Setelah merampok persediaan cemilan Kanaya. Andhara dengan tidak tau dirinya mengusulkan akan mendengar kan 'dongeng' yang akan Kanaya ceritakan di sebuah cafe.
Sesampainya mereka di sebuah cafe yang cocok untuk nongkrong, mereka serempak setuju untuk duduk di dekat jendela cafe.
Setelah selesai memesan sebuah Desert untuk cemilan sore ini, Kanaya memulai sesi menjelaskan.
"Ooo jadi lo kabur karena mau di jodohin?" Ucap Bianca dengan mulut yang mengunyah sepotong kue coklat.
Di pertengahan Kanaya menceritakan alasan ia kabur dari rumah, Desert yang mereka pesan datang.
"Iya" Jawab Kanaya dengan menganggukkan kepalanya. Mulutnya tak henti henti menyeruput segelas milkshake dengan toping es krim coklat di atasnya. Tadi memang Kanaya hanya memesan Milk shake coklat, karena ia yang sudah kenyang.
"Di jodohin sama siapa sih emang? Aki Aki?" Tanya Andhara dengan wajah polosnya. Membuat kanaya menoyor kepalanya, yang kebetulan Andhara duduk di sebelah nya.
"Lo pikir ortu gue bakalan jodohin anak perawan satu satunya sama aki-aki?" Ucap Kanaya kesal. Enak saja ia di jodohkan dengan Aki Aki. Percuma sekolah di luar negeri jika akhirnya di jodohkan dengan lelaki tua yang bahkan berdiri saja perlu di bantu.
"Ya kali aja kan" Ucap Andhara dengan cemberut.
"Pea kok di pelihara." Ujar Bianca mencibir Andhara, matanya menatap Andhara kesal. Ya kali sahabat cantiknya di jodohkan dengan laki laki bangkotan. Tidak lucu sama sekali.
"Alfian" Ucap Kanaya setelah menghabiskan eskrim yang menjadi toping minumannya kali ini.
"Hah?! Alfian yang itu? Yang putra bungsu keluarga Dirgantara? Alfian Graham Dirgantara? Serius? Kok nolak sih? Cakep gitu" Heboh Bianca. Membuat seluruh pengunjung menatapnya heran. Mengapa bisa nama salah satu anak konglomerat di sebut sebut dalam perbincangan antara remaja itu?
Dengan cepat kanya memukul kepala cantik Bianca, dan menyuruhnya diam.
"Tu mulut punya rem gak sih?" Tanya Andhara kesal, ia baru saja meminta maaf pada pengunjung cafe lainnya karena kehebohan makhluk di depan nya ini.
Mungkin saking malunya Andhara ingin menenggelamkan Bianca ke dasar lautan dalam.
"Loh Bianca?" Tiba tiba terdengar suara laki laki dari belakang Kanaya dan Andhara. Kanaya kenal betul ini adalah suara kakaknya. Tubuh Kanaya menegang, keringat bercucuran dan jantung berdetak kencang, takut jika nanti ia ketahuan oleh kakaknya itu.
"Eh bang Nuel. Sendiri bang?" Tanya Bianca dengan nada cerianya. Sekedar info, Bianca suka dengan Manuel dari dia masih duduk di bangku SMP. Waktu itu, Kanaya sudah berada di london untuk sekolah.
"Nggak sama temen temen gue, tuhhh udah pada duduk. Lo sama Andhara kan ini?" Ujar Manuel. Menunjuk sosok yang sedari tadi memperhatikan interaksi keduanya.
"Hehehe iya bang" Ucap Andhara dengan cengiran khas nya.
"Terus ini siapa?" Tubuh Kanaya menegang ketika Manuel menyentuh pundaknya. Jantung nya sudah berdetak kencang. Ia ceroboh karena tak memakai baju tertutup seperti hoodie kebesarannya. Supaya bisa tertutup sedikit.
Sedangkan Bianca dan Andhara sudah panas dingin, berniat menyembunyikan kanaya. Namun bingung bagaimana caranya.
"Ehhmm, di-dia—
" Woy, kok disini aja, di tungguin dari tadi njir. Malah ngegodain cewek" Ucap Bisma yang tiba tiba muncul menepuk pundak Manuel.
"iye anjir sabar, duluan ya dar, Bi." Pamit Manuel. Kepada Bianca dan Andhara.
Membuat tanpa sadar Kanaya menghela nafasnya lega.
-Fake Nerd-
Kanaya sedang menonton sebuah film karya Korea Selatan. Dengan di temani popcorn serta cola, ia mulai menikmati filmnya. Kanaya baru saja selesai mandi. Rambutnya yang basah ia biarkan, supaya kering dengan sendirinya tanpa bantuan hairdryer .
Atensi nya teralihkan karena sering ponselnya, ia mem-pause film yang ia tonton lalu mulai mengangkat telepon yang tertera nama 'ima' di sana.
"Halo"
"Buka pintu apartemen nya, gue di luar"
"Hah?!"
Tut
Kanaya buru buru melangkahkan kakinya menuju pintu lalu segera membukanya. Menampakkan sosok laki-laki tampan yang mengenakan hoodie berwarna abu abu dan juga celana jeans selutut.
"Tau dari mana?" Tanya Kanaya tanpa mempersilahkan Manuel untuk masuk ke dalam apartemen nya.
"Gak sopan, di mana mana ada tamu di suruh masuk dulu. Bukannya malah di tanyain hal hal yang lain" Ucap Manuel dengan dengusan kesal di akhir kalimatnya.
Kanaya tersenyum kikuk lalu mempersilahkan Manuel masuk ke dalam apartemen nya. Kanaya membuatkan jus jambu untuk Manuel dan jus alpukat untuknya. Walau ini sudah malam, namun entah kenapa tiba-tiba Kanaya ingin meminum jus alpukat.
"Nih di minum" Ucap Kanaya seraya menaruh segelas jus jambu di hadapan Manuel.
"Thanks"
"Tau dari mana gue disini? Perasaan gue udah tutup semua akses buat ngelacak nomor gue. Atau jangan jangan lo pake jaringan nasa ya?" Tanya Kanaya panjang lebar.
Membuat Manuel menatapnya datar. Entah kenapa Ia tak senang begitu adiknya bertanya tentang tau dari mana keberadaan Kanaya.
"Tau dari mana kek. Gak mungkin juga gue buang buang waktu buat hal yang gak berguna, apalagi nyari lo pake jaringan nasa. Gak guna" Ujar Manuel ketus.
"Yeu, penasaran juga..... Eh tapi jangan kasih tau mama sama papa ya" Ucap Kanaya memelas. Dirinya tak mau di jodohkan, walau semua orang menganggap Alfian adalah orang baik. Kanaya masih belum mau terikat oleh sebuah upacara sakral itu.
"Hm" Jawab Manuel singkat. Lalu mulai meminum jus nya dengan perlahan.
-Fake Nerd-
Laurent dan Kanaya kini sedang duduk berdua di kantin sekolah mereka, semenjak kejadian Kanaya yang mendapat perilaku bully dari kakak kelasnya, Laurent selalu menemani kemana pun Kanaya pergi.
Bagaimana pun juga dirinya tak mau Kanaya di sakiti oleh siapa pun. Kanaya hanya gadis desa biasa yang sekolah menggunakan beasiswa.
"Nay, lo disini tinggal dimana?" Tanya Laurent di sela sela kegiatan makannya.
Kanaya tak terkejut dengan pertanyaan Laurent, karena ia sudah menyiapkan jawabannya jauh sebelum ia masuk ke sekolah ini.
"Saya tinggal sama orang tua saya, di dekat apartemen golden, disana banyak warung dan salah satunya adalah milik orang tua saya. Saya tinggal di sana juga" Tanpa ragu Kanaya menjawab. Membuat Laurent mudah percaya akan perkataan Kanaya yang belum benar adanya.
"Ooooo, eh tau gak nay. Katanya kelas kita kedatangan dua orang lagi. Keknya dari keluarga terpandang gitu deh, soalnya grup kelas pada ribut" Ucap Laurent mengalihkan pembicaraan.
Kanaya mengerutkan keningnya bingung. "Siapa emang nya?" Tanya Kanaya bingung.
"Bianca Queenza Edward sama Andhara Odette Athala." Ucap Laurent setelah memakan satu suap penuh yang berisikan bakso beserta kuahnya.
Kanaya yang mendengar ucapan Laurent hanya dapat menggerutu dalam hatinya. Kedua sahabatnya itu memutuskan untuk ikut Kanaya bersekolah, dengan kedok melindungi Kanaya dari Manuel. Alasan yang tak bermutu bagi Kanaya, mengingat ia yang menjadi orang lain saat di sekolah ini.
"Oh ya? Saya tidak tau, soalnya saya kan tidak masuk grup sekolah" Ucapan Kanaya dengan senyum tipisnya, ia mengatakan kejujuran kali ini.
"Ooh iya, lo punya HP kan? Sini minta nomornya, biar gue masukin" Tawar Laurent, membuat Kanaya menyebutkan nomor ponselnya.