Rafkan menyimpan ponselnya, setelah melakukan panggilan yang tidak di angkat oleh Alifa. Saat ini Rafkan sedang duduk di restoran depan kantor cabang perusahaannya di Bandung. Rafkan meneguk kopi pesanannya, Membuka laptop, memilih mengecek pekerjaannya. "Eemm.. pak Rafkan," Rafkan mengangkat kepalanya, "Oh. Dita," mengulas senyum, Tidak tau saja, senyumannya itu membuat Dita semakin terjatuh ke dalam pesona Rafkan. "Boleh, duduk di sini. Soalnya, kalau duduk sendirian rasanya aneh." Rafkan mengangguk, "Duduk aja," Rafkan kembali fokus pada laptopnya, Diam-diam, Dita mencuri-curi pandang pada Rafkan. Sungguh, Rafkan yang sedang fokus seperti ini. Membuat kadar ketampanannya bertambah, dengan pembawaannya yang kalem, membuat Dita ingin mengelus setiap lekuk permukaan wajah Ra

