celana panjangnya, lalu berkorespondensi, memecahkan apa yang telah berlalu. Terdengar suara anjing melolong di kejauhan sebrang sungai. Pria itu melihat anjingnya mengangkat telinganya, moncongnya menunjuk ke suatu suara, dan ujung ekornya bergerak-gerak.
“Ssst jangan dulu menjawab. Dia tahu bahwa jika Clivon menjawab, seekor anjing yang berapi-api akan datang, dan kebingungan akan dimulai. Ini akan mengganggu pekerjaannya. Tentu saja, karena anjing itu lebih suka betina daripada pemiliknya.
Dia memanjat merangkak, hanya rumput yang hijau yang menutupi tanah. Dari waktu ke waktu, tangannya menarik rumput. Pakaiannya menyentuh rumput, dan perutnya terasa dingin. Anjing itu berdiri di sana di gundukan. Hal yang sama, beberapa saat kemudian. Anjing itu berjongkok, lalu dirinya sendiri. Dia duduk bersila, bergandengan tangan. Dunia menghilang dari akal sehatnya.
Ketika dokumen-dokumen yang saya panjat berbelok ke utara, meninggalkan jalan utama yang menghubungkan Jatiwangi dan Cirebon, jantung saya berdetak kencang. Sebelum saya berjalan sekitar lima kilometer adalah jalan desa yang mengarah langsung ke Leuweung Gede, desa saya tempat orang tua saya berada. Di depan saya, lima kilometer jauhnya, orang tua saya akan menerima saya dengan tangan terbuka lebar dan senyum Bagaimana mungkin saya tidak melakukan ini, hari itu saya – yayat kadus – satu-satunya anak Pak Rian Sasmita, seorang Guru SD dari desa Jatiwangi, pulang dari Cirebon, berhasil mengemas asisten guru di Ploso: Membantu Guru. Ini berarti bahwa saya adalah orang pertama dalam keluarga besar kami yang telah berhasil menjadi seorang priyayi, walaupun para priyayi memiliki peringkat terendah. Ini bukan alasan mengapa kaki saya harus naik ke tingkat prajaji.
Dalam beberapa bulan ini, jika saya rajin dan loyal kepada gubernur, saya akan menjadi guru penuh di sekolah pedesaan. Ini akan semakin memperkuat posisi saya sebagai priyaya dan hamba pelayan. Dan jika saya menjadi guru guru, wow, itu bisa disebut prajaji yang disegani.
Orang tua saya adalah petani desa, petani pedesaan sejati. Begitu juga dengan paman dan sepupuku. Mereka semua adalah petani desa. Seluruh keluarga besar kami, seperti kebanyakan keluarga petani di desa itu, pada suatu waktu ingin sekali anggota keluarga maju ke tempat penampungan, dan tidak berhenti dan puas, seperti petani desalainya. Karena itu mereka mengirim anak-anak mereka ke sekolah
Demikianlah yang dapat admin sampaikan materi ini dimana pembahasan mengenai Contoh Cerita Novel. Semoga dengan materi yang sudah dibahas melalui artikel ini, dapat memberikan pemahamaan dan manfaat untuk sahabat pembaca semua.