“Hallo hunny bunny sweetie, tunanganku, Didit sayang” sapaku menyambut Radit yang datang untuk apel malam minggu. Radit memutar matanya dan aku tertawa. “Kemarin aja ngambek, aku ajak ngomong apa pun diam aja” protesnya. Aku terbahak lalu memeluk pinggangnya. “Sayang aku sih buat kesal aja. Sini aku cium!!” rengekku bersiap berjinjit untuk mencium pipinya. “Dis…” Radit gelagapan karena di pikirnya ada mama papaku. “Mama sama papa ke rumah eyang” laporku. “Tumben…ada apa?, eyang sakit?” tanyanya. “Gak dong sayang, jangan sampai begitu” jawabku lalu menarik tangannya untuk duduk di ruang tengah rumahku. Dia menurut duduk di sebelahku. “Ada apa sih?, tumben ke rumah eyang pas waktunya aku apel?” tanyanya lagi. “Supaya kita berduaan” jawabku. Radit berdecak. “Aku serius” jawabnya.

