Saling Teringat Satu Sama Lain

1053 Words
Karena pada dasarnya hidup ini memang harus diperjuangkan. Dengan susah payah menaiki tangga untuk menuju puncak, meski harus ada aral rintang. “Luna, gimana? Apa kamu siap?” tanya Tobi, ia coba mengoreksi setiap garis wajah yang muncul menghias pada Luna. “Gimana kalau aku gagal?” tanya Luna. Ia terlihat sangat cemas. “Jangan merasa kalah sebelum perang!” tambah Rena. Luna terlihat menghela nafas panjang. Ia terlihat gugup karena ini adalah pertama kali baginya untuk melakukan performa secara langsung di depan umum. ‘Apa aku bisa?’ ‘Kalau aku melakukan kesalahan?’ ‘Apa aku akan ditertawakan?’ Sisi negatif dari hati Luna berbicara sendiri. Mengintimidasinya agar tidak meju ke depan. Padahal sudah ada banyak orang yang menunggu penampilannya. Tobi dan Rena yang bertugas melakukan shoot, bahkan juga sudah siap dengan topeng mereka untuk ikut mendampingi Luna tampil di depan umum. ‘Ayo Luna demi cuan!’ ‘Emangnya kamu nggak mau dapat banyak like dari konten ini?’ ‘Kalau banyak orang yang akan suka, sayang kalau tidak dicoba!’ Rena dan Tobi bersama-sama mendekati Luna yang masih duduk di dalam kafe. terlihat mental Luna memang belum yakin untuk pembuatan video kali ini. “Anggap aja tidak ada orang, lagi pula melakukan satu atau dua kesalahan, orang juga nggak akan tau. Kan ini panggung kamu Lun! Panggung kamu sendiri. Nggak ada yang ngatur kamu untuk menari seperti ini atau itu. Kamu bebas berekspresi.” Rena memegang pundak Luna. Tobi juga melakukan hal yang sama. Tapi, lidahnya keluh tidak bisa bicara. Ia tidak memiliki banyak kosa kata yang bisa menyajikan kata-kata motivasi untuk Luna. Namun, ia tetap ingin bilang sesuatu. “Ayo Luna, dance kan salah satu hobi kamu. Jadi, jangan ragu!” “Apapun yang terjadi nanti, kami akan dukung kamu kok! Jadi, kita coba dulu yuk! Kasian Tobi sudah pamit minta izin dan bayar sewa tempat ini buat penampilan kamu. Masak kita mau pulang dengan tangan hampa?” Luna merasa apa yang dibilang Rena ada benarnya. Ia lalu menatap Tobi yang masih memegangi pundak kirinya. Menatap penuh perhatian. “Iya, aku lupa kalau kamu juga ikut andil besar dalam persiapan kali ini!” Luna kemudian bangun dan mulai berjalan keluar dari kafe. Menuju ke stage berupa halaman luas yang dikelilingi tanaman hijau yang terlihat rimbun. Rena siap di posisi, masih melihat ke arah Luna yang akan menari. Hingga akhirnya gadis itu mengangguk pertanda musik untuk segera dinyalakan. Tobi ada di bagian kamera, Rena juga sama. mereka secara bergantian berputar-putar mencari sudut yang tepat untuk menangkap pertunjukkan Luna. Alunan nada telah terdengar dan Luna telah memulai langkah pertamanya. Tangannya berhasil membentuk gerakan seperti gulungan ombak, dan hentakan kakinya penuh power membuat siapapun yang melihat ikut semangat. *** Daffa telah sampai di rumahnya, ia segera memarkir kendaraan. Lalu segera masuk ke dalam rumah dan menuju kamar. “Daffa, kamu baru pulang Nak?” sapa sang mama. Tapi, saat itu Daffa seperti tidak mendengar suara mamanya, ia berjalan begitu saja agar bisa segera sampai ke kamar. Mamanya Daffa hanya melihat dengan aneh. Ia bingung juga kenapa Daffa sampai tidak menjawab sapaannya barusan. “Ada apa sama tu anak, main nyelonong aja ke kamar! Nggak tau apa kalau mamanya lagi nungguin dia pulang dari tadi?” mama Anya, mamanya Daffa jadi bergumam sendiri. Tapi, ia masih harus lanjut membuat kue, maklum itu adalah makanan favorit Daffa, dan mama Anya memang berencana untuk membuatkannya. Sementara itu, Daffa mulai melepas apa yang menempel di tubuhnya. Masker dan kacamata. Lalu berjalan menuju wastafel mencuci muka. Seketika ia merasa segar. Menuju ke tempat tidur, Daffa mengingat lagi memori saat menonton pertunjukan penari bertopeng. Memukau, lemah gemulai dan lincah. Tatapan matanya kuat, dan setiap gerakan yang dilakukan begitu bersemangat. Tanpa sadar, Daffa malah menggerakkan tubuh seakan sedang menari bersama dengan Luna. Ia menari bebas dengan gerakan kacu yang penting gerak dan asal-asal sesuka hati. Yang penting hati Daffa bahagia. Kue yang dimasak Mama Anya juga sudah selesai. Hanya kue kecil, tapi ada segudang cinta dari mama kepada anaknya yang berada di dalam kue tersebut. Mama Anya sedang membawa kue tersebut, menuju kamar Daffa yang memang iasa dibuka kapan saja, bahkan saat Daffa baru selesai mandi. Termasuk kali ini, Mama Anya memergoki Daffa menari tidak jelas, sambil memejamkan mata. Daffa juga tidak sadar kalau mama Anya sudah ada di dalam kamar. ‘Nih bocah kesambet apa sih? Nggak dengerin apa-apa kok bisa nari kayak orang crazy!’ batin mama Anya yang kemudian memukul pipi Daffa. Daffa kaget. “Eh Mama, kok bisa ada disini?” Seketika gerakan Daffa berhenti, seperti televisi yang sedang ditekan tombol pause. Ia berhenti begitu saja. “Mau kasih kamu kue! Mama yang buat!” “Oh!” Daffa menggaruk keningnya yang gatal tiba-tiba. ‘Iya abis ini biar aku makan. Tapi, aku mandi dulu.” Melihat sang putra yang sepertinya ingin menghindar. Mama Anya malah penasaran. “Daf! Tapi kamu nggak apa kan? Apa ada masalah sama dance kamu?” Daffa berkedip menatap mamanya yang sepertinya sedang bingung. “Aku nggak papa kok Ma.” “Yakin?” “Yakin!” Daffa mengangguk, lalu bergerak memeluk sang mama. “Beneran aku nggak papa kok, Mama nggak usah cemasin aku!” “Ya udah kalau begitu mama balik ke dapur ya!” “Iya Ma!” Melihat mamanya pergi, Daffa bernafas lega. Ia tidak mungkin menjelaskan pada sang mama kalau dirinya sedang kesemsem sama gadis penari yang memakai topeng. Bisa cemas mama Anya kalau tahu anaknya sudah mulai kagum pada lawan jenis. Karena belum saatnya kata sang mama. *** Kepuasan terpancar di wajah Luna. Ia berhasil menyelesaikan siang yang penuh keraguan. Akhirnya Luna berhasil melakukan pertunjukkan langsung di depan umum. Tidak sabar untuk meng-up video yang telah dirapikan Tobi. Malam ini bisa dipastikan Luna tidak akan bisa tidur dengan nyenyak. Sekilas Luna ingat kalau ada Mellya saat pertunjukkan tadi, juga Prita dan Nadia. “Terus Daffa, apa dia juga ada disana?’ batin Luna bertanya sendiri. Luna coba ingat. Mungkinkah saat menari tadi, ada sepasang mata yang mirip Daffa. “Ah anak yang pakai masker itu." Sekilas kalau diingat tatapan matanya mirip Daffa. Luna sadar ada mata yang terus melihatnya dengan tajam. Sempat dirinya juga bertatapan empat mata. tapi, hanya sesaat. “Mungkin nggak kalau itu Daffa. Apa dia beneran ngefans sama aku? Sampai-sampai dia mau nonton secara langsung. Kalau iya.” Luna jadi tersenyum sendiri. Hal itu, cukup membuat dirinya bahagia.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD