#3. Mata untuk Mata

1701 Words
*** Putra terperanjat ketika mendengar auman harimau. Suara mengerikan itu begitu dekat dari arah belakang. Sontak dia memutar badan. Seekor harimau benggala muncul dari kegelapan. Tubuhnya begitu besar hingga Putra mengira, dengan memakannya saja tidak akan cukup membuatnya kenyang. Harimau itu melangkah perlahan. Setiap jejaknya membawa segerombol rasa takut yang kian menekan Putra. Kuku - kuku tajamnya seolah sudah dipersiapkan untuk mengoyak dan membuat tubuhnya tercerai berai. Belum lagi taring - taring berkilat yang dengan senang hati ingin menembus kulit, daging, dan mematahkan tulang belulang lelaki itu. Putra menelan saliva. Peluh berlomba terbit di keningnya. Ketakutan yang menyapa kini berhasil menguasai pikirannya, melumpuhkan raganya. Jika dia berlari, maka harimau itu jelas akan semakin beringas. Namun, diam juga bukan pilihan yang benar. Setidaknya, harus ada perjuangan sebelum napas terhenti dan mati dalam keadaan terhormat. Putra berjalan mundur sebelum mengambil langkah seribu, menembus semak belukar dan berbagai flora Alas Purwo. Pria itu mulai ragu akan jalan keluar, sementara di belakang harimau terus mengejar. Tak ada secercah asa akan datangnya sang penyelamat. Hutan itu begitu lebat dan gelap. Beratus - ratus kilo meter dari rumah penduduk. Tanpa sadar, Putra semakin terjerumus lebih dalam ke tengah rimba. Berlari tak tentu arah hingga terjerembap akibat akar tunjang yang membentang. "Aaak!" pekiknya di atas tanah basah. Napas Putra terengah - engah. Peluh bercucuran membasahi sekujur tubuh. Pakaian yang dia kenakan tak lagi bersih. "Oh, Tuhan, bantu aku keluar dari rimba ini. Selamatkan aku dari harimau lapar itu! Aku mohon. Aku berjanji akan meningkatkan ibadahku sepulang dari hutan ini. Aku mohon," pinta Putra. Geraman harimau kembali terdengar. Sedikit lebih pelan daripada sebelumnya. Mungkinkah hewan buas itu berangsur tenang dan mengabaikan, atau malah hendak mengambil ancang - ancang sebelum menerkam? Teringat akan tayangan Wild Animals, Putra putus harapan. Tubuh harimau jauh itu lebih besar darinya dan lebih kuat. Bila benar dia sedang mengambil posisi, maka habislah sudah. Harimau itu akan menindih, lalu menggigit, menarik dan mengunyah dagingnya, seperti rusa yang tercabik berlinang air mata. Putra menoleh ke belakang. Harimau itu pun terlihat di sana. Semakin mendekat. Sang harimau mengaum begitu keras seolah berkata, "Kau milikku!" Putra memejamkan mata. Agaknya, dia tak ingin lagi mencoba untuk melawan takdir. Tak selang berapa lama, mendadak tubuhnya tertarik ke belakang hingga menghantam pohon jati. Benturan keras membuatnya mengaduh, meringkuk, dan berpikir, habislah sudah. Tak lagi peduli apa dan siapa penyebabnya. Satu yang dia mau, keluar dari bencana di dalam belantara itu. Penyesalan beruntun datang menghantui. Andai dia menuruti ucapan sang bunda. Andai dia membatalkan niat sesuai permintaan Wandra. Andai petuah Pak Sajiman didengar ... sayangnya, sesuatu yang telah terjadi tak mungkin diputar kembali. "Apa kamu baik - baik saja?" Putra berjingkat kala mendengar kalimat tanya itu datang dari seorang wanita. Mungkinkah benturan barusan membuat telinganya keliru? Apa dia sedang berhalusinasi seperti pertemuannya dengan Ratu Kidul? Perlahan, Putra membuka mata. Dia terperangah ketika mendapati seorang gadis bergaun sutra layaknya putri dalam negeri dongeng. Tubuhnya bersinar bah anai - anai. Spontan Putra berteriak lantang. Bola matanya membulat. Lidahnya kelu tak bisa berucap. Di matanya tampak jelas ketakutan yang mendalam. Gadis berparas dewi itu tersenyum. "Aku tidak akan menyakitimu. Aku juga bukan makhluk yang akan menjadikanmu santapan. Harimau itu sudah pergi. Tenanglah. Kamu aman bersamaku. Siapa namamu?" Suaranya begitu lembut. Gadis itu lalu mengulurkan tangan. Bukannya menyambut, Putra malah menonton gerak lemah gemulai jemari lentik yang bercahaya itu. Dia bertanya kepada hati, Siapa gadis di tengah belantara ini? Putra kembali mengingat akan sederet makhluk gaib yang mampu berubah wujud. Membayangkan jika ternyata gadis cantik di depannya adalah sosok buruk rupa, genderuwo atau kuntilanak misalnya, spontan dia menutup mata rapat - rapat. "Pergi! Pergi!" usirnya. Gadis itu mendesah, lalu jongkok di samping Putra. Dilihatnya sorot mata yang meneriakkan penolakan, juga ketakutan. "Ck, ck, ck. Manusia sungguh tidak berbudi. Setidaknya, ada ucapan 'terima kasih' sebelum kata kejam itu." Dia berdiri, berlagak acuh tak acuh, "baiklah, aku akan pergi. Semoga kamu bisa keluar dari hutan ini tanpa diganggu penghuninya. Akan kuberi tahu satu hal kepadamu, mereka sangat - sangat jail." Gadis itu menjauh perlahan - lahan, seolah tak ingin lekas menghilang dari hadapannya. Putra tahu, gadis itu berharap dihentikan. Namun, dia masih bergeming. Ketika dia hendak berdiri, gadis itu mendadak berbalik dan mendekat kembali. "Apa kamu tahu jalan keluarnya?" tanyanya sedikit mendesak. Putra menghela napas, lalu menoleh ke sekelilingnya. Dia tersadar, bahwa dirinya sedang berada di tempat antah berantah. Dia buta arah dan ... tentu saja, kemungkinan bertemu kembali dengan harimau benggala tadi sangat memungkinkan. Bisa saja si pemangsa itu sedang menunggunya di kejauhan, kemudian menerkam ketika gadis itu telah pergi darinya. Sial! Sudut bibir gadis itu terangkat. Sambil melipat kedua tangan di depan d**a, dia berkata, "Aku mengenal betul rimba ini. Jika kamu ragu, lebih baik lupakan." "Tunggu, Nyai!" "Kusuma. Cukup panggil namaku saja. Bisakah?" Senyum manis gadis itu mengawali kebersamaan mereka. Jejak - jejak yang tersamar dedaunan kering, tampak sejajar dan seirama. Putra sengaja mengimbangi langkah gadis itu. Dia tak ingin kehilangan petanya. Gelap. Senyap. Burung gagak dan burung hantu saling merayu di antara dahan. Derik serangga menjadi nyanyian yang tak terkalahkan. Semak belukar mendayu bersama angin malam. Nuansa mencekam yang tak pernah terbayang Putra. Kampung tempat tinggalnya sunyi kala malam menjelang. Namun, masih terlihat cahaya benderang dari lampu jalan dan teras rumah penduduk. Kadang kala, terlihat beberapa orang mengobrol di warung kopi, dekat masjid. Ada pula yang sekadar berkeliling untuk memeriksa keamanan di sekitar kampung. Sedangkan kini, dia berjalan layaknya orang buta. Dia butuh tongkat untuk berjalan dan mata untuk matanya. "Apa yang membuatmu datang ke tempat ini? Kamu bukan pertapa," tanya Kusuma. "Aku hendak mengembalikan mustika milik ayahku." Alibi palsu yang sekali lagi diutarakan. Putra telah melihat langsung sosok yang lain dari manusia. Cukuplah sudah bukti yang dia punya. "Mustika apa itu?" "Aku tidak peduli benda itu bernama apa. Bagiku, itu hanya sebuah kalung berliontin batu berwarna toska." Kusuma berhenti. Terlihat di matanya, dia sedang meraba sesuatu dalam ingatan. Sesaat kemudian, dia memutar badan menghadap Putra. "Bolehkah aku melihatnya?" pinta Kusuma seraya menengadahkan tangan. Mereka saling pandang dalam sekian detik perjalanan waktu. Dalam diamnya, mereka meneliti. Kejujuran dan kebohongan kadang bisa terlihat dengan mudah lewat sorot mata. Namun, ada kalanya pula kedua sifat itu tertutup sempurna. "Hilang." Putra mendekat, "ada yang harus kau tahu. Aku tersesat bukan karena langkahku. Temanmu atau apalah itu, mereka yang membawaku ke sini. Aku tidak tahu pasti. Ketika aku sadar, pohon tua berukuran besar yang pertama kali terlihat olehku." Putra berkacak pinggang. Kala teringat akan peristiwa yang hampir merenggut nyawa, dia gelengkan kepala. "Apa itu berarti aku tidak akan mendapat ucapan 'terima kasih'?" Kusuma kembali melangkah setelah bertanya. Dia tersenyum. Sikap lelaki itu terasa unik baginya. Sering kali, kemolekannya berhasil memikat kaum pria. Tak sedikit yang terlena dan berusaha mendekat dengan nafsu b***t. Jauh berbeda dengan pria itu, yang lebih memikirkan jalan keluar daripada bercinta di tengah keleluasaan. "Baiklah, terima kasih," celetuk Putra. Nada keterpaksaan terasa kental mengalun bersama kata. *** Sementara itu, jauh melewati barisan pohon dan perbukitan Taman Nasional Alas Purwo, dua perempuan sedang asyik menatap indahnya liontin bermata biru kehijau - hijauan. Benda yang mereka rampas dari seorang pemuda tampan-manusia yang berniat menentang alam jin. Sekar semeringah. Dengan bantuan Lastri, liontin itu terpasang di lehernya. Mereka telah sepakat untuk mengenakan benda itu bergantian. Sesuai jadwal, tiga hari sekali kalung berpindah tangan. "Kok ada yang aneh, ya." Sekar meraba leher. "Apanya? Bagus kok," ucap Lastri seraya menatap liontin indah itu. "Ah, sudahlah. Ayo kita ke gua istana. Bukankah ada kunjungan Kajeng Ratu Kidul malam ini." "Wah, gawat. Nyi Roro Kidul akan menghukum kita kalau sampai terlambat. Ayo!" Kedua makhluk itu mengurai, lenyap terbawa angin hingga hadir kembali di depan gua istana. Ribuan jin dari penjuru tanah Jawa telah berkumpul. Kerumunan itu didominasi sosok bertubuh besar, hitam, dengan rambut awut - awutan. Manusia menyebutnya genderuwo. Ada pula sosok hasil perkawinan jin dan manusia, Garini. Tak hanya mereka, banyak kaum Adam dan Hawa yang bersila di sekitar mulut gua. Di depan mereka, telah tersaji menu makan malam para lelembut. Kembang, dupa, dan buah - buahan tertata di tampah. Mulut mereka komat - kamit. Doa, permintaan, dan harapan diutarakan. Keyakinan yang membuat mereka lupa akan kuasa Tuhan. Buruknya manusia akan terlihat bilamana dia gila terhadap harta. Tak jarang, mereka lupa mana teman dan saudara. Demi kekayaan fana, mereka rela mengorbankan sesama. Sering kali mereka berdalih, menganggap hinaan manusia atas ketidaksetaraan adalah alasan terbaik. Kaum jin tertawa. Kurangnya rasa bersyukur tak ubahnya ladang mencari bala. "Lihatlah! Banyak makanan lezat," ucap Lastri. Dia menoleh ke kanan dan kiri, menatap haus sesaji. Begitu pula Sekar, gadis itu menghirup aroma dupa--makanan kesukaannya. "Dari mana saja kalian?" Tiba - tiba saja sesosok wanita hadir di belakang mereka. Safitri. Dia bersedekap, menatap tegas kedua makhluk di depan. Karena tak mendapat jawaban, dia kembali bertanya, "Menyesatkan manusia?" Keduanya tertunduk, saling membisikkan kekhawatiran lewat sorot mata. Safitri tidak menyukai sikap mereka. Sekar dan Lastri disebut - sebut sebagai Ratu Perusuh. Mereka menggoda siapa saja yang diinginkan tanpa mengindahkan aturan. "Dia ... dia memiliki tujuan buruk, Safitri. Dia ingin mencari tahu keberadaan kaum kita," cetus Sekar. Wanita itu berbalik, meraih tangan Safitri. "Sungguh. Percayalah padaku! Kami tidak melakukan kesalahan lagi." Wanita berkemban hijau itu meneliti tindak - tanduk mereka, mencari kejujuran lewat sorot mata. Sesaat, pandangannya jatuh ke liontin yang dikenakan Sekar. Gelap, suram, kalung yang tak berharga. Dia membuang pandang ke jalur utama. Pendar cahaya terang terlihat di sana. Menyadari itu, ketiganya menghentikan obrolan dan menyambut kedatangan penguasa Samudra Hindia. Safitri mengerutkan kening. Ada yang berbeda dari paras patih kerajaan Pantai Selatan--Nyi Roro Kidul. "Kenapa dia tampak pucat?" gumam Safitri. Dia tak bisa menegur di tengah upacara. Terlebih, ada Kanjeng Ratu di samping sosok itu. Malam ini, ada senapati baru yang dinobatkan. Narendra, seorang petapa yang telah mencapai moksa. Dia ditugaskan untuk membantu Nyi Roro Kidul menjaga laut selatan, terutama kawasan Alas Purwo. Parasnya yang tampan, sontak menjadi rebutan para dayang yang hadir dalam ritual tersebut, tak terkecuali Sekar dan Lastri. Acara berlangsung tanpa hambatan. Kanjeng Ratu Kidul pun telah kembali ke perawangan. Tinggallah Nyi Roro Kidul di sana, duduk di samping singgasana. "Nyi, ada apakah gerangan?" tanya Safitri. Wanita itu bergeming. Sementara, Sekar dan Lastri mendekati mereka. Setelah memberi salam hormat, Lastri berkata, "Ampun Nyi Roro. Hamba tadi melihat Putri Kusuma bersama seorang manusia di tengah rimba." ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD