keadaan setelah gempa

627 Words
Melihat rumah yang sudah luluh lantah dan rata dengan tanah ibu terduduk lemas merapi " ya Allah semua akan kembali kepada Mu jiwa dan juga harta ini semua milik Mu" Pedih rasanya hati ini mendangar ratapan ibu. aku menangis sambil memeluk erat tubuh ibu yang lemah. sementara aditya dan saudara laki laki ku bergegas membangun tenda dari terpal. warga saling bahu membahu membangun tenda. bantuanpun datang dari berbagai kalangan mulai dari mie instan, nasi bungkus dan air minum. selama beberapa hari kami tak bisa menghubungi sanak saudara karna listrik padam dan hp kami kehabisan daya dan kami juga kekurangan air minum. Di malam hari kami hanya di terangi cahaya lilin dan lampu senter gelap mencekam sedangkan di siang hari panas terik dan sungguh menyengat membakar kulit tapi tak ada yang bisa kami perbuat selain tawaqal dan berdoa. Setelah beberapa hari kami berkumbul bersama keluagaku, aditya mengajak ku kembali ke rumah " dek besok kita balik ke rumah dulu ya kita lihat bagaimana keadaan di sana ntar kita balik lagi kesini" sebenarnya aku tak mau meninggal ibu dan bapak dengan berat hati aku menjawab " ya kak tapi jangan lama di sana ya kasihan ibu dan bapak kalau kita tinggal lama lama" alhamdulillah aditya sangat mengerti kekhawatiran ku, dengan senyum manisnya dia menggenggam erat tangan ku dan berkata " kita hanya sebentar kok cuma mau tau keadaan saja setelah itu kita lansung balik ya " akupun menjawabnya hanya dengan senyuman "terima kasih ya Allah Kau telah memberi ku seorang suami yang begitu pengertian dan sayang sama keluarga ku" aku membatin. Keesokan harinya aku bangun pagi pagi sekali setelah aku dan aditya sholat subuh aku lansung keluar tenda ke tempat yang di jadikan dapur ternyata ibu dan kakak iparku delia sudah berada di sana " bu kak lagi masak apa" tanyaku " cuma ini nak " jawab ibu sambil menunjukan bukus mie instan " pangil semuanya untuk sarapan sebelum mienya ngembang nanti gak enak " sambung ibu. "ya bu" akupun berlalu " pak kak ayo sarapan dulu" bapak menjawab hanya dengan anggukan kepala, beliau lansung bangkit di susul kak edi dan aditya menuju ketempat kami biasa makan. Kami sarapan hanya dengan mie instan dan dudukpun beralaskan kardus bekas. di sela sela sarapan aku mengutarakan maksud kami untuk balik ke rumah kami " pak bu kami mau pulang hari ini insya Allah besok lusa kami balik lagi ke sini, ibu gak apa apa kan kami tinggal dulu? " aku menatap lekat wajah ibu yang seakan enggan membiarkan kami pulang dan benar dugaan ku " nak sebaiknya kalian di sini saja kita kumpulnya di sini saja kalau kalian pulang gimana nanti kalau ada lagi gempa susulan " ibu mejawabku dengan mata berkaca kaca, aku bangkit dan duduk di sampingnya ku raih tangannya dan mencium punggung tangannya dengan takzim ku coba meyakinkannya " ibu gak usah khawatir insya Allah semua akan baik baik saja lagi pula kami hanya sehari atau dua hari saja kok di sana setelah semua selesai kami akan segera kembali " dengan berat hati akhirnya ibupun mengizinkan kami pergi " baiklah tapi janji jangan lama lama ibu gak mau dalam situasi seperti ini kalian jauh dari ibu" aku dan aditya saling tatap dan tersenyum " ya bu kami janji gak akan meninggalkan ibu lama lama" jawabku. selesai berkemas kamipun lansung berangkat setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam kamipun tiba di rumah kami.alhamdulillah rumah kami tak sampai rubuh cuma retak dimana mana aku dan aditya takut untuk masuk ke dalam rumah khawatir tiba tiba datang gempa susulan yang akan membuan bangunan rumah kami ambruk, aditya menatap ke arah ku dan berkata " dek kamu tunggu di luar saja aku akan coba masuk mengambil yang penting peting saja " aku menganggukan kepala dan menjawab " baik kak hati hati ya".
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD