BAB 6

1775 Words
Sejak siang hari aku sudah berada di rumah Mbak Maura untuk persiapan ke pesta pernikahan Kevin hari ini. Rencananya aku ingin meminjam gaun mahal miliknya yang berasal dari designer ternama dan memintanya juga untuk memanggilkan penata rias agar bisa mendadaniku. Aku benar-benar melakukan segalanya untuk sekadar menjadi tamu undangan pernikahan pria itu. Meskipun uangku cukup banyak terkuras tetapi aku merasa senang karena setidaknya bisa membuatnya kesal dengan membawa gandengan tampan tentunya. Pokoknya hari ini aku akan dandan habis-habisan untuk pergi ke kondangan si mulut dower Kevin. Akan aku tunjukkan jika aku, Vitalia Cecilia juga bisa mempunyai pacar tampan nan mempesona yang jauh 1000x lipat dibandingkan dia! "Elo beneran enggak bisa ikut mbak? A'Muda juga enggak ikut karena harus keluar kota dan sekarang elo, sedih." ucapku sambil memilih-milih gaun yang ingin aku pinjam. Penata rias yang Mbak Maura panggil belum juga datang sehingga aku masih mempunyai sedikit waktu untuk menentukan gaun mana yang ingin aku pakai. Mbak Maura dan diriku memiliki postur tubuh yang hampir sama sehingga aku bisa meminjam pakaiannya begitu juga sebaliknya. Hubungan kami berdua bukan lagi sekadar sahabat tetapi seperti saudara, kakak dan adik. Aku yang sudah tidak memiliki saudara dan Mbak Maura yang memang merupakan anak tunggal. "Sadewa tiba-tiba saja demam dan elo tahu kan kalau dia sakit manjanya kaya apa? Belum lagi Nakula bakal ikut-ikutan. Pusing gw jadinya, mana mas Bram enggak ada lagi. Lagian elo juga enggak bakal sendirian kok ke sana. Enggak inget lo sama cowok bayaran yang sudah bikin elo bangkrut sampai harus numpang makan di rumah gw nanti?" "Iya sih tetapi tetap saja mbak, sepi." saat diriku sedang memilih gaun dan aksesoris lainnya tiba-tiba saja aku menerima telepon dari pria yang akan menjadi pasanganku malam ini. "Halo." "......" "Yang bener saja dong mas. Gw kan sudah transfer kemarin masa jadinya kaya begini sih?." "......" "Ya enggak bisa begitu dong. Bagaimanapun kan gw sudah bayar full tanpa DP." "......" "Terserah deh! Pokoknya gw kecewa banget sama pelayanan elo yang enggak profesional kaya begini." dengan perasaan kesal aku pun segera mematikan sambungan telepon darinya. Mbak Maura yang sejak tadi hanya melihatku langsung mendekat dan menanyakan mengenai kejadian barusan. "Dari siapa? Kenapa elo jadi sewot begitu?" "Dari cowok bayaran yang dikasih A’Muda. Masa dia mau ngebatalin perjanjian kita secara sepihak sih mbak? Alasannya sih karena salah satu mami langganannya lagi ingin sama dia malam ini dan dia enggak bisa menolak karena maminya itu merupakan pelanggan VVIP." "Terus sekarang bagaimana? Elo tetap mau datang atau batal? Mumpung MUA-nya juga belum sampai jadinya bisa gw cancel meski nanti elo tetap harus bayar sekian persen sebagai biaya ganti rugi." "Enggak, gw tetap harus dateng. Makin senang saja tuh si Kevin kalau gw enggak datang. Lagian cuman ini kesempatan gw untuk bales dendam ke dia sekaligus ngebuktiin kalau gw juga punya gandengan cowok." "Tetapi kan elo enggak punya kandidat lain buat gantiin tuh gigolo." sejujurnya aku pun merasa bingung dengan keadaan ini. Di satu sisi aku merasa harus datang karena hanya ini peluang yang aku punya tetapi disisi lain aku juga tidak memiliki siapa pun untuk aku ajak pergi. "Mbak, Darren ada di rumah kan?" "Iya kenapa? Wait, jangan bilang kalau elo mau jadiin anak gw sebagai pasangan kondangan nanti? Wah, cari perkara lo namanya kalau begitu." "Enggak ada pilihan lain lagi mbak. Lagian juga enggak akan ada yang kenal sama Darren kan di sana? Jadinya amanlah. Mbak bantuin gw dong buat ngebujuk anak elo itu, please." ucapku memelas sambil menggenggam kedua tangan Mbak Maura erat. Bagaimanapun aku sudah tidak mempunyai pilihan lain lagi saat ini selain pria tersebut sehingga mau tidak mau aku harus membawanya sebagai pasanganku malam ini. "Aduh, gw enggak yakin deh Vit kalau si Darren bakalan mau. Lagian elo tahu sendiri kan dia bagaimana orangnya." "Coba dulu deh mbak, yuk." langsung saja aku tarik tangan Mbak Maura untuk menuju ke kamar Darren di lantai dua. Kuketuk berkali-kali pintu kamarnya namun tidak juga dibukakan oleh Darren. Ini anak tidur atau mati sih? Atau jangan-jangan budek lagi? Merasa jika tidak akan ada sautan apa pun darinya aku pun langsung mengedor pintu kamar Darren secara bar-bar sehingga tidak lama setelahnya pintu tersebut terbuka dan menampilkan wajah datar Darren yang seperti biasanya. Akan tetapi yang menjadi permasalahannya sekarang adalah tatapan pria itu. Darren menatap kami berdua dengan tatapan dingin yang menyeramkan sehingga membuatku dan Mbak Maura menjadi ketakutan karenanya namun perasaan ingin balas dendamku terhadap Kevin lebih besar dibandingkan rasa takutku kepada Darren sehingga aku tetap ingin melaksanakan niatanku dengan memanfaatkan anak tiri dari sahabatku ini. "Ada apa?" "Eh, i... in... ni sayang, mami cuman mau bilang kalau Vita mau ngomong sama kamu." Apa? Astaga Mbak Maura! Gw pikir dia yang mau ngomong ke Darren. Kenapa jadi aku sih? Aku pun segera menatap Mbak Maura dengan tatapan menuntut dan aku yakin jika dirinya memahami maksudku saat ini namun yang terjadi Mbak Maura justru terus saja berusaha untuk menghindari tatapanku tersebut. Melihat sang mami yang terus saja menatap ke arah lain, Darren pun langsung menatapku sehingga mau tidak mau aku harus menanyakannya sendiri. Ya Tuhan kuatkan hamba dari pria dingin ini. "Begini Ren. Hm, elo mau enggak jadi pacar gw?" *** Akhir pekan adalah waktu istirahat sehingga aku tidak ingin diganggu oleh siapa pun. Akan tetapi ketenanganku di kala libur menjadi sedikit terusik oleh suara ketukan pintu dari seseorang. Mencoba mengabaikannya aku pun kembali memejamkan mata namun yang terjadi suara ketukan itu justru berubah menjadi sebuah gedoran yang memekakkan telinga. Dengan perasaan kesal aku pun akhirnya memilih bangun dari kasur king size favoritku untuk membuka pintu dan melihat siapa pelakunya dan ketika pintu terbuka, wajah Mami Maura dan Tante Vita adalah wajah yang aku temui. Keduanya nampak begitu gugup dan takut sehingga membuatku menjadi sedikit bingung saat melihatnya. "Ada apa?" "Eh, i... in... ni sayang, mami cuman mau bilang kalau Vita mau ngomong sama kamu." kuarahkan pandanganku ke Tante Vita namun bukannya langsung menjawab, wanita ini justru semakin terlihat gugup dan juga takut. "Begini Ren. Hm elo mau gak jadi pacar gw?" Ada apa dengannya? Mengapa tiba-tiba dia menyatakan perasaannya kepadaku dan kenapa juga harus ditemani oleh Mami Maura seperti ini? "Maksud gw itu pacar bohongan bukan beneran jadi please, jangan salah paham. Begini, gw butuh seseorang untuk gw ajak ke kondangan malam ini dan masalahnya gw sudah enggak punya kandidat lain selain elo." "Tidak." setelah menolaknya mentah-mentah aku pun berniat untuk menutup pintu kamarku namun tiba-tiba saja Tante Vita justru menghalanginya sehingga membuat tangannya menjadi terjepit. "Aw, sakit Ren!" teriaknya yang membuatku seketika langsung membuka pintu itu kembali. Tante Vita menunjukkan wajah kesakitan dan dapat aku lihat jika tangannya sedikit memerah. "Ren, mami mohon ya sayang. Kamu mau kan bantuin Vita dan jadi pasangannya malam ini?" Mami dan segala permintaannya. Meski terkadang tidak masuk akal namun tetap saja akan aku lakukan karena bagaimanapun dia adalah mamiku meski bukan mami kandungku. Jika boleh jujur, jauh di dalam lubuk hatiku aku begitu menyayanginya dan ingin menjadi anak yang berbakti untuknya sehingga sebisa mungkin aku akan menurutinya. "Oke." “Beneran?!” “Hm.” “Makasih sayang, mami senang mendengarnya.” setelah memastikan apa-apa saja yang harus aku lakukan dan persiapkan mereka berdua pun akhirnya pergi dari kamarku. Baiklah sepertinya rencanaku untuk berbaring seharian di atas kasur akan gagal. Pukul 6 sore aku pun telah selesai bersiap dan tidak lama Tante Vita muncul dengan penampilan yang harus aku akui sangat cantik dan menawan. Sepertinya Tante Vita memang sengaja tampil maksimal untuk datang ke acara pernikahan ini. Lihat saja pakaian dan make-up yang dia gunakan namun begitu aku tetap tidak berniat untuk bertanya apa pun karena bagiku keikutsertaanku saat ini hanyalah sebagai salah satu bukti kepada Mami Maura jika aku sedang berusaha menjadi anak yang berbakti untuknya. "Makasih ya Ren karena sudah bersedia buat bantuin gw hari ini. Jujur saja kalau enggak ada elo gw enggak tahu harus bagaimana." "Hm." "Tetapi gw boleh minta tolong sekali lagi enggak?" tanyanya sedikit ragu. Kuarahkan pandanganku sebentar kepadanya yang saat ini sedang duduk manis di sebelahku lalu setelahnya aku kembali fokus dengan jalanan di depan. "Apa?" "Karena kita lagi akting jadi pasangan maka gw minta untuk jangan tanggung-tanggung nantinya. Maksud gw, elo dan gw harus terlihat seperti orang pacaran beneran di hadapan orang-orang dan sejujurnya alasan gw sampai minta elo seperti ini tuh untuk bantu gw balas dendam serta ngebuktiin ke orang-orang khususnya ke mempelai pria kalau gw itu enggak seperti gosip yang selama ini beredar. Sorry, karena gw sudah manfaatin elo buat acara balas dendam gw.” ada nada sungkan dan rasa bersalah yang dapat aku dengar dari ucapan Tante Vita tadi. Jujur saja alasannya terdengar begitu konyol dan aneh untukku namun aku tetap memilih untuk membantunya. Selain karena ini adalah permintaan Mami Maura, kami berdua juga sudah berada di jalan menuju tempat acara dan sangat tidak mungkin jika aku tiba-tiba saja menjadi membatalkannya dan putar balik untuk kembali ke rumah. "Hm." "Hm apa nih. Hm oke atau hm enggak oke?" tanyanya yang lagi-lagi menatapku dengan tatapan bertanya dan memohon. "Baiklah." “Elo ternyata beneran orang yang baik ya. Thanks.” ucapnya sambil tersenyum manis. 45 menit perjalanan akhirnya kami berdua telah sampai di lokasi acara. Sebelum turun Tante Vita kembali memperingatkanku untuk bersikap mesra layaknya sepasang kekasih selama acara berlangsung. Aku hanya diam karena memang enggan menjawab. Lagi pula mau bersikap seperti apa dan bagaimana? Menciumnya di tengah pesta serta kerumunan orang-orang? "Kalau pegangannya begini malah kaya orang mau nyeberang. Kalau meluk begini tangan gw pegel terus kalau kaya begini enggak nyaman." ocehnya yang saat ini telah berada di sampingku dengan berbagai macam kegiatan "pegang-pegang" nya sejak tadi, mulai dari bahu, tangan, dan berakhir di lenganku. Karena sudah tidak tahan dengan segala sikap anehnya ini, aku pun langsung menarik pinggang tante Vita untuk semakin merapat denganku. Meski terlihat sedikit terkejut dengan aksiku ini akan tetapi Tante Vita langsung tersenyum sambil menatapku puas. "Begini baru bagus dan kelihatan romantis." Ya Tuhan kuatkan hambaMu malam ini terlebih dengan wanita aneh sepertinya. Aku dan Tante Vita kemudian masuk ke dalam ruangan tempat acara berlangsung dan sebelum bertemu kedua mempelai yang masih sibuk dengan tamu undangan lainnya, beberapa teman kantor Tante Vita dan Mami Maura justru datang menyapa sambil menanyakan siapa diriku. Dengan angkuhnya Tante Vita pun menjawab, "Oh, ini gw lagi sama pacar." Aku hanya diam karena terlalu enggan untuk mengikuti permainannya lebih lanjut. Bagaimanapun sudah aku katakan sejak awal jika diriku hanya akan menemaninya tanpa mau terlibat lebih jauh soal kebohongannya dan biar nanti semua itu akan menjadi urusan Tante Vita. Setelah berbasa-basi sebentar kami pun pamit undur diri untuk menemui seseorang yang menjadi tujuan utama kedatangan serta keterlibatanku saat ini. "Sudah siap kan sayang?" ucapnya sambil mengedipkan sebelah matanya. Sakit mata atau kenapa sih wanita ini?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD