Tidak ada yang terlambat dalam ketentuan Allah, hanya saja manusia yang selalu perhitungan dalam setiap halnya.
Pekerjaan Alfian bersama anak buahnya untuk merombak ulang kafe sudah selesai. Tak disangka Mama sangat puas dengan hasilnya. Budget yang keluar pun tidak menguras isi dompet. Alfian benar-benar mengurus segala sesuatunya dengan baik. Hanya dalam waktu kurang dari sepuluh hari semuanya sudah selesai. Jadi, kafe tidak terlalu lama tutup. Semua sudah bisa berjalan seperti biasa.
Mama terlihat asyik berbicara dengan Alfian. Sejak kemarin dia memaksa untuk dipertemukan dengan laki-laki itu. Katanya, 'Mama ingin mengucapkan terima kasih langsung padanya, sekaligus penasaran ingin berkenalan dengan laki-laki yang dulu selalu menjadi sasaran kemarahan putrinya ini.'
Sebenarnya aku tahu kalau ada maksud terselubung dibalik ngototnya Mama untuk mengenal Alfian. Semoga saja Mama tidak macam-macam.
Belum lama mereka bertemu, tetapi sudah seperti kenal lima tahun, terlihat akrab dan hangat. Sejak tadi aku hanya diam, menyimak obrolan keduanya.
"Al, sekali lagi terima kasih atas bantuannya. Tante suka dengan hasilnya. Maaf jadi ngerepotin." Sekali lagi Mama mengucap terima kasih.
"Tidak masalah, Tan. Sebenarnya ini bukan bidang saya, tapi kalau Tante suka, syukur alhamdulillah," jawabnya rendah hati sekali.
Ada rasa tak percaya, jika aku akan bekerja sama dengan seseorang yang dulu selalu membuatku tersiksa. Seseorang yang sempat aku benci dengan segala aturannya yang membuat hampir gila.
Diam-diam aku memperhatikannya; menatap bangga pada sosok laki-laki berkacamata itu. Tak ada sedikit pun dendam tersirat dari dirinya, untukku yang selalu membuatnya marah. Dia tetap membantu dengan tulus. Melihat hubungan kami saat ini, rasanya sulit untuk percaya kalau dulu kami saling bermusuhan.
Malu rasanya jika mengingat hubungan buruk kami dulu. Namun, kuakui Alfian laki-laki baik. Aku sudah salah besar menilainya.
"Tan, saya sekalian mau izin untuk pergi dengan Zizi besok." Tiba-tiba Alfian mengatakan itu. Aku yang sedang melamun kontan tersentak.
"Tante pasti izinkan, Al. Tapi, kalian mau kemana?" tanya Mama, menatapku.
"Kebetulan besok ada acara reuni SMA."
Aku menelan ludah mendengarnya. Bagaimana bisa dia meminta izin, padahal aku sendiri belum memberikan keputusan apa pun.
"Asal jangan pulang terlalu malam. Tante, pasti izinkan."
Aku mendengkus seraya beristigfar dalam hati. Begitu saja Mama memberikan lampu hijau. Aku palingkan wajah dari keduanya, mulai merasa tak nyaman.
"Tunggu ... kamu tidak bilang apa-apa sama Mama, kalau ada acara dengan teman-teman SMA." Mama sekarang bertanya.
Begitu aku menoleh pandangannya sangat menakutkan, semakin membuatku tidak bisa menjawab apa pun. Seketika rasanya ingin pergi dari tengah-tengah mereka.
Tanpa menunggu jawabanku, Mama mengambil keputusan sendiri dan Alfian pun kulihat dia tersenyum.
"Kalau begitu besok saya jemput Zizi di rumah, Tan."
Setelah itu Mama pamit pergi, meninggalkan putrinya ini berdua saja dengan Alfian. Perasaan ini semakin tidak menentu; membayangkan bagaimana reaksi teman-teman saat melihatku seperti saat ini? Apa mereka akan memberi tanggapan baik atau jangan-jangan sebaliknya? Lalu, bagaimana dengan Reno? Apa aku sanggup menghadapi pertemuan itu?
"Kamu baik-baik saja, Zi?" tanya Alfian, membuatku terlonjak.
"Kamu masih ragu buat datang?" Dia kembali bertanya.
Aku tetap diam, tak memberikan respons. Sebenarnya aku sangat tertarik untuk datang. Semua orang sudah pasti akan merindukan teman-teman lamanya. Begitu pun denganku yang juga sangat merindukan mereka. Namun, keadaannya kini sudah berbeda. Banyak hal yang telah berubah dan mengubahku.
"Sebenarnya apa yang membuatmu ragu, Zi?" Lagi, dia bertanya.
"Tidak, Al." Aku menggeleng, tidak ingin menjelaskan apa pun.
Terdengar napas kasarnya berembus, lalu dia pamit, "Aku pulang, ya. Kalau ada apa-apa jangan sungkan menghubungiku."
***
Mama sibuk sekali menyiapkan segala keperluanku. Padahal aku sendiri biasa saja. Kuperhatikan dia dari atas tempat tidur.
"Jodoh itu bisa datang kapan saja dan dari mana saja. Siapa tahu setelah reuni kamu dapat jodoh. Jadi, kamu musti persiapkan diri dengan sebaik mungkin," katanya seraya memberikan baju yang sesuai dengan tema acara tersebut, sudah bisa dipastikan kalau Alfian yang memberitahunya.
"Kamu siap-siap, jangan sampai Alfian jemput kamu masih belum siap," katanya lagi, lalu pergi.
Aku menatap kepergiannya yang perlahan hilang di balik pintu. Kekhawatiran Mama akan aku yang belum juga mendapatkan jodoh adalah pemicu utamanya. Seharusnya semua manusia tak perlu khawatir tentang takdir, karena Allah telah mempersiapkan segalanya. Untuk apa khawatir, sedangkan Allah telah menentukan segalanya bahkan sejak manusia belum diciptakan.
Tidak ada yang terlambat dalam ketentuan Allah, hanya saja manusia yang selalu perhitungan dalam setiap halnya. Seperti Mama misalnya. Aku pun paham akan kekhawatirannya.
Setelah sepuluh menit berlalu, aku sudah siap dengan gamis pilihan Mama dengan jilbab panjang yang terulur menutup mahkota indahku.
Di bawah Alfian sudah menunggu, Mama yang memberitahukan. Lekas aku pergi menemuinya. Laki-laki itu menunggu di ruang tamu, dengan kemeja silver serta celana chino hitam yang membuatnya tidak terlalu formal. Tidak lupa sepatu pentofel hitam dan jam tangan silver yang melingkar di pergelangan tangan kanannya. Ada sedikit perbedaan pada bagian rambut, sepertinya dia baru saja mencukurnya.
Aku kembali tersadar dari memperhatikannya. Kemudian lekas mengajaknya pergi. Alfian mengangguk, kemudian beranjak. "Tante, kita pergi dulu."
"Iya, hati-hati. Tolong jaga Zizi, ya, Al," pesan Mama.
Alfian tersenyum seraya mengangguk, lalu mencium tangan Mama. Segera kami pergi. Sepanjang perjalanan hatiku mulai gelisah. Sementara Alfian fokus pada kemudinya. Untuk pertama kalinya aku dan Alfian duduk dalam satu mobil. Perasaan ini semakin gelisah saat jarak sekolah semakin dekat.
"Kamu kenapa, Zi?"
Alfian sepertinya menyadari perubahan pada reaksiku. Padahal sejak tadi dia fokus pada kemudinya. Mungkin karena tidak ada obrolan apa pun yang keluar dari mulutku sejak kami masuk ke dalam mobil.
"Annisa Fauziah!" Dia kembali serukan namaku.
"Aku cuma memikirkan bagaimana reaksi teman-teman saat melihatku nanti," ujarku berusaha menyembunyikan apa yang sebenarnya membuatku cemas.
"Kenapa harus dipikirkan? Bukankah perubahanmu itu baik? Dengar, butakan matamu untuk mereka yang memandang sinis terhadapmu. Tulikan telingamu untuk mereka yang berkata buruk tentangmu."
Aku kembali diam. Jelas bukan itu yang membuatku cemas. Melainkan dia, masa laluku.
Tanpa sadar kami sudah tiba di sekolah. Tempat yang begitu banyak menyimpan cerita. Tempat aku tumbuh menjadi gadis remaja. Tempat yang mempertemukan aku dengan Reno dan bersamanya selama dua tahun hingga kami lulus dan akhirnya berpisah.
"Zi ... ayo, turun," ajak Alfian, turun lebih dulu.
Lekas aku menyusulnya dengan jantung yang semakin berdebar tak menentu. Kulihat baru ada sebagian alumni yang datang. Itu pun sepertinya bagian dari panitia, karena belum banyak kendaraan yang terparkir. Pandanganku kemudian berselancar, menatap tempat yang sudah mengalami banyak perubahan. Terlihat lebih tertata dan rapi dibanding zamanku dulu.
"Al!" Seseorang memanggil Alfian.
Aku ikut menoleh. Lelaki berambut gondrong berjalan menghampiri kami. Ikbal, salah satu anggota OSIS juga ketika sekolah.
"Pak ketua gimana, sih? Kenapa telat?" katanya setelah berdiri di depan Alfian.
"Sorry, gue udah ngomong tadi sama si Leo. Apa yang belum siap?"
"Sound sistem, Al! Colokannya kurang dan enggak ada lagi. Zahra lagi beli, tapi belum balik lagi. Ini gue mau nyusul," katanya memberikan laporan.
Zahra ... aku langsung mengingatnya saat Ikbal menyebut namanya. Dia adalah salah satu teman yang selalu berani menegur, bahkan rela bertengkar denganku hanya untuk membela Alfian. Semua orang tahu kalau dia suka pada laki-laki yang saat ini bersamaku. Sesuatu tiba-tiba menyelinap masuk ke dalam ingatanku.
"Lo, kalau gak mau ikut aturan, enggak usah sekolah di sini!" teriaknya di depan wajahku, lantang dan berani sekali.
"Dan, lo gak usah ikut campur! Siapa, lo? OSIS juga bukan, sok negur gue lagi. Ngapain juga lo belain, dia?"
Aku mengarahkan telunjuk pada Alfian. Gadis itu langsung menamparku.
"Zahra!" bentak Alfian.
"Sebaiknya lo pergi! Ini urusan gue. Zi, buka sepatunya. Sekolah enggak memperbolehkan siswanya mengenakan sepatu selain warna hitam." Dia kembali memperingati.
Zahra pun pergi. Sementara aku tidak menggubris permintaannya. Laki-laki itu kemudian berjongkok dan melepas sepatuku dengan sedikit paksaan.
"Lo gak ada bosen-bosennya, ya, ngincer gue cuma buat nyuruh gue lepas barang-barang yang lo anggap terlarang!" bentakku sarkastis.
"Lo juga gak ada bosen-bosennya melanggar aturan sekolah." Dia membalas santai.
"b*****t, lo! Besok lo minta gue lepas apa lagi, hah? Sekalian aja lo minta gue lepasin baju gue!"
Aku melemparkan sepatu itu tepat di d**a Alfian. Masa bodo dengan rasa sakit yang harus dia terima. Setelah pergi, aku langsung mencari Zahra. Melisa, Anggi dan Ratna datang menghampiri.
"Zi, kenapa nyeker?" tanya Melisa.
"Biasa, dirampok si Alfian!" jawabku tetap melangkah menyusuri koridor yang ramai, tidak peduli dengan mereka yang memperhatikan.
"Sekarang lo mau kemana, Zi?" Ratna yang bertanya.
"Nyari si Zahra! Dia nampar gue tadi!" aduku.
Aku terus melangkahkan dengan cepat. Setibanya di kelas gadis itu, aku langsung menariknya kasar, lalu melayangkan tamparan pada salah satu pipinya.
"Ini balasan untuk tamparan lo tadi!"
Zahra hanya terdiam menatapku tajam, dengan tangan mengelus pipi. Satu kelas anak IPA langsung menciptakan kerumunan mengelilingi kami.
"Gue peringatkan, jangan pernah ikut campur dengan masalah gue!" tegasku, memberikan peringatan.
Tiba-tiba saja seseorang menarik tanganku dan langsung menyeretku pergi dari sana. Reno yang melakukannya. Langkahnya cepat membawaku pergi. Anggi, Ratna dan Melisa turut mengekor.
"Reno, lepasin!" teriakku, berusaha melepaskan diri.
"Kenapa lagi?" tanya Reno, hentikan langkah di koridor dekat perpustakaan yang sepi.
"Jangan cari masalah terus bisa enggak, sih?"
"Dia yang cari masalah sama gue. Dia juga tampar gue, No!"
"Apa?" matanya melebar.
Langsung saja aku menceritakan semuanya. Dia pun emosi dan sangat marah. Tatapan matanya seperti singa yang siap menerkam musuh.
"Kalian bawa Alfian ke sini! Buruan!" ujarnya, membentak di akhir kalimat.
Tidak lama mereka kembali bersama laki-laki berkacamata itu. Keduanya saling memandang satu sama lain. Alfian dengan tatapan tenangnya, sedangkan Reno dengan tatapan tajamnya. Sementara itu Ratna, Anggi dan Melisa pergi untuk mencari Zahra.
"Gue tahu cewek gue yang salah, tapi apa hak dia nampar cewek gue, hah? Kenapa lo biarin dia nampar cewek gue, Fi?"
"Kalau gue tahu Zahra bakal nampar Zizi, gue enggak bakal biarin itu terjadi, No." Sikapnya tetap tenang.
Tidak lama Zahra datang bersama ketiga temanku. Dia masih saja menatap sinis dan semakin berani. Begitu pun denganku.
"Gue mau lo minta maaf sekarang sama cewek gue, karena lo udah berani ikut campur sampai nampar dia!" ucapnya penuh penekanan.
"Tapi, Ren ...."
"Gue minta sekarang!" tegasnya lagi.
"Maafin gue, Zi!" Dia mengucapkannya dengan nada seperti tidak ikhlas.
Zahra adalah salah satu daftar musuh terbesarku di sekolah, setelah Alfian. Bagaimana kabarnya sekarang? Aku tiba-tiba memikirkannya.
"Kamu kenapa, Zi?"
Pertanyaan Alfian membuatku kembali tersadar. Kulihat Ikbal mematung memandangku. Tangannya bergerak menepuk bahu Alfian pelan.
"Itu Zizi?" tanyanya dengan suara pelan, serta pandangan yang masih menatapku seperti tidak percaya.
Alfian membalas dengan anggukan, lalu laki-laki berambut gondrong itu menggerakkan kepala, mendekat kepadanya.
"Bagaimana bisa lo ke sini bareng dia?" tanyanya berbisik, yang masih bisa kudengar.
"Yuk, Zi masuk."
Alfian tidak merespons pertanyaan Ikbal. Diajaknya aku menuju ruang panitia. Ikbal menyusul. Di sana rupanya sudah ramai. Aku tertunduk, tidak berani mengangkat wajah.
"Akhirnya Pak Ketu datang juga. Ajak siapa, nih?"
Aku diam dengan kepala yang masih tertunduk, seraya mengendalikan diri yang mulai merasa tidak nyaman.
"Zizi." Alfian menjawab dengan hanya menyebutkan namaku.
Aku mengangkat wajah, semua yang ada dalam ruangan itu mendekat, meninggalkan yang sedang dikerjakan. Mereka memandang dengan berbagai reaksi.
"Astaga ... ini Zizi?" Leo mengucek matanya berulang kali. Aku membalas hanya dengan tersenyum kaku.
"Lihatinnya jangan kaya gitu juga. Enggak sopan. Kerja lagi, beresin semuanya. Zi, kamu tunggu di sini, ya. Aku mau ngontrol dulu semuanya."
Baru saja membuka mulut, Alfian sudah pergi. Suasana hening di dalam sana. Rasanya benar-benar mati kutu. Zahra tiba-tiba memintaku untuk duduk dan bergabung dengan panitia yang lain. Aku menatapnya; dia pun tersenyum, lalu menarik tanganku untuk duduk.
"Kita senang lihat lo kaya gini, Zi." Ikbal mendekat, duduk di atas meja.
"Lo, makin cantik," sambungnya dengan sedikit cekikikan.
"Oh, iya ... kalau enggak salah Reno dan Melisa sebentar lagi mau menikah."
Aku memandang ke arah kiri, seorang teman perempuan yang aku lupa namanya. Tubuhnya tinggi dan kurus dengan kulit sawo matang. Dia seperti sengaja mengatakan itu.
Zahra langsung menyenggol lengannya dan aku tetap diam. Kabar itu ternyata sudah menyebar dan aku menjadi orang paling akhir yang tahu kabar tentang mereka.