Waktu menunjukkan pukul 7 malam, namun di kediaman Dananjaya, masih belum ada juga yang terlelap. Semuanya memikirkan Kanaya yang tak bisa di hubungi. Mama Raina juga sudah menghubungi Bianca dan Andhara, namun hasilnya nihil, mereka tak membuat janji apapun dengan Kanaya.
Itu semakin membuat semua anggota keluarga frustasi. "Aduh Kanaya kemana sih?" Ucap Raina khawatir. Ia sudah mencoba menghubungi Kanaya, namun tak mendapatkan balasan juga.
"Tu anak maen gak inget waktu, gak tau apa di cariin? Bikin repot aja" Duel Manuel yang duduk di sebuah sofa single, dan sedang mencoba menghubungi beberapa teman Kanaya, mungkin saja mereka tau.
"Gak mungkin kan Kanaya kabur karena mau di nikahin sama fian?" Pertanyaan Arthur membuat Raina dan Manuel kompak menoleh ke arahnya.
"Ka-kalo ternyata be-benar gimana pah?" Tanya Raina dengan nada bergetar nya, sudah siap untuk meluluh kan air matanya nya.
"Ya kalo bener, berarti Kanaya gak mau nikah secepat itu" Ucap Arthur sembari menganggukkan kepalanya pelan, tangan kanannya ia letakkan di dagunya. Seperti sedang berpikir.
"Ka-
" Assalamu'alaikum" Ucapan Manuel terpotong oleh ucapan Alfian.
"Waalaikumsalam" Ucap keluarga Dananjaya.
Semuanya menatap bingung Alfian yang kini tengah duduk rapi di salah satu sofa panjang yang kosong, setelah menyalimi Raina dan Arthur.
"Ngapain dah lu kesini?" Tanya Manuel heran.
"Kanaya ada?" Tanya Alfian dengan wajah datar nya.
"Gak ada" Jawab Manuel.
"Kemana?" Pertanyaan singkat Alfian mampu membuat semuanya menunduk lesu.
"Kanaya kek nya kabur deh" Jawab Manuel dengan menghela nafas kasar.
"Kabur?" Beo Alfian bingung, bagaimana Kanaya bisa kabur? Dan kenapa ia kabur? Kemana? Pertanyaan pertanyaan itu terus berputar di kepala Alfian.
Sedangkan di sisi lain, Kanaya sedang menikmati film horor sendirian dengan popcorn menemani, ponsel pintar nya sengaja ia matikan, agar orang rumah tak bisa melacak maupun menghubungi nya.
Rencananya besok Kanaya sudah mulai bersekolah di tempat kakak nya sekolah. Beresiko memang, namun ia tetap ingin bersekolah di sekolah impiannya. Kanaya baru naik kelas 11 beda satu tahun dengan kakaknya yang baru saja naik kelas 12 kemarin.
Ia akan memakai perlengkapan nerd dan mengganti namanya. Just Information Kanaya ini bisa di bilang suka mengotak atik komputer, jadi memalsukan identitas bukanlah hal sulit baginya.
Perlengkapan sekolah sudah ia siapkan, serta perlengkapan penyamaran yang akan ia gunakan, kemungkinan besar Kanaya akan berjumpa dengan Manuel. Dan Manuel akan membawanya pulang. Lalu orang tuanya akan menjodohkan dan menikahkan nya dengan pria es itu, Kanaya menggeleng keras seolah menolak kejadian itu.
"Pokoknya, gimana pun caranya ima gak boleh ngenalin gue" Gumam Kanaya pelan.
Setelah film selesai dan popcorn nya habis, Kanaya mematikan televisi dan bergegas ke dapur untuk mencuci tempat popcorn yang ia gunakan. Tangan mulusnya meraih gagang kulkas, lalu membukanya. Meraih minuman bersoda dan menenggaknya hingga setengah, dan menaruhnya ke tempat semula.
Kanaya berjalan ke arah kamarnya, sembari mengucek matanya yang lelah.
Setelah menggosok gigi dan berganti baju menjadi piyama, gadis cantik itu mulai berbaring di tempat tidur, dan mulai menutup matanya.
-Perjodohan-
Kanaya sudah siap untuk berangkat ke sekolah barunya, wajahnya sudah ia dandani sedemikian rupa supaya terlihat jelek. Matanya menggunakan softlens untuk menutupi warna matanya yang berwarna biru terang.
Ia tak mau mengambil resiko jika Manuel mengenalinya hanya karena menatap mata indahnya. Tas lusuh sudah tersampir di punggungnya, Kanaya menaiki angkot untuk pergi ke sekolah barunya.
Kanaya akan berpura pura menjadi gadis miskin yang mendapat beasiswa, dan berkesempatan sekolah di sekolahan elite itu.
Kanaya buru buru berjalan menyusuri setiap koridor, mencari ruang kepala sekolah, tentu saja sepanjang jalan Kanaya harus merelakan kupingnya yang mendengar bisikan-bisikan panas.
Walau dalam hatinya ia ingin sekali marah, namun ia tak bisa, penyamarannya akan terbongkar jika ia marah. Setelah sekian lama menyusuri koridor, Kanaya menemukan ruang kepala sekolah.
Tok....
Tok...
Tok.....
"Masuk" Terdengar sahutan dari dalam, tak membutuhkan waktu lama Kanaya masuk ke dalam ruangan itu.
"Kamu pasti Kanaya Prasanti ya?" Tanya seorang pria paruh baya yang Kanaya yakini sebagai kepala sekolah.
Kanaya hanya menganggukkan kepalanya singkat, "kelas kamu ada di kelas 11 IPA 2, mari saya antar" Dengan senyum ramah nya pria paruh baya itu mengantar Kanaya tepat di sebuah kelas dengan pintu cokelat. Dia atas pintu tersebut tertempel sebuah template bertuliskan 11 IPA 2.
Setelah mengetuk pintu kelas, pria paruh baya itu mengajak Kanaya masuk. Membutuhkan waktu beberapa menit setelah kepala sekolah mengobrol dengan guru yang sedang mengajar, hingga Kanaya di persilahkan memperkenalkan diri.
"Halo semua, nama saya Kanaya Prasanti, pindahan dari desa. Saya harap kalian mau berteman dan akrab dengan saya" Ucap Kanaya lantang di depan kelas dengan senyum ramah nya.
Walau lidah nya kaku mengunakan kata kata formal, namun ia harus bersikap seperti gadis desa yang rata rata menggunakan kata formal untuk kesopanan.
"Baik ada yang mau bertanya?" Tanya guru yang sedang mengajar itu.
Semua penghuni kelas tak ada yang mengacungkan tangannya, tanda tak ada yang mau mempertanyakan sesuatu. "Baiklah, sepertinya tak ada yang perlu di tanyakan. Oke Kanaya perkenalkan nama saya Dian, guru bahasa Indonesia. Sekaligus wali kelas kamu nantinya. Sekarang kamu boleh duduk di sebelah Laurent. Laurent angkat tangan" Ucap panjang lebar bu Dian.
Seorang anak perempuan berambut pirang mengangkat tangannya seraya tersenyum manis. Kanaya berjalan ke arah nya dan duduk di samping gadis itu.
"Gue Laurent Swan, salam kenal Kanaya" Laurent mengulurkan tangannya ke pada Kanaya, yang di balas oleh kanaya.
"Saya Kanaya Prasanti, senang berkenalan dengan mu Laurent" Ucap Kanaya seraya melepaskan jabatan tangannya.
Kemudian pelajaran pun di mulai.
-Ice Prince-
Bel istirahat berbunyi, membuat para siswa bersorak gembira. Termasuk Kanaya sendiri, perutnya sudah memberontak minta diisi makanan.
"Lo mau ke kantin gak? Ikut gue aja" Ajak Laurent kepada Kanaya yang baru saja menyelesaikan catatan yang ada di papan tulis.
"Iya" Jawab Kanaya dan bangkit berdiri.
Mereka berdua jalan ke arah kantin dengan sedikit berbincang, Laurent menceritakan beberapa mos wanted di sekolah ini.
Dengan wajah berbinar, "tau gak nay, ada kakel namanya Imanuel. Ganteng banget gak boong gue" Ucap Laurent.
Kanaya hanya menanggapinya dengan senyuman tipis. Dalam hati Kanaya bertanya tanya, apakah kakak nya itu memang tampan? Kenapa ia tak menyadari nya? Sikap kakaknya terlampau menyebalkan, maka dari itu wajah tampan nya tertutup oleh sikapnya.
"Eh lo mau pesen apa?" Ucap Laurent ketika mereka telah duduk di salah satu kursi yang ada di kantin.
Kanaya sebenarnya lapar, namun penyamaran kali ini tentang dirinya yang miskin jadi ia putuskan untuk membeli roti isi dan air mineral saja. Demi kelangsungan proses penyamarannya.
"Saya mau Roti Isi aja sama air mineral. Saya gak punya uang lebih untuk beli makanan" Ucap Kanaya dengan senyuman untuk menutupi rasa lapar yang melanda nya. Ia berjanji setelah pulang sekolah nanti ia akan makan sepuasnya.
"Yaampun, gue bayarin aja deh, mie ayam ya sama es teh." Ucap Laurent hendak melangkah pergi namun segera di tahan oleh Kanaya. Kanaya benci di kasihani.
"Ehhh, gak papa, saya sudah biasa" Kali ini Kanaya berbicara dengan nada tak enaknya. Jika yang ini bukanlah akting, namun murni dari hati terdalam nya, ia tak mau merepotkan orang yang baru ia temui, apapun alasannya.
"Udah selaw aja" Perlahan Laurent melepaskan tangan Kanaya di pergelangan tangannya dengan lembut, membuat Kanaya menghela nafas pasrah.
Setelah kepergian Laurent, ponsel Kanaya berbunyi. Dengan sedikit memperhatikan keadaan sekitar, Kanaya mengeluarkan ponsel berlogo apel tergigit itu dan melihat siapa yang menelponnya.
Ternyata Manuel, sepertinya kakaknya ini sangat khawatir sehingga terus terusan mengusik harinya. Dari tadi pagi waktu pertama kali menghidupkan handphone nya, Kanaya melihat banyak sekali notifikasi dari keluarganya. Tapi yang paling banyak adalah Manuel.
Dengan gelisah Kanaya mengangkat telepon nya, sekedar menghilangkan rasa khawatir kakaknya. Dan membiarkan nya hidup tanpa di usik lagi.
"Halo"
"Lo kemana aja? Panik tau gak orang rumah nyariin lo. Kemana sih,
gausah kek bocah deh ambekan segala, mending pulang."
"Gak, gue gak mau"
Tut...
Dengan kesal Kanaya memutuskan panggilan nya. Lalu buru buru memasukkan ponselnya ke dalam saku roknya begitu mendapati Laurent yang jalan mendekat.